BANGKITNYA MENANTU TERTINDAS

BANGKITNYA MENANTU TERTINDAS
Selalu Direndahkan


__ADS_3

Aliando menggeleng pelan setelah membaca e-mail itu sekilas.


Enggak-enggak mungkin. Ini enggak mungkin! Gumam Aliando dalam hati.


E-mail itu ngawur sekali menurutnya.


Pasalnya isi dari e-mail itu menyatakan bahwa dirinya adalah pewaris harta kekayaan keluarga Aryaprasaja yang merupakan salah satu keluarga terkaya di Indonesia yang memiliki harta kekayaan mencapai triliunan itu.


E-mail itu juga menyatakan jika sebenarnya dirinya adalah putra dari Tuan Besar Aryaprasaja. Pemilik Prasaja Grup.


Aliando langsung mengelak, tidak percaya, menganggap e-mail itu hanya iseng belaka atau hanya ingin mengerjainya saja.


Aliando mengabaikan e-mail itu, mematikan layar ponsel dan memasukannya ke dalam saku celana kembali, lantas bergegas keluar dari kamarnya dengan membawa kado di tangannya untuk dia berikan kepada Ibu mertuanya.


Semua mata langsung menatap Aliando begitu Aliando kembali ke ruangan meja makan, dia berjalan mendekat ke arah Kinanti.


Nadine tersentak, dia tak menyangka jika ternyata Aliando telah mempersiapkan kado untuk Ibunya.


Sebelumnya Nadine telah bilang kepada Aliando untuk tidak usah memikirkan kado untuk Ibunya.


Namun ternyata diam-diam Aliando mempersiapkan kado.


Nadine jadi penasaran dengan apa yang akan Aliando berikan kepada Ibunya?


Tapi firasat Nadine mendadak tidak enak dengan isi di dalam kado tersebut.


"Selamat ulang tahun, Ma. Semoga...Mama panjang umur ya." Ucap Aliando dengan senyum terkembang lebar di bibirnya.


Namun Kinanti malah menunjukan raut muka cuek. Menatap ke depan sambil menyilangkan tangan di depan dadanya.


Tidak mempedulikan ucapan selamat ulang tahun dari menantu sampahnya itu.


Karena dia sama sekali tidak mengharapkan ucapan selamat ulang tahun dan kado dari Aliando.


Pasti, kado dari Aliando juga tidak ada kata spesial-spesialnya.


"Dan...ini aku...ada kado buat Mama." Aliando menyodorkan kado kepada Kinanti.


Kinanti baru menoleh, memandangi kado itu dengan respons sinis sebelum kemudian menerimanya dengan kasar.


Semua orang yang ada di situ langsung mendesak Kinanti untuk segera membukanya.


Mereka semua juga penasaran dengan isi dalam kado itu.


Namun terlihat jelas senyum penghinaan dari bibir mereka masing-masing.


Mereka sudah menebak jika isinya pasti hanya lah barang murahan dan sebentar lagi Aliando akan menjadi bahan ledekan lagi karena hal itu.


"Hah...tas...apaan ini?" Kinanti mencibir sambil mengangkat tas pemberian dari Aliando tinggi-tinggi. Seakan tas yang sedang berada di tangannya itu adalah hal menjijikan.


Ternyata isi dari kado itu adalah tas.

__ADS_1


Aliando memberikan Ibu mertuanya sebuah tas.


"Ya ampun...lihat tuh modelnya aja kuno banget dan kampungan...dan pasti harganya juga murah..." Ledek Lidya.


"Itu paling tas harganya seratus ribu. Malu-maluin aja sih kamu, Al." Celetuk Tante Luna.


"Ngaku kamu, Al. Kamu beli tas itu di pinggir jalan, kan?!" Sambung Lidya lagi.


Aliando menatap mereka bergantian sebelum kemudian mengangguk lemah.


Sebenarnya ia sudah menduga jika kadonya pasti akan menjadi bahan cibiran mereka.


"Ya ampun. Berbeda banget dengan apa yang dikasih sama kalian semua."


"Al-Al. Kamu mau menghina Mama atau bagimana, sih? Ngasih barang sama Mama kok barang murahan begitu..."


"Muka Mama mau ditaruh di mana coba? Kalau seandainya pergi ke acara pake tas itu? Apa Mama enggak akan diledek oleh semua orang? Hei, teman-temannya Mama itu sosialita semua! Dan kamu ngasih barang murahan sama Mama?!" Lanjut Dion sambil tersenyum meremehkan.


