
Yeon Seo teringat tentang orang yang memegang tangannya, dan mengatakan ‘Aku ada disini Lee Yeon Seo –ssi’. Mengingat hal itu, Yeon Seo memandang Kang Woo dan bertanya,”Hari itu… kamu… pada hari kecelakaan itu?”
Kang Woo mengambil sebuah kotak kecil, dan memberikannya kepada Yeon Seo.
Isi kotak itu adalah liontin milik Yeon Seo yang terjatuh, saat Yeon Seo akan dibawa masuk kedalam ambulans. Dan Kang Woo memungutnya.
“Apa kamu yang memanggil ambulans, dan memegang tanganku? Apa itu kamu?” tanya Yeon Seo. Dan Kang Woo mengiyakan. “Kenapa kamu tidak beri tahu aku sejak awal?”
“Itu bukan sesuatu yang bisa dibangggakan,” jawab Kang Woo. Lalu dia meminta maaf karena telah mengejutkan mereka, dan berjanji akan mengemudi lebih hati2.
Kim Dan merasa terkejut, dan mengingat mengenai perkataan Hoo. Manusia menyebut itu takdir.
Sesampainya dirumah. Yeon Seo mengucapkan terima kasih, karena telah mengemudi seharian ini. Dan Kang Woo balas berterima kasih, karena Yeon Seo telah meluangkan waktu untuknya. Lalu Kang Woo memberikan hadiah untuk Yeon Seo, dan mengatakan bahwa dia ingin mengenal sekretaris Yeon Seo lebih lagi. Dan mendengar itu, Kim Dan merasa sangat heran.
“Aku membelinya kemarin, tapi sudah hancur. Tapi aku selalu bisa membeli lebih banyak. Ini. Aku harap kita bisa saling mengenal satu sama lain,” kata Kang Woo memberikan cake cokelat yang dibelinya pada Kim Dan.
Tn. Choi mengembalikan surat penguduran milik Won il, dan memintanya untuk melupakan semua. Tapi Won il menjawab bahwa dia tidak bisa, sebab jelas semua sudah terjadi. Dan Tn. Choi menanyakan kenapa.
__ADS_1
“Aku terus melihatnya dalam mimpiku. Aku sangat takut,” jawab Won il.
Setiap kali ada donor yang cocok, ada seseorang yang selalu menghubungi duluan. Dan sesudah panggilan berakhir, donor dibatalkan. Tn. Jo mengatakan itu kepada Won il, dan dengan bersalah Won il mengakui bahwa itu adalah kesalahannya.
Dan Tn. Jo tahu, dia menebak bahwa pasti ketua yang memerintahkan Won il. Karena mengetahui itu, maka dia pun merasa kecewa kepada Won il.
“Untuk mencari nafkah, aku harus melakukan apa yang diperintahkan,” jelas Won il sambil memegang tangan Tn. Jo. Seperti memohon pengertian dan pengampunan.
“Meski begitu, kamu hanya akan berakhir mengotori tanganmu sendiri. Sebelum dia melakukan sesuatu yang lebih buruk, katakan padanya untuk meninggalkan Fantasia diam2,” balas Tn. Jo melepaskan tangan Won il. Lalu dia pergi.
Won il menceritakan bahwa dia tidak menganggapnya sebagai masalah besar. Tapi kemudian dia mengetahui bahwa rem di mobil Tn. Jo terputus, seolah- olah seseorang sengaja memotongnya. Dan dia pergi menghancurkan mobil itu, karena ketua menyuruhnya untuk melakukan itu.
Ny. Choi sedang memarahi kepala keamanan yang kemarin di pecat Yeon Seo karena insiden lampu jatuh. Saat itu dia meluapkan kekesalannya, karena takut ketahuan oleh Yeon Seo yang terus mengintimidasi nya.
Dan sekarang Ny. Choi memarahinya. Dia menanyakan apakah Yeon Seo ada menghubungin polisi, dan apakah kamera CCTV merekam nya. Dan si Kepala keamanan tersebut menjawab bahwa dia tidak tahu, karena dia takut ketahuan bila dia berada terlalu lama di rumah Yeon Seo.
“Lalu bagaimana dengan dokumen yang dikumpulkan Tn. Jo?” tanya Ny. Choi.
__ADS_1
“Kami diberitahu bahwa Lee Yeon Seo memiliki kunci ke kamar itu,” jawabnya.
“Kamu melewati semua itu hanya untuk dipecat dengan tangan kosong?” teriak Ny. Choi dengan kesal. Dan si Kepala meminta maaf.
Mendengar semua pembicaraan itu, Tn. Choi menundukan kepalanya dan berjalan pergi darisana.
Yeon Seo masuk ke dalam kamar Tn. Jo. Dia memperhatikan semua berkas milk Tn. Jo selama bertahun- tahun tentang dirinya. Dan Yeon seo kemudian mengambil salah satu berkas yang ada, dan membacanya.
Berkas itu berisikan artikel tentangnya, dan balet. Lalu disalah satu halaman, dia menemukan foto Kang Woo dalam artikel. Dan Yeon Seo kemudian mengingat pembicaraannya dengan Kang Woo di gedung rumah duka tadi.
“Biarkan aku membantumu memulai balet sekali lagi.”
“Tidak. Aku melakukan setiap tarian yang kuinginkan sebagai balerina. Dan aku memiliki semua kebanggaan sebagai balerina juga. Aku tidak menyesal. Maka, berhenti mencari tubuhku,” kata Yeon Seo, menolak tawaran Kang Woo.
“Kamu bisa lebih tinggi dari ini. Dan kamu harus. Sekali ini saja. Tolong percayai aku sekali ini,” pinta Kang Woo.
Namun Yeon Seo tetap menolak, serta dia tidak mempercayai Kang Woo. Perkataan seperti, ‘Percayalah padaku’, ‘Aku berbeda’, ‘Aku sungguh2’, itu perkataan klise yang sering Yeon Seo dengar saat dia menjadi anak yatim di usia 17 tahun.
__ADS_1
Kang Woo tersenyum mengingat itu. Lalu dia membuka sebuah kotak musik kecil yang tidak berbunyi lagi. “Apa yang harus aku lakukan untuk membuat jantung Lee Yeon Seo berdetak lagi?” gumamnya. Kemudian dia memutar video latihan tari balet seorang wanita, dan dia tersenyum menonton itu. “Kamu, Matil.”
Sebuah email masuk, dan Kang Woo membukanya. Email tersebut berisikan informasi tentang Kim Dan, tapi tidak ada yang special dari nya sehingga Kang Woo pun merasa heran. “Apa mereka menjadi dekat karena dia mudah di dekati?"