
Aku berjalan melewati jalanan di antara makam. Kalau saja ada orang yang kebetulan lewat sini, aku yakin mereka bakal langsung kabur. Bagaimana tidak? Seorang gadis berdaster putih dengan rambut kusut dan wajah pucat sedang berjalan di tengah pemakaman umum. Sudah jelas mereka akan menganggapku Kunti.
"Tungguin dong, Del. Pelan aja jalannya."
Aku menoleh, menatap seorang cowok tinggi berkacamata yang tengah mendorong motornya. Lalu, kuhujani dia dengan omelanku.
"Lagian salah kamu sih! Kenapa coba milih jalan pemakaman segala?"
"Ya, kan udah kubilang, jalan yang biasa kita lewat ditutup. Lagian buat apa sih kamu ikut acara ginian?"
"Ya emang kenapa? Halloween cuma ada setaun sekali, jadi harus dimeriahin."
Malam ini rencananya aku akan pergi ke acara kampus. Peserta yang mengikuti acara memang diwajibkan untuk berpenampilan layaknya hantu. Maka dari itu penampilanku malam ini kubuat seseram mungkin.
Berbeda denganku, Rian --pacarku--
itu orangnya penakut. Jadinya dia tidak mau ikut acara. Terus, karena kewajibannya sebagai pacar, aku menyuruh dia untuk mengantarku ke lokasi yang sudah disepakati. Namun, bukannya datang tepat waktu, motor dia malah mogok di pemakaman.
__ADS_1
"E-eh, Del ... Del!" Setelah aku selesai berbicara padanya, Rian teriak gak jelas.
Aku yang masih dalam suasana hati jelek menjawab sekenanya tanpa menoleh.
"Apaan sih? Udah cepetan, udah telat nih. Lagian bentar lagi juga sampe, 'kan?"
"Itu Del! Ad-ada ... "
"Duh, kamu ini ya, jadi cowok penak--"
Ketika aku menoleh ke arahnya, sosok putih berdiri mematung memperhatikan kami dari jauh. Wajahnya hancur dengan kedua bola mata yang membusuk. Tubuhnya yang dibalut oleh kain putih bernoda tanah membuatku merinding.
Kemudian, hal yang tidak terduga membuatku hampir pingsan. Sesuatu yang memperhatikan kami melompat tinggi, memperpendek jarak dengan sangat cepat. Hal ini tentu saja membuatku semakin panik.
"Del, lari! Jangan peduliin aku, cepetan!"
Mendengar suara Rian membuatku langsung sadar kembali. Tanpa pikir panjang, bermaksud mencari bantuan untuk menolong Rian, aku berbalik seraya berlari sekencang yang aku bisa. Aku sampai melepas sepatuku dan mengangkat sedikit dasterku untuk mempercepat lariku.
__ADS_1
Walau napas dan kakiku terasa sakit, aku tidak memperlambat lariku. Dalam pikiranku hanya terlintas sesuatu seperti mencari orang lain dan menolong Rian. Berbekal keyakinan itu, aku terus berlari melewati pemakaman hingga sampai menuju lokasi acara.
"Tolong!" Aku berteriak dengan sisa tenaga yang aku miliki.
Semua orang yang tengah berkumpul memandangku dengan khawatir seraya berusaha mengenaliku. Saat mereka sudah tahu identitasku, semuanya mendekatiku dan langsung memberiku minum.
"Dari mana aja? Kita udah panik tau nyariin lo!"
Aku mengangkat tanganku untuk memotong pertanyaan yang ditujukan padaku.
"Rian! Tolong Rian!"
"Tenangin diri dulu, Del. Ini aku, Rian. Kamu udah aman. Jadi, tenangin diri kamu dulu."
Saat aku mendengar suaranya, aku segera membuka mata dan kaget melihat Rian tepat di hadapanku. Dia terlihat normal. Masih ganteng seperti biasanya.
"E-eh, Rian?! Terus yang di makam?"
__ADS_1
"Makam? Aku tadi jemput kamu ke rumah, tapi katanya kamu udah jalan duluan. Terus pas aku teleponin, nomormu gak aktif. Kita udah khawatir tau sama kamu. Sebenernya ada apa sih?"
"Kalau ini Rian, terus aku ... " Aku menelan ludah seraya melanjutkan kalimatku, "diantar siapa?"