Aku Bukan Seorang Pelakor Hai Netizen...

Aku Bukan Seorang Pelakor Hai Netizen...
Bab 12


__ADS_3

" Apa kamu akan melakukannya sekarang?"


Anggukan maut penuh sorot mata menggoda dari sang istri.


Sang suami yang bersemangat, langsung menggendong tubuh istrinya yang memiliki tubuh seksi cenderung langsing. Jadi meskipun pria berusia 45 tahun akan sangat tidak jadi masalah dan tidak merasa keberatan jika harus menggendong istrinya menuju ruang intim untuk meluapkan hasrat bercintanya.


Dalam gendongan, sang istri yang tersenyum lebar diikuti dengan tawa kecil, karena sangat tidak percaya sang suami yang dia kira usianya jauh di atasnya bisa melakukan hal gila menurutnya.


" Jangan remehkan pria berusia kepala 4 mendekati 5."


" Haha." sang istri pun terkekeh.


Setelah sampai di atas ranjang. Gairah jiwa muda keduanya bergelora. " Uh...Uh...Uh..." *******-******* manja yang terdengar dari luar ruangan itu membuat telinga sang pengawal terasa geli-geli bagaimana. Sang pengawal yang menoleh ke arah ruangan dimana suara itu berasal. Sesaat mematung setelah mengaduk air panas untuk kopi yang dibuatnya. Gelengan kepala berulang dengan senyuman tipis menggelikan sang pengawal keluar dan menutup pintu Villa menuju pos depan tempat berjaga di Villa.


Kring...Kring... Dering ponsel sang pengawal yang terlihat nama Bu Bos Besar dalam tampilan layar depan ponsel.


" Hah, Bu bos." Sang pengawal langsung beranjak berdiri kebingungan antara harus mengangkat ponselnya atau tidak. Sesaat Sang pengawal mengambil dan hendak mengangkat namun kemudian meletakkan ponselnya kembali di atas meja dan membiarkan ponselnya berdering dan memandanginya untuk beberapa saat. Sesaat dering ponselnya berhenti. " Alhamdulillah, Aman...aman." Sang pengawal duduk kembali dengan perasaan lega. tiba-tiba. Kring...Kring...Sang pengawal terkejut dan menyembulkan kedua pundaknya dan membuat kopinya tumpah tidak beraturan membasahi bajunya dan dia sangat merasa kepanasan. " Haduh, harus aku angkat ini. Bencana ini, bisa curiga nanti Ibu bos besar. Kalau aku tidak angkat."


" Halo Bu."


" Kamu lama sekali angkat teleponnya."


" Ma-af Bu, saya habis dari toilet." Jawab ragu sang pengawal.


" Bapak dimana?"


" E..." Sang pengawal yang mulai kebingungan dan menggaruk-garuk kepalanya, mencari jawaban yang tepat. " Sepertinya sedang meeting Bu, dengan klien."


" O, ya sudah, nanti sampaikan ke bapak, kalau saya telepon, soalnya ponselnya tidak bisa dihubungi, mungkin bapak lupa chargernya."


" Baik Bu." Sang pengawal langsung lemas menyandarkan kepalanya ke pintu pos penjaga. " Alhamdulillah, ibu tidak bertanya macam-macam." Sang pengawal yang mengelus dadanya tanda selamat dari perang dunia ketiga yang siap kapan pun akan di gaungkan. Huft Nafas kelegaan sang pengawal yang terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Meeting dengan klien apaan, Tuan sedang bercinta dengan istri mudanya. Bulan madu setelah pernikahan diam-diamnya. Tuan...Oh Tuan, mengapa dikau tega mengkhianati cinta Ibu Halimah yang baik hati. Yang sudah menjadi ibu dari putra dan putri mu. Keduanya adalah majikan yang baik hati menurutku. Tapi maaf Bu Halimah, aku akan tutup mulut sampai perang dunia ini akan terbongkar dengan sendirinya. Biarkan alam yang bekerja. Gumam sang pengawal yang sedang duduk di pos penjaga yang sedang menghisap rokoknya.


" Apa jadinya kalau aku hamil dan mengandung benih cinta kita."


" Bukankah itu bagus."

__ADS_1


" Oya."


Adegan panas sepanjang waktu seakan tidak membosankan antara keduanya. Benar adanya seperti dimabuk asmara bagaikan anak muda yang sedang jatuh cinta. Tidak ada hal lain selain mereka nikmati waktu hanya untuk menanamkan benih sang Konglomerat atau bahkan sang biduan junior untuk menambah kebahagiaan rumah tangga mereka.


