Backup

Backup
Event Original Character Battle II


__ADS_3

Eudhor Online


Sabtu, 27 Agustus 2016 akhirnya tiba. Tanggal dimana event spesial dari sebuah game RPG bernama Eudhor Online akan dimulai. Sudah menjadi rahasia umum  bahwa game tersebut adalah game RPG dengan pemain terbanyak mengalahkan Rising Force Online, World of Warcraft , dan game-game sejenis lainnya walau baru berumur kurang dari setahun.


Event saat ini merupakan event yang sangat menarik bagi para Knighter, sebutan untuk para pemain Eudhor Online. Hadiah yang ditawarkan adalah sebuah senjata legenda bernama


Excalibur, senjata yang dapat membuat seorang pemain menggantikan posisi raja yang saat ini masih ditempati oleh para NPC.


Sabtu sore, tepatnya pukul 16.58  WIB, seluruh Knighter sudah menempati posisi mereka dan bersiap log in ke dalam game. Anak-anak, remaja, dewasa, laki-laki, maupun perempuan yang  tergabung dalam game tersebut sudah bersiap di depan komputer mereka masing-masing. Warnet di seluruh Indonesia bahkan hampir penuh oleh para Knighter yang sudah tak sabar ingin berpartisipasi dalam event spesial ini.


Begitu patch update bisa mereka download pada situs resmi Eudhor Online, mereka hampir bersamaan men-download patch tersebut dan langsung melakukan log in karakter ketika proses update telah selesai.


Hal yang aneh tiba-tiba dirasakan oleh mereka, Eudhor Online hanya menampilkan screen berwarna putih tanpa ada tulisan apa pun. Rasa emosi mulai dirasakan oleh para Knighter yang menyadari kejanggalan tersebut.


"Error, kah?"


"Tak ada respon."


"Apa terlalu banyak pemain yang melakukan log in?"


Mungkin pertanyaan seperti itulah yang mereka tanyakan di dalam pikiran mereka saat menatap monitor yang menampilkan layar putih. Sesaat layar yang tertampil pada monitor mulai berkedip, lalu berubah warna menjadi merah darah dengan tulisan hitam mengerikan bertuliskan 'WARNING!'. Kejanggalan tersebut membuat tak sedikit dari mereka terkejut. Tanpa memberikan waktu atas keterkejutanya, tiba-tiba layar berwarna putih menyilaukan. Seluruh orang yang menatapnya dengan reflek menutup mata, cahaya menyilaukan itu memang tidak mungkin dapat dilihat oleh mata telanjang.


Saat cahaya mulai meredup, mereka akhirnya mulai menyadari akan sesuatu yang janggal. Hal yang membuat beberapa orang tersenyum tak percaya atas apa yang mereka alami. Para Knighter telah dipindahkan ke dunia Eudhor  oleh system, menempatkan mereka pada sebuah padang rumput di wilayah Kerajaan Selatan. Sementara itu, setengah dari mereka ditempatkan di alun-alun kota Kerajaan Utara.


"Event ini, bagaimana bisa?!"


"Kita di Eudhor, ‘kan?! Apa ini mimpi?"


"Luar biasa, tak kusangka pengumuman pada situs resminya bukan sebuah kebohongan belaka!"


Suasana di kedua tempat yang berjauhan tersebut mulai ramai oleh gumaman para Knighter. Mereka saling berbisik satu sama lain, mengangkat senjata mereka masing-masing hanya untuk merasakan sensasi berat dari senjata tersebut seraya melihat sekeliling masih tak percaya.


Semua kegiatan berhenti seketika saat muncul sebuah rantai perak bercahaya merah yang sungguh luar biasa besar membentang di langit biru. Lalu, dengan segera dari rantai tersebut muncul tulisan-tulisan yang dapat dibaca oleh seluruh pemain.


"Aku ChaincepThor, dewa di dunia ini."


Mereka menatap pada rantai perak tersebut, saling bergumam satu sama lain sebelum tulisan yang muncul digantikan oleh tulisan lain.


"GM, kah?"


"Ratio kecepatan di duniaku adalah 31.536.000 kali lebih cepat daripada dunia nyata. Dengan kata lain, satu tahun di duniaku sama dengan satu detik di dunia nyata."


Leopard, salah satu Knighter yang dikenal sebagai yang terkuat sampai mengerutkan dahi. Tangan kanannya memegang dagunya sendiri tak percaya dengan apa yang disampaikan  padanya. Sebelum dia dapat memilih antara percaya atau tidak, tulisan  kembali berubah.


"Event akan berlangsung selama satu detik di dunia nyata. Excalibur berada di perbatasan antara Kerajaan Timur dan Kerajaan Selatan. Tepatnya menancap kuat di alun-alun Kota  Astoria.


"Berperanglah, jadilah pahlawan di kerajaanmu, maka Excalibur akan tunduk padamu dan rakyatmu akan setia."


Beberapa pemain mulai tersenyum mengetahui hal itu, mereka tak bisa menyembunyikan kebahagiaan yang mereka rasakan.


Perang antara kerajaan merupakan hal yang biasa di dunia Eudhor. Mereka yang ber-level tinggi akan lebih memilih untuk melawan pemain lain daripada melawan Orc dan sebagainya dikarenakan Exp yang didapat akan dua kali lebih banyak.


"Rasa sakit diturunkan hingga ke angka 3%. Kematian di dunia ini akan membuat kalian dipaksa Log out dan tak akan bisa melanjutkan event ini. Sayangi nyawa kalian dan jadilah raja pertama di kerajaanmu." Seketika rantai perak tersebut mulai pecah  bagaikan kaca. Serpihan-serpihannya sungguh indah bagaikan salju yang turun dari langit.


Tanpa pikir panjang, sebagian dari mereka langsung melesat menuju Excalibur. Tak peduli akan peringatan tentang nyawa, bagi mereka jika dapat sampai ke tempat itu lebih dulu maka mereka akan mendapatkannya.


"Leopard, bagaimana?" Jack berdiri di belakang Leopard. Tubuhnya dilapisi logam hitam legam dengan prioritas tinggi.


"GM tak akan membiarkan Excalibur tercabut dengan mudah, pada akhirnya mereka akan saling serang dan mati." Dia berbalik menatap seluruh Knighter yang memutuskan untuk tetap berdiam diri di padang rumput.


"DENGARKAN! FOKUS PADA QUEST, KALAHKAN MONSTER DAN BOSS DUNGEON. JADILAH LEBIH  KUAT, SEMBILAN BULAN DARI SEKARANG KITA AKAN MENYERBU!" Semuanya bersorak atas perintah Leopard yang cukup masuk akal. Sekitar 5.000 orang yang tersisa memutuskan untuk menjalani quest guna meningkatkan level mereka.


****


Di lain pihak, Vektor juga memutuskan hal yang sama. Dia tak mau mengambil risiko besar dan fokus dalam pertahanan kastil. Pengalamannya di dunia game online membuatnya menyadari bahwa mendapatkan Excalibur tidak sesederhana mencabut sebuah pedang yang menancap. Mungkin quest yang ditulis oleh GM adalah untuk  membunuh seluruh Knighter dari Kerajaan Selatan.


"Pertahankan tempat ini dari musuh," ucapnya datar pada para Knighter lain.


