
AMIRA
Haidku Jalan Kematianku
Bahagianya Amira, hari ini adalah hari di mana dia bisa merasakan arti dari sebuah kebebasan.
Amira merasakan, jika udara pegunungan pagi ini, adalah udara terbaik yang pernah dihirupnya selama ini.
"Ternyata beginilah rasanya udara kebebasan," ucap bathinnya, matanya memandang lurus ke arah pegunungan yang menjulang dengan indahnya. Dikelilingi hamparan kebun-kebun teh yang menghijau.
Terlihat asap dingin halimun menyelimuti tipis di lingkungan sekitar villa.
Terdiam, menangis Amira dengan kebahagiaan yang tiada terhingga, ingin rasanya dia bernyanyi dan menari untuk mengungkapkan betapa bahagianya dia pagi ini.
"Inilah hari terbaik dalam hidupku," ungkap bathinnya. Sembari mengusap pelan butiran air yang jatuh dari sudut netranya.
"Sebuah tepukan pelan menyentuh bahunya, Darmawan tersenyum berdiri di sampingnya, dengan Dimas yang berdiri agak sedikit di belakangnya, hanya diam memperhatikan.
"Ayu, Amira ... kita pulang," ucap Darmawan, sembari melangkah mendahului Amira menuju kendaraan. Kembali menetes air matanya, air mata paling bahagia yang pernah keluar dari bening mata indahnya.
"Ternyata seperti ini, rasanya pulang."
***************
Mobil yang dikendarai Darmawan mulai memasuki gerbang utama perumahan di mana dirinya tinggal. Rumah-rumah mewah berukuran besar dengan halaman luas berumput hijau terawat, dan pohon-pohon taman yang tertata rapih di setiap rumah yang dilewati. Bentuk bangunan yang berbeda-beda tetapi semua tetap terlihat indah. Terkagum-kagum Amira melihat kemegahan yang tertampak-kan di depan matanya, terbayang pun tidak, dia bisa masuk ke lingkungan seindah dan semewah ini.
Mobil Darmawan lantas memasuki halaman sebuah rumah megah, dengan dua pilar besar menjadi penyangga utamanya. Ornamen Arsitektur khas Eropa kuno. Rindang pohon-pohon besar mengelilingi samping rumah, dengan hamparan rumput hijau yang luas tanpa pagar yang membatasinya.
Dua jendela besar terdapat di kiri dan kanan depan rumah. Dengan pohon-pohon taman berukuran kecil terpangkas rapi berjejer di kiri kanan jalan menuju teras rumah. warna putih menguasai hampir seluruh bangunan mewah tersebut.
__ADS_1
Darmawan segera mempersilahkan Amira untuk turun dari kendaraan. Tertegun dia sesaat memandang kemegahan bangunan di depan matanya. Om Darmawan, pria yang baru di kenalnya semalam ternyata memiliki dan tinggal di rumah sebesar ini.
"Mari masuk, Amira," ajak Om Darmawan. Sedikit mengagetkannya, sambil melangkah ke arah teras rumah. Amira mengikuti di belakang Darmawan, sembari matanya terus saja memperhatikan keindahan rumah besar ini, bibirnya terus saja menggumamkan kekagumannya. Termasuk saat sudah berada di dalam, teramat sulit baginya mengungkapkan tentang betapa ruang utama rumah ini bisa tertata dengan begitu luar biasanya.
Kepulangan Darmawan disambut oleh seorang
Perempuan tua, yang masih terlihat gesit dan cekatan, Bi Sumi namanya. Tersenyum lembut kepada Amira, ada rasa nyaman Amira melihatnya, hatinya memberikan isyarat jika Bi Sumi ini adalah orang yang baik.
"Bik Sumi, nama anak ini, Amira ... mulai sekarang, dia akan tinggal bersama kita di rumah ini," jelas Om Darmawan kepada perempuan tua itu.
"Iya, Den ... Saat, Aden menelpon tadi, kamar buat non Amira, sudah bibik persiapkan," jawabnya. Darmawan tersenyum sekilas, lantas pergi meninggalkan Amira, tanpa menoleh atau pun bertanya lagi.
