ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)

ANTARA BENCI,CINTA DAN DENDAM (COMPLETE)
3.Perubahan Vira


__ADS_3

...Happy Reading...


Hari ini Vira masuk Sekolah lagi setelah beberapa lama dia menjalani hukuman skors dari sekolahnya, Arum menunggu Vira yang belum datang juga. Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya Vira datang juga namun dia duduk tidak bersama Arum, melainkan duduk dengan temannya yang lain. Arum merasa bingung karena Vira tiba-tiba berpindah tempat duduk seperti itu. Arum berusaha untuk tetap berfikir positif dan dia langsung mengambil buku pelajarannya dan mulai membacanya.


"Eh, ternyata sahabat lo sadar juga ya, seharusnya dia jauhin lo udah dari dulu." ujar seseorang di depan meja Arum.


Arum mengangkat kepalanya dan teryata itu adalah Aurel. Arum hanya diam dan tidak menjawab perkataan Aurel, dia berusaha untuk tetap cuek dan tidak mempedulikan siapapun.


"Songong banget lo! Dasar sampah!" ujar Aurel sambil menggebrak meja.


Arum tersentak pelan namun dia tetap tidak menjawab perkataan Aurel. Aurel mulai kesal, dia langsung menarik rambut Arum dan menjatuhkannya ke lantai. Vira yang melihat kejadian itu mulai kesal dan ingin menghabisi Aurel, namun niatnya di urungkan karena dia teringat dengan janjinya kepada Arum. Vira lansung membuka ponselnya dan mengabaikan kejadian yang menimpa Arum.


Mereka semakin senang mengejek Arum karena Vira saat ini sudah menjauh darinya, segala caci maki, hinaan yang semakin parah terus menimpanya. Arum sangat sedih dengan perubahan Vira, padahal dia hanya minta Vira untuk tidak ikut campur dalam permasalahannya yang sebagai anak bullying, namun dia tidak memintanya untuk menjauhi Arum. Arum terus menangis dan sering meringis kesakitan karena mereka sekarang sudah berani bermain fisik kepada Arum. Mereka sering memukul, menendang, mendorong, dan menyeretnya.


Dia selalu mengajukan kepada orang tuanya untuk memindahkannya ke sekolah lain, namun orang tuanya tidak mengizinkannya. Arum tidak pernah bercerita kepada orang tuanya karena dia tidak ingin membuat orang tuanya menjadi sedih. Arum selalu mengurungkan dirinya di kamar, dia sering mengobati luka-luka di tubuhnya.


Arum pulang sekolah hanyalah berjalan kaki karena jarak dari rumahnya ke sekolah tidak begitu jauh. Terkadang, mereka menunggu Arum di dekat Sekolah dan di tempat rute jalan arah rumah Arum. Arum kembali di bully oleh mereka dan terkadang mereka mem-bullynya hingga rambutnya acak-acakan seperti orang gila.


Arum rindu sekali dengan Vira, sahabat yang selalu bersamanya dan selalu melindunginya. Tiap Arum bertemu dengan Vira, sikap Vira sangat cuek kepadanya seakan-akan mereka sama sekali tidak kenal. Arum tidak pernah pergi ke Kantin, dia selalu pergi ke belakang sekolah, dia melampiaskan semua tangisannya di belakang gedung Sekolah. Dia membuat puisi, menangis dan sebagainya tanpa diketahui oleh orang lain.


Mereka mendekati Arum jika mereka membutuhkannya dan membuang Arum begitu saja saat mereka sudah tidak lagi membutuhkan Arum. Hancur, itulah yang dirasakan Arum, dia telah kehilangan sahabatnya dan mendapatkan perilaku yang sangat kejam. Keadilan hidup sangat tidak berpihak kepadanya, Arum selalu berpikir bahwa Tuhan sama sekali tidak mendengarkan tangisannya. Bahagia, hanya itulah yang Arum inginkan, dia hanya ingin hidup bahagia tanpa adanya hinaan, dia hanya ingin di perlakukan layaknya Manusia bukannya seperti Hewan.


