
Pagi harinya, Zayn mengerjap-ngerjapkan mata, sedangkan tangannya meraba-raba kesamping tempat Vina tidur tapi tangannya tak mendapatkan keberadaan Vina disampingnya, Zayn membuka matanya dan langsung duduk, di edarkan pandangannya tapi Vina tidak ada disana.
"Kemana dia, tumben sekali pagi-pagi sudah langsung bangun." Guman Zayn.
Zayn beranjak dari atas kasurnya menuju ke kamar mandi. setelah selsai mandi Zayn bersiap-siap memakai pakaian kerja.
Sedangkan didapur Tasya sedang masak bersama Vina, tapi bukannya ikut membantu Vina hanya melihat-lihat saja.
"Aku mau bertanya apakah boleh?" Ucap Vina tiba-tiba.
"Tidak!" Jawab Tasya.
"Tch... Aku hanya menanyakan satu hal saja." Ucap Vina.
"Semalam kau bicara tentang apa sama Zayn?" Tanya Vina.
Tasya tidak menjawab pertanyaan Vina, dia hanya diam saja sambil terus memasak. Sangat malas juga menjawab pertanyaan dari Vina yang selalu kepo akan urusannya.
Vina terus menatap Tasya, tapi Tasya tidak memperdulikannya, Tasya terus saja memasak. Vina kesal akan tingkah Tasya yang tak mau menjawab pertanyaannya.
"Tch... Kenapa kau diam saja!" Kesal Vina yang tak kunjung mendapat jawaban dari Tasya.
"Kau ini bodoh atau gimana, apa kau tidak lulus sekolah?" Ucap Tasya balik bertanya.
"Apa maksudmu, kau pikir aku ini bodoh." Balas Vina tak terima dirinya dibilang bodoh.
"Lalu jika bukan bodoh, apa? Aku sudah tidak mengizinkanmu bertanya lalu kenapa kau masih bertanya. Apa kau tak mengerti bahasaku?" Ucap Tasya tanpa menoleh kearah Vina.
"Apa susahnya menjawab, lagipula itu bukan pertanyaan yang sulit untukmu." Balas Vina sambil memasang muka datarnya.
"Jika pertanyaanmu saja aku tidak menerimanya, apalagi untuk jawabanya. Kau itu terlalu memikirkan urusan oranglain, lebih baik kau uruslah dirimu sendiri." Timpal Tasya.
"Kau ini sangat menyebalkan!" Ucap Vina lalu berlalu dari sana.
"Dasar bodoh." Guman Tasya mengumpat Vina.
Vina berjalan menuju kekamarnya untuk melihat suaminya,Zayn, apakah sudah bangun.
__ADS_1
Ceklekk... Vina membuka pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar, terlihat Zayn sedang memakai dasi.
"Zayn.. aku kira kamu belum bangun, ternyata kamu sudah rapih dengan pakaian kerjamu." Ucap Vina yang langsung ikut membantu Zayn memasangkan dasi.
"Aku sudah bangun, tapi aku tidak melihatmu disamping ku, tumben sekali pagi-pagi sudah tidak ada di ranjang lagi, habis darimana kami Vin?." Jawab Zayn yang diakhiri dengan pertanyaan.
"Aku sedang memasak sarapan untukmu." Jawabnya.
"Benarkah?" Goda Zayn.
"Kalau tidak percaya, ayo sekarang kita kemeja makan." Ucap Vina sambil cemberut.
"Haha... Aku hanya bercanda bumilku." Balas Zayn sambil mencubit pipi Vina.
Zayn dan Vina keluar dari kamarnya langsung menuju ke meja makan. Dimeja makan ada Tasya yang sedang menikmati makanan hasil masakannya sendir, Setelah selesai masak Tasya langsung meletakkan makananya di meja dan juga langsung menyantap makanan itu tanpa menunggu Zayn dan juga Vina.
"Sya, tumben kamu makan duluan." Tanya Zayn saat melihat Tasya sudah ada dimeja makan dan juga sedang menyantap makanannya.
"Gak tahan laper." Jawab Tasya seadanya.
Zayn tak membalas lagi ucapan Tasya, dia langsung duduk dan menunggu makanan yang sedang diambilkan Vina untuknya.
"Ini makanlah." Ucap Vina sambil memberikan piring yang telah berisi makanan.
