
Hari itu Ammar yang sudah berdandan rapi bersiap mengantar adiknya kuliah. Kalau harus mengantar adiknya kuliah Ammar memang selalu memastikan untuk tampil rapi. Dia sudah tampan dari sananya, tapi dia lebih suka jika orang-orang mengenalnya dengan citra yang rapi daripada santai.
“Santai itu di rumah, kalau cuma sama adek sama bunda, kalau di luar ya harus rapi lah, kan biar enak dilihat orang. Siapa tau kakak dapat gebetan senior kampusmu kan?” Ammar pernah berkata seperti ini saat ditanya oleh adiknya kenapa dia repot-repot berdandan padahal cuma mengantar ke kampus.
“Diiihhh, kakak ketinggalan zaman banget sih! Cewek-cewek zaman sekarang tuh sukanya yang keren, ala-ala bad boy, apalagi kalau troublemaker tuh pasti fansnya banyak banget. Kalau yang gentleman kaya kakak tuh udah enggak laku, karena mereka bakal bilang ‘kamu terlalu baik buat aku’ jadi percuma aja kakak dandan rapi segala juga.”
Mendengar ini Ammar sempat bertanya-tanya apa karena ini dia enggak kunjung punya pacar, jangan-jangan selera cewek zaman sekarang memang se-ekstrem itu! Karena ucapan adiknya juga Ammar sempat mengubah penampilannya. Dia mulai mencari tahu tentang trend muda anak zaman sekarang dan mengubah gaya berpakaiannya. Baru satu hari mencoba bunda langsung geleng-geleng kepala sambil mengelus dada.
“KAK! Itu kenapa pakaian kakak kayak gitu? Udah bosen jadi anak bunda ya? Cepet ganti baju!”
Selain omelan dari bunda, Ammar juga merasa engga nyaman dengan penampilan barunya. Jadilah dia balik ke style lamanya sebagai pemuda gentleman, asal kalian tahu aja ya, mau gentleman atau bad guy, Ammar itu tetap ganteng maksimal, jadi ya dia PD ajalah walaupun dianggap ketinggalan zaman.
Jadilah di hari yang cerah ini Icha berangkat ke kampus ditemani Ammar.
“Kak, nanti bawain tas laptop aku ya, aku mau ketemu sama temen dulu, kakak tungguin aja dulu. Nanti aku kabarin lagi. Oke?” Icha yang begitu Ammar selesai parkir langsung ngeloyor pergi membuat Ammar gemas setengah mati. Salam dulu atau apa gitu kek, dasar adik durhaka.
Sudah 20 menit menunggu Ammar bosan juga, jadilah dia membuka tab-nya dan mulai bekerja. Saat sedang serius bekerja tiba-tiba ada suara ketukan di jendela mobilnya. Ammar yang kaget langsung melemparkan tab-nya ke samping. Untungnya dia gak menjatuhkannya ke kolong mobil. Dengan setengah kesal Ammar membuka jendelanya. Begitu jendela mobil diturunkan Ammar dihadapkan dengan wajah semi-familiar yang sedang dia coba ingat-ingat.
Gadis yang mengetuk jendela tadi mengangkat sebelah alisnya karena tatapan diam-diam Ammar. Belum sempat bereaksi, gadis itu sudah bertanya,
“Kamu anak baru ya? Parkir mobil itu di sebelah sana, kalau di sini parkir untuk motor, mobil kamu ngehalangin jalan motor saya.”
Begitu mendengar suara keluhan ini Ammar langsung ingat dimana dia pernah ketemu sama gadis ini. Ini adalah cewek yang sama yang marahin Icha di kafe beberapa waktu lalu. Sebelum sempat merespon Ammar sudah ditegur lagi,
__ADS_1
“Bisa pindah engga? Saya mau keluarin motor saya.” Gadis itu jelas bicara dengan sopan, tapi jelas dia engga senang dengan Ammar yang masih diam.
