
“Jangan kurang ajar ya tuan.” Aurora sempat diam di pelukan Gabriel. Tapi dia baru sadar, dia dilihat semua orang. Dia bukan wanita murahan yang bisa seenaknya Gabriel peluk.
Aurora mendorong Gabriel hingga pelukan Gabriel lepas. Aurora pergi dari kantor Gabriel. Dia lari keluar. Tapi air matanya mengalir begitu saja. Dia menghentikan ojek di depan.
Aurora pulang kembali ke rumah dia. Dia tak tahu harus kemana lagi. Di jalan Aurora tak henti berpikir, perasaan apa tadi? Jantungnya berdebar kencang? Ada bayangan menikah, apa itu?
Dia mengenakan gaun pengantin, ada wanita yang hamil, lari, melahirkan di tempat yang indah. Apa itu? Kepala aurora sampai sakit mengingat itu.
“ini pak.”
Ojeknya berhenti di depan rumah Aurora. Rumah tantenya lebih tepatnya. Dia turun dan membayarkan sejumlah uang. Setelah itu ojeknya pergi dan aurura masuk kembali ke rumah.
“katanya mau wawancara kerja. Kok sudah pulang? Ditolak lagi?” tantenya yang di rumah. Dia yang melihat Aurora pertama kali pulang.
“Iya Tante. Maaf.” Aurora menunduk sedih. Chelsea baru dari dapur. Dia sedang menikmati roti dari sana. Dia melihat Aurora.
“Kok bisa sih di tolak lagi. Katanya Lo sudah diterima. Li tuh bisa gak sih kerja? Lo ngapain tadi di kantor, langsung gak diterima jadinya. Begog banget!”
Chelsea bahkan menonyor kepala Aurora. Aurora tak tahan lagi. Dia mengatakan yang sebenarnya.
“pemilik perusahaannya tuan gabriel, tetangga kita. Dia minta aku jadi mamanya Arasy, kalau mau diterima kerja di sana. Apa boleh? Kalian sendiri kan yang minta saya tidak menerima itu? Untuk menjadi mamanya Arasy.”
Keduanya yang pergi meninggalkan Aurora berhenti dan berbalik menatap Aurora.
“apa saya harus kembali dan menerima pekerjaan dari tuan Gabriel. Lagi pula, saya jadi tak akan disiksa lagi dan diperlakukan pembantu lagi kan di sini. Terima kasih atas saran kalian, saya permisi. Dengan senang hati saya akan bekerja di tempat tuan Gabriel.”
Aurura mau pergi dari sanam. Tapi keduanya saling menatap panik. Mereka lari dan mengejar Aurora. Keduanya menahan tangan Aurora.
“jangan, gak boleh. Lo gak boleh jadi mamanya Arasy. Cuma gue yang boleh jadi mamanya Arasy.”
“iya. Cuma anak saya yang boleh jadi nyonya Gabriel.”
“Tapi saya sudah tidak mau jadi pesuruh kalian dan disiksa oleh kalian.”
Aurora muak. Dia menepis tangan keduanya. Chelsea dan mamanya saling menatap. Tak rela melihat anak itu bahagia, dia menarik Aurora. Bahkan sampai Menjambak rambut aurura dan memaksa Aurora ke gudang.
“Ikut kita.”
“Lo harus dikurung dan dihukum. Sudah berani sama kita? Mentang-mentang ada yang mau nampung Lo?”
“tante, Chelsea, sakit.”
__ADS_1
Aurora mencoba melepaskan diri. Tapi mereka menarik dan menjambak rambut Aurora. Sampai menyeret Aurora ke gudang. Bibi yang melihat itu. Bibi tak tega. Tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
“tante, Chelsea. Lepasin aku!”
Aurora di kurung di gudang. Di kunci dari luar. Aurora mencoba berteriak dan mendobrak-dobrak pintu itu dari dalam.
“Gak akan. Mati aja Lo didalam. Gak akan kita kasih makan. Ya ma?” kata Chelsea di luar kepada mamanya.
“iya. Dari pada jadi mamanya Arasy, jadi saingan kamu ya sayang. Mending Aurora mati akan. Gak masalah mama.”
Mereka meninggalkan Aurora. Aurora di kurung seharian di sana. Tak diberi makan dan minum.
