
...3. Orang Keempat ...
CANON Parfitt agak terengah-engah. Berlari mengejar kereta sama sekali tidak cocok untuk orang seusianya. Tubuhnya sudah tidak seperti dulu lagi, dan dengan hilangnya sosok langsingnya yang dulu, muncul kecenderungan yang makin meningkat untuk kehabisan napas.
Sang Canon sendiri selalu menyebut
kecenderungan tersebut sebagai “Jantungku, tahu?” dengan berwibawa tentunya.
Ia mengempaskan diri ke sudut gerbong kelas satu sambil mendesah lega. Kehangatan gerbong yang diberi pemanas itu sangat menyenangkan hatinya. Di luar, salju masih terus turun.
Beruntung sekali bisa mendapatkan tempat duduk di sudut, dalam perjalanan malam yang panjang ini. Kalau tidak, perjalanan ini bisa sangat tidak menyenangkan. Pasti ada gerbong tidur di kereta ini. Ketiga sudut lainnya sudah ditempati dan saat melihat-lihat, Canon Parfitt menyadari bahwa pria di sudut ujung sana tengah tersenyum padanya dengan sikap mengenali.
Pria itu kelimis, dengan wajah lucu dan rambut yang mulai kelabu di kedua pelipisnya. Profesinya jelas jelas di bidang hukum, dan tak seorang pun akan salah menduga hal itu. Sir George Durand memang seorang pengacara yang sangat terkenal.
“Wah, Parfitt,” katanya ramah,
“Anda lari mengejar kereta, ya?”
“Sangat tidak bagus untuk jantungku, sebenanya,” sahut sang Canon.
“Kebetulan sekali berternu dengan Anda, Sir George. Apakah Anda akan bepergian ke utara?”
“Ke Newcastle,” Sir George menjawab singkat.
“Omong-omong,” ia menambahkan,
“Anda kenal Dr. Campbell Clark?” Pria yang duduk di sisi gerbong yang sama dengan sang Canon memiringkan kepala dengan sikap ramah.
“Tadi kami bertemu di peron,” Sir George melanjutkan.
“Suatu kebetulan lagi.” Canon Parfitt mernandangi Dr. Campbell Clark dengan penuh minat. Ia sudah sering mendengar nama dokter ini. Dr. Clark sangat terkenal sebagai dokter dan ahli kejiwaan, dan buku terbarunya, The Problem of the Unconseious Wind, menjadi buku yang paling banyak dibicarakan sepanjang tahun.
Canon Parfitt memperhatikan rahang sang dokter yang persegi, sepasang mata birunya yang sangat tegas, dan rambut kemerahan yang belum tersentuh warna kelabu sedikit pun, namun sudah menipis dengan cepat. Ia juga mendapat kesan bahwa dokter ini memiliki kepribadian yang sangat dominan.
Setelah itu, secara otomatis sang Canon memandang ke tempat duduk yang berhadapan dengannya. Setengah berharap bahwa orang yang duduk di situ juga mengenalinya, tapi orang keempat di gerbang itu ternyata sama sekali tak dikenalnya. Orang asing, tebak sang Canon.
Kulitnya agak gelap dan sosoknya kecil, penampilannya tidak terlalu istimewa. Ia duduk meringkuk dalam mantel besar yang di kenakannya, dan tampaknya tertidur nyenyak.
“Canon Parfitt dari Bradchestee?” tanya Dr. Campbell Clark dengan suara yang enak didengar.
Sang Canon tampak tersanjung. ‘Kebaktian-kebaktian ilmiah’ yang diselenggarakannya benar-benar menjadi sukses besar terutama sejak pihak Pers memberitakannya. Yah, memang itulah yang dibutuhkan gereja, hal-hal modern yang bagus dan up to date.
“Saya sudah membaca buku Anda dan merasa sangat tertarik, Dr. Campbell Clark,” katanya.
“Walaupun ada bagian-bagian yang terlalu teknis untuk bisa saya pahami.” Sir George Durand menimpali.
“Anda mau mengobrol atau tidur, Canon?” tanyanya.
“Terus terang saja, aku ini mengidap insomnia, karenanya aku lebih memilih mengobrol.”
