Aku Benci Tapi Aku Cinta

Aku Benci Tapi Aku Cinta
chapter empat


__ADS_3

Dara yang mendengar cerita Reno merasa sedih, karena Reno seperti berniat menjauh darinya.


“Hmmmm, kamu sengaja ya ambil kuliah diluar? Kamu udah bosen ya ketemu sama aku?” Dara berkata dengan raut wajah sedih serta terlihat murung


“Gak gitu Dara, aku cuman pengen ngelanjutin kuliah di tempat yang baru, toh aku juga pengen jalan-jalan keluar negeri. Kalau mau, kamu ikutan aja sekalian ngambil beasiswa bareng aku?” jawab Reno sambil menenangkan Dara


“Heummm, kamu kan tau orang tuaku gimana Ren.” Dara menjawab perkataan Reno dengan wajah yang masih murung.


Reno kebingungan dan tidak tau mau berkata apa, hanya saja tekad dan keinginan dia sudah bulat. Jadi dia harus bisa membuat Dara percaya dengannya. Reno mencoba menenangkan Dara, sambil merayu dan mengelus kepala Dara.


Setelah Dara tenang, Reno mencoba meyakinkan Dara Kembali.


“Udah siap nih merajuknya? ga boleh gitu ih, kamu tuh harus percaya sama aku, lagipula aku kan sayangnya cuman sama kamu. Toh aku juga kesana buat belajar, bukan nyari cewe lain.” Reno menjelaskan sambil bercanda agar suasana tidak kaku


“Ih, buaya kalo ngomong mah gini, aku ga gini kok, aku ga gitu kok, aku ga ngapa-ngapain kok, lagipula aku cuman sayang kamu kok. ISHHHH BUAYA IH.” tegas Dara dengan tatapan sinis


“Hemm, gituuuu ya, jadi Dara mikir kalau aku buaya nih. Sini kamu, jangan jauh-jauh dari buaya yang cakep ini!” Reno menjawab dan menarik Dara lalu menjahilinya


Lalu bunda Reno mengetok pintu…


TOK….TOK….TOK


“Reno, ajak Dara makan, kasian pacar kamu daritadi ga kamu kasih makan, sini bunda buat makanan nih!” kata ibu Reno


“Iya bun, sebentar. Si Dara cengeng nih, ga mau dengarin kata Reno dianya.” Reno menjawab


“Ihhhhh Reno, kamu bilang apasih, gimana kalau bunda kamu salah paham ish”


“nggak bun, ini si Renonya jail banget sama Dara.” Sambung Dara menjawab bunda Reno


“Renooooo, jangan jahat sama Dara ya, bunda jewer telinga kamu lho.” Tegas bunda Reno menjawab perkataan Reno dengan nada tinggi


“Iya lah bun, Dara yang berbuat Reno yang salah ya.” Balas Reno dengan perasaan kecewa


Dara tertawa dan mencubit pipi Reno. Lalu Dara mengajak Reno untuk makan, karena Dara tidak sabar mencicipi masakan bunda Reno. Dara dan Reno bergegas menuju dapur, Reno juga terlihat lapar setelah mencium aroma harum yang terhirup oleh hidungnya.


“Dara, sini coba cicipin masakan bunda. Bunda pengen tau pendapat kamu.”


“Okeee bun.” Jawab Dara dengan senang.


Dara mencium aroma gurih dari masakan yang hendak dia cicipi,


Happpp…


Rasa gurih, sedap, manis, semuanya pas. Seperti masakan kelas bintang lima. Dara juga menyuruh Reno untuk mencicipi masakan ibunya sebelum dingin.


Dara mengambil piring, lalu mengisinya dengan masakan yang sudah dihidangkan.


“Nih, makan cepatan keburu dingin.” Dara mengarahkan sendk berisi nasi dan lauk, lalu menyuapkan Reno.


“Makan yang lahap tuh, enak banget lhoo masakan ibu kamu.”


“Iya bawel, setiap hari masakan ibuku emang enak tuh. Jadi yah aku agak bosan.” Jawab Reno sambil mencubit pipi Dara.


“Kalian lanjut aja makannya, bunda mau pergi keluar sebentar ya Dara.”


“Jangan macam-macam kamu Reno, awas aja lho.” Ibu Reno memperingatkan dengan tegas sambil menatap sinis.


