ANAK-ANAK WEREWOLF

ANAK-ANAK WEREWOLF
KEMBALI KE DUNIA MANUSIA


__ADS_3

“mama sakit?”


“Mama sakit apa? Dimana sakitnya ma?”


Arka dan Arasy panik tahu kalau Aurora sakit. Mereka menatap Aurora.


“Hah?”


Aurora bingung mau menjawab apa. Dia sakit dibawahnya, karena main dengan Gabriel. Aurora menatap Gabriel bingung.


Gabriel tahu isi hati Aurora. Dia malah tertawa. Aurora yang kesal memukul dada Gabriel.


“Hahaha, kenapa aku dipukul? Aku kan gak tahu apa-apa.” Gabriel malah semakin tertawa lepas.


“Kenapa ma? Gara-gara Daddy mama sakit?” tanya Arasy menatap mamanya. Arka juga.


Aurora mengangguk. “daddy!” Arasy kesal sekali. Dia ikut memukul Gabriel. “jangan nakal sama mama Daddy.”


“Iya Daddy, jangan jahat sama mama. Jangan bikin mama sakit daddy.” Kata arka kepada daddy-nya.


“Kan kalian yang minta. Mau punya adik, ya gitu caranya. Gak sakit kok, mamanya aja suka pas di kamar.”


Mereka melihat Aurora. Aurora memukul dada Gabriel lagi.


“sayang, sakit kali ini.”


Gabriel mengeluh dan mengusap dadanya. Pukulan Aurora cukup keras kali ini. Aurora merasa bersalah.


“maaf, aku gak sengaja.” Dia mengusap dada suaminya lagi.


“kan sudah dibilang, jangan pakai kekuatan sayang.”


“Tadi kelepasan, maaf gak sengaja.”


Gabriel mengangguk. Dia menarik tangan Aurora untuk mengusap di daerah yang sakit.


Butuh beberapa jam untuk sampai ke rumah mereka kembali. Anak-anak sudah tidur di kursinya masing-masing. Arasy disandaran Aurora. Arka dengan Gabriel.


Aurora juga mulai kelelahan dan tidur. Kepala aurora hampir kena kaca mobil.


“Sayang.”


Gabriel menahan kepala Aurora. Dia mengambil banyak di belakang dan menaruhnya di dekat kepala Aurora agar tidak kepentok jendela.


“ma.”


Arasy terbangun. Arka juga.


“susah tidurnya.”


Arka juga. Sementara Arthur diam saja di depan. Dia juga sempat membuka matanya karena dengar ucapan kedua adiknya itu. Tapi dia memejamkan matanya lagi. Melihat keluar, apa sudah sampai belum? Karena belum sampai, dia tidur lagi. Arthur hanya menurunkan kursinya agar dia lebih nyaman untuk tidur.


“mau pindah ke belakang saja. Daddy atur buat tidur dulu.” Kata Gabriel kepada keduanya.


“Iya pa.”


Keduanya mengangguk. Mobil mereka bisa dibuat untuk tidur juga. Ada ranjang yang bisa dibuat secara otomatis di mobil itu. Gabriel meminta supir berhenti di jalan. Gabriel turun dan mengatur belakang.


Aurora, Arasy dan Arka juga ikut turun dulu. Setelah ditata, mereka baru bisa tidur. Ada bantal juga di sana.

__ADS_1


“Kak, tidur belakang aja. Daddy yang duduk di sini sama om.”


Setelah ketiganya berbaring di belakang. Tidur dengan nyaman, Gabriel membangunkan Arthur.


“iya dad.”


Arthur turun dan pindah ke belakang. Arthur tidur di samping Arka. Arasy di samping aurora. Dia memeluk Aurora.


“Good night sayang-sayangnya mama.”


Karena tak sampai mau mencium keduanya, yang laki-laki. Aurora hanya mengirimkan kiss dengan tangannya.


“Good night ma.”


Arka dan Arasy yang masih memejamkan mata menjawab mamanya secara bersamaan.


Gabriel sudah duduk di depan. Dia melirik ke belakang. Rasanya bahagia sekali keluarga dia juga lengkap. Tinggal menunggu si bungsu mungkin? Adiknya si kembar.


Gabriel begadang menemani supirnya. Sepanjang jalan mereka juga membahas tentang dunia werewolf dan manusia sekarang.


“aman kan sekarang? Masih ada pemburu yang tiba-tiba di serang tidak?” tanya Gabriel kepada supirnya.


