
“Dia begitu anggun, kan, si Felicie? Begitu elegan, begitu halus. Dia seperti putri yang sedang menyamar, ha.. ha...”
“Setidaknya ayah dan ibuku menikah, tidak seperti orang tuamu,” Felicie akan menggeram dengan marah.
“Ya, dan ayahmu membunuh ibumu. Bagus sekali, menjadi anak pembunuh.”
“Ayahmu sendiri meninggalkan ibumu sampai mati,” balas Felicie.
“Ah! Ya.” Annette merenungkan hal itu. “Pauvre maman, ibu yang malang. Orang memang mesti kuat dan sehat. Kuat dan sehat itu penting sekali.”
“Aku kuat seperti kuda,” Felicie membanggakan.
“Dan memang dia kuat seperti kuda. Tenaganya dua kali lipat tenaga gadis manapun di rumah itu. Dan dia tidak pernah sakit.”
“Tapi dia bodoh sekah, bodoh sepcrti binatang buas. Saya sering kali merasa heran, kenapa dia selalu mengikuti Annette ke mana-mana. Dia seperti terpesona. Kadang-kadang saya pikir dia sebenarnya benci pada Annette, dan memang Annette jahat kepadanya. Dia suka mengejek kelambanan dan kebodohan Felicie, dan suka memancing-mancingnya di depan anak-anak lain. Saya pernah melihat Felicie pucat pasi karena marah. Kadang saya mengira dia akan mencengkeramkan jemarinya di leher Annette dan mencekik Annette sampai mati. Dia tidak cukup cerdas untuk menjawab ejekan-ejekan Annette, tapi akhinya dia belajar membalas dengan satu ucapan yang selalu mengena. Yaitu dengan menyebutkan kesehatan dan kekuatannya. Dia akhirnya menyadari (sementara saya sendiri sudah lama tahu) bahwa Annette iri akan fisiknya yang kuat, dan secara naluriah dia menyerang titik lemah lawannya ini.”
“Suatu hari Annette mendatangi saya dengan sangat gembira. ‘Raoul,' katanya.' Hari ini kita akan bersenang-senang dengan si tolol Felicie itu. Kita akan mati tertawa.' ‘... Apa yang akan kaulakukan?' ‘... Ayo kita ke gudang kecil itu, nanti kuceritakan." Rupanya Annette menemukan sebuah buku. Sebagian isinya tidak dia pahami, dan memang isi buku itu terlalu berat untuknya.
Buku itu sebuah buku lama tentang hipnotis.
“Objek yang terang, menurut buku ini. Tombol kuningan ditempat tidurku bisa berputar. Aku menyuruh Felicie memandanginya semalam. ‘Pandangi terus.' kataku. 'Jangan mengalihkan matamu dari situ ' Lalu aku memutarnya. Raoul, aku takut sekali. Kedua matanya kelihatan sangat aneh sangat aneh. Felisie, kau akan selalu menuruti perintahku,' kataku. 'Aku akan selalu menuruti perintahmu, Annette,' jawabnya. Lalu... lalu... aku berkata, 'Besok kau akan membawa sebatang lilin ke lapangan bermain pada jam dua belas siang, dan mulai memakannya. Kalau ada yang bertanya, kau akan bilang bahwa lilin itu adalah gazette paling enak yang pernah kaucicipi.' Oh! Raoul, coba bayangkan!"
"... Tapi dia tidak bakal mau berbuat begitu," kata saya.
“Di buku itu dikatakan demikian. Aku sendiri tidak benar-benar percaya... tapi, oh! Raoul, kalau apa yang dikatakan buku itu benar,
kita bisa tertawa habis-habisan hari ini.”