Reno memalingkan pandangan ke arah lain, dan berpura-pura tidak melihat apa-apa. Reno tidak berani memandang wajah ibunya yang begitu garang.


“Mama tinggal bentar, jaga rumah baik-baik Reno. Ingat pesan ibu tadi!”


“Iya bu.” Saut Reno


Lalu Reno dan Dara menghabiskan hidangan yang telah dibuat, setelah selesai makan Dara langsung membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor.


“Sok rajin kamu ya cantik, giliran ngurusin aku malas.”

__ADS_1


“Ekhmmm, apa yang kamu bilang tadi ganteng? Aku gak dengar dengan jelas, coba ulangi lagi!” Balas Dara dengan nada tinggi.


“E-eh, aku ga ngomong apa-apa lho.”


Dara menatap Reno dengan sinis, lalu tidak mempedulikan Reno. Reno berbicara banyak hal, namun tidak ada satupun tanggapan dari Dara,


“Ekhmm, Cantikkk. Kamu ngacangin aku?” Reno bertanya dengan nada kecewa.


“….”


“Daraaaaaa, aku bercandaaaa tadi. Jangan gitu laa, nangis aku ni, masa kamu tega sih.” Reno menarik-narik tangan Dara, Reno berharap Dara kasihan padanya.


“……”


Tetap saja tidak ada tanggapan ataupun respon dari Dara, lalu bel berbunyi.


“Reno, ibu pulang. Buka pintunya.”


“Baik buuuu, sebentar.” Jawab Reno


Waktu Reno bergegas membukakan pintu, Dara menarik tangan Reno.


“Biar aku aja yang bukain, kamu pikirin lagi kesalahan kamu tadi!” Dara berkata kepada Reno dengan tatapan sinis


Sampai di depan pintu, Dara mengubah raut wajahnya Kembali, lalu membukakan pintu.


“Eh sayang, kemana Reno nya? Kok bukan dia yang bukain pintu sih, malas banget tuh anak.” Tanya ibu Reno yang heran dengan sikap anaknya.


“Gak gitu bun, tadi Reno yang mau bukain tapi Dara minta bair Dara aja, hehehe.”


“Oooh gitu ya, yaudahlah kalau gitu bunda masuk kamar dulu ya.” Balas bunda sambil mengelus kepala Dara.


Dara mengangguk dan segera kembali ke kamar Reno.


Sudah seharian Dara main di rumah Reno, langit sudah tampak mulai gelap. Dara memutuskan untuk segera pulang.


“Okeyyyy cantik, gitu donk. Dari tadi cuekin aku mulu, kan aku sedih.” Reno menggoda Dara dengan memperlihatkan muka sedih.


Dara tidak memberi tanggapan apapun, dan menarik Reno keluar kamar untuk berpamitan dengan ibu Reno.


Reno yang ditarik-tarik malah kesenangan, kapan lagi coba Dara semanja ini pikir Reno. Dirinya membiarkan Dara untuk terus menariknya dengan paksa.


“Heeee Reno, kamu berat banget. Kamu makan apaan sih, harusnya kamu diet.” Pinta Dara dengan wajah lesuh karena menarik Reno.


“Kamu kan selalu merhatiin aku, aku makan dengan teratur kok.” Balas Reno sambil menggoda Dara.


“Ihhhh, jangan perut doank yang digedein, otot juga.”


“Mulai besok kamu workout sana, biar balance perut ama otot!” Dara membalas dengan ketus.


“IHHH, cepetan. Jangan malas jalanla, punya kaki dipakai, jangan di sia-siain.”


“Iya cantik, aku kan cuman pengen liat kamu marah. Habisnya kalau kamu marah tuh damagenya nambah, hehehe.” Balas Reno memperjelas maksud kelakuannya.


“nye nye nye nye. Banyak kali alasanmu.” Jelas Dara dengan perasaan kesal.


“Iya iyaaa, hahaha. Yok jumpain bunda.”


“Dari tadi kek, hahaha.” Balas Dara sambil mencubit pipi Reno karena gemas.


DI depan pintu…


“Buuuuuu, ibuuuuu. Dara mau balek nih, dia mau pamitan buuu.”


“Iyaaa, iya. Gak usah teriak teriak, suaramu bikin telinga ibu sakit. Bentar ya Dara, ibu lagi beresin kamar.”


“Lah giliran ke Dara lembut, ke anak sendiri kasar banget. Siapa lagi kalau bukan ibu.” Balas Reno.

