Angel Last Mission:Love

Angel Last Mission:Love
eps.11


__ADS_3

Kang Woo melihat sosok Yeon Seo yang sedang menari tampak sama seperti sosok Wanita-nya yang sedang menari. Karena wajah Yeon Seo memang tampak sama dengan wajah Wanita-nya.


Orang bilang, hidup ini tidak bisa diprediksi. Siapa yang menyangka? Gadis desa yang polos, Giselle, akan jatuh cinta, dikhianati, dan lalu menjadi gila.


Si Wanita cantik menarikan sebuah tarian balet, yang berjudul Gissele. Dan sambil menari, dia menceritakan kisah dari Giselle kepada Kang Woo.


Sama seperti bagaimana aku tidak tahu akan bertemu, menemukan, dan jatuh cinta padamu. Sama seperti bagaimana kita tidak akan tahu seperti apa akhir cerita kita.


Seperti dalam tariannya, dimana Giselle meninggal. Seperti itu jugalah hidup si Wanita berakhir, dia meninggal didepan Kang Woo.


Tarian Yeon Seo mengingatkan Kang Woo pada sosok Wanita-nya. Karena itulah dia memeluk Yeon Seo, dan menepuk2 pelan punggungnya.


Ketika Yeon Seo melepaskan pelukannya, barulah Kang Woo tersadar. “Kerja bagus. Sungguh,” puji Kang Woo sambil meneteskan setetes air mata. “Butuh waktu lama bagiku… aku… tersesat diterowongan yang gelap dan panjang untuk waktu yang lama. Begitu lama tanpa akhir. Aku pikir tidak akan pernah bisa keluar. Aku akhirnya menemukan jalan keluar. Saat ini.”


Kang Woo berlutut dihadapan Yeon Seo dan memegang tangannya. “Lee Yeon Seo. Jadilah Giselleku,” pintanya.


“Giselle?” gumam Yeon Seo, bingung.


Tepat disaat itu, Kim Dan tanpa sengaja keluar dari persembunyiannya. Karena kayu tempatnya bersandar didalam gubuk ternyata rapuh, sehingga itu patah dan membuat Kim Dan jatuh keluar. Mengganggu moment Kang Woo. (Yes! Bagus Kim Dan >.<)


“Kamu menemukanku,” kata Kim Dan sambil cengegesan.


Kang Woo memberikan waktu untuk Yeon Seo memarahi Kim Dan yang bersalah. Dia berdiri sedikit jauh dari mereka berdua. Memandangin pantai.


“Kamu ingin berguling2 dipantai berpasir pada hari liburmu?” tanya Yeon Seo, sinis.


“Aku akan tetap diam, tapi kayu itu terlalu tua,” jawab Kim Dan, sambil tersenyum.


“Jangan tersenyum. Kamu membuatku kesal,” balas Yeon Seo. Dan Kim Dan pun berhenti tersenyum serta menundukan kepalanya.


Yeon Seo kemudian menanyakan, apakah Kim Dan senang melihatnya secara diam2, dia pasti terlihat seperti orang bodoh yang begitu mudah tertipu dan menari dimata Kim Dan.


“Cantik,” sela Kim Dan. “Sungguh cantik. Bagian tubuhku terasa gelisah, sedih, dan gembira,” jelas Kim Dan, jujur. Sambil memegang dadanya.


“Jangan sok tahu. Apa yang kamu tahu tentang tarian?” bentak Yeon Seo, karena merasa malu mendengar pujian Kim Dan.


Kim Dan dengan sedih mengakui bahwa dia memang tidak mengetahui apapun. Tapi karena itulah, makanya dia membuat panggung ini untuk Yeon Seo. Karena dia ingin melakukan sesuatu.


Dan Yeon Seo pun menyarankan agar Kim Dan diam saja, karena Kim Dan tidak berguna. Kim Dan tidak bisa mengemudi, tidak bisa bermain judo, tapi Kim Dan malah berniat untuk membuatnya gugup. Jadi lebih baik Kim Dan jangan mengikutinya.