"Ta–tapi –"


"Excalibur tak akan semudah itu untuk didapatkan. Isi waktu luang kalian selama setahun ini untuk menaikkan level. Kita akan menyerang setelah kalian cukup kuat." Mereka akhirnya mengangguk tanda mengerti, menerima  perintah dari Knighter terkuat dari kerajaan mereka.


****


Sementara mereka saling berebut senjata legendaris, sebuah rantai perak bercahaya merah kini muncul pada sebuah taman. Di hadapannya, seketika muncul  beberapa gerbang dimensi yang menampilkan kisah-kisah fiktif. Satu demi satu gerbang tersebut lenyap, menyisakan hanya satu gerbang dimensi yang  menampilkan seorang pemuda berambut putih kebiruan.


"Kau memilihnya?" tanya seseorang di samping rantai tersebut. Seluruh tubuhnya ditutupi oleh jubah hitam.


Tulisan pada rantai kembali muncul, "kuharap para Audience akan senang dengan pilihanku."


"Kekuatannya bisa saja menghancurkan dinding dimensi Eudhor. Dan lagi, sepertinya tak  ada karakter fiksi yang sanggup mengalahkan monster itu." ChaincepThor tak menjawab atas pernyataan tersebut.


Tiba-tiba kembali muncul beberapa gerbang dimensi yang tampak retak. Sebagian dari  gerbang dimensi tersebut tak dapat mempertahankan eksistensinya dan hancur seketika. Benar-benar dunia yang menyedihkan.


Seperti tadi, gerbang-gerbang mulai lenyap dan kini menyisakan satu gerbang retak yang  hampir hancur. Gerbang tersebut menampilkan seorang gadis kecil yang  berumur sekitar sebelas tahunan dengan rambut merah muda.


"Tak kusangka kau rela membahayakan Eudhor hanya untuk menyenangkan para Audience." Gadis tersebut tampak meremehkan.


"Diam dan lakukan tugasmu, DestinaThor."


Gadis yang belakangan diketahui sebagai DestinaThor tersenyum sinis saat membaca tulisan yang tertampil pada rantai perak di sampingnya. Dia mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.


"System Command, Summon Angela from My Dearest and Rocco from Extermus!" ucapnya  lantang diikuti sinar menyilaukan dari atas langit.


****


Di tempat lain dalam waktu yang hampir bersamaan, seorang lelaki berambut putih kebiruan sedang mengobrol bersama lelaki lain bernama El Crystal dan perempuan bernama Herliana Aeldra. Langit pada saat itu  benar-benar gelap dengan cahaya bulan sabit merah muda yang menerangi tempat tersebut. Mereka berada di Schyte Room milik salah satu kineser dengan tingkatan Divinity.


“Jadi pisau ini dikhususkan untuk membunuh makhluk astral, kah?” senyumnya menerima pisau yang baru saja diberikan oleh El padanya.


“Ya.” El menganggukkan kepala.


“Baiklah Angela. Aku akan mengaktifkan batu sihirnya, semoga keselamatan menyertaimu dan Halsy,” senyum sedih El menatap Angela.


Angela mulai menghilang seperti Keisha dan yang lainnya. Tubuhnya berpindah tempat ke tempat Halsy berada saat itu. Namun, hal yang tak terduga telah mengancam dunia mereka. Seseorang yang jauh lebih berbahaya daripada Elenka menghentikan perputaran waktu di universe tersebut.


Semua kegiatan berhenti, DestinaThor menggunakan skill khusus milik dewa suci Author bernama Freeze. Skill untuk menghentikan seluruh kegiatan yang sedang berlangsung pada universe tertentu. Dengan skill-nya yang lain, dia menarik kesadaran Angela menuju Taman Fiksi, melakukan segala cara untuk  menyenangkan para Audience.


****


Jauh di tempat Angela berada, tepatnya berada di universe lain bernama Extermus Universe,  terlihat beberapa orang sedang berkumpul di sebuah padang rumput luas. Rhea yang saat itu berada di depan tampak menahan sakit yang dideritanya akibat tembakan senjata-senjata listrik milik para anggota Seekers.


Di belakangnya terlihat dua orang gadis kecil berumur sekitar 11 dan 15 tahun. Gadis kecil yang bernama Eve terbaring lemah, pakaianya tercabik seakan tersambar petir. Sementara gadis satunya bernama Fara, dia sedang menangis memeluk kepala gadis kecil tersebut.


Jauh di depan Rhea, berdiri beberapa pasukan berpakaian hitam lengkap dengan helm yang melindungi kepala mereka. Masing-masing dari mereka menggenggam senjata berpeluru listrik. Mereka tampak bersiaga, memandang fokus pada seorang gadis lain yang berdiri tepat di samping Rhea.


"Mereka orang jahat, apa aku boleh memakan mereka?" tanya gadis tersebut, mata merah darahnya menatap tajam pada semua orang di hadapannya.


"Mereka masih memiliki keluarga, Putri. Apa kau ingin kejadian itu terulang lagi?" tanya Rhea masih menahan sakit di sekujur tubuhnya.


"Berhentilah memanggilku Putri, namaku bukan Putri," balas ketus gadis tersebut. Rambutnya yang berwarna merah muda hingga pinggang tampak tertiup angin. "Sayang sekali, padahal aku penasaran dengan rasa daging Atlantean semenjak aku menginjakan kaki di dunia ini."


Tiba-tiba suara tembakan yang memekakan telinga terdengar memotong pembicaraan mereka. Kaos putih yang dipakai oleh gadis berambut merah muda bergaya waterfall braid itu mulai dilumuri oleh noda darah tepat di bagian dadanya.


"Dengan kecepatan peluru selambat itu, kau masih terkena? Apa kau sedang main-main, Putri?" lirik Rhea padanya.


Gadis tersebut hanya tersenyum. Wajahnya memang menunjukan sedikit rasa sakit tapi tubuhnya sama sekali tidak tumbang. Lalu, beberapa saat kemudian dia mulai berbicara, "aku hanya ingin tahu tingkat akurasi penembak jitu dari dunia ini."


"Lalu?"


"Akurasinya benar-benar mengerikan, pelurunya langsung melubangi jantungku." Gadis itu  terbatuk pelan, kaos putih yang dipakainya benar-benar basah oleh darah.


Perlahan jari telunjuk dan jari jempol tangan kanannya menyentuh bagian dadanya. Dia mengorek luka di dadanya lalu menarik keluar peluru yang bersarang di jantungnya.


"Bersiaplah Putri, mereka mengirim misil!" Rhea memperingatkan.


"Sudah kubilang berhenti memanggilku Putri!" Dia terlihat kesal dan cemberut. "Misil tak akan sanggup membunuhku," lanjutnya dengan nada sombong.


Tanpa disadarinya semuanya tiba-tiba berhenti, tak ada pergerakan sama sekali. Extermus Universe telah terkena skill suci Freeze dan membuat apa pun yang ada dalam universe tersebut diam tak bergerak.


Perlahan gadis itu dapat menggerakkan tubuhnya kembali, tetapi anehnya dia dapat melihat tubuhnya sendiri di hadapannya. Bola mata merah darahnya menatap tubuhnya sendiri, berusaha menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi. Luka di dadanya telah hilang, bahkan pakaiannya kembali bersih seperti semula.


