
Hal pertama, jika dia menjadi werewolf baru adalah, hasrat yang tak bisa dia kendalikan ingin meminum darah manusia atau pun hewan.
Sekali menggigit dan meminum darah juga makan daging manusia. Itu bisa saja tak terkendali.
Aurora kembali tak sadarkan diri. Gabriel memeriksa Aurora yang masih tidur di ranjangnya. Suhu badannya panas. Katanya werewolf. Matanya masih berwarna hijau. Seperti Arasy.
“Istirahat yang nyenyak ya sayang.” Gabriel mencium kening Aurora. “setelah ini kamu tak akan diinjak-injak lagi, tak akan dihina dan siksa lagi oleh manusia mana pun.”
Dia meninggal Aurora di kamar. Gabriel mencari ke tiga anaknya. Dia bertanya kepada para pelayan di istana.
“Si kembar, ada Yanga lihat?”
“Ada yang mulia. Di taman samping istana.”
“ok. Terima kasih. Di dalam, ada aurora, suruh penjaga berjaga di depan pintu kamar. Sudah saya kunci, tapi kalau Aurora lari keluar, atau sadar, panggil saya.”
“Baik tuanku.”
Mereka menunduk memberikan salam kepada gabriel yang berjalan pergi dari sana.
Gabriel ke halaman samping istanam. Ketiga anaknya sedang main besbol. Bolanya tak sengaja melayang ke arah gabriel.
“woo, hampir saja kena Daddy.” Gabriel dengan cepat menangkap bola basballnya yang berada tepat didepan wajahnya.
“sorry dad.”
Ketiganya langsung menghampiri sang Daddy. Mereka menunduk meminta maaf.
“it’s ok. Daddy juga gak kena. Ini, mau main lagi? Daddy ikutan boleh?” Gabriel memberikan bolanya kepada ketiga anaknya.
Mereka mengangguk. Mereka main lagi. Kali ini daddynya yang memukul bola dan Arthur yang diminta untuk menangkap. Gabriel mau menguji kecepatan Arthur dan kedua anaknya yang lain.
“mama bagaiamana dad?” tanya Arthur kepada sang Daddy.
“Ok. Tadi tidak dengar?”
“Dengar. Semua burung keluar, terbang dari pohon.”
“Wahh, itu sangat menakjubkan.”
“Iya. Mama sekuat itu.”
“Baru. Karena mama baru, kalian harus menjaga mama dengan extra.”
“Kita akan kembali ke dunia manusia?”
“Tidak bisa dalam waktu dekat. Mama harus diawasi disini dan belajar mengendalikan nafsu hewannya.”
“Ahh iya. Sama seperti Arasy dulu kan, yang mau makan manusia.”
Arka menunjuk adiknya itu, yang paling tak bisa menahan nafsu hewannya itu ya Arasy. Arasy hanya tersenyum. Dia mengakui itu.
Mereka asik main dan terus bergilir. Sampai mereka juga berburu bersama. Naik gunung dengan cepat. Berenang di sungai. Mencari ikan dan hewan yang lain.
“Wahh, ini sudah lama sekali tidak kita lakukan bersama Daddy. Aku senang sekali.” Itu Arasy.
Mereka sedang makan hewan buruan mereka.
__ADS_1
“sedikit menjijikkan tidak?” tanya Arka kepada Arasy yang asik mengkotak kijang yang dia dapat.
“mereka ada memang untuk diburu, ka.” Itu Arthur.
“Iya. Baiklah.”
Aummm...
Mereka mendengar suara aungan kencang. Keempatnya langsung melihat ke langit. Banyak burung lagi yang terbang.
“Mama.”
“mama sudah sadar?”
“Gawat kalau lari keluar istana.”
Ke empatnya khawatir. Mereka langsung menyudahi perburuan mereka. Mereka lari ke istana.
Di istana sudah kacau. Aurora bangun lagi. Tapi dengan dirinya sebagai manusia werewolf. Dia keluar kamar. Sampai merusak pintu kamar dan penjaga yang berjaga di depan ruangan itu pun kalah dengan Aurora.
Beberapa penjaga sampai masuk dan mencoba mencegah Aurora. Tapi mereka tetap saja kalah dengan kekuatan dan tenaga baru Aurora sebagai manusia serigala.
“haus, darah. Lapar, mau daging.” Katanya dia terus mencari seperti itu. Dia ke dapur dan memakan daging mentah hingga darah.
