Aku Bukan Seorang Pelakor Hai Netizen...

Aku Bukan Seorang Pelakor Hai Netizen...
Bab 17


__ADS_3

" Aku akan tetap tinggal dan mempertahankan rumah tangga kita. Cup." Kecup Sang konglomerat kepada Sang biduan.


" A-aku." Nada Mayang yang bergetar serba salah.


" Sudahlah. Masalah ini jangan sampai berpengaruh untuk rumah tangga kita. Aku akan menunggu keputusan Halimah. Kalau dia mau terima. Bagus. Kalau tidak. Aku bisa apa? Aku juga tidak akan meninggalkan kamu."


" Apa sebaiknya aku menemui istrimu dan juga anak-anakmu untuk meminta maaf dan berbicara dari hati ke hati."


" Tidak sekarang. Suasananya panas. Suasana hati mereka belum dingin. Mereka juga pergi dari rumah tidak pamit kepada saya entah kemana?"


" Kemana mereka."


" Entahlah, saya sudah hubungi ponsel masing-masing dari mereka, namun tak satupun mereka angkat. Semarah apapun kepada saya, apa tidak bisa dibicarakan dengan kepala dingin. Apalagi Panji. menjadi sangat kurang ajar dengan ayahnya."


" Tapi mas..."


" Jangan membela mereka. Bagaimanapun salahnya aku. Harusnya mereka tetap hormat dan tidak main hakim sendiri."


" Mereka masih dipenuhi dengan amarah. Tapi apakah kita tidak salah?"


" Salah kita bukankah bagian dari garis takdir? Harus berjalan seperti ini. Biarlah. Yang sudah terjadi, biarlah terjadi. Aku sudah tidak terlalu ambil pusing dengan anggapan orang tentang ku. Aku hanya ingin rumah tangga kita bahagia dengan anak semata wayang kita. Sudah!" Kecupan kembali yang diberikan Sang konglomerat kepada sang biduan istri diam-diamnya.


" Jujur, aku merasa beruntung dicintai dan disayangi kamu mas. Tapi aku juga merasa bersalah dengan kekacauan yang terjadi ini."


" Sudahlah! tidak usah dipikirkan."


Malam panjang mereka berlalu tidak tenang.


Teeeer....Teeeer....Teeer Bunyi pecahan kaca rumah Sang konglomerat dan sang biduan. Kepingan-kepingan kaca dimana-mana. Lemparan batu yang menyasar kaca-kaca jendela sudah tidak terelakkan lagi.


" Dasar Pelakor!" Ujar Panji dengan sangat geramnya melampiaskan batu-batu yang cukup besar untuk dia lemparkan ke rumah sang biduan yang seorang pelakor juga.


" Bagian sana kak." Panji yang ditangan kanannya menggenggam batu yang siap dia lemparkan ke kaca jendela rumah sang biduan.


" Egh...rasakan itu sang pelakor!" Lemparan Gendis tepat mengenai sasaran kaca jendela lantai dua yang sepertinya tempat tidur sang biduan.


Teeeer.... Sesaat terdengar pecahan kaca tersebut.


" Buruan kak!"

__ADS_1


Gendis yang masuk mobil kembali setelah titah dari adiknya. " Aku masih belum puas!"


" Besok kita kesini lagi."


Sementara di rumah besar terjadi kekacauan. Sang biduan merasa ketakutan. Merasa jiwanya terancam. " Siapa yang melempari batu tengah malam seperti ini?"


Sang konglomerat yang memeluknya dengan erat dengan memberikan ketenangan. Gendis...Panji...Sorot mata tajam Bambang ketika sedang memeluk Sang biduan. Penuh amarah terhadap tindakan anaknya yang diluar batas kewajaran.


" Kamu tenang."


" Rasanya, ini akan berlangsung lama. Anak-anak kamu dan juga Halimah pasti akan bertindak lebih jauh lagi. Aku takuuuut." Mayang yang menangis karena takut nyawa anak dan juga dirinya dalam bahaya. " Sebaiknya kamu kembali ke mereka mas!"


" Tenang...tenang." Nada tegas Bambang yang terlihat mengamuk. " Ma-af. Aku tidak bermaksud membentak mu. Aku hanya kamu tenang. Besok akan saya selesaikan masalah ini."


Sementara pengawal pribadi Sang Konglomerat yang sudah bekerja sama dengan Nyonya besar yaitu Halimah dan Gendis juga Panji. Siap meluncurkan teror yang akan diluncurkan di rumah Sang biduan. Halimah memohon kepada pengawal pribadi sang konglomerat untuk bisa bekerja sama dengannya dengan sejumlah imbalan besar yang akan didapatkan nya. Lagi pula Sang pengawal pribadi hanya bekerja sama memberi informasi tentang teror yang akan di laksanakan nya.


Pagi buta sekali. Gendis dan juga Panji memberikan kotak besar dan menyuruh pengawal pribadi sang konglomerat untuk memberikannya kepada sang biduan.