“Oh! Tentu. Tentu saja,” sahut sang Canon. “Aku sendiri jarang tidur kalau mengadakan perjalanan-perjalanan malam begini, dan buku yang kubawa juga sangat tidak menarik.”
“Yang jelas, kita bertiga merupakan kelompok yang cukup mewakili,” kata sang dokter dengan tersenyum.
“Satu mewakili Gereja, satu bidang Hukum, dan satu lagi bidang Kedokteran.”
“Berarti kita bisa saling tukar pendapat, bukan?” kata Sir George sambil tertawa.
“Wakil Gereja dari sudut pandang spiritual, aku sendiri dari sudut pandang hukum yang sepenuhnya duniawi, dan Anda, Dokter, dari sudut pandang yang paling luas, mulai dari yang sepenuhnya patologis sampai yang super psikologis! Kurasa kita bertiga bisa meliput topik apa pun dengan cukup lengkap.”
“Kurasa tidak selengkap yang Anda bayangkan,” kata Dr. Clark.
“Ada sudut pandang lain yang Anda lupakan, padahal cukup penting.”
“Maksudnya?” tanya Sir George.
“Sudut pandang orang awam.”
“Apa itu penting? Bukankah orang awam biasanya salah?”
“Oh! Hampir selalu. Tapi orang awam memiliki sesuatu yang tidak dipunyai oleh para ahli, sudut pandang pribadinya sendiri.
Pada akhinya, kita tak bisa mengingkari hubungan-hubungan pribadi. Aku sudah belajar hal itu dalam profesiku. Lima banding satu, pasien-pasien yang datang padaku sebenarnya tidak sakit apa-apa masalah mereka hanyalah mereka tidak merasa bahagia hidup dengan orang-orang yang serumah dengan mereka. Keluhan mereka macam-macam, mulai dari benjolan di lutut sampai kram otot tangan, tapi semuanya sama saja, penyebabnya adalah gesekan antarpikiran.”
__ADS_1
“Kurasa pasien-pasien Anda banyak yang mengalami masalah dengan 'saraf' mereka,” kata sang Canon dengan nada agak meremehkan. Ia sendiri punya saraf-saraf yang sangat bagus.
“Ah, apa maksud. Anda?” Dr. Clark berbalik ke arahnya, cepat seperti kilat.
“Saraf. Orang suka menggunakan kata itu seenaknya dan tertawa sesudahnya, seperti Anda tadi. ‘Tidak ada yang sakit dengan si anu dan si anu,' kata mereka. 'Cuma masalah saraf'. Tapi Bung, justru itu masalah yang paling penting sebenarnya! Penyakit fisik bisa dideteksi dan disembuhkan. Tapi sampai masa sekarang ini, pengetahuan kita tentang penyebab-penyebab tak jelas dari seratus satu bentuk penyakit saraf masih tidak banyak kemajuannya dibandingkan pada zaman... yah, pada zaman Ratu Elizabeth!”
“Astaga,” kata Canon Parfitt, yang agak terkejut dengan serangan gencar sang dokter.
“Benarkah begitu?”
“Jangan salah.” Dr. Campbell Clark melanjutkan,
“itu suatu tanda kelebihan manusia. Zaman dulu kita menganggap manusia hanyalah binatang yang bodoh, punya tubuh dan jiwa... dengan tekanan pada tubuh saja.”
‘Tubuh, jiwa, dan roh,” Canon Parfitt mengoreksi dengan nada biasa.
“Rob?” sang dokter tersenyum ganjil.
“Apa sebenarnya yang dimaksud kalian, para pendeta ini, dengan roh”. Kalian tidak pernah memberikan penjelasan yang jernih tentang hal satu itu. Sepanjang zaman kalian takut membuat definisi yang setepatnya.” Sang Canon berdehem, siap siap memberikan ceramah, tapi ia kecewa karena ternyata tidak diberi kesempatan. Dokter Campbell melanjutkan.
“Apa kita bahkan bisa yakin bahwa cuma ada satu roh dalam tubuh manusia, apa tidak mungkin ada lebih dari satu roh?”
“Lebih dari satu roh?” tanya Sir George Durand sambil mengangkat alisnya dengan heran.
“Ya.” Dr. Campbell Clark mengalihkan pandang kepadanya. Ia mencondongkan tubuh kedepan dan mengetuk pelan dada pengacara itu.