“Saya juga menganggap gagasan itu sangat lucu. Kami menyebarkan berita itu pada anak-anak lainnya, dan pada jam dua belas siang, kami semua berkumpul di lapangan bermain. Tepat waktu sampai ke menit-menitnya, Felicie keluar dengan membawa sepotong lilin di tangannya. Bisakah Anda sekalian mempercayainya, Messieurs, dia mulai menggigiti lilin itu dengan takzim? Kami semua tertawa terbahak-bahak! Sesekali salah seorang anak akan mendekatinya dan berkata dengan takzim, 'Enak, ya, apa yang kaumakan itu, Felisie?' Dan dia akan menjawab 'Ya, ini gazette paling enak yang pernah kucicipi.' Lalu kami semua tertawa lagi terbahak-bahak."
Rupanya kami tertawa begitu keras, hingga
akhinya membuat Felicie tersadar akan apa yang sedang dilakukannya. Dia mengerjap-ngerjapkan mata dengan bingung, memandangi lilin itu, lalu memandangi kami. Dia menempelkan tangan di dahinya.
“Apa yang sedang kulakukan di sini?' gumamnya.
“Kau sedang makan lilin,' teriak kami.
“Aku yang menyuruhmu, aku yang menyuruhmu." seru Annette sambil menari-nari.
“Sesaat Felicie tertegun. Lalu perlahan-lahan dia menghampiri Annette. ‘... Jadi kau rupanya kau rupanya yang telah membuatku diolok-
olok? Sepertinya aku ingat. Ah! Akan kubunuh kau nanti.''
“Dia bicara sangat pelan, tapi sekonyong-konyong Annate lari bersembunyi di belakang saya. ‘Tolong aku, Raoul! Aku takut pada Felicie. Tadi itu hanya gurauan, Felicie. Hanya gurauan.'
‘Aku tidak suka gurauan-gurauan ini.’ kata Felicie. 'Kalian mengerti? Aku benci kalian. Aku benci kalian semua.''
“Mendadak dia menangis dan lari pergi. Saya rasa Annette menjadi takut akan hasil eksperimennya itu dan tidak mencoba mengulanginya. Tapi, mulai hari itu, pengaruhnya terhadap Felicie sepertinya semakin kuat. Sekarang saya yakin bahwa Felicie sejak dulu membenci Annette, tapi dia tak bisa jauh-jauh dari Annette. Dia selalu mengikuti Annette ke mana-mana, seperti anjing.”
“Tak lama sesudah itu, Tuan-tuan, saya mendapat pekerjaan, dan saya pulang hanya sesekali, saat liburan. Keinginan Annette menjadi penari tidak ditanggapi serius, tapi saat menanjak dewasa dia memiliki suara yang sangat indah kalau menyanyi, dan Miss Slater setuju dia mendapatkan pelatihan sebagai penyanyi.”
“Annette sama sekali tidak malas. Dia berlatih dengan giat, tanpa istirahat. Miss Slater merasa perlu mencegahnya berlatih begitu keras. Dia pernah bicara pada saya tentang Annette. ‘Sejak dulu kau menyukai Annette,' katanya. 'Coba bujuk dia supaya tidak bekerja terlalu keras. Belakangan ini dia suka batuk-batuk sedikit, gelagatnya tidak baik."'
“Tak lama kemudian pekerjaan saya membuat saya banyak bepergian jauh. Mulanya saya masih menerima satu dua surat dari Annette, tapi lalu berhenti sama sekali. Selama lima tahun kemudian, saya berada di luar negeri.”
“Secara kebetulan, ketika kembali ke Paris, perhatian saya tertarik pada sebuah poster tentang pertunjukan oleh Annette Ravelli, berikut fotonya yang terpampang di situ. Saya langsung mengenalinya. Malam itu saya menonton di teater yang disebutkan di poster tersebut. Annette menyanyi dalam bahasa Prancis dan Italia. Dia sangat hebat di panggung. Selesai pertunjukan saya menemuinya di ruang ganti. Dia langsung bersedia menerima kedatangan saya. ‘Ah, Raoul,' serunya sambil mengulurkan kedua tangannya yang putih pada saya. ‘Sungguh menyenangkan. Ke mana saja kau selama ini?’