"Engineer, kah?" batinnya dalam hati.


Belum sempat dia menyadari apa yang sebenarnya terjadi, tubuhnya tiba-tiba dipaksa ber-teleport ke suatu tempat yang sangat asing baginya. Dia berdiri diam di sebuah taman indah yang tak pernah dia lihat dimana pun. Suara riakan air dari air mancur di tengah taman tersebut benar-benar membuatnya damai.


Sejenak dia menatap ke langit saat sebuah kapal, tidak, ikan paus melayang terbang menutupi pandangannya. Di samping kiri dan kananya terlihat beberapa Centaur yang masing-masing menggenggam panah perak indah.


Mengabaikan keanehan ini, dia berjalan pelan, terus berjalan menuju suatu tempat berlantai marmer yang dihiasi rantai perak melayang bercahaya kemerahan.


"Selamat datang di Tama Fiksi." Gadis itu agak terkejut saat melihat sebuah tulisan muncul dari rantai tersebut.


"Taman Fiksi?" tanya dia tak mengerti.


Tulisan kembali berganti, "aku memanggilmu kemari sebab Author-mu sudah mulai melupakanmu."


"Author? Aku benar-benar bingung." Dia menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak terasa gatal.


"Author-mu, atau harus kusebut sebagai tuhanmu. Dewa yang menciptakan duniamu, dirimu, dan mengatur kehidupanmu mulai menelantarkan semua ciptaanya."


"Maksudmu orang yang bahkan menciptakan Engineer dan Predator?"


"Kau dikaruniai kejeniusan yang luar biasa oleh Author-mu. Akan sangat disayangkan jika kau dan duniamu kuhancurkan."


"K–kau akan menghancurkan duniaku?! Tak akan kubiarkan!" Seketika kedua punggung tangannya ditumbuhi sepasang pisau perak yang panjang.


"Aku justru ingin menolongmu." Tulisan dari rantai kembali muncul tapi dia sudah terlanjur menyerang pada rantai tersebut.


Kecepatannya saat melesat ke arah rantai tersebut mungkin sekitar dua mach. Kecepatan yang luar biasa itu dihasilkan dari lompatannya yang mengakibatkan lantai tempat dia berpijak hancur seketika. Namun, beberapa senti sebelum dia menggores rantai tersebut dengan pisau peraknya, seorang gadis berjubah tiba-tiba muncul dan memukul mundur dirinya hanya dengan pukulan ringan tangan kanan.


Gadis kecil itu terpental beberapa meter hingga membentur sebuah tugu perak yang kokoh. Dia terbatuk kesakitan, mulut dan hidungnya mengeluarkan darah. Bola mata merahnya menatap gadis yang memukul mundur dirinya dengan pandangan geram.


"Tenanglah Putri, kami justru akan membantu duniamu." Gadis berjubah itu berdiri tenang.


"Ceritakan semuanya secara rinci apa yang sebenarnya terjadi," ucapnya pelan, kedua tangannya yang tertutup sebuah sarung tangan logam tanpa menutupi jari-jarinya mengepal kuat.


Tulisan kembali muncul dari rantai perak di hadapannya, "duniamu akan hancur karena Author-mu sudah tak mau lagi mengurusnya. Alasan utamanya adalah karena kisahmu kekurangan Audience. Satu-satunya cara untuk menolong duniamu adalah menarik para Audience, buktikan pada Author-mu bahwa kau layak untuk hidup dalam imajimasinya."


"Aku benar-benar tidak paham, apa itu Audience?"


"Seseorang yang membaca kisahmu. Bisa dibilang sebuah kekuatan yang akan mempertahankan eksistensi duniamu. Tanpa Audience duniamu akan hancur." Putri mulai sedikit mengerti akan kondisi dunianya.

__ADS_1


"Hanya karena kekurangan Audience bukan berarti kami tak pantas hidup, ‘kan?" batinnya seraya menundukkan kepala.


Dia mulai mengangkat kepalanya dan kembali menatap rantai, Dang ChaincepThor. "Bagaimana caraku mendapatkan Audience?"


"Aku akan mengirim dirimu ke duniaku, dunia Eudhor. Bunuh seseorang bernama Angela Dwiputra, buatlah Audience yang melihat duniaku puas."


"Kau menjadikanku sebagai tontonan?" geramnya memandang tajam ChaincepThor.


"Sebagai hadiah atas kemenanganmu, kau dan seluruh orang yang kau sayangi akan tetap hidup. Duniamu akan terselamatkan dan aku akan mengabulkan satu permintaan yang kau ajukan padaku. Membunuh Colossus bukanlah hal yang mustahil bagiku." ChaincepThor seakan tahu apa yang paling dia inginkan.


Gadis itu tertegun saat membaca nama yang paling ditakutinya, "kau yakin dapat membunuh makhluk terkutuk itu?"


"Aku dikaruniai kekuatan terbesar milik Author. Kekuatan yang sanggup menghancurkan suatu dunia dengan mudah, kekuatan imajinasi."


"Imajinasi ... " Putri menunduk kembali menatap lantai marmer yang diinjaknya, tampak memikirkan suatu hal. "Baiklah lakukan sesukamu, akan kubunuh siapa saja yang mengganggu duniaku, bahkan Author sekalipun!"


Kali ini DestinaThor tersenyum. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memandang gadis itu untuk terakhir kalinya. "System Command, Teleportation!"


"Siapa pun yang mati dalam pertarungan kalian, aku akan menghancurkan dunianya dan menggunakan energi imajinasi yang ada di dunia itu untuk menambah eksistensi duniaku." Tulisan kembali tertampil dari rantai tersebut.


"Apa kau bilang?! Jangan main-main dengank –" Ucapannya terpotong karena dalam sekejap, dia berubah menjadi serpihan-serpihan cahaya yang mulai menghilang.


*****


Enam bulan telah berlalu sejak para Knighter log in ke dalam Eudhor Online. Kini pemain yang tersisa hanya tinggal 3457 Knight. Sebanyak 1244 adalah Knight dari Kerajaan Selatan sedangkan sisanya merupakan Knight dari Kerajaan Utara. Sudah ratusan Knight yang mencoba mencabut paksa Excalibur dari tempatnya, tetapi hasilnya tetap tak ada yang sanggup mencabut pedang legenda itu.


Pagi itu, hari ke 185 setelah mereka log in ke dalam game RPG tersebut, Leopard dan enam petinggi lain terlihat sedang menyantap hidangan di ruang kastil Kerajaan Selatan. Beberapa NPC nan cantik menyediakan berbagai macam hidangan dengan senyuman manis di bibirnya.


Tepat di belakang Leopard terdapat sebuah pintu yang dirantai dengan kuat. Ruangan tersebut adalah ruangan khusus raja, berhubung tak ada seorang pun pemain yang menjadi raja, jadilah pintu tersebut tersegel dengan rapat.


"Pasukan kita kalah jumlah, apa kau yakin dengan strategi gerilya kita akan menang melawan pasukan Vektor?" Jack yang duduk di samping Leopard bertanya.


"Untuk saat ini kurasa inilah yang terbaik." Leopard menatap para petinggi, melihat raut wajah ketegangan dari mereka.