“aman tuanku. Sepanjang sampai detik ini tak ada laporan seperti itu.” Kata supirnya Gabriel.


Gabriel mengangguk lega. Setelah beberapa jam perjalanan, mereka sampai di rumah.


Gabriel turun. Dia tak tega membangunkan Ke empatnya. Jadilah dia menggendong mereka satu persatu.


Arasy ditidurkan di kamarnya. Arka di kamar dia begitu juga dengan Arthur.


Yang terakhir yang digendong Gabriel adalah Aurora.


“sayang, pindah ke kamar ya? Anak-anak sudah di kamar?” Gabriel mau menggedong Aurora. Dia mencium pipi Aurora dulu.


“Hemm.”


“mobil taruh di garasi ya?” kata Gabriel kepada supirnya.


“baik tuan.”


Gabriel membawa Aurora masuk. Dai membawa Aurora ke kamarnya. Menidurkan Aurora di ranjangnya.


“Sayang, mau lagi boleh?” tanya Gabriel berbisik di telinga Aurora.


“Hemm.”


Gabriel kira Aurora mau melayani dia. Padahal dia hanya asal berdehem karena mengantuk. Gabriel langsung menaiki Aurora dan main dengan Aurora.


“tuan.”


Aurora yang mengantuk jadi bangun dan menatap Gabriel dengan kaget.


“Raja apa yang anda lakukan diatas sayam. Turun, saya mau tidur.”


“tadi heem?”


“heem apa, mau tidur. Capek, masih sakit.”


“Plis, nikmat juga kan sayang?”

__ADS_1


“ahh.”


Tapi Gabriel sudah memulai lebih dulu. Aurora pun jadi ikut terangsang.


“ya udah. Lanjutin. Besok gak bisa jalan kamu ya harus gendong aku kemana-mana?”


“siap yang mulia ratu.”


Mereka melanjutkan permainan ranjangnya sampai lelah. Sampai keduanya tidur bersama.


Hingga pagi tiba di dunia mereka dalam kehidupan manusia.


Aurora baru saja membuka mata. Ketika dia mau ke kamar mandi, bergerak sedikit saja, Aurora merasakan sakit dibawahnya. Aurora menatap Gabriel yang tidur di sebelah dia dengan kesal.


Dug!


Dia memukul Gabriel dengan keras. Sampai yang dipukul terkejut dan bangun.


“Sayang, kenapa sih? Sakit ini? Masih pagi loh.”


“Lebih sakit aku tahu gak. Mau ke kamar mandi sakit gara-gara kamu. Tolongin ke kamar mandi. Gendong. Tanggung jawab kamu.”


“oh. Bentar.”


Gabriel bangun dan menggendong Aurora ke kamar mandi. Dia sampai menunggu Aurora selesai di kamar mandi. Sekalian mereka mandi bersama.


Tok


Tok


“mama, Daddy.”


Mereka sedang mandi. Tapi keduanya mendengar suara Arasy.


“iya sayang. Mama sama Daddy sedang mandi. Kalian sarapan duluan saja ya. Ini sebentar lagi mama dan Daddy selesai kok.”


“oh, iya.”


Arasy ke ruang makan. Arka dan Arthur juga sudah di sana. Mereka sudah memakai baju sekolah. Semalam, di mobil, mereka sudah janji besok mau berangkat sekolah.


“Mama dimana?” tanya Arka kepada Arasy.


“Mama dan Daddy sedang mandi. Aku disuruh turun dulu.” Kata arasy mengambil makanannya sendiri.


Gabriel dan Aurora sudah selesai mandi. Selesai ganti baju mereka turun bersama.


“Pegangin yang erat. Pelan-pelan jalannya.” Kata Aurora yang mau turun tangga dengan Gabriel.


Gabriel mencoba menahan tawanya. Dia membantu Aurora jalan turun tangga dengan sangat pelan. Hingga mereka sampai di ruang makan.


“itu Daddy sama mama.” Arthur yang melihat pertama. Dia menunjuk ke arah mereka.


“Pagi sayang. Sudah sarapan semua? Mau ke sekolah ya?”


Aurora mencoba biasa saja. Dia menyapa keduanya. Berjalan mendekati ketiganya dan mencium puncak kepala mereka secara bergantian.


“Morning mama.”


Ketiga menjawab dengan kompak. Mereka juga mencium pipi Aurora.

__ADS_1


“duduk sayang. Pelan-pelan.”


Gabriel membantu menarik kursi untuk Aurora duduk. Dia juga menahan kursinya ketika Aurora duduk.


__ADS_2