Saya ingin bercerita padanya, tapi dia tidak benar-benar ingin mendengarkan. ‘Kau lihat, aku hampir mencapai cita-citaku!''
Dia membuat gerakan penuh kemenangan dengan tangannya, menunjuk ruangan yang penuh buket-buket bunga. ‘... Miss Slater yang baik itu pasti bangga dengan keberhasilanmu.'
‘Si tua itu? Tidak. Dia mengarahkanku untuk menjadi penyanyi Konservatoric. Penyanyi konser yang anggun. Tapi aku seorang seniman. Di panggung campuran inilah aku bisa mengekspresikan diri.'
Pada saat itu, seorang pria tampan setengah baya masuk. Penampilannya sangat berwibawa. Dari sikapnya, dengan segera saya mengerti bahwa dia pelindung Annette. Dia melirik saya, dan Annette menjelaskan. ‘... Ini teman masa kecilku. Dia sedang lewat Paris, dan melihat fotoku di poster... et voila!’ Setelah itu, pria tersebut jadi sangat ramah dan sopan. Di depan saya dia mengeluarkan sebuah gelang bertatahkan batu rubi dan berlian, dan memakaikannya di pergelangan tangan Annette. Ketika saya bangkit untuk pergi, Annette melemparkan pandangan penuh kemenangan pada saya, dan berbisik, ‘Aku berhasil, bukan? Kaulihat? Seluruh dunia terbentang dihadapanku.' Tapi ketika saya keluar dari ruangan itu, saya dengar dia terbatuk-batuk; batuk kering yang tajam. Saya tahu apa artinya batuk itu. Warisan diri ibunya yang menderita radang paru-paru. Saya bertemu lagi dengannya dua tahun kemudian.
Dia sudah kembali pada Miss Slater. Karirnya telah hancur. Radang paru-parunya sudah mencapai tahap lanjut, dan dokter-dokter
mengatakan tak ada yang bisa dilakukan untuk menyembuhkannya. Ah! Saya takkan pernah melupakan keadaannya saat itu! Dia berbaring di semacam tempat berteduh di kebun. Dia sengaja ditaruh di luar siang dan malam. Kedua pipinya cekung dan merah, matanya berkilat-kilat oleh demam, dan dia batuk berkali-kali.
Dia menyapa saya dengan semacam sikap putus asa yang membuat saya terperanjat.
"Senang bisa melihatmu lagi, Raoul. Kau tahu apa kata mereka bahwa aku tidak akan sembuh? Mereka mengatakannya di belakang punggungku, tahu? Di depanku mereka menunjukkan sikap menghibur dan menenangkan. Tapi itu tidak benar, Raoul. Itu tidak benar! Takkan kubiarkan diriku mati. Mati! Sementara hidup yang indah terbentang di hadapanku? Yang penting adalah tekad untuk hidup. Itulah yang dikatakan dokter-dokter yang hebat sekarang ini. Aku bukan jenis orang lemah yang akan mati bcgitu saja. Sekarang ini pundakku sudah merasa jauh lebih baik... jauh lebih baik, kaudengar?"
Dia menopang tubuhnya di satu siku, untuk menegaskan kata-katanya tadi, tapi lalu terjatuh oleh serangan batuk yang mengguncang tubuhnya yang kurus.
"Batuk ini... bukan apa-apa," katanya tersengal-sengal.
"Dan perdarahan-perdarahan itu tidak membuatku takut. Aku akan memberikan kejutan pada dokter-dokter itu Tekad hiduplah yang penting. Ingat, Raoul, aku akan tetap hidup."
Sungguh menyedihkan, amat sangat menyedihkan. Pada saat itu
Felicie Bault masuk membawa nampan, dengan segelas susu panas. Dia memberikannya pada Annette dan mengawasi Annette meminumnya, dengan ekspresi yang tidak dapat saya pahami.
Semacam ekspresi puas dan sombong.
