
Sebelum menemui Ayahnya di depan, Aliando bicara kepada satpam rumah itu lebih dulu.
"Kenapa kau enggak membukakan pintu untuk Ayahku dan menyuruhnya untuk masuk? Kenapa kau membiarkan dia di luar begitu saja?" Tanya Aliando dengan kening berkerut. Ia agak kesal.
Meskipun sebenarnya Aliando juga tak begitu menyukai kelakukan dan sifat Ayahnya yang agak menjengkelkan itu.
Ayahnya sering main judi yang menyebabkan, terkadang, dirinya harus ikut terseret ke dalam masalah Ayahnya. Namun dia juga tidak terima jika melihat Ayahnya diperlakukan kurang sopan begitu.
Satpam itu malah menyeringai, tersenyum meremehkan sambil berkacak pinggang.
"Tuan dan Nyonya sudah melarangku supaya tidak membiarkan Ayahmu masuk ke dalam rumah tanpa ijin dari mereka!" Satpam itu berseru. Tak terlihat takut sama sekali dengan Aliando.
Kemudian, satpam itu menuding muka Aliando. "Dan...hei...kalian itu adalah keluarga miskin...meskipun kamu itu adalah suaminya Nona Nadine dan menantu di keluarga ini...tapi kamu itu hanya dianggap sampah oleh mereka! Kedudukan kita itu sama! Dan...hei...kau..bahkan diperlakukan lebih buruk dariku...jadi, mungkin saja kamu dan Ayahmu akan bersekongkol mencuri, merampok, bisa jadi, kan? Maka, aku akan menjaga dan mengawasi Ayahmu jika datang ke sini! Mengerti?!"
Aliando mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat. Menatap satpam itu dengan tajam. Namun satpam itu juga balas menatapnya tajam.
Tak merasa terintimidasi sedikit pun dengan sikap Aliando.
Dia merasa kedudukannya sama dengan Aliando di rumah itu. Bahkan lebih tinggi!
"Tutup mulutmu! Jangan asal bicara kau!" Aliando menuding muka sang satpam sambil menggeram.
Namun satpam itu tetap tak terlihat takut sama sekali.
Akhirnya Aliando memilih untuk tidak menggubris satpam tersebut.
Aliando sadar akan posisinya di rumah itu.
Bahkan, mungkin saja, mertuanya akan lebih percaya dengan satpam itu dibandingkan dengan dirinya.
Maka, dia pun memilih tak meladeninya lagi, bergegas ke depan, menghampiri sang Ayah yang nampak antusias sekali begitu melihat kemunculan Aliando.
Aliando juga penasaran dengan maksud kedatangan Ayahnya ke rumah ini.
"Ada apa Ayah ke sini? Menemuiku?" Tanya Aliando.
Damar terdiam sejenak. Berfikir.
Kemudian, menjelaskan jika maksud kedatangannya karena hendak meminjam uang untuk membayar hutangnya kepada renternir.
Aliando memutar bola matanya, keningnya berkerut.
Aliando menghela nafas lebih dulu, lantas berkacak pinggang.
"Yah...Ayah kan tahu sendiri...aku itu di sini cuma dianggap kayak babu saja...bukan menantu yang sebenarnya...gajiku di bar juga...enggak seberapa...jadi aku enggak punya banyak uang..."
Sehabis melakukan pekerjaan rumah, malamnya, Aliando pergi bekerja di sebuah bar jadi bartender.
Namun dari keluarga istrinya tidak ada yang peduli.
__ADS_1
Makanya, dia juga sering kena omel dari Boss di tempatnya bekerja lantaran sering telat.
Jika dia hendak pergi bekerja, ada-ada saja kelakuan orang-orang rumah yang mendadak menyuruhnya.
Walau dia bekerja, tapi tidak membuat Aliando berhenti mendapat cibiran dan makian, serta direndahkan.
Apalagi dengan pekerjaannya yang hanya menjadi seorang bartender, hal itu tak membuat keluarga istrinya merasa bangga.
"Ayah mohon sama kamu, Al. Hanya kamu satu-satunya keluarga yang Ayah punya saat ini. Ayah sudah bingung sekali mau cari pinjaman uang ke mana lagi. Ayah bingung mau minta bantuan sama siapa lagi, kalau bukan sama kamu.
"Kamu tahu sendiri, kan? Para renternir ini sangat kejam dan menagih dengan cara yang kasar...bahkan mereka tak segan-segan akan menghabisi Ayah kalau Ayah enggak bisa membayarnya..."
Aliando masih diam. Menatap sang Ayah.
"Kamu kan bisa pinjam sama istri atau mertuamu, Al...pasti...mereka akan memberimu uang..."
Aliando tersentak, mengedar pandangan ke sekeliling lebih dulu.
