Anjing Kematian By Agatha Christie

Anjing Kematian By Agatha Christie
Tanda Bahaya #2


__ADS_3

“Ya, dan beberapa lainnya.” Mrs. Thompson menguap.


“Saya capek sekali. Tenaga saya benar-benar terkuras. Begitulah kegiatan seperti ini. Yah, saya senang semuanya berjalan dengan sukses. Saya agak takut kalau-kalau tidak memuaskan, takut sesuatu yang tidak menyenangkan bakal terjadi. Ada yang aneh rasanya diruangan ini malam ini.”


Ia menoleh ke bailk bahunya yang gemuk bergantian, lalu angkat bahu dengan tidak nyaman.


“Saya merasa tidak nyaman,” katanya.


“Ada yang mengalami kematian mendadak di antara Anda sekalian belakangan ini?”


“Apa maksud Anda... di antara kami?”


“Kerabat dekat... teman-teman dekat? Tidak ada? Yah, kalau saya ingin bersikap melodramatis, saya merasa ada kematian tercium di udara malam ini. Aah, cuma pikiran saya saja yang tidak masuk akal. Selamat malam, Mrs. Trent. Saya senang Anda merasa


puas.”


Lalu Mrs. Thompson yang mengenakan gaun beludru merah tua itu berjalan keluar.


“Saya harap Anda tertarik, Sir Alington,” kata Claire pelan.


“Malam yang sangat menarik, nyonya yang baik. Terima kasih banyak atas kesempatan ini. Izinkan saya mengucapkan selamat malam. Kalian semua akan pergi berdansa, bukan?”


“Apa Anda tidak ikut dengan kami?”


“Tidak, tidak. Sudah menjadi kebiasaan saya untuk tidur pada jam setengah dua belas. Selamat malam. Selamat malam, Mrs. Eversleigh. Ah! Dermot, ada yang ingin kubicarakan denganmu. Bisakah kau ikut denganku sekarang? Kau bisa bergabung dengan yang lainnya di Graflon Galleries.”


“Tentu, Paman. Aku nanti menyusul Trent.”


Tidak banyak yang dibicarakan oleh paman dan kemenakan itu sepanjang perjalanan singkat menuju Harley Street. Sir Alington minta maaf telah menyuruh Dermot ikut bersamanya, dan menegaskan bahwa ia cuma perlu beberapa menit untuk bicara.


“Perlukah aku menyuruh mobil menunggumu, Nak?” tanyanya saat mereka turun.


“Oh, tidak usah repot-repot, Paman. Aku naik taksi saja nanti.”


“Baiklah. Aku tak ingin menyuruh Charlson menunggu terlalu malam kalau tidak terpaksa sekali. Selamat malam, Charlson. Wah, di mana aku menaruh kunciku?”


Mobil itu melaju pergi, sementara Sir Alington berdiri di undak-undak sia-sia memeriksa saku-sakunya.


“Pasti tertinggal di mantel satunya,” katanya akhirnya.


“Bisa tolong pencet bel? Aku yakin Johnson masih belum tidur.” Johnson yang berpembawaan tenang itu membuka pintu enam puluh detik kemudian.


“Salah menaruh kunci, Johnson,” Sir Alington menjelaskan.


“Tolong bawakan dua gelas wiski dan soda ke perpustakaan, ya?”


“Baik, Sir Alington.”


Sir Alington melangkah ke ruang perpustakaan dan menyalakan lampu-lampu. Ia mengisyaratkan pada Dermot agar menutup pintu setelah masuk.


“Aku tidak akan lama. Dermot. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu. Apakah ini cuma bayanganku saja, ataukah kau memang punya... katakanlah perasaan khusus terhadap Mrs. Jack Trent?” Wajah Dermot memerah.


“Jack Trent itu teman baikku.”


“Maafkan aku, tapi itu sama sekali tidak menjawab pertanyaanku. Aku yakin kau menganggap pandangan-pandanganku mengenai pereeraian dan hal-hal semacamnya terlalu puritan, tapi mesti kuingatkan padamu bahwa kau satu-satunya kerabat dekatku dan ahli warisku “


“Tidak bakal ada perceraian,” kata Dermot dengan marah.


“Memang tidak ada, untuk alasan yang barangkali lebih bisa dipahami olehku daripada olehmu. Aku tak bisa memaparkan alasan itu sekarang, tapi aku ingin memperingatkanmu. Claire Trent tidak tepat untukmu.” Dermot menatap mata pamannya dengan tajam.