“Apa Anda begitu yakin “ katanya dengan sungguh-sungguh,
“bahwa hanya ada satu penghuni di dalam struktur ini, sebab tubuh kita ini memang cuma suatu struktur di dalam hunian menyenangkan untuk diisi selama tujuh, dua puluh satu, empat puluh satu, tujuh puluh satu, atau entah berapa lama tahun ini? Dan pada akhirnya si penghuni itu mengeluarkan barang-barangnya sedikit demi sedikit lalu meninggalkan rumah itu sepenuhnya, maka runtuhlah rumah itu, menjadi puing-puing dan rongsokan. Anda adalah sang tuan rumah. Kita akui itu. Tapi apakah Anda tidak pernah menyadari kehadiran yang lain lainnya? Para pelayan dengan langkah-langkah kaki yang tidak kedengaran, hampir-hampir tak pernah diperhatikan, kalau bukan karena pekerjaan yang mereka lakukan, pekerjaan yang tidak Anda sadari telah dilakukan? Atau kehadiran teman-teman berbagai suasana hati yang mempengaruhi Anda dan membuat Anda, untuk sementara menjadi orang yang berbeda, seperti kata pepatah? Anda adalah raja di kastil itu, memang benar, tapi yakinlah bahwa di sana pun ada 'si bajingan kotor'.”
“Clark yang baik,” kata Sir George,
“Anda membuatku menjadi sangat tidak nyaman. Apa benar pikiranku ini merupakan medan pertempuran dari sekian banyak kepribadian yang saling bertentangan? Begitukah penemuan terbaru ilmu pengetahuan?” Giliran sang dokter angkat bahu.
“Tubuh kita jelas merupakan medan pertempuran,” katanya dengan nada datar.
“Kalau bisa terjadi pada tubuh, kenapa tidak
“Menarik sekali,” kata Canon Parfitt. “Ah! Ilmu pengetahuan yang luar biasa, luar biasa.” Dan dalam hati ia berpikir,
“Aku bisa menjadikan topik itu bahan khotbah yang sangat menarik.”
Namun Dr. Campbell sudah bersandar di tempat duduknya, semangatnya yang berapi-api tadi sudah terpuaskan.
“Sebenarnya ada kasus kepribadian ganda yang membawaku ke Newcastle malam ini,” katanya dengan sikap profesional yang
tenang.
“Kasus yang sangat menarik. Pengidap neurotik, tentu saja. Tapi ini sungguhan, tidak dibuat-buat.”
“Kepribadian ganda,” kata Sir George Durand sambil berpikir.
“Menurutku itu tidak terlalu istimewa. Pasti ada kehilangan memori juga, bukan? Aku tahu masalah itu muncul dalam kasus di Pengadilan Penetapan Ahli Waris waktu itu.” Dr. Clark mengangguk.
“Tapi kasus klasik tentang kepribadian ganda adalah kasus Felicie Bault. Anda mungkin ingat pernah mendenganya?” katanya.
“Tentu saja,” kata Canon Parfitt.
“Aku ingat pernah membaca tentang kasus itu di surat-surat kabar, tapi itu sudah lama sekali sekitar tujuh tahun yang lalu.” Dr. Campbell Clark mengangguk.
“Gadis itu menjadi salah satu tokoh paling terkenal di Prancis. Para ilmuwan dari seluruh dunia datang ingin melihatnya. Dia memiliki empat kepribadian, yang dikenal sebagai Felicie 1. Felicie 2, Felicie 3, dst.”
“Bukankah ada dugaan semuanya itu tipuan belaka?” tanya Sir George dengan waspada.
“Kepribadian Felicie 3 dan Felicie 4 memang agak meragukan,” sang dokter mengakui.
