
AMIRA
HAIDKU JALAN KEMATIANKU
Part 11
Menjelang malam, sebuah sedan mewah memasuki halaman rumah dan berhenti tepat di depan pintu garasi. Sang sopir pribadi bergegas dengan sedikit agak berlari membuka pintu belakang sebelah kiri sedan tersebut. Seorang perempuan berkelas, usia sekitar 50 tahunan keluar dari pintu yang dibukakan sang Sopir, diikuti seorang perempuan sosialita lainnya, usia 28 tahunan keluar di sisi pintu yang lainnya.
Kedua wanita kelas atas itu, segera masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa kantong belanjaan berkelas di kedua tangan mereka. Sembari asik terus berbincang, bercerita betapa bahagianya menghabiskan uang begitu banyak hanya untuk menaikkan sebuah derajat sosial.
"Terima kasih ya, Mel ... sudah menemani Tante belanja," ucap Tante Sonya, sembari membuka-buka tas belanjanya
"Sama-sama, Tante. Mella juga kan, bisa sekalian belanja," jawabnya, sambil menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Minggu depan, mau'kan antar Tante lagi belanja, sedang ada big sale, loh. Khusus brand merek-merek ternama," ujar Tante Sonya, sambil memanggil salah satu staf rumah tangga untuk dibuatkan minuman.
"Darmawan sepertinya ada di rumah ya, Tan?" tanya Meliyana Koswara, terbiasa dipanggil Mella, anak dari Pak Koswara, rekanan bisnis Darmawan.
Bisnis yang dikelola bersama, di luar dari pekerjaan Darmawan, yang juga bekerja pada sebuah perusahaan asing, bergerak di bidang energi dan mineral.
"Sepertinya begitu, mungkin sedang istirahat di kamar, setelah beberapa hari di puncak," jawab Tante Sonya, sambil meletakkan tas belanjaannya di meja.
Tante Sonya, Mamah sambung dari Darmawan. Menikah dengan almarhum papanya Darmawan, sama-sama berstatus single parents dengan masing-masing membawa satu anak. Tetapi, hingga beliau wafat, hubungan rumah tangga mereka tidak mempunyai keturunan.
Anak Tante Sonya dari suaminya terdahulu pun, tinggal bersama Darmawan di rumah ini. Rumah peninggalan almarhum Papa Darmawan.
Diaz nama anak Tante Sonya, seorang pemuda usia 22 tahun. Masih berkuliah di salah satu kampus swasta terkenal yang tidak jauh dari kompleks perumahan ini.
Darmawan keluar dari kamarnya, berjalan melewati ruang tamu dan langsung menuju ruang utama keluarga. Mella yang melihat kehadiran Darmawan melirik ke arah Tante Sonya, dan Tante Sonya memberikan isyarat agar Mella segera mendekati Darmawan. Berdiri cepat, sambil merapikan pakaiannya dan segera mendekat.
"Hai, Bang. Bagaimana urusan pekerjaannya di puncak kemarin, semua lancar bang?" tanya Mella, dengan senyum manis yang seperti di buat-buat.
"Menoleh sejenak ke arah Mella, lalu asyik kembali dengan gawainya, tidak menanggapi atau pun menjawab pertanyaan Mella.
__ADS_1
"Ihh, Abang, Mella nanya ko, di cueki sih," ucapnya merajuk, sembari mendekat dan duduk di samping Darmawan.
Darmawan tetap diam saja, sambil bersender pada sofa, dengan kaki satu menopang pada kaki yang satunya, dia tetap saja fokus dengan telepon selulernya.
Mella semakin berani dan agresif terhadap Darmawan, mendekatkan tubuhnya ke bahu Darmawan dan menempelkan di situ, dekat sekali, dan jika saja Darmawan menoleh, otomatis akan seperti mencium Mella.
"Kita pergi liburan, yu, Bang?" bisik pelan Mella, di telinga Darmawan. "Aku ingin ajak, Abang ke Venecia dan keliling Eropa, pasti romantis deh,Bang? ajaknya lagi, jemarinya mulai berani menyentuh paha Darmawan.
Darmawan diam saja mengacuhkan, seolah tiada menganggap keberadaan Mella di sampingnya.
"Gimana,Bang? Maukan?" Mella, masih terus saja merajuk.
Darmawan bungkam saja, tidak menghiraukan. Malah langsung berdiri meninggalkan Mella, seolah menganggap Mella adalah parasit yang harus dihindari.
Jengkel sekali Mella diperlakukan seperti itu oleh Darmawan, terlihat kesal sekali wajahnya, sambil sesekali dihentak-hentakkan kakinya.
"Kamu dingin sekali sih Bang! Macam es balok saja!" Teriaknya, tangannya memukul-mukul meja di depannya. Watak aslinya mulai terlihat.
Tante Sonya mendekati Mella, dan ikut duduk di sampingnya, mencoba menghibur.
"Tidak pernah ada laki-laki yang menghinakan aku seperti ini." Geram hatinya. Diperlakukan seperti itu oleh Darmawan.
Indah dan Munah, dua staf pembantu yang lain selain Bik Sumi, sedang sibuk menyiapkan meja makan untuk santap malam, dan Bik Sumi sebagai kepala rumah tangga di rumah tersebut, masih terus mengawasi sesembari ikut membantu mereka berdua. Sudah terlihat cekatan dan cepat cara mereka bekerja. Semua pekerja staf rumah besar ini, Bik Sumi yang mengajarkan. Tidak seperti staf-staf pembantu di rumah lain, di sini semua staf pekerja memakai seragam, termasuk Bik Sumi, hanya warna pakaiannya saja yang berbeda dari yang lain, pakaian yang mereka kenakan layaknya para pekerja di perhotelan.