Dalam perjalanan. Didalam mobil. Kim Dan mendengarkan, dan mencoba menyimak pembicaraan Kang Woo serta Yeon Seo mengenai Fantasia Night. Kang Woo mengajak Yeon Seo untuk datang ke Fantasia Night. Untuk menunjukan kepada para sponsor siapa Balerina Utama di Fantasia.


Dengan sarkastik Yeon Seo menanyakan apa yang harus dipersiapkannya, sebuah gaun yang mencolok atau senyum. Dan Kang Woo membalas agar Yeon Seo tidak perlu sarkastik begitu, karena tidak semua sponsor itu buruk. Serta dia tidak akan pernah membuat balerinanya berdiri sebagai bunga, tidak sekali pun.


“Tidak!” teriak Kim Dan, saat dia akhirnya mengerti pembicaraan antara Kang Woo serta Yeon Seo. Dan teriakannya itu mengejutkan mereka berdua.


“Ada pepatah, ‘Tidak boleh ada sedikitpun amoralitas, atau segala jenis kenajisan, atau keserakahan’,” kata Kim Dan. Mendengar itu, Yeon Seo mengatainya penceramah dan menanyakan maksudnya. “Jangan pergi. Tarianmu lebih dari cukup. Tidak ada alasan untuk membuktikan dirimu lebih jauh,” jelas Kim Dan pada Yeon Seo.


Dan kepada Kang Woo dia mengatakan, “Ini tidak diperlukan. Apa menurutmu ini sebabnya aku…” perkataan Kim Dan terputus, karena Kang Woo tiba2 mengebut.


“Benar. Bisa saja itu kotor dan tidak nyaman, dan bisa lebih buruk. Tapi walau begitu, kita seharusnya tidak menghindari ini, Yeon Seo. Aku akan bertarung denganmu. Aku ingin melihatmu menjadi center dari Fantasia,” jelas Kang Woo, menyakinin Yeon Seo.


“Aku akan mengurusnya. Urus saja urusanmu. Kalian berdua,” balas Yeon Seo.


***


Dihari hujan. Seorang anak Pria (yang bersama Yeon Seo), dia berlari dengan cepat sambil sekali- kali melihat ke belakang, seperti ada yang mengejarnya. Dan kemudian dia melompat ke dekat tebing untuk bersembunyi disana.


Tapi karena dia tidak kuat saat berpegangan pada batu2 ditebing, dia pun terjatuh ke dalam laut.


***


Kim Dan terbangun dengan kaget. “Apa ini yang mereka sebut mimpi?” gumamnya. Lalu tiba2 saja alarm ayamnya berbunyi, dan mengejutkannya.


Yeon Seo menanyakan, bagaimana Kim Dan bisa mengetahui tentang pulau itu, karena dia sendiri bahkan tidak ingat. Dan Kim Dan pun memberikan foto Yeon Seo yang ditemukannya, dia memuji di foto itu Yeon Seo tersenyum cerah dan cantik.


Mendengar kata ‘cantik’ Yeon Seo merasa kesal, dan menyuruh Kim Dan untuk berhenti mengatakan itu. Karena dia takut berharap atau salah sangka lagi bahwa Kim Dan sedang mencoba menggodanya.


“Dia bilang seorang pelayan yang tidak berguna harus melakukan apa yang dia bisa. Aku mungkin tidak berguna, tapi aku akan memanggil ‘cantik’ jika kamu cantik. Karena aku bisa melakukan itu,” jelas Kim Dan. Lalu dia meminta maaf, dan pergi.


“Kamu bilang benci aku. Kenapa kamu melakukan itu?” keluh Yeon Seo, kesal. Lalu dia memperhatikan foto dirinya sendiri.


Dini hari. Seperti biasa, Yeon Seo pergi ke ruang latihan. Namun sebelum dia mulai menari, dia menempelkan foto dirinya ke dinding.


Pagi hari. Kim Dan mendaftarkan diri untuk latihan mengemudi. Dan ternyata orang yang mengajarinya adalah Hoo. Awalnya Kim Dan tidak menyadarinya, tapi kemudian saat dia melihat laporan pribadinya dipegang oleh si Pelatih, barulah dia sadar. Dan dia mengeluh kenapa Hoo selalu mengawasinya.