“Tapi takta-fakta utamanya tetap diterima. Felicie Bault adalah seorang gadis petani dari Brittany. Dia anak ketiga dari lima bersaudara, ayahnya pemabuk dan ibunya mengalami kelainan mental. Suatu ketika, saat berada di bawah pengaruh minuman keras, si ayah mencekik sang ibu dan, seingatku, dipenjara seumur hidup. Waktu itu Felicie berumur lima tahun. Oleh beberapa orang yang tergerak memperhatikan nasib anak-anak, Felicie diambil dan dibesarkan serta dididik oleh seorang wanita Inggris yang tidak menikah, yang memiliki semacam rumah untuk anak-anak miskin. Tapi tidak banyak yang bisa dilakukannya terhadap Felicie. Menurut penuturannya, gadis itu amat sangat lamban dan bodoh, hanya bisa diajari membaca dan menulis dengan susah payah, dan sangat canggung menggunakan tangannya. Wanita ini, Miss Slater, mencoba mengajari gadis itu untuk bekerja sebagal pembantu, dan berhasil mencarikan beberpa lowongan kerja untuknya, setelah dia cukup umur. Tapi dia tak pernah bertahan lama di mana pun, karena kebodohannya dan kemalasannya yang luar biasa.” Sang dokter berhenti bercerita sejenak.
Sang Canon, yang tengah menyilangkan kembali kakinya dan mengatur letak selimutnya agar lebih rapat menutupi tubuhnya, sekonyong-konyong menyadari bahwa laki-laki yang duduk berhadapan dengannya bergerak sedikit. Kedua matanya, yang tadi terpejam, sekarang terbuka dan ada sesuatu dalam sorot mata itu, sesuatu yang menyiratkan ejekan dan kesan tak terlukiskan yang membuat sang Canon terkejut. Laki laki itu seakan-akan tengah mendengarkan pereakapan mereka, dan diam-diam merasakan kepuasan yang jahat akan apa yang didenganya.
“Ada sebuah foto Felicie Bault yang diambil saat dia berumur tujuh belas tahun,” sang dokter melanjutkan.
“Dalam foto itu, dia tampak sebagai seorang gadis petani yang kasar dan kekar. Tak ada apa pun dalam foto itu yang menunjukkan bahwa kelak dia akan menjadi salah satu orang paling terkenal di Prancis.”
__ADS_1
“Lima tahun kemudian, ketika berumur 22 tahun, Felicie Bault mengalami sakit saraf yang parah, dan saat dia berangsur sembuh, fenomena aneh itu mulai menampakkan diri. Berikut ini adalah fakta-fakta yang telah di buktikan kebenarannya oleh banyak ilmuwan terkemuka. Kepribadian yang disebut Felicie l sama sekali tak bisa dibedakan dari Felicie Bault selama dua puluh dua tahun belakangan ini. Felicie 1; tidak bisa menulis dengan baik dalam bahasa Prancis, tidak bisa bicara bahasa asing apa pun, dan tidak bisa main piano. Sebaliknya, Felicie 2; bisa berbahasa Italia dengan sangat fasih dan cukup mahir berbahasa Jerman. Tulisan tangannya sangat berbeda dari tulisan tangan Felicie 1, dan dia bisa menulis dengan lancar dan ekspresif dalam bahasa Prancis. Dia bisa membahas topik-topik politik dan seni, dan sangat suka main piano. Felicie 3; banyak punya kemiripan dengan Felicie 2. Dia cerdas, dan kelihatannya berpendidikan baik, tapi karakter moralnya sangat berlawanan. Tampaknya dia sosok yang benar-benar tak bermoral, tapi tak bermoral ala Paris, bukan secara kampungan. Dia tahu semua jargon-jargon Paris dan cara berbicara seorang demi mode yang chic. Bahasanya kotor, dan dia suka mencerca agama serta orang-orang terhormat dengan istilah-istilah yang sangat kasar. Lalu ada kepribadian Felicie 4; sosok pemimpi yang hampir-hampir setengah idiot, amat sangat alim dan kabarnya punya kemampuan supranatural, tapi kepribadian yang keempat ini sangat tidak memuaskan, tidak jelas, dan kadang kadang dianggap merupakan tipuan yang sengaja ditampilkan olch Felicie 3, semacam lelucon yang dimainkannya pada publik yang tidak menaruh curiga. Aku berani bilang bahwa (mungkin dengan perkecualian terhadap Felicie 4) masing-masing kepribadian itu sama menonjolnya, saling terpisah, dan tidak saling mengenal. Felide 2 jelas merupakan yang paling dominan dan kadang-kadang bisa bertahan sampai dua minggu, setiap kali muncul. Kemudian Felicie l akan muncul sebentar selama seharl dua hari. Setelah itu barangkali Felicie 3 atau 4, tapi yang dua ini jarang bertahan selama lebih dari beberapa jam. Setiap perubahan kepribadian selalu disertai dengan sakit kepala yang amat sangat dan tidur lelap, dan dalam setiap kasus selalu ada kehilangan ingatan total terhadap keadaan keadaan sebelumnya; kepribadian yang sedang muncul itu meneruskan episode dari kemunculan sebelumnya, tidak sadar akan waktu yang berlalu.”
