Aku Bukan Seorang Pelakor Hai Netizen...

Aku Bukan Seorang Pelakor Hai Netizen...
Bab 20


__ADS_3

" hah..." Nafas sesak Halimah. " Ya mbak yu. Nasi sudah menjadi bubur. Aku juga tidak ingin berlarut dengan masalah rumah tanggaku ini. Maka dari itu saya ingin melepaskan."


" Ya sudah, aku bisa apa. Aku hanya doakan yang terbaik untuk kamu, untuk anak-anak kamu." Kedua wanita yang saling menempelkan kening dengan sangat haru. Kakak Halimah tidak menyangka, jika nasib adiknya akan seperti ini. Berita rumah tangganya menjadi konsumsi publik karena ulah suaminya sendiri.


Sementara sang biduan tanpa sepengetahuan sang konglomerat mendatangi Halimah dan ingin meminta maaf dengan berbicara empat mata. Mobil sang biduan yang sedari tadi mengikuti mobil Halimah berusaha terus mengikuti mobil Halimah kemanapun pergi.


" Pak, berhenti disini."


" Baik Bu."


" Bapak bisa tunggu, atau pulang lebih dulu, karena jarak rumah juga tidak terlalu jauh dari taman ini."


" Saya tunggu saja Bu."


Halimah menganggukkan kepalanya. Keluar mobil dan perlahan menyusuri taman yang sudah lama sekali tidak pernah dia kunjungi setiap olahraga pagi dengan suaminya. Halimah mengingat semua peristiwa masa muda setelah menikah dan mereka sering hanya sekedar joging di taman ini.


Sang biduan yang mengikuti Halimah. " Saya mohon maaf, saya tidak bermaksud dengan semua ini."


Halimah menoleh, terkejut bukan main ketika melihat Sang biduan yang membuka masker penutup wajah dan juga topi supaya tidak dikenali orang lain. " Mau apa kamu kesini?"


" Aku hanya..."


" Pergilah!" Halimah yang menyela ucapan sang biduan.


" Sebelum aku dapat maaf dari kamu. Aku tidak akan pergi."


" Apa pantas?" Halimah yang berjalan tanpa menggubris sang biduan yang terus mengikuti langkahnya. " Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi."


" Apa sulit bagimu untuk menerima?"

__ADS_1


" Menurutmu?"


" Aku tahu, aku dan suamimu telah menyakiti mu. Tapi percayalah, sering aku katakan padanya untuk meninggalkan ku. Begitu juga dengan aku yang berusaha membujuknya untuk kembali pada mu."


" Sekarang sudah terlambat."


" Apanya yang terlambat. Pengadilan bahkan belum memutuskan kalian bercerai. Anda bisa mencabut gugatan perceraian itu."


" Hehm. siapa kamu?" Halimah menatap tajam sang biduan. " Dengan mudahnya berkata demikian, setelah menghancurkan semuanya. Saya tidak menyangka, profesi anda yang seorang biduan kelas atas masih menginginkan suami orang."


Sang biduan yang bersimpuh di kaki Halimah. " Sekali lagi saya mohon maaf. Karena hanya itu yang bisa aku lakukan saat ini."


" Pergilah! Sekalipun kamu berlutut aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Minta maaflah kepada Tuhanmu. Mengapa menciptakan hati yang tega menyakiti sesama wanita. Mengapa sampai melakukan pernikahan, padahal jelas-jelas kamu tahu bahwa dia masih berstatus suami sah ku."


" Aku minta maaf."


Sang biduan dengan berat hati berdiri berjalan pergi menjauh dari Halimah. Tidak memperdulikan jalannya hingga menubruk Gendis yang berjalan tergopoh. Keduanya saling bertubrukan. Hingga keduanya jatuh tersungkur.


" Maaf...maaf..." Gendis yang dengan cepat langsung berdiri. membungkukkan badannya kepada wanita yang penampilannya misterius yang tidak lain adalah sang biduan.


Sang biduan hanya menunduk dan cepat pergi menjauh dari Gendis.


Gendis menatap curiga wanita itu hingga lenyap dari pandangan nya.


" Ibu...ibu..." teriak Gendis dari arah belakang ibunya.


" Ibu disini Ndis." Halimah yang memberikan lambaian tangannya.


" Ternyata ibu disini. Aku baru saja membeli rujak buah, lihat mobil ibu terparkir, langsung aku tanya supir, katanya ibu ada di dalam taman. Makanya aku kesini."

__ADS_1


Halimah yang tersenyum menatap anak perempuannya.


" Kita makan sama-sama rujak buahnya Bu." Gendis yang membuka satu kota Styrofoam yang berisi rujak buah.