"Sihir dan pengguna two hands sword memang benar-benar merepotkan, ya?" Kali ini Finx ikut berbicara, berusaha memecah ketegangan yang ada.


Mereka tiba-tiba dikagetkan oleh sebuah suara ledakkan yang terjadi tepat di pintu yang tersegel. Pintu tersebut terlempar beberapa meter dan hampir mengenai kursi dimana Leopard duduk. Seketika mereka bangkit dari kursinya masing-masing, menatap tak percaya akan keanehan yang terjadi.


"Pi–pintunya?!" Finx menatap tak percaya.


"Mustahil! Kekuatan macam apa yang dapat menghancurkan pintu itu?!" Kali ini Leopard sendiri yang terlihat cemas.


Dari dalam ruangan tersebut muncul sesosok gadis kecil dengan bola mata merah darah yang menatap ke arah mereka. Berbeda dengan mereka yang memakai armor kuat, gadis itu hanya memakai kaos putih dengan celana jeans panjang.


"Angela Dwiputra, apa ada di antara kalian yang memiliki nama tersebut?" tanyanya datar.


"Rocco, kah? Tak pernah terbayang sedikit pun olehku bahwa NPC raja dari kerajaan ini adalah seorang anak-anak." Leopard tersenyum meremehkan.


Matanya fokus menatap pada status bar, tempat seluruh informasi pemain berada. Di sana tertulis bahwa ID yang berada di hadapannya bernama Rocco dan statusnya adalah sebagai raja dari Kerajaan Selatan. Class yang tertampil merupakan Class Elementary, itu berarti Rocco adalah pengguna elemen seperti tanah, air, listrik, atau elemen yang lain. Agak berbeda dengan Class Magacal yang pada dasarnya adalah pengguna sihir. Kemungkinan besar dia adalah NPC yang sengaja dibuat dalam event ini. Setidaknya begitulah yang ada dalam pikiran keenam petinggi yang ikut menatapnya.


"Raja ... Jadi aku berperan sebagai raja?" Bola mata merahnya menatap kedua tangan miliknya, merasakan tubuh yang diciptakan oleh ChaincepThor. "Berapa kerajaan yang ada di dunia ini?"


"Hanya dua, kami sedang berperang dengan –" Ucapan Jack terpotong olehnya.


"Bagus, serang mereka sekarang juga. Biar aku yang mengurus rajanya," senyum sinis Rocco.


"Ta–tapi jumlah kita –"


"Susul aku secepatnya!" perintah Rocco lantang. Dia melesat dengan kecepatan yang mengerikan, melompat dari atas kastil lalu menggunakan tali-tali kawat dari sarung tangan logam miliknya untuk bermanuver di antara bangunan-bangunan.


Matanya menatap sebuah layar yang tertampil di sebelah kanan penglihatannya. Terdapat bintik merah kecil dalam layar tersebut yang bertuliskan Angela. Dia mulai menyadari bahwa yang dilihat olehnya adalah peta yang sengaja disediakan oleh ChaincepThor.


****


Alun-alun Ibu Kota Astoria dipenuhi oleh para pasukan Kerajaan Utara yang berusaha mencabut Excalibur. Sebagian dari mereka berjaga-jaga, takut akan serangan tiba-tiba yang mungkin dilakukan oleh pasukan Kerajaan Selatan.


Tampak seorang lelaki berambut putih kebiruan menatap sekitar. Mencari-cari seseorang dan tidak memedulikan aktivitas para Knight di hadapannya. Sudah satu hari berlalu sejak dia log in di tempat tersebut, tetapi tak ada tanda-tanda kemunculan seseorang yang dibicarakan ChaincepThor.


Sejenak dia memandang pisau perak yang dipegangnya. Pisau pemberian El Crystal yang entah bagaimana ikut terbawa menuju Eudhor. Tangan kanannya menggenggam pisau tersebut dengan sangat erat. "Kak Keisha, tunggu aku. Aku pasti akan menyelamatkan kalian semua!"


Ketetapan hatinya sudah bulat.


Tak berapa lama terdengar benturan keras, sesuatu telah menabrak dinding di bagian Timur. Lelaki tersebut bergeser beberapa senti dari tempatnya berdiri semula, tangan kirinya meneteskan sedikit darah.


"Kecepatan yang luar biasa, kukira Angela hanyalah orang lemah yang membosankan." Suara khas seorang anak kecil terdengar dari balik tembok yang berlubang.


Para Knight menatap seseorang yang keluar dari dinding tersebut. Mereka sedikit tertegun begitu melihat status bar yang muncul, mulai mundur sedikit menjauhi sosok gadis kecil yang melangkah santai menuju tengah alun-alun.


Kini sosoknya terlihat jelas, sosok seorang gadis dengan luka memar di pipi kirinya. Mulut dan hidungnya meneteskan darah ke jalanan batu di alun-alun tersebut.


Vektor tiba-tiba melesat ke arahnya seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. Dia menggunaka Skill Slash, tebasan secara vertikal dari atas ke bawah tepat ke arah gadis tersebut. Namun, tak disangka pedang besarnya ditahan hanya dengan tangan kiri mungilnya. Sarung tangan logam yang dipakainya mencegah mata pedang raksasa untuk menggores telapak tangannya.


Dengan kuat dia memukul bagian dada Vektor, menghancurkan tulang rusuk, jantung, dan tulang belakangnya sekaligus. Tangan kanannya menembus hingga ke bagian punggung Vektor, membuatnya dipaksa log out dengan segera. Menyadari hal itu, beberapa Knight memilih mundur alih-alih ikut menyerangnya.


"Aku tak punya waktu untuk bermain-main." Angela merentangkan kedua tangannya, menatap tajam gadis yang tersenyum puas karena Angela mulai serius.


"Atlantis Dhrone!"


Delapan buah Dhrone purba kala peninggalan peradaban Atlantis mulai muncul mengelilingi Angela. Dengan cepat mereka membentuk dua kelompok dan menciptakan dua buah gerbang penguatan yang masing-masing terdiri dari empat buah dhrone.


"Giga Stream!" Dalam sekejap, dataran tempatnya berpijak menjadi cekung diikuti sebuah tembakan laser listrik mengerikan yang langsung membuat tubuh Rocco hancur seketika. Bukan hanya itu, bangunan, Knight, NPC, dan segala sesuatu yang terkena serangan tersebut langsung hancur secara mengerikan.


"Apakah ini kekuatan raja sebenarnya?!"


"Status raja benar-benar cocok untuknya."


Beberapa Knight bergumam satu sama lain. Skill Angela telah berakhir beberapa detik lalu, dhrone miliknya kembali pada posisi semula. Jauh di hadapanya, terlihat kerangka tulang berwarna perak mengkilap, tidak lecet sedikit pun walau dataran di sekitarnya telah rata dengan tanah. Perlahan tulang tersebut mulai menumbuhkan otot lalu diikuti organ-organ penting seperti jantung, hati, dan sebagainya. Otot-otot mulai menutupi organ penting tersebut diikuti terbentuknya dua buah bola mata merah menyala. Tak lama kemudian, mulai dilapisi kulit dan terakhir rambut merah muda tumbuh dari atas kepalanya hingga pinggang.