“Menakjubkan,” gumam sang Canon.
“Sangat menakjubkan. Sampai sekarang boleh dibilang kita tidak tahu apa-apa tentang keajaiban-keajaiban di alam semesta ini.”
“Tapi kita tahu bahwa di alam semesta ini ada penipu-penipu yang sangat cerdik,” kata Sir George dengan nada datar.
“Kasus Felicie Bault ini diselidiki oleh para pengacara, dokter dokter, dan ilmuwan-ilmuwan.” Dr. Campbell Dark cepat-cepat
berkata.
“Anda sekalian tentu ingat, Maitre Quimbellier mengadakan penyelidikan yang sangat saksama, dan mengkonfirmasikan pandangan-pandangan para ilmuwan tersebut. Bagaimanapun, kenapa kita mesti seterkejut itu sebenarnya? Bukankah kita tahu ada telur yang punya kuning telur ganda? Dan pisang kembar? Kenapa tak mungkin ada jiwa ganda... di dalam satu tubuh?”
“Jiwa ganda?” protes sang Canon.
Dr. Campbell Dark mengalihkan tatapan mata birunya yang tajam pada Canon Parfitt.
“Bagaimana lagi kita mesti menyebutnya? Itu kalau seandainya... kepribadian bisa dianggap jiwa?”
“Untungnya kasus itu dikategorikan sebagai kasus 'aneh',” kata Sir George.
“Kalau kasus itu dikategorikan 'umum', bisa semakin rumit lagi.”
“Kondisi itu memang sangat tidak normal,” sang dokter sependapat.
“Sayang sekali tidak bisa diadakan penelitian lebih lanjut akibat kematian Felicie yang tak terduga.”
“Seingatku kematiannya juga agak aneh,” kata Sir George perlahan-lahan. Dr. Campbdl Dark mengangguk.
“Peristiwanya sangat misterius. Gadis itu ditemukan tewas di tempat tidurnya, pada suatu pagi. Jelas dia mati dicekik. Tapi, yang mengejutkan semua orang, kelak terbukti tanpa keraguan sedikit pun, bahwa dia telah mencekik dirinya sendiri. Bekas-bekas dilehernya adalah bekas-bekas jemarinya sendiri. Cara bunuh diri seperti itu, walau secara fisik sebenanya tak mungkin dilakukan, pasti membutuhkan kekuatan otot yang luar biasa, dan tekad yang hampir-hampir di luar batas kemampuan manusia. Tak pernah di ketahui, apa yang menyebabkan gadis itu berbuat demikian. Memang keseimbangan mentalnya selama itu patut dipertanyakan. Tapi tetap saja kasusnya dianggap misterius. Tapi misteri tentang Felicie Bault sudah tak bakal bisa terungkap sekarang.” Pada saat itulah pria di sudut ujung sana tertawa.
Ketiga orang lainnya terlonjak bagai ditembak. Mereka sama sekali sudah lupa akan kehadiran orang keempat itu di antara mereka.
Sementara mereka tertegun memandangnya, pria itu tertawa lagi, masih meringkuk dalam balutan mantelnya.
“Maafkan saya, Tuan-tuan,” katanya dengan bahasa Inggris yang sempurna, namun menyiratkan sedikit nada asing.
Ia duduk tegak, memperlihatkan wajahnya yang pucat, dengan kumis kecil hitam pekat.
“Ya, maafkan saya,” katanya sambil membungkuk dengan gaya dibuat-buat.
“Tapi... ah! Dalam ilmu pengetahuan, adakah yang namanya kata penutup?”
“Anda tahu sesuatu tentang kasus yang sedang kami bicarakan ini?” tanya Dr. Campbell Dark dengan sopan.
