
“Kyaaaaaa….” Seorang gadis cantik berteriak histeris saat menemukan kecoak di dalam makanannya. Saking kagetnya gadis itu sampai terjatuh dari kursi makannya dan memperlihatkan lebih dari separuh pahanya yang putih mulus.
Adegan itu tentu saja mengejutkan anggota keluarga lain yang juga sedang menikmati makan malam. Walaupun sama-sama terkejut karena teriakan si gadis cantik reaksi tiap orang justru berbeda-beda. Satu-satunya lelaki di sana bereaksi antara kaget akan teriakan histeris pacarnya sekali[gus terpana dengan paha kekasihnya yang putih mulus itu. Sedangkan dua perempuan sisanya yaitu seorang wanita paruh baya dan seorang gadis muda sama-sama mengernyit tak suka.
Gadis yang lebih muda kemudian hanya kembali makan dengan acuh tak acuh. Sang ibu dari si lelaki satu-satunya di ruangan itu kemudian melihat rekasi putranya yang masih menatap ke arah paha mulus pacarnya. Melihat hal itu sang ibu tentu saja langsung marah.
“KAK! Jangan cuma dilihat, bantuin Adinda!”
Lelaki itu langsung menoleh ke arah ibunya dengan gelagapan.
“Eh, eh iya bunda. Din, kamu gapapa kan?” Ammar akhirnya berdiri dan menghampiri pacarnya untuk berdiri.
“Aku…aku…” gadis itu juga gelagapan antara bingung, terkejut dan malu. Dia kemudian berusaha merapikan penampilannya dengan canggung. “Hm… saya boleh ijin ke kamar mandi dulu tante?”
“Iya silakan. Kamu sudah tau kan tempatnya?” sang ibu tersenyum prihatin dengan penampilan kacau calon menantunya. Dan sang gadis langsung berlari menjauh ke bagian dalam rumah pacarnya. Begitu gadis itu tidak terlihat lagi gadis yang paling muda berkomentar
“Apa-apaan penampilannya itu, sungguh tidak elegan.” Nada bicaranya jelas menyindir si gadis cantik Adinda.
__ADS_1
“Adek, gausah mulai deh.” Ammar menghela nafas serba tahu.
“Bukannya kakak liat sendiri, dia yang lagi makan tiba-tiba teriak terus jatuh terjungkal. Padahal engga ada angin engga ada hujan, kenapa juga dia teriak-teriak segala. Terus kenapa sih dia pake dress sependek itu. Engga sopan banget sama bunda.” Icha makan sambil terus nyindir.
“Dek, ini bukan ulah kamu kan, kayanya ada sesuatu di makanannya makanya dia jadi histeris gitu.”
“Kok kakak nuduh aku sih, kakak liat aja sendiri ada apa di piring makannya. Udah berasa kayak kambing aja makanannya cuma daun-daunan.” Bukannya diam, Icha mal[ah tambah parah nyindirnya.
“Kalau engga ada apa-apa engga mungkin dong Dinda tiba-tiba teriak. Kamu masukin sesuatu ke makanannya kan?”
“Ya bisa ajalah dia tiba-tiba teriak engga jelas, siapa tau kan dia emang gila.” Icha yang kesal karena dituduh sama kakaknya marah dan engga terima.
“Kak berhentilah membawa gadis-gadis tidak berguna itu ke rumah. Kenapa seleramu selalu payah sih?” Icha masih bergumam kesal.
“Payah? Kau bilang aku payah? Kau…..” belum sempat Ammar mebalas perkataan adiknya suara Adinda memutus pertengkaran mereka.
“Maafkan aku, aku… tadi ada sesuatu di piring makananku. Jadi aku agak terkejut.” Gadis itu sudah kembali dengan penampilan cemerlangnya.