Tubuh telanjangnya seketika ditutupi oleh jubah hitam yang muncul entah dari mana. Dia tersenyum sinis ke arah Angela, mengeluarkan aura intimidasi yang mendalam. Angela cukup terkejut melihat apa yang terjadi di hadapannya barusan, begitu pula dengan para Knighter.


Rocco menggunakan skill pasif miliknya, skill yang dapat meregenerasi tubuhnya dan membuatnya hampir mustahil untuk mati, Skill Pasif Regeneration. Dengan skill tersebut, selama tulangnya masih utuh, Rocco tak akan pernah mati. Tak aneh jika di dunianya dia dijuluki sebagai Eternal Life oleh orang-orang yang mengenalnya.


Menyadari hal itu, Angela segera melesat dengan Skill Els miliknya. Dia memukul bagian dada Rocco yang tidak sempat menghindar dengan Skill Knockbolt . Dadanya seketika hancur, mulutnya kembali mengeluarkan darah sementara tubuhnya terpental cukup jauh menabrak reruntuhan.


"Bgh! Cepat sekali!" Bola mata merahnya bahkan tak menyadari serangan tersebut.


"Rantai itu benar-benar seenaknya saja. Harusnya dia memanggil Lilly atau Belanor untuk musuh seperti ini," geram Rocco, jari telunjuk tangan kanannya menyentuh dagu yang dilumuri darah.


Kedua tangannya lalu mengepal kuat, sepasang pisau perak mulai tumbuh dari kedua punggung tangannya. Kali ini giliran Rocco yang melesat ke arah Angela, dia berkonsentrasi untuk mencabik Angela dengan pisau miliknya.


Gadis itu mengayunkan tangan kanannya secara vertikal dari atas, mencoba membelah tubuh Angela dengan kecepatan sekitar tiga mach. Namun, sepertinya kecepatan setinggi itu bukanlah tandingan dari Dkill Els milik Angela yang membuatnya menghilang dari pandangan mata tepat beberapa senti sebelum pisau perak milik Rocco mengenai ujung rambutnya. Kembali Angela menggunakan Knockbolt yang sudah meleeati masa Cooldown dan memukul punggung Rocco dengan sekuat tenaga.


Kali ini Rocco tak terpental sedikitpun. Kakinya menginjak jalanan batu begitu kuat hingga jalanan tersebut hancur. Tubuhnya seakan bertambah berat ratusan kali lipat dari beratnya semula. Punggungnya memang hancur akibat serangan tersebut, tetapi tanpa membuang kesempatan, dia segera menusuk tangan kanan Angela menggunakan pisau perak miliknya.


Angela tak menyadari serangan tiba-tiba tersebut, pikiranya masih terpecah oleh rasa sakit yang diterima tangan kirinya saat memukul punggung Rocco dengan kekuatan penuh. Tak sadar tangan kanannya telah tertembus, rasa sakit yang diterimanya benar-benar membuat Angela kehilangan konsentrasi. Seketika tubuhnya terpental jauh oleh tendangan kaki kanan Rocco yang sukses menghantam bahunya.


"Butuh belasan ribu tahun untuk menyamai pengalamanku, kau masih terlalu muda," senyum sinis Rocco. Luka di bagian punggungnya mulai sembuh kembali dengan kecepatan yang mengerikan.


"O–orang ini, siapa dia sebenarnya?!" batin Angela, tangan kirinya patah sementara tangan kanannya kini terus mengalirkan darah.


Rocco menatapnya tajam, tampak berkonsentrasi penuh. Dia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan sangat serius.


"Jujur aku paling sulit menggunakan kemampuan Occulus, tapi ..."


Pandangannya semakin tajam, pupil mata hitamnya tiba-tiba lenyap sesaat lalu kembali muncul dalam ukuran normal. Hanya berbeda beberapa mikro detik, tubuh Angela terpelanting jauh akibat ledakan yang terjadi di daerah tempatnya berpijak. Skill Explose telah diaktifkan tanpa Angela sadari, kemampuan untuk memanipulasi energi suatu benda dan meledakanya hanya dengan tatapan mata.


Kini tubuhnya terbaring dengan luka-luka yang parah. Rocco berjalan mendekatinya, tatapannya terlihat datar tanpa belas kasih. Terkadang untuk menyelamatkan sesuatu, butuh sesuatu yang lain untuk dikorbankan. Ketetapan hatinya sudah bulat, ini semua dia lakukan demi menyelamatkan dunianya yang terancam hancur.


"Aku tak memiliki dendam apa pun padamu. Namun, ini semua aku lakukan demi menyelamatkan orang-orang yang aku sayangi." Tangan kanan Rocco melesat, menusukan pisau peraknya ke jantung Angela. Darah mengalir deras dari luka yang dibuat Rocco, mulai membasahi reruntuhan di bawah tubuhnya yang mulai kehilangan kesadaran.


Orang yang kau sayangi, ‘kah? Lalu, bagaimana dengan orang yang aku sayangi? Kak Keisha, Alysha, Shina, Hizkil, Angel ...


Aliran kemarahan tiba-tiba memenuhi jiwa Angela yang mengingat kembali kejadian mengerikan saat dia diserang.


Angelina ...


Pembunuh Angelina masih hidup, apa kau tidak keberatan?


Tiba-tiba sebuah suara berat merasuki pikiran Angela.


Dia harus mati! Siapapun yang mengusik keluargaku harus mati!! geram Angela pada suara tersebut.


Jika kau mati di sini, seluruh orang yang kau sayangi akan binasa. Berikan tubuhmu padaku, ini masih belum terlambat. Biarkan aku membunuh siapa pun yang berani mengusikmu, Angela.


Lakukanlah, aku tak peduli walaupun aku harus membuang sisi manusiaku untuk menyelamatkan mereka!


Perlahan langit mulai tertutupi awan hitam, dhrone milik Angela membentuk dua buah gerbang penguatan tepat di atas tubuhnya. Pancaran listrik hitam terlihat memenuhi awan mengerikan tersebut. Menyadari hal itu, Rocco segera melompat menjauhi jasad Angela.


"Orang ini penuh dengan kejutan." Kali ini wajah Rocco menunjukan bahwa dia sedang khawatir.


"Punishment Ancient Lightning!" teriak Angela tiba-tiba.


Dalam sekejap sebuah petir hitam pekat meluncur ke arah tubuhnya, melewati gerbang penguatan yang dibuat oleh dhrone milik Angela.


Ledakan besar terdengar sangat mengerikan, bergemuruh diikuti rambatan listrik hitam pekat yang segera menghancurkan apa saja yang disentuhnya. Para Knighter yang menyadari hal itu segera melarikan diri guna menghindari rambatan listrik hitam yang terus memperluas jangkauannya.


Knighter dari kelas Magacal berusaha membuat pertahanan dari sihir miliknya, tetapi percuma, listrik tersebut tak dapat dinetralkan. Hanya butuh waktu beberapa menit bagi skill Angela untuk memusnahkan seluruh makhluk hidup yang ada.


Boss, monster, NPC, knighter, bahkan kadal yang ditulis sebagai Immorta Object ikut musnah setelah terkena skill tersebut. Kedua kastil kerajaan tampak hancur dalam sekejap ketika rambatan listrik itu melewatinya. Bukan hanya itu, langit di beberapa wilayah mulai mengalami keretakan sementara tanah di Kerajaan Selatan terbelah membentuk lubang mengerikan yang menganga lebar.