“Aku mengerti... dan izinkan aku mengatakan bahwa barangkali aku mengerti lebih baik daripada yang Paman kira. Aku tahu alasan kehadiran Paman pada acara makan malam tadi.”


“O ya?” Sir Alington jelas tampak terkejut.


“Bagaimana kau bisa tahu?”


“Anggap saja itu sekadar tebakan, Sir. Ucapanku benar bukan, bahwa Paman hadir untuk alasan yang berkaitan dengan... profesi Paman.”


Sir Alington mondar-mandir di ruangan tersebut.


“Kau benar sekali, Dermot. Tapi tentu saja aku tidak bisa mengatakannya padamu, walau kurasa tak lama lagi rahasia ini akan tersebar juga.” Dermot merasa jantungnya melompat.


“Maksud Paman, Paman sudah... mengambil kesimpulan?”


“Ya, ada kegilaan dalam keluarga itu dari sisi ibu. Kasus yang menyedihkan... amat sangat menyedihkan.”


"Aku tak percaya, Sir. Aku yakin tidak. Bagi orang awam, sedikit sekali tanda-tanda


yang terlihat.”


“Dan bagi ahlinya?”


“Buktinya sudah jelas. Dalam kasus semacam itu, si pasien mesti dimasukkan ke rumah sakit jiwa, sesegera mungkin.”


“Ya Tuhan!” Dermot terkesiap.


“Tapi orang tak bisa dirumahsakitkan seperti itu dengan begitu saja.”


“Dermot! Pasien di rumah sakit jiwakan hanya kalau keberadaan mereka ditengah masyarakat bisa membahayakan komunitasnya.”


“Bahaya ini sangat serius. Kemungkinan besar yang dialaminya adalah homicidal munia. Itulah yang terjadi dalam kasus ibunya.” Dermot memalingkan muka sambil mengerang, lalu


membenamkan wajah di kedua tangannya. Claire, Claire yang putih dan berambut emas!


“Dalam keadaan ini,” Sir Alington melanjutkan dengan santai.


”aku merasa wajib memperingatkanmu.”


“Claire,” gumam Dermot.


“Claire ku yang malang.”


“Ya, memang, kita semua mesti merasa kasihan padanya.” Sekonyong-konyong Dermot mengangkat kepala.


“Aku tidak percaya.”


“Apa?”


“Kubilang aku tidak pereaya. Dokter-dokter bisa saja membuat kesalahan. Semua orang tahu itu. Dan mereka selalu sok yakin kalau menyangkut bidang mereka.”


“Dermot,” kata Sir Alington dengan marah.


“Kubilang aku tidak pereaya. Lagi pula kalaupun benar demikian, aku tidak peduli. Aku mencintai Claire. Kalau dia mau ikut denganku, akan kubawa dia pergi jauh-jauh lepas dari jangkauan dokter-dokter yang suka ikut campur. Aku akan menjaganya, mengurusnya,


menaunginya dengan cintaku.”


“Kau tidak boleh berbuat begitu. Apa kau sudah gila?”,


Dermot tertawa mengejek.


“Kalian pasti akan menganggap begitu aku yakin.”


“Coba kau pahami, Dermot.” Wajah Sir Alington merah padam oleh kemarahan tertahan.

__ADS_1


“Kalau kau melakukan tindakan itu, tindakan memalukan itu, habislah sudah. Aku akan menarik kembali uang saku yang saat ini kuberikan padamu, dan aku akan membuat surat wasiat baru, meninggalkan keseluruhan hartaku pada berbagai rumah sakit “


“Silakan berbuat sesuka Paman dengan uang itu,” kata Dermot dengan suara pelan.


“Aku tetap mesti memiliki wanita yang kucintai.”


“Wanita yang...”


“Paman berani mengucapkan satu kata baja yang menjelek-jelekkan dia, dan demi Tuhan, akan kubunuh Paman!” teriak Dermot.


Suara pelan denting gelas membuat mereka sama-sama membalikkan tubuh. Karena terbakar oleh perdebatan mereka tadi, keduanya tidak mendengar Johnson melangkah masuk dengan membawa nampan berikut gelas-gelas. Wajahnya tetap tidak menunjukkan ekspresi apa pun, sebagaimana layaknya pelayan yang baik, tapi Dermot bertanya-tanya, seberapa banyak yang telah didenganya.