__ADS_1
“Memangnya apa yang mungkin ada di piringmu? Tidakkah kau hanya mengada-ada? Apa maksudmu ada masalah dengan makanan Bunda?” Icha membalas dengan nada ketus.
Ditatap galak oleh Icha bukanlah hal yang menyenangkan. Gadis itu sama menawannya dengan Ammar, keduanya punya wajah halus dengan senyum yang menyenangkan. Tapi keduanya juga bisa menjadi begitu dingin saat sedang tidak dalam mood yang baik.
Adinda jelas bukan lawan seimbang untuk Icha yang sudah menjadi veteran dalam menjaga status jomblo kakaknya. Gadis anggun itu gelagapan dan tidak tahu harus menjawab apa. Bukankah dia adalah korbannya disini? Kenapa sekarang jadi dia yang dipojokkan? Apakah dia mengalami bullying?
Haish, yang benar saja, dia adalah Adinda Kusuma Tarum. Putri kesayangan tuan Tarum yang tidak diragukan lagi selalu mendapatkan apa yang dia inginkan. Dalam kasus bullying seharusnya dia adalah pembully bukan korban. Berada dalam situasi ini benar-benar merupakan hal baru baginya.
Bagi Adinda –anak tuan tanah yang manja– itu mungkin pengalaman yang baru dialaminya. Tapi bagi keluarga tiga orang ini mereka semua sudah hafal di luar kepala. Semua ini sudah tentu ulah si bungsu sekaligus anak kesayangan di keluarga Tandu. Icha selalu sama keras kepalanya dengan kakak laki-lakinya. Mereka bisa mempertahankan prinsip masing-masing yang mereka anggap benar. Sayangnya untuk beberapa masalah mereka justru memiliki pendapat yang justru bersebrangan satu sama lain.
Sebutkan saja contohnya dalam hal mencari pasangan.
Ammar adalah lelaki paling normal yang akan selalu merasa tertarik dengan kecantikan dan keanggunan seorang gadis. Dia suka gadis yang ramah, elegan, cantik, tinggi dan berambut panjang. Walaupun cenderung melihat fisik Ammar masih lebih menyukai gadis yang juga berpendidikan dan cukup bisa memahami arah obrolannya.
Tidak bisakah kau bayangkan betapa sederhananya kriteria pacarnya. Dia suka gadis cantik, cukup berpendidikan sehingga cukup bisa menemukan bahan obrolan. Itu saja. Tidak banyak. Bukannya Ammar tidak punya cukup modal untuk membuat gadis tipenya menyukainya. Hanya saja semua masalah berasal dari keengganan adiknya. Suatu[ hari mereka pernah membahas hal ini, itu adalah tipe ideal kakak ipar Icha.
Icha selalu ingin punya saudara perempuan. Dia sudah memiliki seorang saudara laki-laki yang sangat baik dan bisa diandalkan. Tapi dia masih merasa perlu untuk memiliki sesorang yang bisa dia ajak berbagi semua yang ingin dia bagikan. Sayangnya mereka hanya tinggal bertiga semenjak ayah mereka meninggal dalam sebuah kecelakaan, oleh karena itu Icha benar-benar bertekad untuk terlibat dalam kehidupan asmara kakaknya. Dia ingin kakak ipar yang sesuai tipe idealnya.
__ADS_1
Seseorang yang menjadi pendamping hidup kakaknya haruslah sama luar biasanya seperti kakak laki-lakinya. Dia harus baik, bertanggung jawab, baik pada keluarga, tidak bersikap centil, tidak menyebalkan dan yang terpenting dia ingin seseorang yang bisa menjadi sosok kakak perempan yang selalu didambakannya.
Dikarenakan perbedaan pendapat ini Icha dan Ammar seringkali bertengkar. Hanya saja mau bagaimanapun Ammar tentu lebih memilih untuk mendengarkan saran adik kesayangannya. Jadilah Ammar mengalah pada adiknya dan memutuskan pacarnya yang keselusin kalinya.