
percakapan saya sama jonathan dan indah di masalalu
jonathan dan indah mungkin menyadari atau mungkin tidak. Kebahagiaan di dalam cinta bisa mengalir begitu saja. Setiap objek bisa menjadi indah dalam imajinasi mereka. Mereka mengarang cerita dari sesuatu yang tak ada. Mereka mengkhayalkan dirinya sebagai singa dan koala yang berjumpa di hutan belantara. Mereka membayangkan sebuah kahyangan.
Mereka bisa membayangkan apa saja di dunia ini. Bahkan mereka membayangkan perjumpaan yang hanya akan berlangsung selama tiga hari sebagai perjumpaan selamanya.
Kamu tahu apa yang aku rasakan saat kehilangan kamu? Aku kehilangan dongengan-dongengan yang kita buat.
Gerimis baru saja menyentuh bumi. Mengusik pasangan muda-mudi untuk mencari tempat-tempat yang teduh. Tapi gerimis tak benar-benar hendak mengusik kebahagiaan mereka. Tak lama kemudian, setelah beberapa tetes terakhir mengetuk dan membasahi bumi malam itu, gerimis memilih tak datang lagi.
jonathan dan indah sudah duduk kembali di kursi yang tersedia di sepanjang trotoar di titik nol kota itu. Mereka berdua baru saja datang dari alun-alun kota menyaksikan malam, menyaksikan keindahan-keindahan.
__ADS_1
Kadang mereka tertawa lucu melihat beberapa orang dengan matanya ditutup berjalan ke arah suatu pohon yang dipercaya memiliki kekuatan mistis. Mereka tidak mencobanya. Dalam hati juga ada perasaan takut jika mereka gagal mencapai pohon itu. Mereka tidak ingin merebut kebahagiaan melalui percobaan itu. Mereka akan melakukan sebaik mungkin untuk meraih kebahagiaannya dengan caranya sendiri.
jonathan memandang indah Perempuan itu melanjutkan:
“Aku merindukan kata-kata yang gila, yang mengalir begitu saja. Kamu membawaku ke dunia yang tak benar-benar ada. Tapi aku suka. Bukankah perjumpaan-perjumpaan kita semula menjadi mesra dalam dialog yang tak pernah buntu oleh cerita-cerita?”
Lelaki itu masih terus diam sambil menatap gerak bibir perempuan di depannya, gerak bibir yang tak tahan untuk tak mengungkap segala kerinduan hatinya pada segala yang menyangkut kenangan. Lelaki itu menduga-duga: bila cerita tentang kenangan diulang-ulang dalam perbincangan, ada kemungkinan dia ingin mengulang lagi tentang cerita-cerita lama itu.
Tetapi lelaki itu tetap diam.
Seorang pengamen berjalan di depan mereka. Menyanyikan sebuah lagu sembari berlalu begitu saja. Tapi mereka dapat mendengar sepenggal lirik yang diiringi gitar: too much love will kill you…
__ADS_1
Pernah ada sebuah cinta yang takarannya begitu banyak dan berlebihan barangkali, dan itu membuatnya terikat kuat hingga lupa bahwa cinta bukanlah sesuatu yang abadi. Oh mungkin cinta bisa abadi, tapi kamu atau dia bisa pergi.
“Kamu benar-benar seorang petualang dalam dongeng-dongeng yang tak pernah usang dalam diriku. Jangan-jangan kamu bukan menulis cerita tapi mantra?”
“Aku menulis cerita”, bantah Nakula.
“Kamu menulis mantra dan aku dibuat tak bisa pergi darimu”.
“Aku bukan dukun. Aku hanya menulis cerita”.
“Aku tidak percaya. Katakan itu bukan cerita tapi mantra. Oh jangan-jangan, kamu bungkus sebuah mantra seperti sebuah cerita?”.
__ADS_1
Dan perempuan itu terus menuduh lelaki itu sebagai penulis mantra bukan cerita.
“Sekarang yang gila siapa? Yang tidak bisa membedakan mantra dari cerita biasa?”