“Itu saja, Johnson,” kata Sir Alington dengan tegas. “Kau boleh pergi tidur.”


“Terima kasih, Sir. Selamat malam, Sir.” Johnson mengundurkan diri.


Kedua orang itu saling pandang. Interupsi sesaat tadi telah meredakan kemarahan mereka.


“Paman,” kata Dermot,


“mestinya aku tidak bicara kasar seperti tadi. Aku mengerti bahwa dari sudut pandang Paman. Paman benar sekali. Tapi aku sudah lama mencintai Claire Trent. Sejauh ini, aku tak pernah menyatakan cintaku pada Claire, berhubung Jack Trent adalah sahabat baikku. Tapi mengingat situasi sekarang ini, fakta itu tidak. penting lagi. Salah kalau Paman menganggap faktor uang bisa membuatku berubah pikiran. Kurasa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan di antara kita. Selamat malam.”


“Dermot...”


“Sungguh, tak ada gunanya berdebat lebih lanjut. Selamat malam, Paman Alington. Aku menyesal, tapi bagaimana lagi.”


Dermot cepat-cepat keluar, menutup pintu di belakangnya. Lorong gelap gulita. Ia melewatinya, membuka pintu depan dan keluar ke jalan, sambil membanting pintu di belakangnya.


Sebuah taksi baru saja menurunkan penumpang di rumah di depan sana, dan Dermot menghentikannya, lalu berangkat ke Grafton Galleries.


Di pintu ruang dansa ia berdiri sejenak. Kebingungan, kepalanya terasa berputar. Musik jazz yang riuh rendah. Wanita-wanita yang tersenyum. Ia merasa seperti melangkah masuk ke dunia lain.


Apakah tadi ia bermimpi? Mustahil rasanya bahwa percakapan tidak bersahabat dengan pamannya tadi benar-benar terjadi. Itu dia.


Claire melangkah lewat, bagaikan bunga lili dalam gaun putih keperakan yang melekat ketat di tubuhnya yang ramping. Ia tersenyum pada Dermot, wajahnya tenang dan damai.


Pasti semua ini hanya mimpi. Orang-orang sudah berhenti berdansa. Claire ada di dekatnya, tersenyum kepadanya. Bagaikan dalam mimpi, ia mengajak wanita itu berdansa. Sekarang Claire ada dalam pelukannya. Musik yang keras sudah mengalun kembali. Ia merasa Claire agak lunglai dalam pelukannya.


“Capek? Mau berhenti?”


“Kalau kau tidak keberatan. Bisakah kita mencari tempat untuk bicara? Ada yang ingin kukatakan padamu.”


Ini bukan mimpi. Dermot tersentak kembali ke bumi. Benarkah tadi ia menganggap wajah Claire tenang dan damai? Wajah yang dilihatnya ini dihantui kecemasan dan ketakutan. Seberapa banyak yang diketahui Claire?


Dermot menemukan sebuah sudut yang sepi, dan mereka duduk berdampingan.


“Nah,” katanya, berusaha menampilkan sikap santai yang sama sekali tidak ia rasakan.


“Katamu ada yang ingin kaukatakan padaku?”


“Ya.” Claire menunduk, memainkan rumbai rumbai gaunnya dengan gugup. “Tapi agak... sulit.”


“Katakan saja, Claire.”


“Hanya ini... aku ingin kau... pergi dulu untuk sementara.” Dermot terperanjat. Ia sama sekali tidak menduga Claire akan berkata begitu.


“Kau ingin aku pergi? Kenapa?”


“Sebaiknya aku jujur saja, bukan? Aku... aku tahu kau... orang yang baik, dan kau sahabatku. Aku ingin kau pergi karena aku... aku telah membiarkan diriku menyukaimu.”


“Claire.” Kata-katanya membuat Dermot tertegun... tak sanggup bicara.


“Tolong jangan menganggap aku begitu sombongnya hingga membayangkan kau... kau bisa jatuh cinta padaku. Aku hanya... aku tidak terlalu bahagia... dan... oh! Aku lebili suka kau pergi saja”


“Claire, apa kau tidak tahu bahwa aku sudah mencintaimu... amat sangat mencintaimu... sejak pertama kali aku melihatmu?”


“Sejak awal.”


“Oh!” serunya.


