Calon Imam Ku

Calon Imam Ku
Episode 37


__ADS_3

Fira celingukan mencari keberadaan kedua putranya." Faeyza, di mana Zein dan Tanvir?"


" Ibu, mas Zein mengantarkan Tanvir ke rumah sakit. Kata Tanvir, kepalanya sakit setelah mendapat jitakan dari mas Zein," jelas Faeyza.


"Apa?" Fira terkejut mendengarnya, ia mengepalkan tangannya marah dan kecewa.


" Zein itu apa tidak tahu kalau itu sangat bahaya?! Bagaimana nanti kalau sampai Tanvir geger otak, aku harus memberinya pelajaran kalau dia sudah pulang. Masak memukul Adiknya sampai masuk rumah sakit," omel Fira.


Fira takut kalau sampai mertuanya itu menghukum Suaminya, dia melihat dengan jelas kalau pukulan Zein juga tidak terlalu keras, jadi tidak akan mungkin sampai geger otak.


Tak lama kemudian, sebuah mobil maybac hitam berhenti di halaman rumah. Di dalam mobil itu, Tanvir dan Zein. Tanvir memperhatikan saudaranya, pria itu masih terlihat kurang sehat tapi suka sekali memaksakan diri.


" Kak, kalau Kakak masih sakit, kita ke rumah sakit saja. Kakak jangan memaksakan diri lagi," kata Tanvir tidak tega.


" Mana ada, kau bahkan sudah memasang perban bohongan di kepala mu. Lagi pula ... Sudah berpenampilan seperti ini, masak harus kembali ke rumah sakit." Zein memperhatikan penampilannya, jubah putih kesukaannya serta syal merah melingkar di lehernya, tak lupa surban putih di kepalanya.


" Kakak sangat mirip pak ustad," cibir Tanvir.


" Sudalah, Kakak mohon kamu jangan bilang ini pada Faeyza dan Ibu. Mereka akan khawatir kalau tahu kondisi ku yang sesungguhnya," pinta Zein.


" Iya, iya. Ya sudah ayo kita keluar, tapi aku harus pura-pura sakit." Tanvir membuka pintu mobilnya, ia turun dari mobil dan pura-pura memegangi kepalanya.


Zein juga turun dari mobil, ia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, berusaha agar tidak ada yang menyadari kalau dirinya tidak sehat.


Pria itu merapikan penampilannya, lalu berjalan menuju Adiknya."Tanvir."


" Ah, Kak Zein. Kepala ku pusing sekali." Tanvir mulai bergaya, ia bahkan sok-sokan meringis kesakitan.


Fira langsung menghampiri keua putranya, ia menatap Zein murka.


Plak ...


Tanvir dan Faeyza terbelalak melihat Fira menampar Zein dengan sangat keras, tapi pria itu hanya diam saja tidak mengatakan apapun atau melawan.

__ADS_1


" Kamu mikir tidak si?! Kamu memukul Adikmu sampai masuk rumah sakit, bagaimana kalau sampai Tanvir tidak selamat?!" Amuk Fira.


" Maaf, Ibu. Zein tidak bermaksud melukai Tanvir, hanya saja ..." Dia tidak melanjutkan ucapannya.


" Hanya saja apa?! Hanya saja kamu ingin membunuhnya! Karena kamu cemburu?! " Fira semakin tidak karuan, dia terus marah dan emosi.


" Ibu, sudalah jangan marai Kakak terus. Aku tidak apa-apa kok, dokter bilang aku baik-baik saja," sela Tanvir tidak tega melihat saudaranya yang kelewat lembek itu terus dimarahi.


" Kamu tidak usah membela Kakakmu, yang salah tetap harus dihukum!" Fira tetap kekeh seperti orang kerasukan setan.


" Mizuno! Berikan Zein pukulan 20 kali!"


Faeyza terkejut dengan perintah dari Fira, ini bukan zaman dulu yang harus memberikan hukuman sekeras itu. Ia berlari menghampiri sang Suami lalu memeluk lengannya." Jangan, Ibu. Maz Zein tidak memukul Tanvir dengan keras, kepala Tanvir juga tidak sampai berdarah."


" Iza, sudah tidak apa-apa. Mas akan baik-baik saja, menyenangkan orang tua itu juga dapat pahala. Yang terpenting tidak menyakiti hati orang lain," kata Zein meminta pengertian.