__ADS_1


Ibu Reno membuka pintu, spontan menjewer telinga Reno.


“Aaaa-duh aaa sakit bu, maaf maaf, Reno bercanda tadi.”


“Makan tuh, ngomongnya sih sembarangan. Hahaha.” Ledek Dara.


“Iya nih Dara, emang agak lain anak bunda nih. Bunda aja sampai capek ngurusinnya.”


“Kamu mau pulang ya?” tanya ibu Reno.


“Iya bun, udah mau maghrib. Nanti takutnya orang tua saya khawatir.” Jawab Dara.


“Ooo, iyala sayang. Ini ada sedikit oleh-oleh yang bunda beli waktu keluar tadi. Jangan lupa dimakan ya.”


“Okeee bun, mekasih ya bun. Dara pulang dulu.” Jawab Dara sambil menyalim tangan ibu Reno.


“Bu, Reno antar Dara pulang dulu ya.” Pinta Reno sambil menyalim ibunya.


“Iya, hati-hati dijalan nak, jagain Dara sampe rumah nya ya. Nanti sebelum pulang, pamitan dulu sama orang tua nya ya.” Jelas ibu Reno.


Di jalan pulang, Reno banyak bercerita tentang ibunya. Dara menjadi pendengar yang baik, bahkan Dara banyak bertanya tentang ibu Reno supaya bisa kenal lebih dekat lagi.


“Heumm, jadi gitu ya. Kalau ibuku sih ga terlalu banyak ngatur. Cuman dia orangnya lumayan keras, makanya aku bisa jadi cantik, menawan, dan popular. Semua itu sih dari darah ibuku, hehehe.” Dara memberitahukan banyak hal kepada Reno.


“Aish, percaya diri banget yak.” Balas Reno sambil mencubit pipi Dara


“Hahaha iyalah ganteng, cewe kamu gitu lho.” Jawab Dara sambil mencubit balik pipi Reno dengan keras.


“Awwwh sakit lho cantik, ku peyuk nanti lho”


Dara berlari menjauhi Reno,


“Sini kejar aku ganteng, coba tangkap aku kalau bisa.” Teriak Dara yang berlari agak jauh dari Reno.


“Siniiii kamu, awas aja kalau ketangkap ya. Kupeluk kamu sampe lemas.” Balas Reno dengan teriak sambil berlari mengejar Dara.


“Heh, yudah sini jangan ngomong doank donk gantengku.” Jawab Dara dengan kencang sambil melambaikan tangan.


Reno mengejar Dara sampai di depan rumah Dara.


“Heh gantengnya aku capek ya? Kok ga bisa nangkap aku sih?” Jelas Dara dengan sombongnya.


“huh, huh, huh. Kamu beneran cewe kan sayang? Staminamu kek lakik, ga masuk di akal.”


Mendengar perkataan Reno, dara langsung tertawa dan menjewer telinga Reno.


“Ya, cewek lah sayang, kan aku cewe kamu toh. Hahaha, ada-ada aja sih kamu ganteng.” Dara menjawab dan tertawa dengan lepasnya.


Tok, tok, tok….


“Ibuuuuu, Dara pulang nih.” Dara berkata dan mengetuk pintu.


“Iya sayang, ibu lagi di dapur. Kamu masuk aja, ibu ga bisa nyamperin.” Jawab ibu Dara dengan keras dari dapur.


Dara menarik Reno masuk, dan menyamperin ibunya.


“Ibuuuu, aku bawa Reno bu. Dia mau pulang, jadi dia mau pamitan sama ibu.” Dara berkata dengan jelas.


“Ehh iya, Reno mau pulang lagi? Ga mau singgah dulu?” tanya ibu Dara sambil mengajak Reno ke ruang depan.


“Iya tan, udah mau maghrib. Reno juga ada urusan tan, jadi Reno ga bisa singgah tan.”


“Oooo, iyalah nak. Hati-hati dijalan ya, lain waktu singgah dulu toh.” Pinta ibu Dara sambil mengantar Reno ke pintu keluar.


“Baik tan, Reno pamit ya tan. Aku balik ya Dara, jangan lupa makan malam nanti.” Reno menyalim ibu Dara.


“Siapppp bos, hati-hati dijalan ganteng.” Jawab Dara sambil hormat.

__ADS_1


__ADS_2