__ADS_1
“Annette menangkap tatapan Felicie. Dia melemparkan gelas itu dengan marah, hingga gelas itu pecah berkeping-keping. ‘Kaulihat dia? Seperti itulah dia selalu menatapku. Dia senang aku akan mati! Ya, dia senang sekali. Sebab dia sendiri sehat dan kuat. Coba lihat dia. Tak pernah sakit sehari pun! Padahal apa
gunanya kesehatannya itu. Apa gunanya tubuhnya yang kuat itu? Apa dia bisa memanfaatkannya?" Felicie membungkuk dan memunguti pecahan-pecahan gelas tersebut.
"Aku tidak keberatan dengan ucapannya," katanya dengan suara merdu.
"Apa pentingnya? Aku gadis baik-baik. Dia sendiri... tak lama lagi dia akan merasakan terbakar di Api Pencucian. Aku orang Kristen yang baik, aku tidak akan bilang apa-apa."
"Kau benci padaku," teriak Annette.
"Sejak dulu kau membenciku."
"Ah! Tapi aku tetap bisa membuatmu terpesona. Aku bisa membuatmu melakukan perintahku. Coba lihat sekarang, kalau
kuminta, kau akan berlutut di rumput, di hadapanku."
"Omonganmu tidak masuk akal." kata Felicie dengan gelisah.
"Ya, kau akan melakukannya. Kau akan melakukannya. Untuk membuatku senang. Berlututlah, kuminta kau berlutut. Aku,
Annette. Berlututlah, Felicie."
Entah karena nada memohon yang menggugah dalam suara Annette, atau karena motif yang lebih dalam, Felicie mematuhinya.
Dia berlutut perlahan-lahan, kedua lengannya terentang lebar, wajahnya kosong dan bodoh. Annette tertawa terbahak-bahak berderai-derai.
"Coba lihat dia, dengan wajahnya yang tolol itu! Betapa konyol ekspresinya. Kau boleh bangkit berdiri sekarang, Felicie, terima kasih! Tak perlu cemberut begitu padaku. Aku majikanmu. Kau mesti mematuhi perintahku."
...
Lalu Annette berbaring kembali di bantalnya, kelelahan. Felicie mengangkat nampannya dan beranjak pergi perlahan-lahan. Satu kali dia menoleh, dan sorot kebencian yang amat sangat di matanya membuat saya terperanjat.
Saya tidak ada di sana ketika Annette meninggal. Tapi sepertinya keadaannya sangat menyedihkan. Dia berjuang mempertahankan
hidupnya. Dia berjuang melawan kematian, seperti wanita sinting.
Berkali-kali dia berkata dengan tersengal-sengal,
"Aku tidak akan mati... kaudengar itu? Aku tidak akan mati. Aku akan tetap hidup... hidup..."
Miss Slater menceritakan semua itu pada saya ketika saya datang menemuinya enam bulan kemudian.
"Raoul yang malang." katanya dengan ramah.
Kau mencintainya. Bukan?"
begitu penuh semangat hidup yang membara..."
Miss Slater wanita yang simpatik. Dia mengalihkan pembicaraan pada hal-hal lain. Dia sangat cemas tentang Felicie, katanya.
Gadis itu telah mengilami semacam keruntuhan saraf yang aneh, dan sejak saat itu tingkah lakunya juga sangat aneh.
"Kau tahu bahwa dia sedang belajar main piano?" kata Miss Slater setelah ragu-ragu sejenak.
"Saya tidak mengetahuinya, dan sangat terkejut mendengarnya. Felicie... belajar main piano! Saya berani menyatakan bahwa gadis itu tidak bisa membedakan nada sama sekali. ‘Mereka bilang, dia berbakat," Miss Slater melanjutkan.
"Aku tidak mengerti. Sejak dulu aku menganggap dia yah... Raoul, kau tahu sendiri sejak dulu dia bodoh, kan?"
Saya mengangguk.
"Kadang-kadang perilakunya begitu aneh. Aku benar-benar tidak mengerti."
