ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
21.Sebuah Rasa Curiga


__ADS_3

...Happy Reading...


Hai Arfan


Ingatlah dalam penggalan puisiku 'Biarkan aku bahagia maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian' namun kenapa kamu merusak kebahagiaanku?


Nyawa dibayar dengan nyawa, kamu akan membayar semua perilakumu terhadapku saat aku masih hidup.


Bersiaplah, karena maut akan menjeputmu.


Dari


Arum


Arfan menemukan surat itu lagi di dalam mobilnya, dia langsung membuang surat itu sambil mengatakan "dasar setan sampah!" dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan normal dan menjemput Vira setelah itu menjemput Anastasya.


Pagi ini Anastasya mengajak Arfan untuk menjenguk Fadhil, namun di luar dugaan Anastasya ternyata Arfan mengajak Vira. Sebenarnya Anastasya tidak suka pergi ke rumah sakit karena disana pastinya akan ada banyak arwah penasaran yang akan meminta bantuannya dan yang pastinya dia nggak akan nyaman berada disana.


Baru saja mereka sampai di pintu masuk, mereka sudah di sambut oleh seorang anak kecil yang pastinya hanya Anastasya yang bisa melihat anak itu. Kamar Fadhil berada di lantai 8, dia berada di ruangan VIP dan dari jendela pun mereka langsung dipertemukan dengan pemandangan Jakarta yang sangat indah.


Untunglah Fadhil masih bisa tertolong karena 10 menit setelah kejadian itu ibu Fadhil memiliki perasaan yang kurang enak dan memaksakan beliau untuk memeriksa kamar anaknya, saat beliau lihat ternyata anaknya sudah pingsan bersimbah darah dan kamar yang sangat berantakan.


Mereka sudah sampai di ruangan Fadhil, mereka langsung bersalaman dengan ibu Fadhil dan beliau meninggalkan mereka supaya mereka bisa mengobrol lebih leluasa. Vira terus bertanya-tanya tentang kejadian semalam dan pada saat Vira menggenggam tangan Fadhil, ada satu hal yang buat dia merasa janggal.


"Di pergelangan tangannya kok kayak ada tahi lalat yang aku kenal, tahi lalat yang sama seperti saat orang yang semalam itu menodong pisau kearahku," batin Anastasya yang terus mengamatinya.


Anastasya sangat yakin kalau tahi lalat yang ada di pergelangan tangan Vira sama seperti yang ada di pergelangan tangan pelaku, dan satu hal lagi yang baru dia sadari bahwa suara Vira sangat mirip dengan suara si pelaku.


"Apa mungkin Vira pelakunya?" batinnya yang juga belum begitu yakin dengan semua bukti yang telah ada, bisa saja semua itu terjadi secara kebetulan saja.


"Sayang, kita di luar aja yuk, jangan ganggu orang yang lagi PDKT," Vira langsung menggandeng tangan Arfan dan mengajaknya keluar, kini hanya ada mereka berdua di dalam ruangan ini.


"A-apa kabar?" tanya Anastasya kepada Fadhil gugup.


"Arum nggak sakitin lo kan?" tanya balik Fadhil sedikit menampilkan senyumannya kepada Anastasya.


"Itu bukan Arum, aku udah dapat jawaban siapa pelakunya," kata Anastasya membuat Fadhil penasaran.


"Siapa?" tanya Fadhil semakin penasaran.


"Aku.. belum bisa ngasih tau siapa dia, yang jelas dia bukanlah Arum," kata Anastasya berusaha meyakinkan


"Apa.. kamu yakin kalau itu bukan Arum? Kamu nggak asal tuduh orang lain kan?" tanya Fadhil yang masih ragu-ragu.


"Aku nggak asal tuduh Dhil dan yakin banget Dhil," kekeh Vira.


"Mana buktinya kalau itu bukan Arum?" tantang Fadhil.


"Aku.. aku nggak punya bukti," kata Anastasya merasa sedikit kecewa pada dirinya karena dia sama sekali tidak bisa memberikan bukti kepada Fadhil.

__ADS_1


"Kalau nggak ada buktinya gimana aku bisa percaya kalau itu bukan Arum," kata Fadhil yang masih bersikap tenang.