“Kenapa tidak kaukatakan padaku? Waktu itu? Waktu aku masih bisa bersamamu? Kenapa baru menceritakan sekarang, saat sudah terlambat? Tidak, aku pasti sudah sinting aku tidak tahu apa yang kukatakan. Aku tidak mungkin bisa bersamamu.”


“Claire, apa maksudmu sudah terlambat'? Apa... apa karena pamanku? Karena apa yang diketahuinya? Karena pendapatnya?”


Claire mengangguk tanpa berbicara. Wajahnya basah oleh air mata.


“Dengar. Claire, kau tidak perlu mempercayai semua itu. Jangan dipikirkan. Kau akan ikut bersamaku. Kita akan pergi ke Laut Selatan, ke pulau-pulau yang hijau bagaikan permata. Kau akan bahagia disana. Dan aku akan menjagamu melindungimu selalu.”


Dirangkulnya wanita itu dan didekatkannya kepadanya: ia merasa Claire gemetar oleh sentuhannya. Namun Sekonyong-konyong Claire merenggutkan diri darinya.


“Oh, tidak. Apa kau tidak mengerti? Aku tak bisa sekarang. Akan sangat buruk akibatnya. Buruk, buruk. Selama ini aku ingin menunjukkan sikap baik dan sekarang... sekarang akibatnya bakal buruk.”


Dermot ragu-ragu. Merasa bingung oleh kata-kata Claire. Claire menatapnya dengan pandangan memohon.


“Kumohon,” katanya.


“Aku ingin bersikap baik...”


Tanpa berkata apa-apa lagi Dermot berdiri dari duduknya dan meninggalkannya. Sesaat ia merasa sangat tersentuh, sekaligus galau oleh apa yang dikatakan Claire tadi. Ia mengambil topi dan mantelnya, dan bertumbukan dengan Trent.


“Halo, Dermot, kau pulang cepat.”


“Ya. aku sedang tidak berminat berdansa malam ini.”


“Malam ini sangat buruk,” kata Trent dengan murung.


“Tapi kau pasti tidak secemas aku saat ini.” Sekonyong-konyong Dermot takut kalau kalau Trent ingin mencurahkan isi hati kepadanya. Jangan sampai, jangan sampai!


“Yah, sampai jumpa,” katanya cepat-cepat.


“Aku mau pulang.”


“Pulang? Bagaimana dengan peringatan dari arwah itu tadi?”


“Aku akan ambil risiko Selamat malam, Jack.” Flat Dermot tidak jauh. Ia berjalan kaki pulang, karena merasa


perlu menghirup udara malam yang sejuk untuk mendinginkan otaknya yang panas.


Ia membuka pintu dengan kuncinya lalu menyalakan lampu di kamar tidur. Dan seketika, untuk kedua kalinya malam itu, perasaan yang ia sebut sebagai Tanda Bahaya tadi muncul kembali. Perasaan itu begitu kuat, hingga sesaat bisa mengalihkan pikiran tentang Claire dari benaknya.


Bahaya! Ia ada dalam bahaya. Pada saat ini diruangan ini ia berada dalam bahaya! Sia-sia ia mencoba mengibaskan rasa takutnya.


Barangkali sebenarnya usahanya hanya dilakukan setengah hati. Sejauh ini, Tanda Bahaya itu telah memberinya peringatan yang membuat ia bisa menghindari malapetaka. Sambil tersenyum sendiri karena kepercayaannya pada takhayul, ia memeriksa seisi flatnya dengan hati-hati. Mungkin saja ada orang masuk dan bersembunyi di sini. Tapi pencariannya tidak menghasilkan apa-apa. Pelayannya, Milson, sedang pergi, dan flat itu benar-benar kosong. Ia kembali ke kamar tidunya dan melepaskan pakaian perlahan lahan, sambil mengerutkan kening pada dirinya sendiri. Perasaan sedang terancam bahaya itu masih tetap tajam. Ia beranjak ke laci untuk mengambil saputangan, dan sekonyong-konyong tertegun.


Ada onggokan yang tidak ia kenal di bagian tengah laci. Sebuah benda keras.


Jemarinya dengan gugup dan cepat menyibakkan saputangan itu dan mengambil benda yang tersembunyi di bawahnya. Tenyata sebuah revolver.


