BANGKITNYA MENANTU TERTINDAS

BANGKITNYA MENANTU TERTINDAS
Boss Albert


__ADS_3

Jadi, Bossnya akan memberikan pinjaman uang kepada dirinya, berapa pun yang ia minta, asalkan, dirinya mau menyerahkan Nadine kepadanya?


Seketika darah dalam diri Aliando mendidih. Ia langsung menatap Albert dengan tajam.


Aliando menggeleng dengan cepat sambil mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Dia tidak akan menyerahkan Nadine kepada Bossnya.


Suami mana yang rela memberikan istrinya kepada lekaki lain?


Walau Aliando tahu jika Nadine bersikap cuek dan dingin kepadanya, tidak mencintainya, tapi, entah kenapa, dia tidak rela saja memberikan Nadine kepada lelaki lain, melihat Nadine disentuh oleh lelaki lain.


"Saya enggak mau, Boss!" Jawab Aliando setelah terdiam sebentar.


Albert mengerutkan kening. Menyipitkan pandangan. "Yakin? Kamu enggak mau? Kamu enggak mau memberikan istrimu padaku?" Albert bertanya lagi. Memastikan.


"Yakin sekali. Saya tidak akan membiarkan seorang pun menyentuh Nadine! Istri saya!" Jawab Aliando lagi dengan intonasi suara keras. Tetap bersikeras.


Albert malah terkekeh begitu mendapati kepercayaan diri Aliando. "Heh, bodoh! Nona Nadine itu tidak mencintaimu. Karna kau itu lelaki miskin. Dan...apa kau tidak sadar diri, heh? Kau sama sekali tidak pantas bersanding dengan Nona Nadine. Mengerti?!" Ledek Albert.


Aliando tambah mengepalkan tangannya kuat-kuat begitu mendengar penghinaan dari Albert. Ingin sekali Aliando merobek mulut Albert.


Tapi, lagi-lagi, Aliando sadar diri siapa dirinya. Maka, dia hanya bisa menahan emosinya yang nyaris saja meledak.


"Dan kau juga enggak dianggap sama sekali sama keluarga Arjuna. Kau itu hanya dianggap kayak pembantu, saja, kan? Kayak babu, kan? Ckck, menyedihkan sekali ya hidupmu, Al. Dan kau masih mau tinggal bersama mereka? Kau masih mau mempertahankan rumah tanggamu yang jelas-jelas, istrimu saja enggak mencintaimu?"


"Padahal...aku mau menawarimu uang. Berapa yang kau minta, akan aku kasih. Kau bisa foya-foya, bermain dengan perempuan cantik dan seksi. Beli-beli apa saja yang kau mau. Hanya dengan kau serahkan istrimu buat tidur denganku saja. Tidak berat, kan?" Albert menyeringai.


Amarah Aliando semakin berada di ujung tanduk.


Namun dia terus membuat pertahanan diri supaya emosinya tidak meledak saja.


Aliando tidak akan pernah membiarkan Nadine disentuh oleh lelaki lain! Tidak akan pernah!


"Jadi, kau tetap enggak mau? Menyerahkan istrimu?" Tanya Albert lagi dengan sebelah alis terangkat. Memastikan kembali.


"Tidak akan! Mau ditawari uang berapa banyak pun! Saya tetap tidak akan menyerahkan istri saya kepada Anda!" Jawab Aliando dengan tegas.


Albert menghembuskan nafas.


"Baik lah. Kalau kau tidak mau. Maka, aku akan memecatmu, Al." Albert menyeringai. Kembali meneguk minuman alkhoholnya dengan santai.

__ADS_1


Aliando membelakakan matanya. Sempat diam mematung untuk beberapa saat.


Terkejut begitu mendengar jika dia sampai kehilangan pekerjaan hanya karena ia tidak mau memberikan istrinya kepada Bossnya!


Sial!


Bukannya menemukan jalan keluar atas masalah yang sedang ia hadapi saat ini, ia malah menemukan masalah baru.


Tapi sudah lah. Lebih baik ia harus kehilangan pekerjaan, daripada harus menyerahkan istri sendiri kepada lelaki lain.


Soal ia yang akan bekerja apa nanti, akan ia pikirkan nanti saja.


"Baik jika Anda ingin memecat saya. Saya terima. Saya akan keluar dari pekerjaan ini!


"Dan saya enggak akan membiarkan siapa pun menyentuh istri saya! Kalau hal itu sampai terjadi, saya, tidak akan segan-segan menghabisi orang itu!" Jawab Aliando dengan tegas setengah mengancam.