***
Gabriel mendapatkan telepon dari rumah. Arasy tak mau berangkat sekolah karena masalah ini. Dia juga mengurung diri di kamar. Ada pembantu, dari kalangan werewolf, yang juga bisa masak makanan manusia. Sudah terbiasa hidup dengan manusia juga. Ada penjaga rumah juga di sana. Pembantu menelpon Gabriel.
“Tuan, nona tidak mau makan. Tidak mau keluar kamar dan tak ada suara dari dalam kamar.”
Gabriel baru mau kembali ke ruangan dia. Tapi dia langsung berbalik menuju ke luar.
“tuan, ada meeting setengah jam lagi.”
Bahkan ketika sekertaris dia memberitahu, Gabriel tak memperdulikannya. Dia panik, dia lari ke luar. Gabriel menggunakan telepatinya untuk melihat keadaan Arasy.
“Bi, dobrak pintunya. Bawa ke rumah sakit.”
Gabriel melihat anaknya itu pingsan. Dia luka-luka ditangan. Sepertinya Arasy melukai tangannya sendiri.
“Iya tuan.”
Bibi mendobrak pintunya. Dia membawa rasy ke dokter dengan supir di rumah. Gabriel pun ke rumah sakit menyusul dengan mobilnya.
Arasy sudah ada di ruang rawat. Dia sedang di rawat dan semua badannya penuh luka dan cakaran. Dokter yang merawat Arasy juga manusia werewolf. Itu juga rumah sakit milik gabriel. Digunakan juga untuk menolong manusia.
“Paman, bagaiamana?” gabriel menemui dokter laki-laki itu yang dia panggil paman.
“Ara kenapa? Dia marah ke kamu? Dia kesal ke kamu? Kenapa? Kamu tidak mau mengabulkan permintaan dia?”
“bukan. Soal Aurora, mamanya. Arasy tidur dengan mamanya, harusnya aku tak membiarkan mereka mengenal dan lebih dekat dengan mamanya. Aku yang salah. Aurora tidak mau kembali.”
“Karena tidak ingat bukan? Coba kembalikan semua ingatan dia.”
__ADS_1
“tetua akan marah paman.”
“jadikan dia bagian dari kita. Menikah lagi untuk selamanya. Hamil dia lagi, tuanku.”
Gabriel bingung. Arasy bangun. Dia menggerakkan tangannya dan juga perlahan membuka matanya.
“Daddy, mom?”
“tunggu, Daddy akan jemput paksa mama kamu. Kamu janji tidak boleh menyakiti diri kamu lagi ya?”
Arasy mengangguk. Gabriel baru mau ke sana. Tapi dia mendapatkan telepon dari pembantu di rumah Chelsea.
“Tuan, nona Aurora dikurung di gudang sama nyonya dan nona Chelsea. Seharian ini, gak dikasih makan dan minum tuan. Bawa saja nona Aurora dari sini, sejak kecil dia sudah disiksa. Saya tidak tega melihat nona diperlakukan seperti ini.”
Arasy yang mendengar itu marah. Dia melepaskan infusnya begitu saja dan lari dengan cepat.
“araa..”
Gabriel yang panik. Dia langsung mengejar Arasy. Untungnya Gabriel bisa mengejar dan menahan anaknya. Tepat di depan rumah Chelsea.
“Sayang, ingat. Kendalikan diri kamu. Arasy. Demi mama, kita bawa mama ok. Sebagai manusia.”
“hah. Iya papa.”
Setelah disentuh oleh Gabriel. Arasy langsung sadar. Dia kembali ke kekuatan dia sebagai manusia. Gabriel membuka pintunya begitu saja.
“gabriel, Arasy. Ada apa?”
“Arasy kenapa? Kenapa tangannya banyak luka? Sakit sayang? Jatuh?”
Keduanya kaget ada yang membuka pintu dengan cukup keras. Mereka menghampiri Arasy dan Gabriel. Sok baik dengan gabriel.
Tapi keduanya diam saja. Mereka menerobos masuk. Bahkan tanpa kunci, gabriel menendang pintu gudang hingga rusak.
“Mama.”
Arasy menemukan mamanya sudah tak sadarkan diri disana. Gabriel langsung membopong Arasy keluar dari gudang itu. Dia membawa Arasy ke rumahnya.
“mau dibawa kemana keponakannya saya.” Mama Chelsea yang mencegahnya.
Arasy mengeluarkan mata werewolf dan juga kukunya yang pangjang. Dia terlalu marah.
__ADS_1