" Jalankan ini sesuai rencana!"


" Baik den Panji." Sang pengawal pribadi sang konglomerat kemudian masuk ke dalam rumah.


" Selamat pagi nona." Sang pengawal yang memberikan kotak besar terbungkus rapi seperti kado mahal untuknya.


" Apa ini?"


" Tidak tahu Nona. tadi ada seorang kurir yang mengantarnya dan menyuruh saya memberikan kepada nona."


" Terimakasih." Sang biduan membuka bungkusan kado kotak yang cukup besar. Meletakkannya di meja terlebih dahulu sebelum membukanya. Perlahan sang biduan membukanya dan...." Aw.." teriakan sang biduan dengan melempar bungkusan kado besar itu hingga jatuh ke lantai.


" Ada apa nya?" Mbok Tri dan juga pak Min yang lari tergopoh menuju suara Nyonya berasal.


" Tolong bersihkan itu mbok." sang biduan yang menunjuk ke arah bangkai binatang dengan bertuliskan DASAR PELAKOR. Perusak Rumah Tangga Orang. Tulisan itu terkesan sederhana namun sangat menyakitkan. Mbok Tri yang shock. Menyembulkan kedua pundaknya dengan mulut menganga. Membaca tulisan-tulisan merah dalam kertas.


" Astaga Nya, sepertinya lebih baik menjadi biduan seperti dulu." Mbok Tri yang merasa kasihan dengan apa yang terjadi dengan rumah tangga majikannya.


" Siapa yang tega melakukan seperti ini?"


" Hush!" Mbok Tri yang menepuk lengan Pak Min. " Siapa lagi kalau bukan istri sahnya."

__ADS_1


" Bukannya Nyonya juga istri sah."


" Sudah...sudah, kita bersihkan saja! Jangan ikut campur urusan Nyonya. Kalau sampai dengar Nyonya, panjang urusannya."


Gendis dan Panji yang melihat foto sang biduan yang dikirimkan oleh pengawal pribadi ayahnya saat membuka bungkusan kado dari mereka. Ha...ha...ha...Keduanya merasa sedikit bahagia melihat wajah ketakutan dari sang biduan. " Jangan pernah main-main dengan kita. Enak saja, mau mengambil ayah dari kita." senyum sinis Gendis melihat gambar yang dikirim ke ponselnya.


" Ada apa?" Sang konglomerat yang usai dari mandinya. Turun dari lantai dua menuju meja makan. " Seperti ada keributan."


" Haaaah, entahlah. Akan sampai kapan teror ini?"


" Ada teror lagi."


Sang Konglomerat lalu menghubungi temannya yang ada di kepolisian untuk memerintahkan penjagaan ketat terhadap sekitaran rumahnya. Sang konglomerat juga memberikan pengawalan ketat terhadap istri mudanya.


" Tangkap siapa saja yang terlihat mencurigakan dan meneror rumah ini kembali. Sekalipun itu anak-anak saya."


" Okay, akan saya jalankan perintah darimu kawan. Akan ada tim dari kepolisian untuk menuju ke kediaman mu."


Pengawal pribadi yang berada tidak jauh dari sang konglomerat merekam pembicaraan itu dan mengirim pembicaraan itu kepada nona Gendis dan Panji.


Pengawal pribadi sang konglomerat yang melaporkan situasi dan kondisi keadaan rumah istri muda dari sang konglomerat kepada kedua anaknya.


" Halo non Gendis, apa sudah dengar rekaman yang saya kirimkan?"


" Iya."


" Sebaiknya anda menghentikan teror anda! karena Tuan sepertinya akan memberikan penjagaan ketat di rumah ini."


" Terimakasih banyak."


" Oya nona Gendis. Tolong jangan sampai bocor, kalau saya ikut berperan membantu Nyonya besar dan kalian. Bagaimanapun saya adalah pengawal pribadi Tuan yang sudah sangat setia kepadanya. Maaf, jika sampai disini bantuan yang saya berikan untuk kalian. Seterusnya, saya tidak akan memberikan informasi lagi."


" Iya saya tahu. Sekali lagi terimakasih." Gendis menutup ponselnya. meremas dan sebenarnya ingin membantingnya. Namun seketika dia menangis tak berdaya ketika mendengar kata-kata ayahnya yang berbunyi. Tangkap siapa saja pelaku teror! sekalipun itu anak-anak saya. Sepertinya wanita itu telah membutakan hati dan pikiran ayah.


Gendis dengan sangat kecewanya terhadap sikap ayahnya.


Begitu juga dengan Panji yang memukul setir mobil. Wajah penuh marah tidak bisa ditutupi lagi dari keduanya. Dibuat kecewa dalam, oleh sikap ayahnya yang sudah diracuni oleh wanita pelakor yang merusak rumah tangga ayah dan ibunya.


Aaarrrrgh....Geram Panji yang ada hentinya.

__ADS_1


__ADS_2