Dengan sangat heran Dermot memeriksa revolver itu dengan seksama. Polanya agak tidak biasa, dan belum lama ini satu pelurunya telah ditembakkan. Selain itu, tidak ada petunjuk lain.


Seseorang telah menaruh revolver ini dilacinya sore itu. Tadi benda ini tidak ada ketika ia berpakaian untuk makan malam ia yakin itu.


Ketika hendak menaruh revolver itu kembali ke dalam laci, ia terkejut oleh bunyi bel pintu. Lagi dan lagi, kedengaran sangat nyaring dalam keheningan flat kosong tersebut. Siapa yang datang pada jam selarut ini? Dan hanya satu jawaban yang muncul atas pertanyaan tersebut jawaban yang muncul secara naluriah dan tak ada hentinya.

__ADS_1


“Bahaya bahaya bahaya...” Dituntun oleh naluri yang tidak ia pahami, Dermot mematikan lampu, mengenakan mantel yang tergeletak disebuah kursi lalu membuka pintu lorong.


Dua laki laki berdiri di luar, dan sekilas Dermot melihat seragam biru mereka. Polisi!


“Mr. West?” tanya pria yang berdiri paling depan.


Dermot merasa lama sekali ia baru menjawab, padahal hanya beberapa detik kemudian ia menjawab pertanyaan tersebut dengan meniru nada datar pelayannya.


“Mr. West belum pulang. Anda ada keperluan


apa dengannya pada jam selarut ini?”


“Belum pulang, ya? Baiklah, kalau begitu kami akan masuk dan menunggu saja.”


“Tidak, tidak bisa.”


“Coba dengar. Namaku Inspektur Verall dari Seotland Yard, dan aku punya surat perintah penangkapan untuk tuanmu. Kau boleh melihatnya kalau mau.”


Dermot membaca kertas yang disodorkan padanya, atau pura-pura membacanya, lalu bertanya dengan nada bingung,


“Untuk apa ini? Apa kesalahannya?”


“Pembunuhan. Sir Alington West dari Harley Street.” Dengan pikiran bergemuruh, Dermot mundur. Ia beranjak ke ruang tamu dan menyalakan lampu. Sang inspektur mengikutinya.


“Periksa seluruh tempat ini,” perintahnya pada petugas satunya. Kemudian ia beralih pada Dermot


“Kau tetap di sini, Bung. Jangan coba-coba menyelinap pergi untuk memberitahu tuanmu. Omong-omong, siapa namamu.


“Milson, Sir.”


“Kapan kira-kira tuanmu pulang, Milson?”


“Saya tidak tahu, Sir, dia pergi ke acara dansa di Grafton Galleries.”


“Dia keluar dari sana sekitar satu jam yang lalu. Kau yakin dia belum kembali?”


“Saya rasa belum, Sir. Mestinya saya mendengar kalau dia pulang.”


Pada saat itu, petugas satunya muncul dari ruang yang bersebelahan, membawa revolver di tangannya. Ia menyodorkannya pada sang inspektur dengan agak bersemangat. Sebersit rasa puas melintas di wajah sang inspektur.


“Ini buktinya,” katanya.


“Dia pasti masuk dan keluar lagi tanpa sepengetahuanmu. Dia sudah kena sekarang. Aku akan pergi. Cawley, kau di sini saja. Siapa tahu dia kembali, dan awasi orang ini. Mungkin dia tahu lebih banyak tentang majikannya daripada yang pura-pura diperlihatkannya.”


Sang inspektur lekas-lekas pergi. Dermot berusaha mendapatkan detail-detail peristiwanya dari Cawley yang tampaknya senang berbicara.


“Kasusnya cukup jelas,” kata Cawley.


“Pembunuhan itu diketahui hampir seketika itu juga. Johnson, pelayan korban, baru saja hendak tidur, ketika dia merasa mendengar bunyi tembakan. Dia turun lagi, dan menemukan Sir Alington sudah tewas, ditembak di jantungnya. Dia langsung menelepon kami dan kami pun datang, lalu mendengar kisahnya.”


“Karena itu, kasusnya dianggap sudah cukup jelas?” tanya Dermot.