Kini tubuhnya telah bangkit berdiri, sayap iblis mulai tumbuh dari punggungnya. Dhrone di sekelilingnya mulai memancarkan listrik berwarna hitam pekat.


Rocco yang saat itu sedang menyembuhkan diri tiba-tiba kembali terpelanting oleh Skill Els yang Angela lakukan. Dagingnya yang belum teregenerasi seutuhnya kembali terkoyak oleh serangan tak terduga dari Angela.


"Seluruh lukamu, bagaimana kau bisa sembuh dari luka itu?" Rocco bertanya pada Angela yang kini terlihat berbeda.


"Hanya senjata suci yang sanggup melukaiku." Suara Angela terdengar sangat berat dan mengerikan. Dia tersenyum sinis melihat tubuh Rocco yang mulai terbentuk kembali.


"Senjata suci?" belum sempat Rocco menyimpulkan sesuatu, dia kembali terkoyak saat jarum-jarum listrik yang dihasilkan oleh dhrone milik Angela menusuk tubuhnya.


Angela menatapnya dengan pandangan datar saat tubuh Rocco kembali meregenerasi, "jika terus begini, tak akan pernah ada yang akan mati."


"Cukup sudah, aku akan serius kali ini!" geram Rocco, seluruh tubuhnya berwarna merah akibat terlumuri oleh darahnya sendiri. “Walau hanya bisa beberapa menit, aku harus berubah dalam mode Half-death.”


Perlahan tubuh itu berubah menjadi berwarna perak mengkilap, berkilauan terkena sinar matahari virtual. Giginya berubah runcing, tak ada sedikit pun bagian kulitnya yang luput dari perubahan tersebut. Kini logam perak yang pada mulanya melindungi tulangnya mengalir keluar dan melindungi seluruh permukaan kulitnya.


Seluruh metabolisme dalam tubuhnya telah dihentikan, Rocco layaknya makhluk yang sudah tak bernyawa. Gelombang otaknya berada pada gelombang Delta, membuatnya sangat peka terhadap rangsangan dari luar. Tanpa pikir panjang, dia melesat ke arah Angela dengan kecepatan mencapai lima belas mach.


Angela kembali mengunakan Skill Els miliknya dan memukul tepat di bagian dada Rocco yang kini terlapisi logam perak mengkilap. Namun, tangan kanannya malah hancur seketika akibat pukulan keras tersebut, dengan sigap Rocco memukul wajah Angela. Pukulan kuat itu sukses membuat kepala Angela hancur tak berbentuk sementara tubuhnya terpental beberapa meter hingga menabrak reruntuhan.


Perlahan tubuh Angela mulai menyatu kembali. Tampaknya serangan tersebut tak bisa membuatnya terluka sedikit pun. "Sudah kubilang hanya senjata suci yang sanggup melukaiku."

__ADS_1


Tangan kanan Angela terangkat hingga bahu. Dia memandang monster perak di hadapannya.


“Giga Stream!” Seketika laser listrik berwarna hitam pekat memancar keluar dari tangan kanannya menuju tubuh Rocco. Skill mengerikan tersebut hanya sanggup membuat Rocco bergeser beberapa senti ke belakang. Tubuhnya benar-benar sangat keras bila dibandingkan dengan tubuh Angela yang telah bertransformasi hingga Overrun Takover terakhir dan sepenuhnya diambil alih oleh Visquald.


Angela yang baru saja menyelesaikan skill-nya tiba-tiba terpelanting ke udara akibat ledakan yang terjadi tepat di bawah kakinya. Dia mengepakkan sayap iblis miliknya guna mempertahankan posisi. Melihat hal itu, Rocco mulai melayang menggunakan Skill Gravity


miliknya.


"Jangan meremehkanku!" Tangan kanan Angela seketika dialiri listrik hitam pekat yang memancar mengerikan. Dia melesat dengan Skill Els menuju arah Rocco, mencoba memukul menggunakan Knockbolt yang bertegangan sekitar satu juta volt.


Namun, gelombang otak Delta milik Rocco tampaknya dapat membaca pergerakan Angela dengan baik. Tepat sebelum tubuhnya terkena skill tersebut, Rocco menendang Angela secara diagonal menggunakan kaki kirinya. Tubuh Angela terpental hingga menabrak sebuah pedang emas mengkilap yang sejak awal menancap kokoh di tengah alun-alun kota. Pedang itu kemudian tercabut dari tempatnya, jatuh tertindih tubuh Angela.


"Si–sial!" Angela terduduk menatap Rocco yang kini melesat ke arahnya.


Dhrone miliknya seketika membentuk Skill Divider tingkat tinggi guna mencegah serangan Rocco. Menyadari hal itu, Rocco segera mundur beberapa langkah ke belakang. Menatap tajam ke arah delapan dhrone yang mengelilingi tubuh Angela. Beberapa saat kemudian seluruh dhrone meledak terkena Skill


Explose milik Rocco, membuatnya hancur seketika.


Rocco melesat dengan segera ke arah Angela yang masih terduduk meregenerasi tubuhnya. Dia mengangkat tinggi-tinggi tangan kanannya, menyerang Angela yang sudah tak terlindungi apapun secara vertikal. Tubuh Angela seketika terbelah menjadi dua bagian, tetapi seperti yang diduga, tak ada noda darah sedikit pun seraya menyatu kembali membentuk tubuh Angela yang utuh.


Serangan vertikal kembali dilancarkan oleh Rocco dengan tangan kirinya. Secara reflek Angela mengambil pedang emas yang tergeletak di samping tubuhnya dan langsung menggunakannya untuk menahan pisau perak milik Rocco. Dataran menjadi cekung akibat gesekan dua kekuatan mengerikan dari dua buah senjata berprioritas tinggi. Keretakan di langit kembali membesar karena benturan tersebut. Beberapa detik kemudian terdengar suara logam yang patah, suara yang menghancurkan konsentrasi Rocco.


".... ?!" Dia terkejut, pisau perak dari logam Atlantium miliknya dikalahkan oleh pedang emas Excalibur. Selama ini yang dia tahu, hanya logam Atlantium sendirilah yang sanggup menghancurkan logam Atlantium lain.


Angela yang menyadari hal itu tersenyum mengerikan. Dia segera mengubah posisi bertahan menjadi posisi menyerang secara diagonal menuju kaki kiri Rocco. Percikan bunga api terlihat saat kedua logam kembali beradu. Namun, Excalibur sanggup menembus pertahanan kulit Rocco hingga membelah kaki tersebut dengan potongan yang rapi. Rocco kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur menghantam reruntuhan di bawah kakinya.


Sial! Bagaimana bisa?! batin Rocco. Kaki kirinya memang segera menutupi luka yang dideritanya hingga sembuh, tetapi tidak menumbuhkan kembali kaki tersebut yang terpotong hingga paha.


"Jadi begitu," senyum Angela mulai mengerti. "Kau tak bisa meregenerasi tulang."