"Mari, Non Amira, ikut sama bibik," ajak Bik Sumi Kepada Amira. Gadis kecil itu tersenyum sembari mengangguk, dan mulai mengikuti si bibik menunjukkan kamarnya.
Dengan menaiki tangga berkarpet merah tebal setengah melingkar, Amira tiba di kamar yang sudah dipersiapkan. Bik Sumi membukakan pintu kamar, lantas masuk terlebih dahulu.
"Mari, Non, silahkan masuk," ajak Bik Sumi. Terdiam sesaat Amira di depan kamar, ada keraguan untuk segera masuk. Terlihat jelas di tempat Amira berdiri, betapa indah dan luasnya kamar yang dipersiapkan untuknya. Dadanya berdebar, dan kakinya sedikit gemetar, masih meragu hatinya, betapa perubahan hidupnya bisa berganti begitu cepat. Sedikit ragu, Amira pun segera masuk kamar.
"Silahkan istirahat dulu, Non," ujar Bik Sumi.
"Non itu siapa, Bik?" tanya Amira kepada Bi Sumi. Perempuan tua itu, sedikit bingung dengan pertanyaan Amira.
"Non, ya, Enon," ucap, Bik Sumi. Jemarinya menyentuh bahu Amira.
"Amira saja ya, Bik, manggilnya," ucap, Amira.
"Iya, Non. Ehh ... Amira, maksudnya." Tertawa Bik Sumi, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
"Ya, sudah ... Enon, eh, Amira maksud bibik. Istirahat saja dulu," ucap Bik Sumi, sambil keluar kamar dan menutup pintunya dari luar.
__ADS_1
Amira memandangi seluruh isi kamar ini, kamar yang luas, mewah dan indah. Hatinya tak lepas-lepasnya mengucapkan terima kasih, dan bersyukur kepada sesuatu yang di yakininya "Ada" walaupun dia tidak tahu, bagaimana caranya.
Merebahkan diri sejenak di kasur seempuk ini, sungguh tidak pernah terbayangkan oleh Amira sebelumnya, bisa merasakan kenikmatan seperti sekarang ini.
Terbayangkan, bagaimana semua penghuni harus tidur berhimpitan ber-alaskan tikar di kamar yang sempit dan pengap. Junior seperti kami di tempat penyekapan, seperti masyarakat kasta terendah, warga yang tersingkirkan, karena belum menghasilkan keuntungan apapun buat Mami Merry. Tugas kami adalah melayani kawan-kawan yang sudah menghasilkan uang buat mami. Dari memasak, mencuci, dan semua pekerjaan rumah, harus kita yang kerjakan.
Makan pun hanya bekas sisa-sisa makanan senior. Jika tiada sisa, maka kami pun tidak makan. Sering sekali seperti itu.
Para junior harus tidur dalam keadaan menahan lapar.
Pelecehan pun sering dilakukan oleh para tukang pukul mami kepada penghuni penampungan, dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Mami tidak pernah melarang para bodyguardnya melakukan pelecehan ****ual terhadap kami semua, selama mereka tidak merusak duit mami, Harta Qarun mami, yaitu sebuah keperawanan yang bisa berharga puluhan hingga ratusan juta.
Ya, hidup kami semua hanya untuk sebuah selaput keperawanan.
Pecah selaput kehormatan akan menaikkan derajat. Dari melayani akan jadi dilayani.
Dari pembantu akan menjadi majikan.
Dari kelaparan, tidak punya uang, tidak punya apapun, semua akan berubah jika menukarnya dengan selaput tipis bernama "keperawanan."
Takdir perubahan hidup kami hanya bergantung pada sebuah selaput.
Terlelap Amira layaknya seorang putri raja. Tertidur di sebuah ranjang terbaik dengan segala kemewahan di sekelilingnya.
Padahal baru saja kemarin, tikar tipis dan lusuh yang selalu menyentuh kulit tubuhnya. Menemaninya bermimpi dan berkhayal tentang indahnya sebuah kebebasan, dan takdir ternyata memberikannya lebih.
Kehidupan masih berjalan Amira? Tidak ada yang mudah dalam hidup, jika hanya diam menunggu tanpa mau berdoa dan berusaha.
__ADS_1
Tertidurlah yang lelap
Kenyataanmu nanti, tetaplah harus diperjuangkan.