“Tentu saja. Si West ini pulang bersama pamannya, dan mereka bertengkar, tepat saat Johnson masuk membawakan minuman. Korban mengancam akan membuat surat wasiat baru, dan tuanmu mengancam akan menembaknya. Tidak sampai lima menit kemudian, terdengar suara tembakan. Ya, cukup jelas. Dasar bodoh anak muda itu.“


Cukup jelas? Semangat Dermot serasa terbang saat ia menyadari beratnya bukti-bukti yang mengarah kepadanya. Ini benar-benar bahaya besar, bahaya mengerikan. Dan tak ada jalan keluar, kecuali melarikan diri. Ia memutar otak. Akhirnya ia menawarkan untuk membuat secangkir teh bagi Cawley. Cawley menerima dengan antusias. Ia sudah memeriksa keseluruhan flat itu, dan ia tahu tidak ada pintu belakang.


Dermot diizinkan pergi ke dapur. Begitu berada di dapur, Dermot menaruh ketel di kompor, lalu pura-pura sibuk dengan cangkir dan tatakan. Kemudian lekas-lekas ia menyelinap ke jendela, dan membukanya. Flatnya terletak di lantai dua, dan di luar jendela ada lift kecil dari kawat, yang bergerak naik-turun pada tali dari baja. Lift itu blasa digunakan oleh pedagang. Cepat bagai kilat Dermot sudah berada di luar jendela, berayun-ayun melalui tali baja itu. Tangannya luka dan berdarah oleh tali itu, tapi ia terus turun tanpa pikir panjang.


Beberapa menit kemudian ia muncul dengan waspada dari bagian belakang blok tersebut. Ia berbelok di sudut, dan bertumbukan dengan sosok seseorang yang sedang berdiri di tepi jalan. Dengan sangat heran ia menyadari bahwa orang itu adalah Jack Trent. Trent sepenuhnya sadar akan bahayanya situasi saat ini.


“Ya Tuhan! Dermot! Cepat, jangan berlama-mama di sini.” Digamitnya lengan Dermot dan dibawanya ke sebuah jalan samping... lalu sebuah jalan lagi. Ada taksi kosong. Mereka memanggilnya, dan melompat masuk.


Trent memberikan alamatnya


pada si sopir.


“Tempat paling aman untuk saat ini. Di sana kita bisa memutuskan, apa yang mesti dilakukan selanjutnya, untuk menghilangkan jejak dari orang-orang tolol itu. Aku tadi datang karena ingin memperingatkanmu sebelum polisi tiba, tapi aku terlambat.”


“Aku malahan tidak tahu aku sudah dengar tentang peristiwa itu. Tapi, Jack, kau tidak percaya, kan...”


“Tentu saja tidak, sobat, sama. sekali tidak. Aku kenal betul dirimu. Tapi tetap saja urusan ini sangat berat bagimu. Mereka datang dan bertanya macam-macam, jam berapa kau tiba diGrafton Gallenes, kapan kau pulang, dan sebagainya. Dermot, siapa, kira-kira yang membunuh pamanmu?”


“Tak bisa. kubayangkan. Siapa pun pelakunya, dialah yang menaruh revolver itu di laciku, kurasa. Pasti dia sudah mengawasi kami dengan cukup saksama.


“Benar juga kata pemanggil arwah itu, 'Jangan pulang.' Ucapan itu ditujukan bagi pamanmu yang malang rupanya. Tapi dia pulang juga, dan tewas ditembak.”


“Peringatan itu juga berlaku bagiku,” kata Dermot. “Aku pulang dan menemukan revolver yang sengaja ditaruh orang lain di laciku, dan aku didatangi seorang inspektur polisi.”


“Yah, kuharap peringatan itu tidak berlaku bagiku.” kata Trent.


“Kita sudah sampai.” Ia membayar taksi, membuka pintu rumah dengan kuncinya, dan membawa Dermot naik tangga gelap yang menuju ruang kecil dilantai satu. Ia membuka pintu dan Dermot berjalan masuk.


Trent menyalakan lampu, lalu ikut masuk.


“Cukup aman di sini, untuk saat ini,” katanya.


“Sekarang kita bisa membahas, apa yang sebaiknya dilakukan.”


“Aku benar-benar bodoh,” kata Dermot dengan tiba-tiba.


“Mestinya kuhadapi saja urusan ini. Sekarang aku bisa melihatnya dengan lebih jelas. Keseluruhan peristiwa ini memang sudah direncanakan. Kenapa kau tertawa?”


Trent tertawa terbahak-bahak, tak terkendali, sambil bersandar di kursinya. Ada kesan mengerikan dalam suara tawanya, juga dalam keseluruhan sosoknya. Matanya berkilat kilat aneh.