Untungnya semua disana darah dan daging hewan. Dari kejauhan, Aurora mencium bau daging manusia dan darah manusia. Dia tergoda.
Ada orang yang baik gunung. Cukup jauh dari istana. Tapi mereka, para werewolf bisa mencium bau manusia.
Aurora lari ke arah sana. Gabriel dan ketiga anak kembarnya baru sampai. Mereka bertanya di istana.
“wah, mama.”
“wahh. Hebat mama kita.”
“kejar mama. Mama ke gunung. Ada manusia di sana.”
Gabriel memerintahkan ketiga anaknya. Mereka ikut gabriel. Ketiga terus saling bergantian menyusul, balapan, berlari dengan sangat cepat ke gunung.
“Manusia?”
Aurora menemukan dia. Dia sudah dihadapannya dan mau menerjang sang manusia yang tergelincir dan kakinya terluka.
“Aurora.”
Gabriel mencoba mencegahnya. Dia berlari kencang dan menangkap istrinya itu. Dia menahan Aurora yang mau menyerang orang itu.
Si kembar datang. Mereka mengurus orangnya. Membawa orang itu pergi dari sana dan menghilang ingatan orang itu yang melihat mereka.
Setelah itu mereka kembali ke gunung. Dimana mama dan papa mereka masih ada di sana.
“Lepas! Aku haus dan lapar.” Aurora mencoba memberontak dari Gabriel.
“No! Jangan manusia. Tidak boleh. Darah dan daging hewan saja sayang.” Dia memeluk Aurora dengan erat.
“mama.”
Ketiganya memandang sang mama yang hilang kendali. Aurora langsung diam menatap ketiganya.
__ADS_1
“mama?”
Gabriel terpaksa mencium bibir Aurora. Dia membiarkan Aurora merasakan Darah dari bibirnya.
“Darah hewan dan daging hewan saja sayang. Jangan manusia. Ok?”
Tujuan gabriel hanya ingin Aurora merasakan dia baru minum dan makan darah juga daging hewan.
Aurora langsung diam. Dia terduduk lemas. Hingga gabriel ikut jatuh, duduk, memeluk Aurora.
“Mama, kendalikan diri mama.”
“Demi kami.”
“anak-anak ma.”
“plis ma. Ada Arasy, Arka dan Arthur ma.”
Aurora diam. Dia menatap mata ketiganya. Membuat Aurora sedikit lebih tenang.
“Ayo berburu saja.”
Gabriel masih memeluk Aurora. Dia mengajak Aurora berburu. Ketiganya uang mengajari Aurora.
“ini ma.”
“lihat kita ya.”
“Mama hanya boleh membunuh hewan yang boleh dibunuh. Ok?”
Mereka berlari dan berburu hewan. Ada kelinci hutan, dll. Aurora mengangguk. Dia pun menangkap satu kijang lagi.
Mereka makan bersama. Setelah kenyang, Aurora yang manusia kembali. Kesadarannya sebagai manusia kembali. Dia kaget melihat dirinya makan hewan mentah, mengoyaknya.
“apa yang aku lakukan?” Aurora muntah-muntah karena itu.
“Mama.”
Ketiganya juga sudah tahu kalau Aurora kembali dengan pemikiran manusianya.
“kenapa aku jadi makan begini?”
Aurora syok. Dia pingsan lagi. Gabriel dan ketiga anaknya membawa Aurora kembali ke istana. Mengistirahatkan Aurora ke kamar.
Gabriel meminta pelayan untuk membantu membersihkan badan Aurora. Mengganti pakaiannya. Ke empatnya juga ganti baju.
Hari sudah tengah malam di hutan. Waktunya untuk makan malam. Sebelum Aurora kelaparan, Gabriel meminta pelayan untuk membuatkan dan menyiapkan makanan yang banyak untuk nanti.
Ke empatnya ada di ruang makan. Tepat dibawah lantai kamar tempat Aurora tidur. Arasy, Arthur dan Arka siap-siap mau makan malam. Tapi mata mereka terus melihat ke atas..
“apa mama belum bangun juga?” Arasy menunggu mamanya.
“Aku juga ingin makan malam dengan mama.” Kata Arka..
“makan saja. Mungkin mama baru bangun besok?” ujar Arthur membuat ke duanya makan lebih dulu.
Gabriel juga mengawasi dari bawah. Dia menemani ketiganya makan.
__ADS_1
“Malam.”
Yang ditunggu bangun.