****


" Maaf Tuan, mengganggu." Sang pengawal yang ragu mendekat pada Tuannya yang memakai piyama tebal seperti handuk berbentuk kimono.


" Ada apa?"


" Ibu bos besar tadi telepon, katanya ponsel Tuan tidak dapat dihubungi beliau."


" Apa itu saja yang dia sampaikan?"


" Dia juga bertanya, Tuan sedang apa?"


Wajah sang Tuan yang langsung berubah terkejut dengan penyataan yang diberikan sang pengawalnya. " Lalu, kamu jawab apa?"


" Saya berkata kepada Ibu bos besar, Tuan sedang meeting dengan klien."


" Bagus." Sang Tuan yang menepuk pundak sang pengawal pribadinya lalu pergi meninggalkannya.


****


" Ibu, ibu disini." Sang putra yang mencium punggung tangan ibunya.


" Iya nak." Sang ibu yang mengelus kepala anaknya.


" Ada apa dengan ibu?"


" Ah, ibu hanya menunggu kabar ayah ku saja."


" Ada apa dengan ayah Bu?"


" Tidak, mungkin hanya perasaan ibu saja yang terlalu mengkhawatirkan ayahmu."

__ADS_1


" Ayah memang sedang sibuk Bu. Ibu sabar ya." Anak laki-lakinya yang mengelus pundak sang ibu. " Aku ke atas dulu ya."


Anggukan kepala sang ibu menatap wajah anaknya.


Entah mengapa perasaanku tidak enak begini sepanjang sejarah perkawinan. Perkawinan ku sudah lama, namun tidak pernah aku merasakan gelisah seperti ini. Gumam lirih Halimah yang berjalan mondar-mandir dari pagi hingga menunggu telepon dari suaminya.


" Kak."


" Dari mana kamu?"


" Dari rumah teman."


" Kamu pergi dengan ibu."


" Tidak, ibu sedang duduk di sofa ruang tamu. Kasihan, dia terlihat cemas memikirkan ayah."


" Iya dek. Akhir-akhir ini memang ibu terlihat cemas berlebihan memikirkan ayah. Aku sudah berkata padanya bahwa ayah sedang sibuk mempersiapkan partainya maju di PilPres tahun depan, tapi ibu masih saja cemas."


Kedua adik dan kakak yang sedang mengintip ibunya dari kejauhan yang sedang berjalan mondar-mandir, duduk kembali dan mengecek ponsel yang dilakukannya berulang-ulang.


Anak perempuan yang tidak tega melihat ibunya yang cemas lalu menghampirinya. " Bu, kita makan siang di luar yuk!"


" Ibu sedang malas kalau keluar."


" Ayolah Bu, supaya ibu tidak kepikiran ayah terus. Tenang saja, ayah tidak akan macam-macam. Kalau seandainya ayah berani macam-macam, aku dan adik yang akan turun tangan sendiri."


Halimah yang tersenyum, melihat sang anak perempuan yang begitu keras berusaha mengalihkan apa yang yang ada di kepalanya saat itu. Andaikan kamu tahu nak, tidak biasanya ayahmu pergi keluar kota tanpa kabar seperti ini. Dari dulu ayahmu selalu memberi kabar ketika sudah sampai di kota tujuan dan apapun kegiatannya akan dikirimkan kepada ibu. Namun akhir-akhir ini, Beberapa tahun terakhir semenjak usia kami bertambah dewasa, rasa sayang dan cinta ayah kamu kepada keluarga ini sepertinya berbeda. Ibu tidak yakin kalau ayah kalian ada wanita lain. Tapi, mengapa waktu ibu pergi ke pusat perbelanjaan, ayahmu katanya membeli tas mewah untuk Ibu, sedangkan ibu tidak menerimanya sama sekali. Tatapan kosong Halimah tertuju ke arah anak perempuannya.


" Bu...Bu...Ibu..." Sang anak yang menyadarkan ibunya dari lamunannya.


" Eh." Ibunya yang terkejut.


" Ibu melamun lama, ayo kita pergi saja."


" Huh..." Hembusan nafas Ibu yang beranjak dari tempat duduknya. " Okay, baiklah."

__ADS_1


" Nah, begitu kan lebih baik."


Sang ibu yang tersenyum dan berjalan bergandengan menuju ke arah mobil dan pergi untuk mencari makan siang di luar rumah.


__ADS_2