Sementara Amira masih berada di kamarnya. Setelah terbangun dari tidur siangnya, dan langsung bergegas mandi di kamar mandi yang memang berada di dalam kamar.
Terduduk diam, Amira di pinggir tempat tidur, dia bingung harus berbuat apa.
Ingin keluar dari kamar, Amira tidak punya keberanian. Ia memutuskan untuk menunggu di dalam kamar saja. Tidak lama, terdengar suara ketukan dari pintu kamarnya, dan pintu langsung terbuka, Bik Sumi masuk dan langsung mendekati Amira.
"Den Darmawan menyuruh Non Amira untuk turun, buat makan malam, Non," ucap Bik Sumi, mengabarkan. Amira mengangguk dan mulai mengikuti Bik Sumi menuju ruang makan keluarga. Deg-degan dada Amira, ini pertama kalinya dia akan bertemu dengan keluarga besar dari Darmawan. Jujur saja, ada rasa takut terselip di hatinya.
"Apakah keluarga Darmawan mau menerima keberadaannya di rumah ini?" bathinnya terus saja mempertanyakan tentang hal itu.
__ADS_1
Makanan yang belum pernah di lihat apalagi di makannya semua tersedia di depan matanya, takjub rasanya dengan apa yang dilihatnya, hanya ada Darmawan sendiri di meja makan sebesar itu. Darmawan menoleh ke Amira, tersenyum sebentar dan lantas mempersilahkan Amira untuk duduk di sampingnya.
Darmawan mulai memberikan tanda kepada Amira, untuk segera mengambil makanan yang sudah di hidangkan, setelah terlebih dahulu Darmawan menyendokan nasi ke piring nya.
"Makan yang banyak, Amira. Ambillah sepuasmu, pilih dan makan saja apa yang kamu mau," ucapnya kepada Amira.
"I-iya, Om." Sambil Amira sedikit agak berdiri untuk menyendokkan nasi.
Tante Sonya dan Mella segera ikut bergabung di meja makan, terheran-heran mereka berdua melihat keberadaan Amira di ruang makan keluarga. Rasa ketidak--sukaan jelas sekali terlihat dari tatapan mereka terhadap Amira.
"Siapa gadis kecil ini? Kenapa bisa mirip seperti?" bisik Tante Sonya.
"Kenapa bisa ada di rumah ini?" Pertanyaan-pertanyaan itu tersimpan di tatapan mereka terhadap Amira.
Terlebih dengan halnya Tante Sonya, jelas sekali dari mimik wajahnya tentang rasa ketidak--sukaannya, tetapi juga sudah di tanamkan dalam dirinya rasa permusuhan dan kebencian. Firasatnya mengatakan, suatu hari nanti gadis kecil ini akan membawa masalah yang lebih besar untuk dirinya. Untuk memprotes dan menegur Darmawan tentang keberadaan gadis kecil ini, dia tidak punya keberanian untuk itu.
Begitupun Mella, gadis dewasa sosialita ini malah sudah menempatkan gadis kecil ini sebagai batu Sandungan, bahkan saingannya dalam mendapatkan hati dan cinta Darmawan.
Amira benar-benar makan lahap sekali, tidak pernah dia makan seenak ini. Darmawan pun seperti selalu melayaninya, dengan menyendokkan semua lauk yang ada disitu, ke dalam piringnya, Amira.
"Makan yang banyak, Amira," ucap Darmawan. Sambil menambahkan nasi ke piring Amira, mengangguk ia, seperti mengucapkan terima kasih. Tatapan sinis dan rasa kesal menghinggapi hati Mella dan Tante Sonya.
"Kenapa Darmawan bersikap begitu baik kepada seorang gadis kecil yang baru saja dikenalnya, dan apa maksud Darmawan mengajak gadis asing itu untuk tinggal di rumah ini. Kenapa sebelumnya tidak mengajak bicara dahulu." Gerutu Tante Sonya di dalam hatinya. "Darmawan benar-benar tidak menghargai keberadaan aku." Ujarnya, sekali lagi, dan hanya didalam diam.
Selesai santap malam, Tante Sonya dan Mella bersiap-siap untuk segera pergi dari ruang makan keluarga, tetapi keburu di tahan Darmawan.
"Duduk dulu sebentar, ada yang ingin aku bicarakan," ujar Darmawan kepada Tante Sonya, tetapi tidak kepada Mella. "Jika kau mau pergi dulu, silahkan Mel," ucap Darmawan, tangannya seolah-olah mempersilakan Mella untuk segera pergi menjauh. Semakin kesal dan jengkel saja, Mella diperlakukan seperti itu. Tetapi dengan rasa yang tidak punya malu, Mella duduk kembali di bangku.
"Namanya, Amira." Ucap Darmawan kepada Tante Sonya, dan Mella ikut mendengarkan.
"Kalian, tidak usah tahu, latar belakangnya apa. Yang jelas, mulai hari ini. Amira akan tinggal di rumah ini. aku harap kalian semua bisa menerimanya, dan membantunya agar cepat beradaptasi dengan lingkungan di sini." Jelas Darmawan, sembari berdiri.
"Amira, Bi Sumi, ayuk ikut dengan saya," ajak Darmawan, segera berlalu meninggalkan Tante Sonya dan Mella, diikuti oleh Amira dan Bi Sumi di belakangnya.
__ADS_1
Sonya dan Mella, saling berpandangan, jelas sekali tergambar aroma permusuhan di mata mereka terhadap Amira.
Entahlah ... apakah mereka lawan yang serimbang buat Amira?