“Kamu tidak lihat aku bekerja keras untuk membantumu mengemudi?” bentak Hoo. “Aku berusaha keras untuk membantumu.”


“Harusnya kamu beritahu aku. Terima kasih, karenamu aku sudah didiskualifikasi!” balas Kim Dan membentak, karena dia telah melanggar garis pembatas, yang berarti dia gagal dalam mengemudi.


Dengan santai, Hoo menjentikan jarinya dan memundurkan waktu ke saat sebelum Kim Dan melanggar garis pembatas. Lalu dia menyuruh Kim Dan untuk segera mulai mengemudi lagi. Dan Kim Dan pun mengeluhkan, bagaimana mungkin malaikat seperti Hoo menipu orang dengan memakai berbagai cara.


“Berangkat,” tegas Hoo, dengan geram.


“Baiklah,” balas Kim Dan. Lalu dia menginjak gas, dan melewati garis pembatas lagi.


Hoo kembali menjentikan jarinya, dan menyuruh Kim Dan untuk mengulangnya lagi. Lalu kali ini secara perlahan, Kim Dan mengemudikan mobilnya. Dan Hoo berteriak menyemangatinya. “Bagus, bagus! Berhenti!”


“Mana rem?” teriak Kim Dan, panik. Dan lagi2 dia gagal.


Kejadian tersebut terus diulang2, berkali2, karena Kim Dan selalu melewati garis pembatas, berbelok dengan tidak baik, melanggar lalu lintas, dan gagal. Hingga akhirnya, setelah berkali2 mengulang, Kim Dan pun berhasil mengemudikan dan memakirkan mobilnya dengan benar. Dan dia pun berhasil.


Namun hal itu membuat mereka berdua sama2 merasa kelelahan. Dan Hoo pun mengomentarinya, “Tidak heran, kamu selalu menyebabkan masalah. Kepalamu buruk! Kepalamu,” omelnya.

__ADS_1


“Aku tidak akan pernah belajar apapun darimu!” protes Kim Dan, kesal. Lalu dia keluar dari dalam mobil, dan pergi.


Hoo mengikuti Kim Dan, dan dia mengomentari Kim Dan yang mulai mirip seperti manusia sekarang, karena Kim Dan benar2 marah. Dengan kesal, Kim Dan pun menjelaskan bahwa alasan dia marah, karena Hoo terlalu keras kepadanya yang masih pemula, kepadahal dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan, tapi Hoo malah berteriak dan mengkritiknya terus.


“Aku tidak senang dengan apa yang kamu lakukan, aku ingin kamu sadar. Hewan adalah satu-satunya klienmu. Aku khawatir, kamu tidak akan tahu ke arah mana untuk memimpin klien manusianmu, dan gagal,” jelas Hoo.


“Apa masalahnya?” balas Kim Dan, bertanya.


Dengan perhatian, Hoo menjelaskan bahwa dia mengerti kalau ini pertama kalinya Kim Dan menjadi manusia dan berada didalam tubuh manusia, tapi walaupun begitu Kim Dan terlalu berlebihan menurutnya. Hoo lalu membacakan laporan yang Kim Dan kirimkan kepadanya.


“Lee Yeon Seo menari. dia sangat cantik. Itu hal paling cantik yang kulihat didunia ini,” baca Hoo.


“Dia bekerja terlalu keras. Aku takut, dia menderita dan tidak bahagia. Tapi, saat menari wajahnya bersinar. Dia benar- benar bahagia,” pikir Kim Dan sambil tersenyum memikirkan tentang Yeon Seo. Dan dia menulis itu didalam laporannya.


“Berapa kali kamu menulisnya ini? Ada 20 baris tentang dia. Pada akhirnya, kamu menulis ‘Dia memeluk Tulang Rusuk’, hanya satu kalimat itu. Laporan macam apa ini?” tanya Hoo, menyelidik.


“Itu kebenaran!” protes Kim Dan. Lalu dia merebut kertas laporannya kembali.


Kim Dan kemudian meminta Hoo untuk menolongnya menyelidiki tentang Kang Woo, karena dia mengingikan seorang Tulang Rusuk yang kuat untuk Yeon Seo. Agar Yeon Seo bisa bahagia nantinya.