"Aku nggak punya bukti, lagi pula kalau aku punya bukti pasti tetap aja kan kamu nggak akan peduli," jawab Anastasya sambil menunduk "Dan kalau pun kamu tahu orangnya.. pasti kamu nggak akan percaya kan," sambungnya kembali.


"Bukannya gitu Ca, aku-"


"Aku pulang dulu ya Dhil, semoga kamu lekas sembuh," pamit Anastasya memotong perkataan Fadhil dan langsung keluar dari kamar inapnya Fadhil.


Anastasya memilih untuk naik taxi dari pada harus pulang bersama dengan Arfan dan Vira. Dari bukti yang ada, dia sangat yakin kalau bukti-bukti itu mengarah kepada Vira.


"Kalau memang itu Vira, terus kenapa dia jahat banget sama Fadhil? Kenapa dia sakitin Fadhil?" batin Anastasya yang masih penuh tanda tanya.


"Mbak, adiknya lagi sakit ya?" tanya supir taksi tentu saja membuat Anastasya menjadi bingung.


"Adik? Saya nggak bawa adik kok pak," jawab Anastasya sambil mengerutkan keningnya.


"Lah? Itu terus yang ada di samping mbak anak siapa dong?" Anastasya langsung melihat ke samping kanannya dan betapa terkejutnya dia melihat sosok anak kecil duduk disampingnya, wajahnya sangat pucat namun dia tetap terlihat cantik.


"Kalau jawabannya sudah ketemu, kenapa kakak masih ragu?" tanya anak kecil itu dengan mata yang menyeramkan.


Anastasya semakin merinding namun dia mengerti maksud dari anak kecil itu, dia terus menatap Anastasya dan kemudian tersenyum menyeramkan.


"Mbak? Mbak kenapa?" tanya supir taxi yang sepertinya khawatir dengan Anastasya.


Anastasya tersentak dan langsung melihat kearah sopir, dia langsung mengatur napasnya dan mengatakan "Nggak pak, udah lanjut aja," pak supir hanya mengangguk dan kembali fokus menyetir.


Sementara itu, Fadhil merasa bersalah karena tidak bisa mengerti keadaan Anastasya. Dia telah melibatkan Anastasya, dan dia juga udah ikut campur dalam permasalahan Arum.


"Anastasya mana? Kok nggak ada?" tanya Vira yang tiba-tiba saja masuk kedalam kamarnya.


"Pulang," jawab Fadhil singkat.


"Lah? Cepat banget dia pulangnya," tanya Vira merasa bingung.


"Katanya.. ada urusan mendadak," jawab Fadhil menyembunyikan masalah perdebatannya yang tadi bersama dengan Anastasya.


"Paling juga lagi ritual-ritual nggak jelas lagi," kata Arfan merasa tidak senang dengan Anastasya "lagian ya Dhil, lo ngapain sih PDKT sama orang yang nggak jelas kayak gini, udah mana.. dia kuno banget lagi," sambung Arfan dan membuat Fadhil merasa tidak nyaman dengan perkataan Arfan mengenai Anastasya.


"Berisik," jawab Fadhil singkat dan juga sangat datar.


"Lo sayang banget ya Dhil sama dia? Sampai nggak terima kalau ada orang lain yang ngejelek-jelekin dia?" kata Vira sedikit tertawa.


"Nggak kok.. biasa aja," jawab Fadhil datar.


Mata Fadhil terus saja melihat kearah Vira, "Apa Ica menuduh Vira?" batinnya walaupun masih ada keraguan didalam hatinya. Fadhil merasa tidak yakin kalau Anastasya menuduh Vira sebagai pelakunya karena dia sangat yakin kalau sahabatnya tidak mungkin akan melakukan hal segila itu.


*****


Fadhil sudah mulai masuk sekolah karena kondisinya sudah membaik. Hari ini Fadhil tidak melihat keberadaan Anastasya, dia berpikir bahwa hari ini Anastasya tidak masuk. Fadhil melihat hari ini kantor ramai sekali karena banyak wali murid yang mengajukan surah pindah, mereka berniat memindahkan anak mereka karena mereka sangat mengkhawatirkan keselamatan anak mereka.

__ADS_1


"Woy!" sapa seseorang dari belakang dengan kasar sambil menepuk pundaknya.