“Tentang kasus itu? Tidak. Tapi saya kenal dia.”
“Felicie Bault?”
“Ya. Dan Annette Ravel juga. Rupanya Anda sekalian belum pernah mendengar tentang Annette Ravel? Padahal cerita tentang mereka saling berkaitan. Percayalah, Anda tidak tahu apa-apa tentang Felicie Bault kalau tidak tahu tentang sejarah Annette Ravel juga.” Ia mengeluarkan arlojinya dan melihatnya.
“Setengah jam lagi kereta tiba di stasiun berikutnya. Saya punya waktu untuk menceritakan kisahnya itu kalau Anda sekalian berminat mendenganya?”
“Silakan menceritakan pada kami,” kata sang dokter dengan suara pelan.
“Dengan senang hati,” kata sang Canon.
“Dengan senang hati.” Sir George Durand sekadar menunjukkan sikap penuh perhatian,
sebagai jawaban.
Maka penghuni pojok keempat itu pun memulai ceritanya.
“Nama saya, Tuan-tuan, adalah Raoul Letardeau. Tadi Anda menyebut-nyebut seorang wanita Inggris yang membaktikan dirinya untuk pekerjaan amal. Miss Slater. Saya dilahirkan di desa nelayan di Brittany itu. Ketika kedua orangtua saya meninggal dalam kecelakaan kereta api, Miss Slater-lah yang menyelamatkan dan menolong saya, sehingga saya tidak dimasukkan ke rumah yatim piatu, semacam yang Anda kenal di Inggris. Ada sekitar dua puluh orang anak yang diasuhnya, anak-anak laki-laki dan perempuan. Di antara anak-anak itu adalah Felicie Bault dan Annette Ravel. Kalau Anda tak bisa memahami kepribadian Annette, Tuan-tuan, maka Anda tidak akan memahami apa-apa. Dia anak hasil hubungan cinta seorang wanita dengan kekasihnya, yang kemudian ditinggalkan dan meninggal karena radang paru-paru. Ibunya dulu seorang penari, dan Annette juga ingin menjadi penari. Saya pertama kali mengenalnya ketika dia berusia sebelas tahun, seorang gadis kecil dengan sepasang mata menyorotkan ejekan, namun sekaligus menjanjikan makhluk kecil yang lincah dan penuh semangat hidup. Dan dengan segera ya, dengan segera dia membuat saya menjadi budaknya. Dia selalu menyuruh-nyuruh saya, 'Raoul, lakukan ini.' 'Raoul, lakukan itu.' Dan saya, saya mematuhinya. Belum apa-apa saya sudah memujanya, dan dia tahu itu."
“Kami suka pergi ke tepi pantai, bertiga. Ya, kami bertiga... sebab Felicie selalu ikut dengan kami. Di pantai, Annette akan melepaskan sepatu dan stokingnya, lalu menari dihamparan pasir. Setelah lelah menari, dia akan menjatuhkan diri dengan terengah-engah, lalu menceritakan pada kami tentang impiannya."
“Kalian lihat nanti, aku akan terkenal. Ya, amat sangat terkenal. Aku akan memiliki ratusan dan ribuan stoking dari sutra-sutra yang paling halus. Dan aku akan tinggal di apartemen yang indah. Semua kekasihku muda, tampan, dan kaya. Dan kalau aku menari, seantero Paris akan datang menontonku. Mereka akan berseru-seru, memanggil-manggil, berteriak-teriak, dan kesetanan melihatku menari. Dan dimusim-musim dingin aku tidak akan menari. Aku akan pergi ke selatan, yang hangat oleh matahari. Di sana ada vila-vila dengan pohon-pohon jeruk. Aku akan memiliki satu di antaranya. Aku akan berbaring berjemur di bantal-bantal sutra, sambil makan jeruk. Dan kau, Raoul, aku tidak akan pernah melupakanmu, walaupun aku sudah kaya dan terkenal. Aku akan melindungimu dan membantu memajukan kariermu. Felicie akan menjadi pelayanku, tidak, kedua tangannya terlalu canggung. Coba perhatikan, betapa besar dan kasar tangan-tangannya itu.”
“Felicie akan marah kalau mendengar Annette mengatakan itu. tapi Annate terus menggodanya.”
...xxXxx...
__ADS_1