“Memang plot yang sangat cerdik,” katanya terengah-engah setelah tertawa.


“Dermot, sobatku, habislah kau.” Ia mendekatkan telepon ke arahnya.


“Kau mau apa?” tanya Dermot.


“Menghubungi Seotland Yard. Memberitahukan bahwa buruan mereka ada di sini, sudah tak berkutik. Ya, aku mengunci pintu sewaktu masuk tadi, dan kuncinya ada di sakuku. Tak usah menoleh-noleh ke pintu di belakangku. Itu pintu ke kamar Claire, dan dia selalu menguncinya dari sebelah sana. Dia takut padaku. Sudah lama takut padaku. Dia selalu tahu kalau aku sedang memikirkan pisau itu, pisau panjang yang tajam itu. Tidak, kau tidak...”


Dermot hendak menyerbu ke arah Trent, tapi Trent sekonyong-konyong sudah mengeluarkan sepucuk revolver yang tampak sangat mengancam.


“Ini revolver yang kedua,” kata Trent sambil tertawa kecil. “Aku menaruh revolver yang pertama di lacimu setelah menggunakannya untuk menembak pamanmu. Apa yang kau pandangi? Pintu itu? Percuma. Kalaupun Claire mau membukanya dan dia mungkin mau membukanya untukmu, aku akan menembakmu sebelum kau sempat mencapainya. Bukan di jantungmu, bukan tembakan untuk membunuh, tapi sekadar untuk melumpuhkanmu. Supaya kau tidak bisa kabur. Aku penembak yang sangat hebat, kau tahu. Aku pernah menyelamatkanmu dulu. Dasar aku bodoh. Tidak, tidak, aku ingin kau digantung, ya digantung. Bukan kau yang ingin kubunuh dengan pisau itu. Pisau itu untuk Claire ya, Claire yang cantik, begitu putih dan lembut. Pamanmu tahu. Itu sebabnya dia hadir malam ini, untuk melihat apakah aku gila atau tidak. Dia ingin aku dimasukkan ke rumah sakit jiwa supaya aku tidak membunuh Claire dengan pisau itu. Tapi aku sangat cerdik. Kuambil kunci pintunya, dan kunci pintumu juga. Aku menyelinap pergi dari tempat dansa itu. Begitu tiba di sana, kulihat kau keIuar dari rumah pamanmu, dan aku masuk. Kutembak dia. Lalu aku keluar lagi. Sesudahnya aku pergi ke tempatmu dan menaruh revolver itu di lacimu. Aku sudah berada di Grafton Galleries lagi, hampir bersamaan dengan saat kedatanganmu. Kumasukkan kembali kunci pintumu ketika aku mengucapkan selamat malam padamu. Aku tidak keberatan menceritakan semtia ini padamu. Tidak ada orang lain yang mendengarkan, dan saat kau digantung, aku ingin kau tahu bahwa akulah pelakunya,... Oh oh, ini sangat menggelikan! Apa yang sedang kaupikirkan? Apa, yang kau pandangi?”


“Aku sedang memikirkan beberapa ucapanmu tadi. Kau sendiri sebenarnya lebih baik tidak pulang, Trent.”


“Apa maksudmu?”


“Lihat di belakangmu!” Trent membalikkan tubuh.


Di imbang pintu ruang yang bersambung dengan ruang itu berdiri Claire... dan Inspektur Verall... Trent bertindak cepat. Revolvernya meletus satu kali dan mengenai sasarannya. Ia tersungkur di meja. Sang inspektur lari menghampirinya, sementara Dermot tertegun menatap Claire, seperti dalam mimpi. Berbagai pikiran berkelebat dalam benaknya. Pamannya, pertengkaran mereka, salah pengertian besar di antara mereka, hukum pereeraian Inggris yang takkan pernah membebaskan Claire dari suami yang sinting, ucapan “kita semua musti mengasihaninya”, plot yang telah disusun Claire dan Sir Alington, namun bisa tercium oleh Trent yang cerdik, seruan Claire


padanya.


“Buruk, buruk. buruk!” Ya, tapi sekarang...


Sang inspektur menegakkan tubuh kembali.


“Dia sudah mati,” katanya kesal.


“Ya,” Dermot mendengar dirinya sendiri berkata.

__ADS_1


“Sejak dulu dia


memang penembak jitu...”


__ADS_2