Fadhil langsung menoleh kebelakang dan langsung berkata "sekali lagi lo begitu, gua tepuk ginjal lo," kata Fadhil memberikan ancamannya namun Arfan tetap saja tertawa dan tidak peduli dengan ancaman Fadhil.


"Haha.. tumben sendirian? Oh iya lo kan jomblo," tawa Arfan namun Fadhil tetap diam mengabaikan Arfan.


"Lihat Ica nggak?" tanya Fadhil datar dan tidak menanggapi perkataan Arfan.


"Ngapain sih masih nyariin dia? Dia itu nggak baik Dhil," jawab Arfan dengan nada sedikit tinggi dan raut wajah yang kesal namun Fadhil tak memperdulikannya, dia langsung pergi kearah perpustakaan.


Fadhil merasa senang karena tempat yang dituju ternyata ada Anastasya, dia langsung mengambil buku yang ada di rak buku perpustakaan dan berjalan menghampiri Anastasya. "Disini dari jam berapa?" tanya Fadhil sambil menatap Anastasya dengan basa-basi.


"dari jam 07:00," jawab Anastasya singkat dengan mata yang masih fokus dengan buku yang dia baca.


Fadhil mengerti bahwa saat ini Anastasya masih sibuk membaca bukunya, Fadhil langsung membuka buku yang dia ambil dan mulai fokus membacanya. Tak lama kemudian, Anastasya terus menatap Fadhil dari balik bukunya. Fadhil sadar kalau sejak tadi Anastasya terus memperhatikannya secara diam-diam.


"Ada apa?" tanya Fadhil.


"Ng-nggak kenapa-kenapa," jawab Anastasya kembali fokus ke bukunya.


"Aku udah tahu kok siapa pelaku yang kamu maksud," Anastasya hanya diam sambil melihat kearah Fadhil.


Fadhil menghela napas sejenak lalu dia memberikan senyuman juteknya dan kemudian berkata "Vira kan?" Anastasya hanya mengangguk walaupun sebenarnya dia kaget karena dia tidak tahu darimana Fadhil bisa mengetahuinya, Fadhil pun kembali bertanya "ada buktinya nggak kalau dia pelakunya?" Anastasya menggelengkan kepalanya namun saat dia ingin berbicara, Fadhil langsung berdiri dan berkata "cukup tuduh dia terus!" dia langsung mengatur emosinya dan kembali berkata "kenapa sih kalian semua menuduh Anastasya terus!" kata Fadhil dengan nada tinggi.


"Aku emang nggak punya bukti, tapi aku tahu karena aku lihat dengan mata kepala aku sendiri," kata Anastasya sambil menunduk.


"Gua kecewa sama lo Ca! Dia nggak mungkin lakuin hal sebodoh itu," kata Fadhil semakin emosi.


"Aku nggak bisa tunjukkin gitu aja, hanya orang tertentu yang bisa kesana," jawab Anastasya kekeh.


Fadhil memberikan tatapan tajam kepada Anastasya dan kemudian dia berkata,"satu hal yang harus lo ingat, gua lebih percaya kepada Allah dibandingkan sama ilmu gaib," tentu saja perkataannya menyakiti hati Anastasya namun Fadhil tidak peduli, dia langsung pergi dari perpustakaan.


Anastasya menangis karena selalu saja kemampuan indigo yang dia punya selalu disalah artikan oleh mereka semua. Mereka tidak mengerti kalau Anastasya juga ingin hidup menjadi manusia normal seperti teman-temannya.


"Aku capek selalu dianggap kayak gitu sama mereka semua," kata Anastasya sambil menangis "kenapa dia sejahat itu? Kenapa dia sama seperti yang lain? Aku juga nggak minta kan buat jadi anak indigo?" sambungnya dan kemudian dia meletakkan kepalanya di atas meja.


Dulu, Anastasya berpikir bahwa Fadhil bisa mengerti dia, namun ternyata pemikirannya salah karena sikapnya sangat menyakiti perasaannya. Sementara itu, Fadhil sangat kesal karena sahabatnya terus saja dituduh oleh seluruh murid yanga da di sekolah, mereka terus menuduh namun tanpa bukti yang sangat kuat.


"Mereka ada, hanya saja kamu tidak bisa melihatnya"


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


...BACA TERUS " A B C D " ...


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...

__ADS_1


__ADS_2