Albert agak tersentak mendengar intonasi suara Aliando yang jadi keras dan berani mengancam dirinya.


Siapa dia? Kok berani sekali dia mengancam Boss besar seperti dirinya?


Sebenarnya Albert hanya mau mengetes Aliando saja. Ia ingin melihat respon Aliando akan seperti apa setelah dirinya mengatakan kalau ia akan memecatnya. Pasti Aliando akan bersedia menyerahkan istrinya kepadanya karena dia lelaki miskin. Pasti, dia sangat membutuhkan pekerjaan ini. Tapi ternyata tidak. Bahkan, Aliando rela kehilangan pekerjaanya demi sang istri.


Tapi Albert akan memberikan Aliando waktu untuk berfikir.


"Kalau kau berubah pikiran, kamu bisa ke sini lagi, Al!" Seruan Albert membuat langkah Aliando terhenti sesaat. Terdiam.


"Enggak akan!" Jawab Aliando setelah terdiam sebentar sambil menoleh ke belakang demi melihat wajah Albert yang menyebalkan itu sebelum kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari ruangan.


Sementara Albert berdecih, menyeringai, ia yakin sekali jika Aliando akan berubah pikiran.


***


Aliando langsung pulang setelah tahu dia telah dipecat.


"Loh, kok jam segini kamu sudah pulang, Al?" Tanya Kinanti yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga. Tengah menonton TV.


"Iya, Ma karna aku sudah dipecat dari tempatku bekerja." Jawab Al dengan suara lemah.


Seketika Kinanti membelalakan matanya. Menatap Aliando dengan cepat. "Apa? Kamu dipecat?!"

__ADS_1


Aliando mengangguk lemah. Kemudian, menjelaskan mengenai kejadian tadi.


"Jelas aku enggak mau, Ma. Aku rela dipecat daripada membiarkan Nadine disentuh oleh lelaki lain. Aku enggak terima, Ma!" Jawab Aliando dengan nada yang masih menahan marah.


Namun respon Kinanti malah sinis sekali.


Tak tersentuh sama sekali begitu mendengar apa yang dilakukan oleh menantu sampahnya itu.


Kinanti malah berdecih, melipat tangan di depan dada. "Aduh...jangan terlalu percaya diri kamu, Al. Nadine itu enggak butuh pangeran pelindung seperti kamu. Asal kamu tahu saja ya. Sebentar lagi, dia juga akan menceraikan kamu! Dan dia akan menikah dengan lelaki tampan dan kaya raya. Mengerti?!"


Tiba-tiba Nadine muncul yang membuat Aliando dan Kinanti menoleh ke arahnya.


Dia sempat mendengar penjelasan Aliando tadi.


Jadi, Aliando rela kehilangan pekerjaan hanya karena dirinya?


Astaga. Benar kah itu?


"Jadi, kamu rela dipecat hanya karena aku, Al?" Tanya Nadine sambil berjalan mendekat. Meminta penjelasan kepada suaminya.


"Jangan percaya sama omongan dia, Nad. Dia cuma mau sok melindungi kamu. Biar kamu simpati, terus luluh deh. Dia itu cuma mau cari perhatian aja sama kamu. Jadi jangan dipercaya omongannya." Kinanti buru-buru menyadarkan Nadine. Tidak mau Nadine percaya dan luluh dengan Aliando.


Aliando menghela nafas. Tidak paham dengan Kinanti. Sudah pasti jika apa pun yang dirinya lakukan, serba salah dimatanya.


"Itu benar, Nad. Aku enggak berbohong. Walau aku tahu...kamu enggak mencintaiku...tapi...aku benar-benar tidak rela kalau sampai hal itu terjadi! Dan aku enggak akan pernah membiarkan kamu disentuh oleh lelaki mana pun!"


Aliando tidak peduli. Mau Nadine percaya atau tidak. Yang penting, dia sudah mengungkapkan kesungguhannya.


Nadine tersentak. Terdiam. Tidak membalas apa-apa. Tengah mencerna ucapan Aliando.


Sehabis berkata, Aliando berjalan menuju kamarnya meninggalkan ruang keluarga.


Sementara Nadine masih mengamati Aliando sampai tubuh suaminya itu hilang dari balik pandangan.


Dia masih mencoba mencerna apa yang barusan suaminya itu katakan.


***


Di dalam kamarnya, Aliando mendapat panggilan masuk dari Dika, sahabatnya dulu ketika SMA.

__ADS_1


"Datang ke The Clouds saja sini, Al. Aku akan membantumu."


"Oke-oke, Dik. Aku akan segera ke sana!"


__ADS_2