Saat Arum mendekati Vira, dia pasti akan menjauh dan meninggalkan Arum, Perubahan seperti ini membuatnya semakin sedih. Hidupnya seperti tiada artinya lagi jika dia harus bertengkar dengan Vira. Vira adalah sahabat satu-satunya yang dia miliki, di Sekolah ini dia tidak memiliki sahabat dan justru dia hanya memiliki banyak musuh.


*****


Hari ini Arum datang sedikit terlambat karena dia mengerjakan tugas yang begitu banyak. Dia terkejut saat melihat Vira yang saat ini berkumpul dengan genk Arfan. Arum tidak percaya bahwa Vira telah menjadi salah satu dari teman-temannya Arfan, Vira tertawa bahagia bersama teman-temannya. Arum lewat di depan mereka sambil menundukkan kepala, namun dia terjatuh saat salah satu temannya Arfan menyelengkat kakinya. Dia langsung bangun dan mereka semua masih tertawa puas menertawainya.


"Vir, ini bukannya teman lo?" tanya Fandi sambil tertawa.


"Hah? Teman gue? Yang benar aja lo." jawab Vira dengan nadanya yang sedikit jutek.


"Ya ampun.. sedih banget nggak diakui, lagian juga mana ada yang mau berteman dengan sampah." jawab salah satu dari mereka.


Arum sangat terpukul saat mendengar pernyataan seperti itu yang keluar dari mulut Vira. Dia merasa bahwa saat ini Vira sedang membunuhnya. Arum terus menahan tangisannya dan berusaha untuk tidak menangis.

__ADS_1


"Lemah!" Vira mengatakan itu kepada Arum.


Dia memang benar, Arum memang lemah dan dia kuat. Vira memang tidak pantas berteman dengan Arum. Anak yang selalu di takuti oleh orang lain memang tidak pantas berteman dengan anak yang selalu di injak-injak harga dirinya oleh orang lain.


"Vir, kalau ini memang bukan teman lo, coba dong lo tampar dia sekencang-kencangnya." pinta Arfan sambil tertawa kecil.


Vira diam tidak langsung menjawab permintaan Arfan. Vira sama sekali tidak ingin menyakiti Arum karena dia masih menganggapnya menjadi sahabatnya tapi jika dia tidak menampar Arum, pasti Arum akan merasa senang karena Vira masih menganggapnya sebagai sahabatnya. Vira sebenarnya hanya kesal saja dengan Arum karena dia terlalu takut dengan Arfan dan juga teman-temannya.


"Ayo dong Vir, lo masa nggak mau sih." paksa Arfan dengan nada yang memaksa.


Arum menatap Vira dan terlihat sekali bahwa Arum sangat memohon kepada Vira untuk tidak menamparnya. Vira melangkahkan kakinya mendekati Arum, Arum tersenyum kepada Vira dan Vira membalas senyuman Arum dengan senyuman kecilnya. Arum berpikir bahwa Vira pasti tidak akan menamparnya, namun yang dia pikirkan itu ternyata tidak benar, Vira menampar Arum dengan sangat kencang hingga menyebabkan ceplakan tangan yang sangat jelas di pipi Arum yang bagian sebelah kanan.


Mereka semua tidak menyangka bahwa Vira benar-benar menampar Arum. Arum memegangi pipinya dan kemudian dia menatap Vira. Dia sangat kecewa dengan Vira karena dia telah tega menampar sahabatnya sendiri. Tidak terlihat rasa bersalah sama sekali di wajah Vira. Vira memang benar-benar berubah dan dia memang tidak menganggap Arum sebagai sahabatnya. Arum mendekatkan sedikit langkahnya mendekati Vira.


Arum menatap Vira dengan mata yang berkaca-kaca dan dia berkata "Aku juga tidak memiliki sahabat yang rela menyakiti sahabatnya sendiri. Kamu tega Vir, kamu bukan sahabat aku lagi, terima kasih atas tamparannya." ujar Arum dengan nada yang gemetar dan kemudian dia pergi meninggalkan Vira.


