
Setelah kepergian sang Kakek, suasana di desa menjadi sedih. Warga desa merasa kehilangan atas kepergian sosok bijaksana yang sangat dicintai itu. Bagi Aldi, kepergian Kakek meninggalkan luka yang mendalam di hatinya. Meskipun dia merasa kesepian tanpa kehadiran Kakek, dia tahu bahwa dia harus melanjutkan petualangan hidupnya.
Dalam beberapa minggu berikutnya, Aldi terus menjalani rutinitasnya dengan berat hati. Dia kembali ke danau, ke sungai, dan ke pantai, tetapi kali ini tanpa kehadiran Kakek yang selalu menemaninya. Dia merasa sendiri dalam perjalanan yang biasa-biasa saja.
Suatu hari, ketika dia sedang berjalan di tepi danau, dia bertemu dengan seorang kakek tua yang memancing di sana. Kakek tua itu tersenyum lembut pada Aldi dan mempersilahkan dia duduk di dekatnya.
"Namaku Kakek Joko. Apa yang membawamu ke danau ini, Nak?" tanya Kakek Joko ramah.
Aldi merasa terharu dengan kebaikan Kakek Joko. Ia mulai berbicara tentang perjalanan-petualangannya bersama Kakek yang sudah tiada. Kakek Joko mendengarkan dengan penuh perhatian dan memberikan dukungan pada Aldi.
__ADS_1
"Kakekku dulu selalu bilang bahwa petualangan adalah bagian dari kehidupan. Meskipun Kakek sudah pergi, saya harus melanjutkan perjalanan dan menghormati kenangan indah yang kami bagi bersama," ucap Aldi dengan mata berkaca-kaca.
Kakek Joko tersenyum dan mengangguk, "Benar sekali, Nak. Kenangan itu adalah harta yang tak ternilai harganya. Meskipun Kakekmu sudah tiada, cintanya akan selalu hidup dalam hatimu."
Sejak pertemuan itu, Aldi sering berbicara dengan Kakek Joko dan mendengarkan kisah-kisah pengalaman hidupnya. Kakek Joko seperti menjadi kakek pengganti untuk Aldi, memberikan dukungan, wejangan, dan nasihat bijaksana. Aldi merasa bahwa ada sesuatu yang istimewa tentang Kakek Joko, seperti dia datang untuk mengisi kekosongan dalam hati Aldi setelah kepergian Kakeknya.
Suatu hari, Aldi mengajak Kakek Joko untuk mengunjungi hutan lebat yang indah yang dulu pernah dia jelajahi bersama sang Kakek. Meskipun Kakek Joko telah berusia lanjut, dia dengan senang hati menyetujuinya. Mereka berdua berjalan melewati pepohonan yang tinggi dan mendengarkan suara alam yang mempesona.
Ketika matahari mulai terbenam, mereka memutuskan untuk kembali ke desa. Di tengah perjalanan pulang, Kakek Joko tiba-tiba berhenti dan menatap Aldi dengan lembut.
__ADS_1
"Nak, aku tahu bahwa aku tidak akan selalu bersama kamu. Aku merasa terhormat bisa mengenalmu dan menjadi bagian dari petualangan hidupmu. Tapi, ingatlah bahwa setiap pertemuan ada waktunya untuk perpisahan. Jangan pernah lupa kenangan indah yang kita bagi bersama," ucap Kakek Joko dengan suara penuh makna.
Aldi merasa haru mendengar kata-kata Kakek Joko. Dia merangkul Kakek Joko erat-erat, mengucapkan terima kasih atas semua yang telah dia berikan.
Waktu terus berjalan, dan hubungan Aldi dengan Kakek Joko semakin kuat. Mereka berdua menghabiskan waktu bersama dengan bahagia, menikmati keindahan alam dan berbagi cerita tentang kehidupan.
Namun, seperti kata Kakek Joko, setiap pertemuan memiliki waktunya untuk perpisahan. Suatu hari, Kakek Joko harus pergi untuk selamanya. Aldi merasa sedih karena kehilangan sosok kakek pengganti yang begitu istimewa dalam hidupnya.
Di hadapan makam Kakek Joko, Aldi mengenang semua momen indah yang mereka lewati bersama. Dia tahu bahwa meskipun Kakek Joko telah pergi, kenangan indah mereka akan tetap hidup dalam hatinya.
__ADS_1
"Aku akan mengenangmu dengan senyum, Kakek Joko. Terima kasih telah menjadi bagian berharga dalam petualangan hidupku," ucap Aldi dengan suara gemetar.
Dengan hati yang penuh cinta, Aldi berjanji untuk terus menjalani petualangannya dengan penuh semangat, menghormati kenangan dari kedua Kakek yang pernah mengisi hidupnya dengan kebahagiaan dan kebijaksanaan. Aldi menyadari bahwa setiap perpisahan mengajarkan dia tentang arti sejati dari cinta dan kesempatan yang berharga untuk berbagi momen dengan orang-orang yang dicintainya.