Beberapa menit kemudian, saya melangkah ke Salle de Lecture. Felicie sedang memainkan piano. Dia membawakan nada-nada yang pernah saya dengar dinyanyikan oleh Annette di Paris.
"Anda tentunya mengerti, Tuan-tuan, kalau saya jadi sangat terkejut."
Mendengar saya datang, dia berhenti main dengan mendadak, dan memutar tubuh melihat saya, sorot matanya penuh ejekan dan kecerdasan. Sesaat saya berpikir... ah, saya tidak akan mengatakan pada Anda. Apa yang terlintas di benak saya.
"Biens!" katanya.
"Jadi, kau rupanya Monsieur Raoul."
Saya tak bisa menggambarkan cara dia mengatakannya. Sejak dulu Annette selalu menyebut saya Raoul. Tapi Felicie, sejak kami bertemu sebagai orang dewasa, selalu menyebut saya dengan Monsieur Raoul. Tapi cara dia mengucapkannya saat itu berbeda... seolah-olah kata Monsieur itu terdengar sangat lucu, dengan diberi sedikit tekanan.
"Wah, Felicie," kata saya terbata-bata
"Kau tampak berbeda sekali
hari ini.’'
"O ya?" tanyanya sambil merenung.
"Aneh sekali. Tapi jangan serius begitu, Raoul. Aku memanggilmu Raoul saja. Bukankah kita pernah menjadi teman bermain ketika masih kecil? Hidup ini mesti diisi dengan tawa. Mari kita membicarakan Annette yang malang... yang sudah meninggal dan dikuburkan. Apa dia berada di Api Pencucian? Atau di mana?"
Lalu dia menggumamkan sepotong lagu. Nadanya tidak terlalu bagus. Tapi kata-katanya menarik perhatian saya.
__ADS_1
"Felicie!" saya berseru
"Kau bisa bicara bahasa Italia."
"Kenapa tidak, Raoul? Barangkali aku tidak sebodoh yang pura-pura kuperlihatkan." Dia tertawa melihat kebingungan saya.
"Aku tidak mengerti," saya memulai.
"... Akan kuberitahukan padamu. Aku aktris yang sangat hebat, walau tak seorang pun tahu itu. Aku bisa memainkan banyak peran... dengan sangat baik pula."
Dia tertawa lagi dan lari keluar dari ruangan itu sebelum saya sempat menghentikannya. Saya bertemu lagi dengannya sebelum berangkat. Dia sedang tertidur di kursi, mendengkur sangat keras. Saya berdiri memandanginya. Terpesona. Tapi juga dengan perasaan muak. Sekonyong-konyong dia bangun dengan kaget. Kedua matanya yang kosong dan tidak bercahaya bertemu pandang dengan mata saya.
"Monsieur Raoul," gumamnya otomatis.
"Ya, Felicie, aku akan pergi sekarang. Maukah kau main piano lagi untukku sebelum aku berangkat."
"Aku? Main piano? Kau mengolok-olokku, Monsieur Raoul." Dia menggelengkan kepala.
"Aku main piano? Mana mungkin gadis bodoh seperti aku main piano?" Dia diam sejenak, seperti sedang berpikir, kemudian dia memanggil saya agar lebih mendekat.
"Monsieur Raoul, ada peristiwa-peristiwa aneh terjadi di rumah ini! Mereka sengaja mempermainkan aku. Menghentikan jam-jam di sini. Ya, ya, aku tahu betul apa yang kukatakan ini. Dan semua ini adalah ulahnya."
"Ulah siapa?" tanya saya, terperanjat.
"Ulah Annette. Si jahat itu. Ketika masih hidup, dia selalu menyiksaku. Sekarang, sesudah mati pun, dia datang dari dunia orang mati untuk menyiksaku."
Saya terpaku menatap Felicie. Bisa saya lihat bahwa dia benar-benar ketakutan, kedua matanya melotot lebar.