Vira hanya menatapnya, namun saat Arum berkata seperti itu hatinya sangat sakit, dia juga merasa kecewa karena telah menyakiti Arum. Mereka semua hanya diam saja dan tidak berani berkata sedikit pun, mereka masih tidak menyangka dengan kejadian yang baru saja mereka lihat. Namun Arfan terlihat biasa saja, tidak ada raut wajah yang merasa kasihan atau merasa tidak enak dengan Vira, dia tampak tenang seakan-akan tidak terjadi apa-apa.


Vira melihat tangannya yang kini berubah menjadi warna merah karena habis menampar Arum. Vira langsung pergi menuju kelas untuk mencari Arum. Sesampainya di kelas, tidak ada Arum yang biasanya sedang membaca bukunya di kelas. Vira juga mencarinya di kamar mandi, kantin, perpustakaan, dan di segala penjuru Sekolah namun tidak menemukan keberadaannya. Vira bertanya dengan beberapa temannya namun tidak ada yang mengetahui keberadaannya.


"Kemana sih si Arum?" batin Vira yang semakin cemas.


*****


Ku ingin hidup bebas tanpa hinaan


Ku ingin bermain bersama mereka sepanjang waktuku


Apakah salahku? Mengapa kalian membenciku?


Apa salahku? Jangan ambil dia yang telah menjadi malaikatku


Kalian tersenyum dibalik kesedihanku


Aku melayang karena kalian

__ADS_1


Biarkan aku melayang dan hidup bahagia


Aku ingin hidup bahagia


Mengapa kalian membenciku? Biarkanlah aku hidup bahagia


Aku hanya bisa melihat duka dari kejauhan


Aku dapat melihat mereka, namun mereka tidak akan bisa melihatku


Biarkan aku bahagia, maka aku tidak akan merusak kebahagiaan kalian


Arum menulis puisi di buku hariannya, dia merobek kertas yang baru dia tulis dan meletakkannya di saku bajunya. Dia mengepalkan tangannya sambil menangis, lebih baik dia di bully berlebihan oleh teman-temannya daripada dia harus bertengkar seperti ini dengan Vira.


"Kamu memang gak pantas untuk hidup, Rum. Kamu hidup hanya untuk di hina," Batinnya sambil menangis.


*****


Vira merasa tidak tenang karena sampai saat ini Arum belum masuk ke Kelasnya juga, tidak biasanya Arum pergi seperti ini dan dia yakin pasti Arum sedang menangis dan semua itu karena perbuatannya.


"Arum kemana? Dia sakit?" tanya Bu Widya kepada seluruh teman-temannya.


"Nggak tahu, Bu." Jawab salah satu murid.


Bu Widya tidak terlalu memikirkannya dan beliau melanjutkan pelajarannya kembali. Vira semakin tidak tenang dan semakin cemas dengan keberadaan Arum saat ini yang masih belum dia temukan.


Beberapa orang juga merasa heran dengan hilangnya Arum secara tiba-tiba, mereka semua sama sekali tidak melihat Arum dan terakhir kali mereka melihatnya pun saat masuk sekolah dan pada saat jam pelajaran hingga pulang sekolah pun mereka sudah tidak melihat keberadaan Arum. Sebagian ada yang peduli dengan berita hilangnya Arum yang secara misterius dan sebagian juga cuek dengan berita tersebut, mereka beropini bahwa ini hanya akal-akalan Arum dan sebuah pencitraan darinya supaya dia lebih disayang oleh para guru.


..._________________________________________...


...PENASARAN SAMA PART SELANJUTNYA?...


... ...


...BACA TERUS " A B C D " ...

__ADS_1


...DAN JANGAN LUPA VOTE DAN JUGA SHARE YA.....


...OH YA KALAU ADA YANG PERLU DIKOMEN,KOMEN AJA KARENA ITU SANGAT BERGUNA UNTUK SAYA...


__ADS_2