
Sebenarnya Ammar yang baru pulang bekerja sangat malas kalau harus direpotkan oleh urusan adiknya, bukan karena lelah atau tidak sayang pada adiknya, hanya saja semua urusan Icha hampir tidak pernah ada yang ‘hanya beberapa saat’.
Juga bukannya Ammar tidak tahu, kalau semua gadis memang seperti itu, -Hell! dia bahkan sangat hafal watak masing-masing mantannya jika sudah berkumpul bersama dengan teman-teman ‘sepermainannya’- namun memang sebagai laki-laki Ammar cenderung tidak sabar jika harus membuang-buang waktu hanya untuk saling bergosip. Bukannya dia sebagai laki-laki tidak pernah bergosip atau membicarakan hal-hal kesukaan, tapi yang membuatnya tak habis pikir adalah kebiasaan ‘para gadis yang suka bergosip kapan saja dan dimana saja’.
Coba saja bayangkan, kau dengan sengaja bertemu dengan temanmu di kafe untuk bergosip, kemudian saat kau pulang dan sampai di rumah kau juga masih akan bergosip –tentunya melalui ponsel atau media sosial- dan yang lebih mengherankannya lagi kau dan dia adalah teman satu kelas di sekolah yang bahkan biasa bergosip sepanjang hari di sekolah. Jadi, coba beritahu Ammar bagaimana cara menyeret adiknya yang tak kunjng kelihatan batang hidungnya setelah setengah jam yang lalu dia menyuruh kakak satu-satunya ini untuk segera datang dan menjemputnya.
“Hah! Ponselnya bahkan tak bisa dihubungi. Apa sih maunya anak manja ini!” Ammar turun dari mobilnya dengan ponsel di genggaman dan kekesalan di tangan yang lain.
Kafe tempat adiknya belajar kali ini tergolong kecil dan sederhana jika dibandingkan tempat lain adiknya biasa nongkrong. Saat Ammar masuk ke dalam dia bahkan hanya melihat beberapa meja dan lebih sedikit pengunjung yang sedang menikmati waktu sorenya dengan santai –yang jelas Ammar tambah kesal karena tidak melihat adiknya di manapun-.
Dengan langkah kesal yang mantap Ammar menuju ke arah kasir untuk segera mengklarifikasi dimana sebenarnya adik menyebalkannya itu berada. Kehadiran Ammar yang berisik menjadi begitu mencolok di kafe yang kecil dan tenang itu. Beberapa gadis kuliahan yang memang biasa mampir ke kafe murah dekat kampus itu langsung menaruh perhatian penuh pada sosok lelaki jangkung yang tidak familiar yang sedang bicara dengan si kasir entah tentang apa.
Sementara di kasir Ammar sedang berusaha menekan semua kekesalannya ke tingkat yang paling bisa ditoleransi menurutnya. Bagaimanapun juga kasir di hadapannya ini sungguh tidak responsif. Dia sudah bertanya apakah adiknya ada di sini kira-kira setengah jam yang lalu,– tentu saja dengan asumsi bahwa si kasir tidak mengenal adiknya dia menyebutkan ciri-ciri adiknya-, tapi yang di lakukan si kasir hanyalah menatapnya dengan ekspresi bengong yang kentara. Ammar benar-benar hampir frustasi setelah menyadari usahanya bertanya sia-sia. Dengan kekesalan yang sudah berada di permukaan dia pergi ke arah yang menunjukkan kamar kecil untuk menenangkan diri lebih dahulu. Dia memperhatikan kalau toilet untuk pria dan wanita tidak dipisahkan oleh sekat atau apapun –mungkin karena ini hanya kafe kecil jadi fasilitas toiletnya juga kurang memadai- pikir Ammar.
Saat akan membasuh wajahnya Ammar terkejut karena siapa sangka ternyata penyebab kekesalannya justru sekarang sedang berada di washtafel yang sama dan sedang membasuh tangannya. Ammar yang merasa menemukan objek kekesalannya akhirnya dengan suara keras berkata
“Kamu ngapain sih dek? Udah tau suruh kakak jemput cepet-cepet, giliran kakak udah nyampe kamu malah nyantai di sini dan engga jawab telpon!”
Icha yang juga terkejut melihat kakaknya ada di toilet dan berteriak padanya secara refleks membalas berkata dengan suara keras.
“Apaan sih kak, orang Icha cuma ke toilet sebentar kok, ini juga udah selesai. Hape Icha emang lowbatt jadi makanya kakak telpon Icha engga tau.”
__ADS_1
Ammar tentu saja masih kesal tak peduli apapun alasan yang adiknya kemukakan. Dia nyaris memarahi lagi saat seseorang yang lain keluar dari bilik yang sebelumnya tertutup. Ammar awalnya tidak begitu memperhatikan orang tersebut, karena tujuannya kini jelas memarahi adik manjanya yang suka sekali membantah.