"Maklum, sayang. Aliando kan kere. Mana mungkin bisa beli tas branded dan mahal." Jawab Lidya. Sang istri sambil terkekeh.


"Oh iya ya...lupa aku, sayang." Jawab Dion sambil balas terkekeh.


Dan kemudian, diikuti oleh yang lainnya.


Mereka memang mau meledek Aliando yang miskin itu!


Sementara Nadine hanya balas mendengus.


Aliando menunduk, juga sama menduganya jika kadonya akan dijadikan bahan ledekan lagi.


Tapi mau bagimana lagi?


Dia memang tidak mampu membeli barang branded dan mewah untuk Ibu mertuanya.


Tiba-tiba Kinanti berseru memanggil Bi Siti.


Tak lama waktu berselang, Bi Siti bergegas mendekat.


"Ada apa, Nyonya?" Tanya Bi Siti.


"Ini tas buat Bibi saja!" Kinanti memberikan tas pemberian dari Aliando kepada Bi Siti.


Bi Siti menerimanya dengan senang hati. Dia senang-senang saja dikasih tas.


Aliando agak menyesal karena memilih keputusan memberikan kado kepada Ibu mertuanya. Kalau kadonya saja akan berakhir di tangan Bi Siti.


Tapi kalau tidak ngasih, pasti, dia juga akan tetap mendapat cibiran.


Aliando jadi merasa serba salah kalau begitu. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Yang penting dia sudah berusaha memberi kado untuk Ibu mertua, walau pun, pada akhirnya usahanya tidak pernah dihargai.


Pukul sepuluh lebih, keluarga dan kerabatnya Nadine baru pulang.

__ADS_1


Aliando, Nadine, Kinanti dan Arjuna mengantarkan mereka sampai ke depan rumah, sampai mereka masuk ke dalam mobil masing-masing dan mobil-mobil itu pun mulai beranjak pergi dari halaman rumah.


Ketika semuanya sudah pada pergi, mereka masuk ke dalam rumah lagi hendak istirahat.


"Mau ke mana kamu, Al?!" Kinanti berseru saat melihat Al hendak berjalan menuju ke arah kamarnya.


"Mau istirahat, Ma." Jawab Aliando yang jadi mengurungkan niatnya menuju kamarnya.


Kinanti langsung memutar bola matanya. "Enak aja istirahat. Bantu yang lainnya dulu di belakang sampai semuanya beres! Baru kamu boleh tidur!" Kinanti kembali berseru galak sambil berkacak pinggang.


"Awas saja ya kalau kamu sampai tidur duluan!" Lanjutnya sambil menuding muka Aliando.


Sehabis berkata seperti itu, Kinanti berjalan menuju kamarnya.


Aliando menghela nafas kasar. Sebenarnya dia sudah capek sekali. Tenaganya benar-benar sudah terkuras habis. Butuh cepat diistirahat.


Tapi dia hanya bisa menuruti perintah mertuanya sebelum masalahnya akan menjadi panjang.


Aliando segera pergi ke belakang rumah untuk membantu orang-orang yang tengah membereskan tempat pesta tadi.


Pukul dua belas malam lebih, acara bersih-bersih dan beres-beres halaman belakang rumah baru selesai.


Akhirnya Aliando bisa mengistirahatkan tubuhnya. Dia pun langsung merebahkan diri di atas kasur. Lantas memejamkan matanya.


Aliando tidur terpisah dengan Nadine semenjak Kakeknya Nadine meninggal.


Bahkan, dia belum menyentuh Nadine sama sekali semenjak mereka melangsungkan pernikahan.


Nadine tidak mau disentuh dirinya.


Kinanti dan Arjuna pun melarang dirinya menyentuh Nadine.


Ck, kenapa nasibku begini amat sih? Ratap Aliando.


Sebenarnya Aliando benar-benar sudah muak dan marah diperlakukan bak pembantu, pesuruh dan supir di keluarga Arjuna.


Dia juga muak dengan hinaan, cacian dan makian yang dia terima dari keluarganya Nadine.


Tapi, Aliando tidak bisa berbuat apa-apa.


***


Pagi hari.


Ketika Aliando pulang ke rumah, ia baru saja mengantar Nadine ke tempat perusahaannya bekerja, ia melihat Ayahnya tengah berdiri di samping gerbang rumah keluarga Arjuna.


Damar melambaikan tangannya ketika melihat Aliando.


Aliando segera memarkirkan mobil, turun dari mobil dan bergegas menuju ke arah depan.


Ada apa Ayahnya itu menemui dirinya? Pikir Aliando.

__ADS_1


__ADS_2