Itu ide yang tidak bagus!
"Apa Ayah sudah gila, hah?! Mereka saja bahkan enggak menganggapku sama sekali, Yah. Apalagi semenjak Kakeknya Nadine meninggal. Mereka jadi bertindak semena-mena sama aku. Pasti, aku akan dihina dan dicaci maki kalau sampai minjam uang sama mereka!"
"Tapi, masak mereka tidak mau memberimu uang, Al? Kamu belum mencobanya, kan? Pasti mereka akan memberimu uang...percaya sama Ayah..." Damar sampai memohon kepada Aliando dengan wajah memelas.
Aliando menghela nafas.
Dia juga tidak tega kalau sudah melihat Ayahnya sampai memelas begini kepada dirinya.
Aliando berdecih. Terdiam sebentar.
"Berapa hutang Ayah sama renternir itu?" Tanya Aliando.
"30 juta, Al." Jawab Damar.
Aliando memutar bola matanya. Buat apa uang sebanyak itu?
Pasti buat main judi.
Aliando berdecak.
Aliando juga cukup kaget begitu mendengarnya.
Baginya, nominal uang segitu sangat lah besar. Susah mendapatkannya bagi orang seperti dirinya.
Aliando mengusap wajah. Tidak tahu apakah ide meminjam uang kepada Nadine dan mertuahya itu akan berhasil atau tidak. Ia tidak terlalu yakin.
Damar terus memohon kepada Aliando.
Bahkan Damar hendak bersimpuh di kaki Aliando dan memohon-mohon kepadanya.
__ADS_1
Aliando kembali berdecih, buru-buru menahan Ayahnya supaya tidak sampai bersimpuh di kakinya.
"Oke, oke. Akan aku usahakan, Yah. Akan Aliando coba ngomong sama Nadine atau enggak sama mertuaku soal hal ini!" Jawab Aliando. Bercampur dengan nada sedikit kesal.
Ekspresi wajah Damar langsung berubah berbinar begitu mendengar jika Aliando akan mengusahakannya.
"Terima kasih, Al. Terima kasih. Kamu memang anak Ayah yang baik." Damar memeluk Aliando dan menepuk-nepuk punggungnya.
Aliando akan mencoba meminjam kepada Nadine. Meskipun mungkin dia akan mendapat omelan dulu.
Tapi, tidak apa-apa lah. Demi sang Ayah. Akan dia lakukan, walau mendapat makian dan hinaan, lagi pula, hal itu sudah menjadi makanan sehari-harinya.
Setelah itu, Damar pun pamit pulang ke rumah kontrakan.
Bahkan, saking miskinnya, mereka tidak punya rumah dan tinggal di rumah kontrakan.
***
Di dalam mobil, dalam perjalanan pulang sehabis menjemput Nadine dari kantor, Aliando memberanikan diri bicara mengenai dia yang hendak meminjam uang kepada Nadine untuk membayarkan hutang Ayahnya kepada renternir.
Nadine memutar bola matanya. Berhenti bermain ponsel. Menatap Aliando.
"Ck, kamu ini...selalu aja nyusahin..." Decak Nadine.
Aliando menghela nafas.
"Maafkan aku, Nad. Tapi, aku enggak tega sama Ayah dan kalau enggak dibayar, maka, Ayah akan mendapat masalah."
Nadine memperbaiki posisi duduknya. "Memangnya berapa hutang Ayahmu sama renternir?!"
"Tiga puluh juta."
"Apa?!"
Nadine berdecak sambil geleng-geleng kepala. "Kok bisa sih Ayahmu punya hutang sebanyak itu sama renternir?! Emangnya buat apa?!"
"Sepertinya...buat main judi, Nad."
Nadine berdecak, terdiam sebentar, memikirkannya.
Nadine sudah tahu kalau Ayahnya Aliando suka main judi.
"Oke. Ntar aku pinjemin." Jawab Nadine pendek setelah terdiam sebentar. Setelah itu, dia fokus pada ponselnya lagi.
Aliando menatap sang istri dengan cepat. Tak menyangka jika Nadine akan bersedia meminjamkannya. "Makasih, Nad. Makasih banyak karna kamu mau meminjamkan uang sama aku."
Seketika kedua mata Aliando mendadak memanas. Ia sangat terharu dengan kebaikan Nadine.
Walau sikapnya dingin dan cuek kepadanya, Aliando juga tahu, jika Nadine tidak mencintainya, tapi Nadine selalu baik kepadanya. Setidaknya lebih baik daripada keluarga dan kerabatnya.
__ADS_1
Nadine sempat melirik Aliando, menatap Aliando untuk beberapa sesaat begitu mendapati kedua mata Aliando yang nampak berkaca-kaca.