Halimah seketika teringat dengan suaminya. 20 puluh tahun, memang tidak mudah dilupakan begitu saja. Bahkan saat makan rujak bersama putrinya, ingatan Halimah seketika kembali ketika suami dan dirinya juga sering makan rujak kalau siang hari. Kenangan-kenangan 20 tahun silam bersama membina rumah tangga memang tidaklah mudah dilupakan begitu saja. Halimah benar-benar harus sekuat tenaga mengubur dalam-dalam semua kenangan manis maupun pahit bersama suaminya, sebelum mediasi keduanya di Kantor Pengadilan Agama besok.


Keesokan harinya. Mediasi pertama antara Halimah dan suaminya.


Bambang dan juga Halimah hadir di Pengadilan Agama. Mereka berada dalam satu ruangan dengan mediator yang mencoba untuk mempersatukan kembali rumah tangga keduanya. Namun Halimah masih dengan pendiriannya. Ingin bercerai. Sedangkan Bambang suaminya juga tetap dengan pendiriannya, tidak ingin menceraikan Halimah istrinya. Mediasi pertama dinyatakan gagal karena tidak menemukan kesepakatan bersama. Mereka kekeh dengan pendirian mereka masing-masing. Hingga Pengadilan memutuskan untuk mediasi kedua akan dilaksanakan 1 bulan kemudian.


Perjalanan perceraian yang melelahkan bagi Halimah. Bagaimana bisa? hanya untuk mendapatkan keadilan yang ingin terbebas dari suami yang ingin memadu nya sesukar ini. Apalagi banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang harusnya Pengadilan Agama segera memutuskan keabsahan keputusan hasil perceraian. Sudah menikah diam-diam selama 7 tahun dan hidup bersama dengan wanita lain. Itu adalah masalah dasar yang harusnya membuat Pengadilan Agama memberi hasil keputusan dengan segera. Bukan malah mengulur waktu dengan dalih pernikahan sudah berjalan 20 tahun lebih dan melihat anak-anak yang menjadi pertimbangan Pengadilan Agama dalam menentukan hasil keputusan.


Halimah yang berjalan dengan di gandeng kedua anak-anaknya yang berada di kedua sisi kanan maupun kirinya menuju ke parkiran mobil di depan Pengadilan Agama.


Sementara Sang konglomerat berjalan sendirian menuju mobil yang sudah disiapkannya. Banyak sekali wartawan yang ingin meliputnya. Namun semuanya ditolak karena justru akan menambah kehebohan yang tak kunjung usai. Apalagi 1 bulan ke depan mediasi kedua akan digelar di tempat yang sama.


Mobil Halimah dan juga mobil suaminya berjalan meninggalkan Kantor Pengadilan Agama. Wartawan dibuat sedikit kecewa dengan dua kubu yang sama sekali tidak mau memberikan sambutan satu patah kata atau dua patah kata tentang perceraian keduanya. Semua diam seribu bahasa dengan maksud supaya berita ini tidak heboh di khalayak ramai. Sebenarnya ini perceraian biasa. Yang membuat tidak biasa dan ada wartawan yang meliput adalah karena perceraian keduanya melibatkan publik figur yang seorang penyanyi yang cukup memiliki nama besar. Sehingga perceraian ini mau tidak mau, suka tidak suka adalah berita luar biasa yang membuat gempar jagad raya maupun dunia maya.


Satu bulan ...Satu tahun...bahkan hingga Empat tahun lamanya. Pengadilan Agama Jakarta Pusat menggelar sidang perceraian Halimah dan Bambang.


Tok...Tok...Tok...suara palu Hakim yang memutuskan Bambang dan Halimah akhirnya resmi bercerai.


Senyum lega dari Halimah. Yang akhirnya memenangkan gugatannya. Gugatan perceraian yang memakan waktu sangat panjang dan melelahkan. Namun semua dia lakukan guna sebuah kehormatan seorang wanita. Untuk kehidupan ke depannya lebih tenang dan damai tanpa drama rumah tangga.


Sebaliknya wajah tidak puas dari Bambang. Namun dia berusaha menerimanya. Sekalipun dia seorang konglomerat bukan lantas bisa membuat apa yang menjadi keegoisannya bisa terpenuhi.


Sementara sang biduan, hanya bisa pasrah. Ketika mendengar putusan dari Pengadilan Agama yang mengesahkan suaminya resmi bercerai dengan Halimah. Sang biduan juga harus bisa menerima hujatan demi hujatan semua khalayak tentang dirinya yang menjadi duri dalam rumah tangga Halimah dan sang konglomerat. Belum lagi dicap sebagai SEORANG PELAKOR yang akan disandangnya seumur hidup. Yang sudah pasti akan membuat lubang luka tersendiri sumur hidupnya. Dan itu tidak akan mudah terhapus begitu saja.


**SELESAI**

__ADS_1


__ADS_2