"Dia memang jahat. Ya, dia jahat. Dia akan mengambil roti dari mulutmu, pakaian dari punggungmu, jiwa dari dalam tubuhmu…"
Sekonyong-konyong dia mencengkeram saya.
"Aku takut... takut. Aku mendengar suaranya, bukan di telingaku tidak, bukan di telingaku. Di sini, di dalam kepalaku..." Dia mengetuk
dahinya.
"Dia akan mengusirku pergi, mengusirku pergi
sepenuhnya, lalu apa. yang mesti kulakukan, apa yang akan terjadi denganku?" Suaranya meninggi, hampir-hampir melengking.
Matanya menyorotkan ketakutan seekor binatang buas yang tengah terpojok...
Sekonyong-konyong dia tersenyum, senyum manis yang licik. Ada sesuatu yang membuat saya merinding dalam senyumnya itu.
"Kalau terpaksa, Monsieur Raoul, kedua tanganku ini sangat kuat, amat sangat kuat."
Sebelumnya saya tidak pernah memperhatikan tangannya. Saat itu saya memperhatikannya, dan mau tak mau saya merinding.
Jemarinya yang persegi tampak brutal. dan seperti kata Felicie, sangat kuat... saya tak bisa menjelaskan pada Anda sekalian rasa mual yang menyapu diri saya. Pasti dengan kedua tangan seperti itulah ayahnya dulu mencekik ibunya...
Itulah terakhir kalinya saya melihat Felicie Bault. Tak lama kemudian, saya berangkat ke luar negeri, ke Amerika Selatan. Saya pulang dari sana dua tahun setelah kematiannya.
Karena berita yang saya baca di surat-surat kabar tentang kehidupannya dan kematiannya yang mendadak. Malam ini saya telah mendengar detail-detail yang lebih lengkap dari Anda sekalian, Tuan-tuan. Felicie 3 dan Felicie 4. Saya jadi bertanya-tanya. Dia aktris yang hebat, tahu?”
Kereta sekonyong-konyong mengurangi kecepatan. Pria di sudut keempat itu duduk tegak dan mengancingkan mantelnya lebih
rapat.
“Apa teori Anda?” tanya Sir George sambil mencondongkan tubuh ke depan.
“Aku hampir-hampir tak pereaya...,” Canon Parfitt memulai, namun lalu terdiam.
Sang dokter tidak mengatakan apa-apa. Ia tengah memandangi Raoul Letardeau dengan tajam.
“Pakaian dari punggung, dan jiwa dari dalam tubuhmu,” kata orang Prancis itu dengan nada ringan.
Lalu ia berdiri dari duduknya.
“Menurut saya, Messiuers, sejarah kehidupan Felicie Bault adalah juga sejarah kehidupan Annette Ravel. Anda tidak mengenal dia, Tuan-tuan. Tapi saya mengenalnva. Dia sangat mencintai kehidupan...”
Dengan satu tangan di pintu. siap melompat keluar, ia berbalik dengan tiba-tiba, dan membungkuk sambil mengetuk dada Canon Parfitt.
“M. le docteur di sana itu, tadi dia berkata bahwa semua ini” tangannya menyapu perut sang Canon dan sang Canon berjengkit.
“hanyalah sebuah tempat hunian. Coba katakan, kalau Anda mendapati ada pencuri di rumah Anda, apa yang Anda lakukan? Menembaknya, bukan?”
“Tidak,” seru sang Canon.
“Tidak, tentu saja maksud saya tidak
di negara ini.” Tapi ia berbicara, pada udara kosong belaka.
Pintu gerbang terbanting membuka. Sang Canon, sang pengacara, dan sang dokter hanya bertiga.
Sudut keempat itu sudah kosong.
__ADS_1
Catatan :
Pada buku aslinya ada banyak tanda baca yang sedikit acak, jadi kalian para reader akan sedikit dibuat bingung dengan tanda baca. Sedang author disini jelas tidak boleh terlalu merubah seluruhnya, sebab bukan karya pribadiku.