Kang Woo datang kesuatu tempat penyimpanan. Disana dia membuka lemari miliknya, dan didalamnya ada sebuah guci abu berwarna putih yang bertuliskan nama Choi Seol Hee. Serta cincin, dan sapu tangan pengenalnya.


Flash back


Setelah Kang Woo membuat pengakuan untuk menjadi manusia. Dia dan Seol Hee pulang dengan gembira sambil bergandengan tangan.


Tapi tiba2 saja, petir menyambar dengan keras. Kemudian lampu disekitar mereka meledak, dan padam. Lalu dua orang malaikat berpakaian putih satu, dan hitam satu, turun dari langit. Dan Kang Woo langsung mendorong agar Seol Hee menjauh darinya, karena itu berbahaya.


Malaikat hitam menarik Kang Woo mendekat dan berlutut dihadapannya. Seol Hee yang melihat itu merasa bingung, karena dia tidak bisa melihat kedua malaikat tersebut, hanya Kang Woo lah yang bisa dilihatnya.


Misi Kang Woo adalah untuk menginspirasi seniman, sehingga mereka akan dapat menggambar sesuatu yang memberi sukacita kepada Dewa. Namun Kang Woo mengkhianati misi dan bahkan memutuskan untuk meninggalkan kedewaan. Karena itulah, maka Kang Woo akan dihakimin.


“Aku sudah memenuhi misiku sebagai malikat. Dari sekarang, aku ingin menjadi manusia hanya untuk satu orang,” pinta Kang Woo.


Sapu tangan yang Kang Woo tinggalkan, itu kembali kepadanya. “Menjadi malaikat, menjadi manusia, memulai hidup, dan mengakhiri hidup, semua tergantung pada kehendak Dewa.”


Seol Hee ingin mendekat, tapi Kang Woo mengulurkan tangannya dan memintanya agar dia jangan mendekat. Sehingga Seol Hee pun tetap diam ditempatnya.


“Dia kejam. Lalu kenapa Dewa memberikut hati? Memberiku hati, dan memberitahuku untuk mengatasi perasaanku adalah perbuatan Iblis!” teriak Kang Woo, marah.


“Aku akan mengambil segalanya yang sudah Dewa berikan padamu,” kata si Malaikat hitam. Dia mengulurkan tangannya ke arah Kang Woo.


Melihat raut wajah Kang Woo yang berubah, Seol Hee merasa cemas dan bertanya2 apa yang sebenarnya terjadi, karena dia tidak bisa melihat apapun.


Kang Woo memejamkan matanya, siap untuk menerima hukumannya.


Malaikat hitam mengeluarkan pistolnya, dan menembak.


Kang Woo secara perlahan membuka matanya, karena dia mendengar suara tembakan, tapi dia tidak merasakan kesakitan apapun. Dan apa yang dilihatnya ketika membuka mata adalah Seol Hee yang berdiri dihadapannya, melindunginnya.


“Tidak. Kumohon. Kumohon…” pinta Kang Woo sambil menangis dan memeluknya. Lalu dia berteriak sedih, karena Seol Hee telah menutup mata untuk selama- lamanya.


Setelah Seol Hee dikremasi, Kang Woo membawa pulang abu nya. Dan saat dia pulang ke tempatnya, dia mengingat kembali betapa bersinarnya dan bercahaya nya Seol Hee ketika menari dan tersenyum kepadanya. Tapi sekarang semua itu telah menghilang, dan menjadi gelap.


Sayap biru disapu tangan Kang Woo berubah menjadi hitam gelap. Sapu tangan itu diletakan Kang Woo disamping abu Seol Hee.


Kang Woo menaiki kursi, dan berniat melakukan bunuh diri. “Aku sangat ingin jadi manusia, tapi tidak ingin didunia yang tidak ada kamu.”


Kang Woo mengalungkan tali dilehernya, dan menjatuhkan kursi dibawah kakinya. Tapi tali itu malah putus, sehingga dia pun tidak jadi mati. Lalu dengan marah, Kang Woo pun memukul- mukul lantai dan berteriak histeris.