Ammar bukan pertama kali nganter Icha ke kampus, dia tahu kalau ini adalah tempat parkir motor, dan dia biasanya engga parkir sembarangan. Tapi karena Icha minta diturunin di sini dan dia disuruh menunggu jadilah dia menunggu dengan tenang di wilayah parkir motor. Ammar biasanya cukup tau diri dan akan minta maaf saat dia tahu dia salah. Tapi Ammar bete sama gadis ini. Jadi dia engga berinisiatif minta maaf dan malah menjawab balik
“Saya lagi nunggu saudara saya, tunggu sebentar lagi, habis itu saya juga bakalan pergi kok,”
“Tapi saya harus pergi sekarang, kamu bisa pindah ke sebelah sana dulu kan?”
Ammar yang mager karena tempat dia parkir sekarang adem dan engga kena panas sama sekali menjawab,
“Tapi saya takut saudara saya cariin. Tadi saya janji untuk tunggu di sini. Ponselnya ketinggalan di mobil,” jelas kalau Ammar bohong soal ini
Gadis itu diam sebentar, kemudian bertanya lagi
“Saudara kamu prodi apa? Mau saya bantu hubungin? Saya kenal beberapa orang di sini.”
“Oke deh saya pindah aja supaya motor kamu bisa keluar.”
Ammar pun memindahkan mobilnya dan mencari tempat adem lain di sekitar fakultas adiknya. Dia juga menjawab telpon adiknya di saat yang bersamaan. Begitu dijawab suara adiknya langsung terdengar
“Kak, masih ingat jalan ke kantin fakultas aku kan, sini kak bawain laptop sama barang aku yang di mobil ke kantin fakultas aku ya..”
Belum juga Ammar membalas, telepon sudah dimatikan secara sepihak.
__ADS_1
Ammar melihat sekeliling dan memperhatikan kalau gadis yang bicara dengannya sebelumnya sudah mengendarai motornya. Tiba-tiba dia mendapat inspirasi, dia keluar dari mobil dan menghadang jalan motor gadis itu. Gadis itu jelas kaget dengan tindakannya. Dia mengerem sampai terdengar suara berdecit.
“Permisi, mau tanya, kalau kantin fakultas di sebelah mana ya? Saya pikir mungkin saudara saya ada di sana.”
Ammar bertanya dengan percaya diri dan tak lupa menyumbangkan senyum ikhlas.
Gadis itu diam lagi sebentar sebelum akhirnya menjawab,
“Di belakang, kalau dari sini kamu bisa ikutin koridor nanti belokan kedua kamu bisa belok kiri dan jalan aja sampai ke ujung, abis itu belok kanan lagi dan kamu bisa lihat itu ada di sebelah kanan.
“Oh…. Oke, belok kanan jalan sampe ujung belok kiri belok kana ada kantin, oke oke aku tau. Makasih ya,” Ammar pura-pura paham dan senyum lagi.
Gadis itu diam lagi.
Mungkin terpesona dengan senyum Ammar . Atau tidak?
Kamu harus hati-hati lain kali, apalagi kamu siswa baru, jangan asal menghadang orang yang naik motor. Itu bahaya.” Gadis itu mengeluh lagi dan bersiap pergi dengan motornya.
“Dan jangan tiba-tiba senyum lebar banget, itu aneh sih kayak psikopat yang punya rencana jahat tau engga.”
Dengan ini Ammar ditinggalkan di samping mobilnya dengan hati yang menggerutu
Apa sih, aku kan mencoba ramah, kenapa dia galak banget sih
__ADS_1
Ammar pun pergi ke kantin fakultas adiknya yang sudah sangat familiar baginya.
Kalau Icha tau, dia pasti merasa aneh dengan kakaknya, bukankah itu kakaknya yang berbohong lebih dulu, kenapa sekarang dia yang menggerutu?