“Icha lagi dapet haid hari pertama mas, dia sakit perut sejak tadi dan ternyata emang bocor juga. Makanya dia nelpon mas supaya cepet-cepet jemput dia.” Suara yang menyela pertengkaran Amar dan adiknya itu diucapkan dengan intonasi tenang, namun entah bagaimana baik Ammar maupun Icha sama-sama tahu kalau orang yang berbicara pada mereka itu justru sedang kesal.
Ammar tidak jadi mengatakan apapun pada adiknya, dia kemudian menoleh dan mendapati seorang gadis berkulit pucat sedang menatapnya dengan alis merengut.
Berbeda dengan reaksi kakaknya yang linglung Icha dengan cepat merentangkan lengan dengan bahagia memberi gestur siap memeluk gadis pucat tadi. Siapa sangka gadis itu malah menghindar.
“Cepat pulang sana! Kalau kau tambah sakit perut saya gak mau bantuin lagi.” Alis gadis itu masih merengut.
Ammar diam memperhatikan. Karena tak ada yang bergerak keluar dari toilet, gadis itu bicara dengan gelisah
“Permisi mas, saya pamit dulu. Sudah malam, dah Icha sampai nanti.”
Akhirnya Ammar juga bergegas menyeret Icha dan pergi menuju mobil mereka. Setelah keduanya masuk dan memulai perjalanan, Ammar tidak bisa berhenti penasaran.
“Itu siapa? Kenapa gak ramah banget? Kok kamu panggil dia kak?”
Icha yang bete –karena emang semua cewek bete pas lagi haid- cuma jawab, “Temen”
“Emang dia temen kuliah kamu? Tapi kalian engga seumuran gitu?”
__ADS_1
“Iya.” Tambah bete karena dia baru inget ponselnya lowbatt.
“Ooh.... terus kamu sama dia kerja kelompoknya barusan? Kok kamu diem aja sih dimarahin sama dia, perasaan kalau kakak yang marah kamu bakal marah balik.”
“Apaan sih kak?! Nanya-nanya mulu, rese deh!” tambah kesel kan Icha gara-gara kakaknya kepo banget. Si Ammar langsung tutup mulut.
Icha nyambungin pengisi daya ponselnya ke mobil buat charging, terus ngecek kalau ternyata emang ada 13 panggilan tak terjawab dari kakaknya. Ngerasa bersalah Icha lebih tenang jawab pertanyaan kakaknya
“Dia tuh senior aku. Kuliahnya sih keguruan, udah semester 4, cuma karena banyak temen-temen aku yang pas ujian SMA pada belajar bahasa Inggris sama dia, dan emang jago banget bikin makalah atau essay essay gitu yaudah aku minta tolong aja ke dia. Eh, ternyata orangnya emang baik banget. Jadi aku suka deh temenan sama kak Maria.”
“Masa sih baik banget, kayak yang jutek gitu kok!”
“Ya, kakak mana bisa langsung ngejudge gitu lah, kakak aja baru ketemu! Lagian emangnya aku bilang kalau dia tuh orangnya ramah? Engga kan? Emang dia gitu kalau baru ketemu! Tapi kalau udah kenal, hah dimintain tolong apa aja pasti bantuin.”
Mereka berhenti karena lampu merah
“Ya kalau baik tuh satu paket; ramah, lembut, murah senyum, sopan, ga kasar. Itu namanya baik banget. Paket komplit. Kalau bisa nih ya, pinter masak. Uh, mantep tuh, idaman lah pokoknya.”
Lampu lalu lintas kembali hijau dan mereka jalan lagi.
“Iihhhh.. apaan sih kakak. Ga bisa bedain banget sih mana baik, bener-bener tulus sama halus lembut depannya doang. Belajar psikologi dong makanya. Kak Maria tuh bukan orang yang gampang senyum sana senyum sini. Gatel banget kayak mantan-mantan kakak. Jijik semua, bikin pengen muntah.”
__ADS_1
Ammar yang sudah tahu kalau adiknya ga pernah suka sama mantan-mantannya cuma bisa diem. Heran dia sama Icha, kok bisa sih dari sekian banyak mantannya gak ada satupun yang cocok. Padahal kalau menurut Amar sendiri tipe idealnya udah melampaui standar kok. Cantik, pinter (ammar ga suka sama cewek cantik yang bego), ramah, manis kalau senyum, bahkan beberapa di antara mereka jago banget masaknya (karena Ammar selalu suka sama cewek yang bisa masak).
Tapi engga satupun dari mereka bisa lolos dari standarisasi ala Icha. Jadilah kebanyakan dari mereka minta putus karena engga sanggup menghadapi Icha yang jutek abis dan selalu usil sama mereka. Ammar sendiri cuma bisa pasrah kalau mereka udah minta putus, emang kalian pikir Amar bakal mohon-mohon buat engga diputusin gitu? Engga lah ya. No way, big no.