#AMIRA #HAIDKU JALAN KEMATIANKU

#AMIRA #HAIDKU JALAN KEMATIANKU
Part 12


__ADS_3

AMIRA


Haidku Jalan Kematianku


Part 12


Amira dan Bi Sumi mengikuti Darmawan ke arah teras depan rumah. Entah mau di ajak kemana, mereka sendiri tidak tahu.


Sebuah mobil masuk ke halaman rumah, saat mereka baru saja ingin naik ke dalam sedan mewah Darmawan. Diaz, segera turun dari kendaraannya dan bergerak menghampiri.


"Mau pada kemana, Mas?" sembari Diaz mencium tangan Darmawan.


"Ada sesuatu yang ingin di beli," ucap Darmawan, sambil membuka pintu mobilnya.


"Nggak pakai Sopir, Mas?"


"Ngga usahlah, dekat ini."


"Itu siapa, Mas?" tanya Diaz, tatapannya tertuju kepada Amira, yang berada di sisi yang berbeda. Sementara Amira hanya menunduk saja.


"Dia anggota baru keluarga kita," jawab Darmawan. Lalu mulai masuk kendaraan, di ikuti Bi Sumi dan Amira.


Sementara Diaz, masih diam berdiri memperhatikan, sampai kendaraan Darmawan tidak terlihat lagi.


Sebuah pusat perbelanjaan berkelas, yang tidak terlalu jauh dari kompleks perumahan mereka tinggal, menjadi tujuan Darmawan.

__ADS_1


Terpikirkan olehnya, jika Amira tidak mempunyai pakaian pengganti untuk sehari-hari, termasuk juga pakaian dalam. Maka diajaklah Bi Sumi untuk menemani Amira membeli segala perlengkapan kebutuhannya, agak sungkan buatnya, jika hanya dia sendiri yang menemani Amira.


"Saya akan menunggu di kedai kopi itu ya, bi. Setelah dirasa sudah selesai, telepon saya." ucap Darmawan, sembari tangannya menunjuk ke arah kedai kopi milik Negara Paman Sam.


"Iya, Den."


"Kamu pilih pakaian apa saja yang ingin kamu beli, Bi Sumi yang akan menemani," ucap Darmawan kepada Amira.


"Tetapi, Om. Sa--saya...." sedikit ragu dan sungkan, Amira, menerima segala kebaikan Darmawan.


Darmawan mengerti tentang rasa sungkan yang dirasakan Amira. Ditatapnya mata gadis belia itu dalam.


"Kamu sekarang adalah tanggung jawab saya. Jadi segala kebutuhan hidupmu pun, juga menjadi urusan saya. Paham, Amira." Tangannya mengusap lembut rambut Amira.


Di peluknya tubuh Om baik itu. Tidak lagi dia hiraukan ramainya pengunjung pusat perbelanjaan tersebut, termasuk keberadaan Bi Sumi di dekatnya, yang memandangi Darmawan dan Amira, dengan tatapan seperti menyimpan sesuatu, tatapan yang hanya Bi Sumi sendiri yang tahu maknanya.


Sedangkan bagi Amira, memeluk Darmawan adalah sebuah ungkapan rasa terima kasih yang tidak terhingga, dan itu adalah cara Amira untuk mengungkapkan rasa bersyukur dan terima kasihnya.


Darmawan tersenyum saat Amira masih memeluknya erat, entahlah ... ada sesuatu yang tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Tentang sebuah rasa yang menyelinap di dalam hatinya. Darmawan sendiri tidak paham, dia hanya tahu rasa itu membawa kebahagiaan dan kasih sayang di dalam tubuhnya.


"Selama puluhan tahun, hanya kamulah Amira yang pernah memelukku. Selain itu tidak pernah ada. Karena Khalila tidak bisa tergantikan," ucapnya dalam kesedihan. Berbicara dengan batinnya sendiri.


"Aku merindukanmu Khalila. Tersimpan setiap saat di hati."


Darmawan segera masuk kedalam kedai kopi yang dia maksud, sementara Bi Sumi dan Amira, menuju ke satu tempat yang tadi sempat diberitahukannya kepada Bi Sumi, untuk membeli segala keperluan Amira di situ saja, karena lebih lengkap dan Darmawan akan lebih mudah untuk mencarinya.

__ADS_1


Segelas besar Capuccino latte menemani Darmawan di kedai kopi terbesar dan terbanyak cabang di seluruh dunia. Tapi belum disentuhnya sama sekali.


Pikirannya masih tertuju dengan rasa yang dia dapatkan di saat Amira memeluknya.


Entahlah ... Rasa apa itu namanya, dia sendiri masih terus menduga-duga, mencoba memahami hatinya sendiri.


Memilih jalan kesendirian selama puluhan tahun adalah keputusan dan keinginannya sendiri, tidak pernah sekalipun dia sesali.


Hatinya sudah dibawa pergi Khalila selamanya. Itu yang sampai saat ini dia yakini dan dijalani.


Mungkin sudah puluhan wanita yang sudah mencoba untuk menaklukkan hatinya. Tetapi dia sendiri yang menolak untuk di tempati oleh siapapun. Darmawan sendiri yang menutup rapat pintu hatinya.


Mulai perlahan dicicipinya Capuccino latte. Pandangannya kosong, masih terus sibuk memikirkannya, rasa apa yang ditimbulkan karena pelukan Amira. Rasa yang sama saat dulu Khalila memeluknya.


Amira tidak aji mumpung dalam memanfaatkan kebaikan Darmawan, dia hanya membeli yang memang benar-benar dibutuhkan, dalam memilih pakaian untuk kesehariannya pun dia serahkan kepada bi Sumi. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan berbelanja ataupun membeli sesuatu, biasanya Tante Banci yang belikan. Itu pun sudah beberapa tahun yang lalu. Hampir semua baju-baju yang dikenakan, adalah pemberian dari kakak-kakak senior. Baju- baju bekas pakai mereka, hanya Asmah yang pernah membelikannya baju baru. Benar-benar masih baru.


"Ayu, Non Amira. Sekarang kita cari pakaian dalam buat si Non," ajak Bi Sumi. Tangannya sudah banyak membawa pakaian harian yang sudah dia pilihkan untuk Amira.


"Jangan pakai Non, Bi ... Amira saja." Protes Amira kepada Bu Sumi.


"Ga apa-apa, Non ... Bibi lebih enak, menyebutnya seperti itu." Tersenyum ke arah Amira, dan segera menuju tempat penjualan pakaian dalam. Amira hanya mengikuti di belakangnya. Tetapi matanya terus saja menoleh ke kiri dan kanan. Ini kali pertama dia baru mengetahui, jika yang dimaksudkan dengan Mall itu bentuknya seperti ini.


"Amira!" Terdengar suara memanggil namanya, dan Amira benar-benar hapal dengan pemilik suara tersebut. Cepat-cepat menoleh ke arah suara itu berasal. Teramat sangat terkejut ia, saat si pemilik suara tersebut, agak sedikit berlari mendekatinya.


"Asmahh...."

__ADS_1


__ADS_2