Kang Woo mencoba bunuh diri dengan meminum obat tidur dalam jumlah banyak. Tapi dia gagal juga. “Aku tidak bisa mati. Juga tidak bisa hidup dengan benar. Begitulah aku selama 15 tahun.”


Kang Woo datang ke kuil. “Sepertinya… kali ini akan berjalan dengan baik,” katanya kepada seseorang disana.


“Kamu pasti kehilangan orang yang kamu sayangin. Aku masih bisa melihat gelombang kerinduan di matamu. Saat kamu sepenuh hati mencintai, aku yakin orang yang kamu cintai akan berada disurga. Dan aku bisa menebak, dia akan damai,” balas orang tersebut dengan tulus.


Kang Woo menanyakan, apakah ‘damai’ benar2 ada, karena hidup adalah siksaan baginya. Setelah mengatakan itu, Kang Woo berbalik untuk pergi.


“Lalu, apa maumu Cheonsa*-nim?” tanya orang tersebut, yang ternyata adalah Hoo yang sedang menyamar. *Malaikat. Tapi Kang Woo tidak menjawabnya, dan tetap berjalan pergi begitu saja.


Yeon Seo memperhatikan anting yang diberikan padanya.


Ny. Jung mempertanyakan, apakah Yeon Seo beneran akan pergi. Lalu dia mencarikan ramalan horoskop Yeon Seo, dan membacakannya dengan keras. “Jika kamu meninggalkan rumahmu, akan ada masalah. Tetaplah dirumah. Itu ramalan bintangmu hari ini. Bukankah terdengar sangat menakutkan?” katanya.


“Yang satu menceramahiku. Dan kau membaca ramalan bintangku? Aku akan hadapi. Aku mungkin tidak bisa menghindar, walaupun aku mau,” balas Yeon Seo.


Yeon Seo kemudian mulai berdandan. Dan Ny. Jung pun tidak memaksa nya lagi untuk tidak pergi, tapi dia mengingatkan Yeon Seo untuk secara resmi mengumumkan bahwa ‘Fantasia adalah milikku.’ Dan mendengar itu, Yeon Seo tersenyum. Lalu dia menyuruh Ny. Jung agar keluar duluan.


Yeon Seo mengambil sebuah pil. Dan memperhatikannya sambil mengingat malam saat Kim Dan menolaknya. Lalu dia meminum pil tersebut.


Flash back


Setelah Kim Dan menolaknya. Malam itu juga Yeon Seo pergi ke apotik untuk membeli obat penenang, atau obat stimulan, obat apapun yang bisa membuatnya tenang.


“Aku sudah terlalu mengandalkan seseorang. Aku mengandalkan orang yang tidak menyukai ku. Aku bukan tipe orang yang mudah terpikat…. Huh, aku pasti sudah gila untuk sesaat,” kata Yeon Seo, lalu dia meminta obatnya.


Flash back end


Kim Dan berusaha memakirkan mobilnya dengan baik, tapi dia tidak bisa. Dan melihat itu, Kang Woo ingin membantunya, tapi Kim Dan menolak, jadi dia pun membiarkan Kim Dan untuk melakukannya sendiri.


Dengan gaya sok, Kim Dan menyetir menggunakan satu tangan supaya terlihat keren didepan Kang Woo. Tapi dia malah semakin buruk. Dan Kang Woo pun memperingatkannya. Tapi Kim Dan malah menyalahkannya.


“Minggir. Aku sedang parkir,” protes Kim Dan. Turun dari mobilnya.

__ADS_1


“Apa kamu sedang parkir?” balas Kang Woo, meremehkannya.


“Aku menjaga jarak yang aman, kamu tahu? Kapan kamu mendapatkan SIM?” balas Kim Dan dengan kesal. Sedikit melantur.


“Apa yang kamu bicarakan?” tanya Kang Woo, tidak mengerti.


Tepat disaat itu, Yeon Seo keluar. Dan melihat betapa cantiknya dia, mereka berdua sama- sama menjadi terdiam.


Kang Woo serta Kim Dan secara bersamaan berjalan mendekati Yeon Seo, dan tidak sengaja mereka berdua pun saling bertabrakan. Lalu mereka berdua saling mendesis kesal pada satu sama lain. Dan kemudian tersenyum pada Yeon Seo.


