Backup

Backup
Ficlet Reinna


__ADS_3

Rancangan yang dibuat untuk merangkainya menjadi sebuah ficlet.



Pengenalan Reinna dan keluarganya.


- memiliki ayah yang sibuk bekerja hingga terkadang melupakan anak-anaknya.


- ibu yang sibuk mengurus adik bungsunya yang masih kecil.


- kakak yang sibuk dengan prestasinya di berbagai bidang dan populer.


- kakaknya sekolah di sekolah sd, smp, dan sma, favorit yang digabung menjadi satu almamater.


- Reinna tidak lulus seleksi ketika tes masuk sd itu dan berakhir dengan sekolah di sd biasa.



(Cerita dimulai pada malam hari saat keluarga mengadakan acara makan bersama).




Konflik


- mereka menceritakan bagaimana hebatnya anak sulung mereka yang berhasil memenangi lomba siang tadi. (Cerdas cermat atau lomba yang lain? Masih dipikirkan)


- mereka mengadakan pesta dan mengundang beberapa rekan kerja ayahnya. Padahal hari ini adalah hari ulang tahunya Reinna. Tapi tak ada satu orang pun yang ingat.


- pembicaraan mereka bahkan membandingkan Reinna dengan kedua saudarinya.


- puncaknya mereka bertanya tentang raport dan memarahinya krna ceroboh dan lupa menaruh raportnya, padahal dia telah menyerahkannya dan ayahnya lupa menaruh. Reinna hanya tak ingin ayahnya malu di depan rekan kerjanya.

__ADS_1


- Ibunya menarik Reinna ke lantai atas dan memarahinya karena mempermalukan keluarga, lalu dia disuruh untuk ke kamar dan tidur duluan.




Tambahan (jika sempat)


- beberapa waktu kemudian, kakaknya ke kamar dan membawa sebuah bingkisan berupa kado. Dia menyanyikan lagu ulang tahun pada adiknya.




-tamat-


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam ini bukanlah malam yang spesial. Namun, tidak bagi Keluarga Aindra. Mereka mengadakan sebuah pesta atas keberhasilan putri sulungnya yang telah memenangkan perlombaan dan terpilih untuk mewakili provinsi dalam kejuaraan nasional.


Namun ...


Reinna duduk pada salah satu kursi, menyimak setiap pembicaraan yang dilakukan oleh Ayah dan rekan kerjanya setelah mereka selesai menyantap hidangan. Tentunya pembicaraan itu memgenai prestasi yang telah dicapai oleh Tania, putri sulung mereka.


Di usianya yang masih empat belas tahun, Tania telah memenangkan berbagai lomba dengan bakat yang dimilikinya. Gadis itu tampaknya terlahir dengan berbagai kelebihan, membuat orangtuanya menaruh harapan yang besar padanya.


"Pak Aindra, kapan beli lemari baru?" Salah satu rekan kerja ayahnya bertanya, melirik pada dua buah lemari yang dipenuhi piala berbagai ukuran.


"Wah saya masih belum tahu, Pak. Mungkin dalam waktu dekat."


Beberapa orang tertawa pelan, menikmati pembicaraan ringan di antara mereka. Pandangan Reinna selalu menatap bergantian, memandang wajah orangtuanya yang terlihat bahagia. Tak sadar, dia tersenyum ikut merasakan kebahagiaan.


Kemudian, arah pembicaraan berubah. Salah satu rekan kerja ayahnya mengalihkan pandangan pada putri kedua keluarga itu. Dia merapatkan bibir sejenak sebelum membuka mulut.

__ADS_1


"Kalau Reinna, udah pernah menang lomba apa aja?"


Raut wajah orangtuanya langsung berubah datar. Wajah bahagia yang awalnya terasa begitu hangat, langsung membeku. Reinna terdiam, wajahnya menunduk.


"Kayaknya semua bakatnya kerebut sama Tania deh, Pak."


Suasana kembali mencair, mereka tertawa atas kalimat yang dilontarkan oleh ibunya sebagai jawaban.


Reinna terpaksa ikut tersenyum walau dalam hatinya dipenuhi dengan rasa iri. Iri karena peringkat satu yang didapatkannya dengan susah payah tak dipedulikan. Iri karena di hari ulang tahunya, tak ada seorang pun yang mengingatnya dan keluarganya hanya merayakan keberhasilan kakaknya.


"Tapi kemarin kata anak saya, Reinna ranking satu lho, Bu. Di sekolah." Kembali salah satu dari mereka angkat bicara.


Orangtuanya saling menatap, kemudian tersenyum seraya mengalihkan tatapan pada Reinna.


"Kamu kenapa gak bilang? Mama jadi gak enak sama kamu."


Reinna hanya tersenyum menanggapi ucapan ibunya.


"Sayang, coba ambil raportnya. Papa mau liat."


Mendengar kalimat itu, Reinna terdiam.


****


Beberapa hari sebelumnya, dia pulang dengan gembira, menenteng raport miliknya ke rumah. Reinna tak sabar untuk melihat ekspresi kedua orangtuanya. Namun, hari itu keluarganya sedang sibuk bersiap untuk mengantar kakaknya menuju tempat lomba.


"Ma, Pa ... Reinna dapet–"


"Iya, nanti aja ya. Cepet ganti baju, nanti telat." Ayahnya segera mengambil raport milik Reinna dan langsung menyimpannya di lemari tanpa melihatnya terlebih dahulu.


***


Gadis itu masih ingat dengan pasti bahwa ayahnya telah menyimpan raportnya. Mereka semua mengabaikannya. Mereka sama sekali tak peduli, menganggap bahwa dirinya hanyalah sebuah parasit dalam keluarga.

__ADS_1


Reinna ingin berteriak, membentak mereka atas kesalahan yang diperbuat. Gadis itu sudah muak, segala usahanya tak pernah bernilai di mata mereka. Namun, jika itu dia lakukan, orangtuanya akan sangat malu di hadapan rekan kerja ayahnya. Dia tak mau itu. Sesuatu yang diinginkannya hanyalah perhatian orangtuanya.


Lalu, dengan menunduk, Reinna berkata, "lupa nyimpen, Ma. Besok Reinna cari."


__ADS_2