Zayn langsung mencicipi makanan itu.
"Enak, perasaan seperti masakan Tasya, tapi kata vina, dia yang memasaknya." Batin Zayn sangat tahu betul jika rasa masakan Tasya.
"Wah ini enak, aku baru tahu jika kamu pun pandai memasak Vin." Puji Zayn pada Vina.
Tasya langsung mengangkat kepalanya saat mendengar ucapan Zayn memuji Vina bahwa makanan itu Vina yang memasaknya. Tasya hanya menggeleng-gelengkan kepalanya .
"Selain bodoh, kau juga pintar dalam hal mengakui yang bukan hasil kerjamu sendiri. Dasar tak tahu malu." Batin Tasya.
"Makasih sayang." Balas Vina atas pujian yang di berikan Zayn.
"Tch... tch... kau sangat mudah di bodohi ternyata." Ucap Tasya pada Zayn disela obrolan pasangan romantis itu.
__ADS_1
Zayn melihat Tasya dengan kedua alisnya yang saling bertemu.
"Apa maksudmu Sya?" Tanya Zayn bingung.
"Ternyata kau sudah sangat melupkakanku Zayn. Tch.. tch.. rasa masakan ku saja kau sudah lupa, miris sekali." Jawab Tasya.
"Dan kau. Sejak kapan kau memasak ini semua. Ternyata kau pintar dalam hal mengakui hasil kerja orang, tch... tch.. sangat tak patut di contoh." Lanjut Tasya menoleh kepada Vina.
"Kan aku juga membantumu memasak ini semua." Bela Vina pada diri sendiri.
"Pufft hahaha... Coba kau jelaskan caramu membantuku memasak, hanya berdiri sambil terus mengoceh kau sebut itu membantu. Hahaha istrimu itu sangat lucu Zayn." Ucap Tasya sambil tertawa geli.
Sudah bisa dibayangkan bagaimana kondisi muka Vina, wajahnya merah karena malu. Tasya sudah benar-benar membuatnya malu di depan Zayn.
"Sudah, sudah, aku tidak masalah siapapun yang memasak. Jikapun itu Vina ataupun kamu yang memasak aku pasti akan memakannya. Sekarang lebih baik kita lanjuti sarapan pagi ini." Lerai Zayn.
"Sedari awal aku sudah ragu jika ini semua masakan Vina, karena yang aku tahu Vina tidak terlalu pandai memasak. Dan aku masih sangat hafal rasa masakan Tasya yang selalu bisa membuat perutku kenyang." Batin Zayn
Seperti biasa pada saat melaksanakan ritual makan, tidak ada suara di ruangan itu selain bunyi dentingan sendok dan piring.
"Aku hanya memberitahu saja, jika nanti aku akan mencari art sekaligus buat masak makan setiap hari, jadi aku tidak perlu lagi memasak makanan." Ucap Tasya setelah semuanya selesai makan.
"Kenapa? Apa kamu tidak mau memasak lagi Sya?" Tanya Zayn.
"Aku hanya tidak mau membuat tubuhku repot saja, lagian semangat memasakku sekarang sudah mulai menghilang. Jadi aku akan carikan asisten saja buat masak dirumah ini." Jelas Tasya.
"Terserah jika memang begitu, tapi jika aku rindu masakkanmu maka kamu harus memasakannya untukku, janji." Balas Zayn.
"Tidak janji, aku tidak suka berjanji dan tidak suka dijanjikan, karena kebanyakan orang yang selalu berjanji tidak pernah dapat menepati janjinya, jadi akupun tidak mau jika menjadi orang yang ingkar. Tidak konsisten sama yang pernah diucapkannya." Ucap Tasya yang di selipi dengan sindiran.
Zayn merasa tersindir akan ucapan Tasya, dulu Zayn juga selalu berjanji, tapi dia juga yang mengingkari.
"Baiklah terserah."
"Kalai gitu aku pergi kerja dulu." Pamit Zayn yang mencium kening Vina, lalu berbalik menghadap Tasya, tapi Tasya...
"Tidak perlu!" Cegah Tasya yang sudah tahu apa yang akan dilakukan Zayn, maka dengan cepat Tasya menolaknya.
__ADS_1
"Aku pegi dulu." Ucap Zayn dan langsung berlalu dari meja makan.