Kembali dia mengangkat Excalibur tinggi-tinggi, menghantamkan senjata tersebut ke arah kaki kanan Rocco dengan begitu kuat. Hanya butuh waktu sepersekian detik bagi Excalibur untuk menembus pertahanan logam Atlantium dan memotong kembali kaki Rocco menjadi dua bagian. Belum sempat Rocco meregenerasi kaki kanannya, hantaman kaki kanan Angela tepat mengenai perutnya hingga membuatnya terpental beberapa meter dan membentur reruntuhan.


Regenerasi dan mode Half-death benar-benar menguras staminaku. Kalau begini terus ...


Dataran yang menopang tubuhnya hancur seketika, seakan mendapat beban ratusan ton dari tubuh Rocco yang terbaring di sana.


Berat tubuhnya membuat Rocco tertarik begitu kuat karena gaya gravitasi layaknya sedang tertidur di area pasir hisap. Kini tubuhnya beberapa senti di bawah permukaan tanah.


"Sudah kuduga, aku tak bisa mempertahankan skill gravity."


Perlahan permukaan kulitnya kembali pada warna semula, lapisan logam Atlantium mulai kembali melapisi tulangnya. Tubuhnya tak sanggup bergerak akibat ketidak mampuannya menggunakan mode gravity. Beban tubuhnya yang lebih dari dua ratus ton tampaknya membuat Rocco kesulitan hanya untuk menggerakan tangannya karena staminanya telah benar-benar terkuras habis. Bola mata merahnya kini menatap Angela yang tengah berdiri di hadapannya.


Kembali Excalibur menghujam dirinya, kali ini tangan kirinya ditusuk keras. Agak sulit memang memotong tulang Rocco yang dilapisi oleh logam Atlantium, tetapi tampaknya Excalibur sanggup memotongnya kembali. Rocco sudah tak sanggup melawan karena kehilangan beberapa anggota tubuhnya, bahkan staminanya sudah hampir habis. Menyadari hal itu, Angela melepas Excalibur begitu saja, dia menunduk dan mendekatkan mulutnya ke arah leher Rocco.


Hal yang terjadi selanjutnya adalah Angela menggigit leher Rocco dan mulai menghisap darahnya. Itu bukanlah hal yang aneh mengingat iblis yang mengambil alih tubuh Angela adalah Visquald, seorang vampire dari kerajaan Lucifer.


Rasa sakit yang dirasakan oleh Rocco bukan main, tubuhnya dipaksa segera menghasilkan darah oleh skill


Regeneration miliknya,  membuat staminanya semakin berkurang. Dalam keadaan yang hampir kehilangan kesadaran, tiba-tiba sebuah pisau perak yang indah jatuh ke atas tubuhnya.


Bola mata merahnya melirik ke arah pisau tersebut, pisau yang dibawa oleh Angela sebelum pertarungan dimulai. Pisau pemberian El Crystal pada dirinya yang dimaksudkan untuk membunuh Elenka. Dengan segenap tenaga yang tersisa, tangan kannanya mengambil pisau tersebut dan memposisikannya berdiri di depan dadanya.


"Aku tak boleh menyerah, akan aku buktikan pada rantai menyebalkan itu bahwa aku bisa menang!" Dia memperkirakan posisi pisau itu agar tepat mengenai jantung Angela. Dengan skill Gravity miliknya, Rocco membuat tubuh Angela ribuan kali lipat lebih berat dari sebelumnya, membuat Angela jatuh menimpa tubuh Rocco.


Pisau astral yang dipegang oleh Rocco tepat mengenai jantung Angela yang kini mengeluarkan suara raungan kesakitan diikuti darah hitam yang memancar keluar. Dia berusaha bangkit berdiri, tetapi skill Rocco mencegah tubuh Angela untuk menjauhi pisau tersebut.


"Ba–bagaimana bisa?!" geram Angela masih berusaha lepas dari tusukan tersebut. Tubuhnya perlahan mulai melemah seakan nyawa Angela sudah berada di ujung tanduk.


Rocco tersenyum tulus, kedua bola mata merah darah miliknya mulai menutup rapat. "Yah setidaknya aku tak akan membiarkanmu menang."


Semua pandangannya gelap, rasa sakit di sekujur tubuhnya kini telah menghilang sepenuhnya. Rocco masih belum menyadari apa yang sedang dialami oleh dirinya. Sesaat terdengar samar sebuah suara yang menyadarkannya. Dia membuka mata, melihat tempat dimana dia berada sekarang.


Cahaya dari bulan sabit berwarna merah menerangi ruangan tersebut, memperlihatkan reruntuhan bangunan di dataran yang dipijaknya. Pandangannya kini menatap ke arah seseorang lelaki di hadapannya. Wajahnya tampak sangat asing bagi Rocco, ini pertama kalinya dia melihat lelaki tersebut.


“Herliana Aeldra, kamu pasti bertanya-tanya. Kenapa aku yang tak tau apa-apa tentangnya, bisa sangat rela berkorban untuk Halsy Aeldra.”


"Herliana? Halsy?" Rocco tak mengerti akan ucapan lelaki tersebut.


“Itu juga yang ingin kuketahui. Sihir macam apa yang bisa membuatmu menjadi budak seperti ini?” Tiba-tiba mulutnya berbicara sendiri, Rocco tak mengerti akan apa yang terjadi pada dirinya.


“Kamu tahu, ketika pertemuanku pertama dengan Halsy. Aku hanya kebingungan, tak percaya, dan hanya menganggap ceritanya yang ia ceritakan sebagai lelucon yang memuakkan. Sungguh aku benar-benar membenci dia yang terus dan terus meminta bantuanku, membenci dia yang terus menggangguku,” ucap kembali lelaki di hadapannya.


“Lalu kenapa kamu bisa seperti ini?”


“Second Mind ….¸ pernahkan kamu mendengar kemampuan khusus ini?”


“Ya kemampuan khusus dari rasmu, ilmu kinesis kedua.” Dia tak mengerti akan ucapannya sendiri. Rocco bahkan tak tahu apa yang dimaksud dengan ilmu kinesis kedua.


“Second Mindku adalah …., Pyschometry.”


“…..!! Jangan katakan?!” Rocco terlihat sangat terkejut, tetapi dia tak mengerti dirinya terkejut oleh hal apa.


“Ya Halsy membiarkan aku untuk melihat masa lalunya yang menyedihkan, kebenaran tentang dunia ini yang amat sangat pahit.”


“…….!!” Kali ini jantungnya terasa berdenyut lebih cepat.


“Jadi Herliana, jika kamu ingin …., maukah kamu mengintip masa lalu sahabatmu ini?” senyum lelaki itu mengangkat tangan kanannya.


Rocco menelan ludah seakan mengerti posisinya sekarang, "Herliana, jadi itu diriku." Tubuhnya berjalan tanpa disadari menuju tempat lelaki tersebut.


“Semoga setelah melihat hal ini, kamu berpikir dua kali untuk merubah pandangamu terhadap sepupu atau sahabatmu itu." Lelaki tersebut tampak sedih seraya memperlihatkan ingatan seseorang padanya. Tangan kanannya mulai bersinar menyinari kepala Rocco. Rocco hanya terdiam khawatir sambil memejamkan matanya.


Apa yang dilihatnya setelah itu adalah sebuah kisah mengerikan yang menimpa seorang gadis berambut merah muda seperti dirinya. Hal menyedihkan terus menerus terlihat di pandangan Rocco, seakan menusuk hatinya yang paling dalam. Dia mulai menitikan air mata tak sanggup menghadapi penglihatannya sendiri.