Yeon Seo menanyakan, apakah Kim Dan sudah mendapatkan SIM, dan dengan bersemangat Kim Dan mengangguk mengiyakan.


“Bagaimana kalau hari ini bersama ku? Demi keselamatan,” kata Kang Woo menawarkan tumpangan.


“Itu lebih baik,” balas Kim Dan dengan perasaan jaim.


Sesampainya di pelabuhan. Tn. A memperkenalkan Yeon Seo kepada Ishikawa Seiji, dan dengan sopan Yeon Seo pun menyalamin tangannya serta mengucapkan terima kasih. Tapi Seiji adalah seorang pria tua genit yang ketika menyalamin tangannya, dia mengelus tangannya juga. Merasakan itu, Yeon Seo merasa sangat kesal, tapi dia menahannya.


Dengan sengaja, Ny. Choi mendekat dan memegang tangan Yeon Seo, mengarahkannya agar menemanin Seiji masuk kedalam kapal bersama. Tapi Kang Woo langsung menyela mereka, dan memperkenalkan dirinya pada Seiji. Lalu dengan kesal, Yeon Seo pun menepis tangan Ny. Choi.


“Kenapa kita tidak masuk?” kata Kang Woo menyarankan, dan Seiji serta yang lainnya masuk duluan bersama ke dalam kapal.


“Kamu mengenakan antingnya. Cantik. Terlihat cocok,” puji Ny. Choi, tidak tulus.


“Ini tidak sesuai seleraku, tapi aku menerimanya sebagai hadiah,” balas Yeon Seo.


“Terima kasih. Kehadiranmu di acara sangat berarti,” kata Ny. Choi penuh arti.


“Kamu akan membuat pengumuman resmi didepan para sponsor, kan? Kapan?” balas Yeon Seo, bertanya.


“Aku akan mengumumkannya segera sesudah pertunjukan berakhir. Jangan khawatir, Yeon Seo. Nikmati acara sebanyak yang kamu bisa,” balas Ny. Choi, lalu dia berjalan masuk ke dalam kapal.


Kang Woo memberikan lengannya untuk digandeng oleh Yeon Seo. Dan Kim Dan mengikuti mereka dari belakang. Lalu sesudah masuk ke dalam kapal, Kang Woo meminta Yeon Seo menunggunya sebentar, karena dia harus memeriksa para penari. Dan Yeon Seo membalas bahwa dia bisa masuk sendiri.


“Tidak!” sela Kim Dan tiba2 bersamaan dengan Kang Woo. “Bersamaku,” ajak Kim Dan.


“Jangan tinggalkan Yeon Seo sendirian sampai aku kembali. Mengerti?” kata Kang Woo, mengingatkan. Lalu dia pergi.


Kim Dan memberikan lengannya untuk dipegang. Tapi Yeon Seo menolak, karena sekarang dia sudah bisa berjalan sendiri dengan baik tanpanya. Dan Kim Dan membalas bahwa dia tahu, tapi Yeon Seo bisa memegang lengannya tetap. Namun Yeon Seo tidak mau memegangnya, dan berjalan pergi duluan.


Kim Dan mengikuti Yeon Seo, dan bersikeras memberikan lengannya. Lalu Yeon Seo pun terpaksa memegangnya.


Setelah Yeon Seo duduk, Kim Dan memperhatikan ke sekelilingnya dengan gelisah. Dia mengingat perkataan dari Ny. Jung. Dan memeriksa seluruh lampu disana.


“Periksa apa saja yang bisa jatuh disekitar Nona terlebih dahulu. Lampu atau semacamnya,” kata Ny. Jung padanya.


Seiji serta Tn. A datang dan duduk disebelah Yeon Seo. Kemudian tangan nakal Seiji mau menyentuh Yeon Seo. Dan melihat itu, Kim Dan langsung menggerakan meja untuk menggertak nya. Sehingga Seiji tidak jadi menyentuh Yeon Seo.


Flash back


“Apa kamu benar2 berpikir bahwa seseorang mungkin akan mencobai melukai Nona? Tapi mereka kan keluarga nya,” kata Kim Dan, bertanya, karena sulit percaya.