" Mana bisa begitu, kak." Tanvir tidak akan bisa membayangkan dengan kondisi Zein yang begitu lemah akan sanggup menerima hukuman sangat keras begitu.


" Tanvir, tidak apa-apa. Memang tadi aku memukulmu, sudah biarkan Mizuno menjalankan tugasnya." Zein mulai berlutut dan siap menerima hukuman.


Mizuno mengambil papan kayu, sebenarnya dia tidak tega melakukannya. Ia sangat tahu kalau pria selembut Zein tidak akan mungkin melakukan hal akan membahayakan orang lain.


Blak ...


Blak ...


Blak ...


Zein mencengkram celananya menahan nyeri di dadanya saat papan kayu tersebut mendarat di punggungnya berkali-kali.


Faeyza menangis tak tega melihat Suaminya disiksa seperti itu." Ibu, tolong hentikan. Jangan sekejam ini pada mas Zein, aku melihat sendiri kalau jitakan mas Zein tidak terlalu kuat," mohonnya sambil bersimpuh di samping sang Suami.


Tak lama kemudian Maulana datang, ia heran melihat di depan pintu rumahnya terlihat ramai. Dia melangkah kaki, matanya menajam saat melihat putra pertamanya harus dipukuli seperti itu.

__ADS_1


Pria 60 tahun itu langsung merebut papan kayu dari tangan Mizuno dan melemparkannya ke sembarang arah." Apa yang kalian lakukan? Menyiksa orang."


" Paman, aku hanya memberinya hukuman ringan. Zein memukul Tanvir sampai masuk rumah sakit," jawab Fira membela diri.


Maulana mendekati Istrinya, ia menatap wanita itu kecewa dan terluka." Sayang, Zein tidak akan melakukan itu. Kamu lihat wajah anakĀ  kedua mu? Dia tidak terlihat seperti orang yang sakit, tapi putra pertama mu justru akan mati kalau kau terus menyuruh orang memukulnya."


Fira ketakutan, nada bicara Suaminya memang tidak membentak tapi tetap saja itu terasa menakutkan." Paman."


" Diam! Kalau kau ingin menghukum orang, pastikan dulu seberapa besar kesalahannya! Mulai sekarang, aku tidak mengizinkan mu memberi hukuman apapun pada kedua anak ku. Kau juga tidak perlu lagi keluar dari kamar mu sampai kau menyadari kesalahan mu." Maulana merasa bersalah karena tidak datang di saat yang tepat, sekarang Istrinya bahkan melakukan sesuatu yang sangat tega.


Fira menangis, ia langsung membalikkan badan dan berlari masuk ke dalam rumah.


Uhuk ...


Uhuk ...


Zein terbatuh keras." Mas, mas baik-baik saja?" Tanya Faeyza khawatir melihat kondisi Suaminya.


Maulana dan Tanvir juga memberi perhatian penuh pada pada pria itu." Kak Zein, apa kita perlu ke rumah sakit?" Tanya Tanvir khawatir.


Zein melihat darah yang tertinggal di telapak tangannya, pria itu batuk darah." Tidak usah, aku baik-baik saja." Dia sedih karena Ibunya selalu bersikap kasar padanya saat sedikit saja ia menyentuh Tanvir.


Maulana membantu buah hatinya untuk berdiri." Zein, maafkan Ibu mu ya. Ayah juga datang terlambat."


" Tidak apa, Ayah. Aku baik-baik saja, aku masuk dulu. Ayah juga jangan keras-keras pada Ibu, Ibu ketakutan," balas Zein sopan.


Faeyza membantu Suaminya berjalan, tidak tega sekali melihat apa yang terjadi barusan. Selalu saja pria itu tidak melawan dan membiarkan saja orang terdekatnya melukainya.


" Tanvir, apa kata dokter? Apakah Kakak mu baik-baik saja?" Tanya Maulana.


Tanvir terkesiap, ia menoleh pada Ayahnya." Ayah tahu kondisi Kak Zein?" Tanyanya memastikan.


" Benar, Ayah sangat tahu. Zein mungkin bisa membohongi orang, tapi tidak dengan ayah. Zein terlalu lembek kalau pada kalian, dia mengingatkan Ayah saat Ayah masih muda. Ayah rela tersaki demi kebahagiaan Nenek mu, rasanya aku seperti mengulang kembali kejadian itu," kata Maulana sendu.

__ADS_1


Tanvir hanya diam memandangi Ayahnya, dia tidak tahu kakau sang Ayah pernah mengalami hal semacam itu.


__ADS_2