"Ha–Halsy, kau bahkan rela menghadapi rasa sakit terus-menerus hanya untuk menyelamatkan duniamu. Su–sungguh ..." Rocco mulai menangis.


“BAJINGAN!” teriak kesal Rocco, dia lekas berdiri dengan kaki yang gemetar, tatapannya sungguh tajam melihat lelaki di hadapannya.


“KAU ********, SAMPAH, BRENGSEK, IBLIS, TAK MEMILIKI PERASAAN!!” teriaknya murka sambil memegang kerah baju lelaki tersebut, tatapannya sungguh dipenuhi kekecewaan amat dalam padanya.


“Kenapa? Kenapa? Kenapa?! KENAPA KAU BARU MEMPERLIHATKANNYA SEKARANG!!” teriak kembali Rocco menangis hebat. Dia memukul lelaki di hadapannya seakan frustasi. Kata-kata yang terucap dari mulut serta pergerakkan tubuhnya benar-benar di luar batas kesadarannya.


“…….”


“Ini terlalu menyedihkan …., lagi dan lagi!! Terus menerus!! Dia ….. –“


"........."


“Angela!! CEPAT ANTARKAN AKU PADA MEREKA!! Ini terlalu menyedihkan …. –“ Rocco seketika tidak sadarkan diri, kenyataan mengerikan tentang Halsy Aeldra sungguh membuat mentalnya terganggu. Dia jatuh dipelukan lelaki tersebut.


Perlahan perasaan hangat menyelimuti tubuhnya. Dia kembali membuka mata, melihat sekelilingnya yang kini telah berubah menjadi taman yang sangat indah. Dia kembali ditarik menuju Taman Fiksi oleh kekuatan DestinaThor.


"Selamat, kau memenangkan pertarungan." Seorang gadis berjubah berdiri beberapa meter di depan Rocco. Di sebelahnya terdapat rantai perak indah yang memancarkan sinar berwarna merah.


"Apa yang terjadi padaku barusan?" Rocco masih tak mengerti, air matanya masih menetes akibat kejadian tadi.


Tulisan kembali muncul pada rantai tersebut, "kekuatan kalian menghancurkan dinding Eudhor. Kesadaranmu terlempar jauh menuju My Dearest Universe, dunia dimana kisah Angela berjalan dan melekat pada tubuh seorang karakter bernama Herliana Aeldra."


"Jadi maksudmu kisah Halsy itu ....." Rocco mulai mengerti.


ChaincepThor tak mempedulikan,


"Sesuai peraturan, aku akan menghancurkan dunia Angela untuk menata ulang Eudhor."


"Hey tunggu, bukankah aku juga mati?" Rocco tampak tak setuju.


"Kau akan mati hanya jika kepalamu terpenggal, itu sudah aturan mutlak dari Author yang menciptakanmu." ChaincepThor menjelaskan.


Kedua tangan Rocco mengepal kuat, air mata kembali mengalir deras dari kedua bola mata merah darah miliknya. "Aku tak mau dunia yang dilindungi Halsy hancur begitu saja."


"Aturanku adalah mutlak." Samar-samar terdengar jeritan dari sebuah gerbang dimensi yang terletak di belakang Rocco.


Suara ledakan, teriakkan histeris, bahkan tangisan kengerian terdengar sangat menyayat hati. Keruntuhan My Dearest Universe tak dapat dihindarkan. Dunia yang dilindungi mati-matian oleh Halsy Aeldra kini mulai hancur dan membunuh semua makhluk yang hidup di sana, tak peduli raja iblis sekalipun.


"Sekarang sebutkan permintaanmu." Tulisan kembali berganti saat suara kehancuran berangsur-angsur mereda.


"Apa saja?" tanya Rocco meyakinkan.


"Apa saja." ChaincepThor menegaskan.


Rocco tampak berpikir sesaat, kepalanya tertunduk dengan kedua tangan yang mengepal erat. "Membunuh Colossus ... "


"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu. DestinaThor."


"Aku mengerti," gadis berjubah di hadapan Rocco mulai mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "System Command –"


Belum selesai dia mengucapkan mantra, Rocco memotong pembicaraanya. "Tunggu!"


DestinaThor menghentikan perkataanya.


"Membunuh Colossus memang menjadi pilihan yang layak. Namun, aku yakin kami sendiri sanggup melakukannya tanpa bantuan dari kalian." Rocco tersenyum tulus, air mata masih mengalir di kedua pipinya. "Jadi, aku mohon ciptakan kembali My Dearest Universe, tempat yang dilindungi mati-matian oleh Halsy Aeldra."


Sesaat suasana menjadi hening, tetapi kemudian tulisan kembali tertampil, "kau yakin dengan keputusanmu?"


Rocco mengangguk sangat yakin.


DestinaThor kembali merapalkan mantra yang sempat terpotong oleh Rocco. "System Command, Recreate and Teleportation!”


Seketika pandangan Rocco dipenuhi cahaya yang sangat menyilaukan. Dia tak sanggup lagi melihat keberadaan DestinaThor dan ChaincepThor di hadapannya. Entah kenapa pikiranya terasa sangat pusing dan tubuhnya benar-benar kelelahan. Rocco berlutut di rerumputan seraya memegangi kepalanya yang terasa amat pusing.


"Putri!" Terdengar suara yang sangat familiar di telingannya.


Pandangannya kini menatap ke atas langit, pada sebuah misil yang melesat ke arahnya dengan kecepatan yang mengerikan. Rocco reflek mengangkat tangan kanannya ke arah misil tersebut, tak lama setelah itu telapak tangannya menghantam misil diikuti dengan ledakan yang sungguh luar biasa hebat.


Dagingnya berceceran akibat ledakan mengerikan itu. Kini hanya menampilkan sesosok kerangka tulang perak yang masih berlutut tak bergerak. Seseorang di sebelahnya tidak terluka sedikit pun walau ledakkan itu seharusnya menghancurkan tubuhnya juga.


"Kau tak apa, Putri?"


"Ja–jangan panggil aku plPutri!" geram Rocco dengan tubuh yang belum terlapisi oleh kulit.


"Ada apa dengan tubuhku ini? Angela, Halsy, kenapa tiba-tiba nama itu muncul di pikiranku?" Rocco menatap rerumputan tak mengerti. Jauh di hadapannya para anggota Seekers tengah bersiap menembaki dirinya dengan peluru bermuatan listrik.


****


Suasana di Taman Fiksi kini kembali hening setelah DestinaThor selesai merapalkan mantra. Penyu raksasa terlihat melintasi tempat dimana ChaincepThor dan DestinaThor berada.


"Pada akhirnya kau malah menghancurkan Eudhor," senyum sinis DestinaThor.


Tulisan kembali muncul dari rantai tersebut, tulisan yang membuat DeatinaThor terlihat sangat puas. "Tak apa, setelah ini aku akan memanggil karakter fiksi lain dan menjadikan dunianya sebagai bahan bakar penciptaan Eudhor."


"Sebagai salah satu dari dewa suci author, kau memang kejam seperti biasanya." DestinaThor tersenyum memejamkan mata.

__ADS_1


__ADS_2