“Pikirkan soal itu. Insiden dimana lampu gantung jatuh. Kecelakaan mobil. Dan pecahan kaca terjatuh padanya. Hal menakutkan terus terjadi. Aku hanya khawatir,” jelas Ny. Jung beneran cemas pada Yeon Seo.


Flash back end


Kang Woo memberitahu para penari agar jangan sampai terlalu bersemangat dan cedera. Karena mungkin licin, Kang Woo menyarankan agar mereka mengoleskan banyak resin. Dan semuanya pun mengiyakan.


“Kita akan meminta sponsor untuk menyumbangkan banyak uang,” kata seorang penari dengan bersemangat.


“Kita disini bukan untuk meminta uang. Jangan tersenyum untuk membuat kesan yang baik. Dan jangan berlebihan dengan terlihat terlalu serius. Cukup tunjukan pada mereka bahwa apa yang kita lakukan layak untuk setiap sen yang mereka habiskan. Itu saja. Mengerti? Semangat!” jelas Kang Woo dengan tegas. Lalu dia pergi.


Kang Woo menyentuh Kim Dan, lalu dia duduk disebelah Yeon Seo. Dan kemudian Kim Dan pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Pertunjukan tari balet dimulai.


Tn. A berbicara pada Seiji bahwa suatu kehormatan bisa bertemu dengan Yeon Seo yang legendaris dari dekat. Dan dengan ramah Yeon Seo membalas, tentu saja dan mari jaga hubungan baik ini.


“Apa ini? Yeon Seo yang terkenal didunia disebelahku, tapi bahkan aku tidak bisa memegang tangannya,” kata Seiji dengan bahasa jepang. Mengira Yeon Seo tidak mengerti. Padahal saat mendengar itu, Yeon Seo tampak kesal padanya.


“Maaf. Sebagai gantinya pilihlah gadis yang kamu sukai diantara mereka. Aku akan bawa dia padamu nanti untuk pertemuan pribadi,” balas Tn. A sambil menatap kearah penari balet yang berada diatas panggung.


“Aku suka yang ditengah. Terutama pahanya. Balerina cenderung sangat langsing,” kata Seiji sambil tertawa nakal. Dan Tn. A ikut tertawa juga.


Ketika menyadari bahwa Yeon Seo menatapnya, Seiji langsung berbicara menggunakan bahasa korea. “Yeon Seo, suatu kehormatan bertemu denganmu. Maukah kamu tunjukan pertunjukan singkat?” pintanya sambil mengangkat gelas.


“Itu bukan bagian dari rencana. Kamu harus melihatnya dipanggung yang bagus,” balas Yeon Seo, ikut mengangkat gelasnya. Lalu dia bersulang dengan mereka, dan minum.


“Kami akan memesakan kursi VIP untukmu saat dia comeback. Tolong mengerti,” jelas Kang Woo pada Seiji.


Karena tampaknya Seiji kurang mengerti, Tn. A pun menjelaskan kepadanya menggunakan bahasa jepang. “Dia baru saja menolak. Dia sulit. Dia dihargai mahal.”


“Jika dia benar2 jenius, dia bisa mengejutkan semua orang dengan improvisasi,” balas Seiji.


Ny. Choi memperhatikan dari jauh sambil tersenyum jahat. “Tidak buruk bertahan dengan para berandal itu,” gumamnya dengan sinis.


Pertunjukan selesai. Lalu Ny. Choi memanggil seorang pelayan, dan berbisik kepadanya untuk membawakan apa yang telah dipersiapkannnya.


“Tidak akan ada CCTV, karena ini pesta pribadi,” jelas Ny. Jung. Dan Kim Dan memeriksa nya, ternyata itu benar.


“Yang penting adalah orang2. Jangan lewatkan siapapun yang terlihat mencurigakan,” jelas Ny. Jung. Dan saat Kim Dan melihat seorang pria bertopi yang tampak mencurigakan, dia langsung mengejarnya.


“Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan disini?” tanya Kim Dan.

__ADS_1


“Oh. Aku mau merokok. Aku minta maaf,” jawab si Pria.


“Tidak, aku yang minta maaf,” balas Kim Dan. Lalu dia membiarkan si Pria pergi.


__ADS_2