Cerita Masalalu

Cerita Masalalu
percakapan masalalu


__ADS_3

"Mereka akhirnya tertawa"


Setiap hari dan malam, mereka habiskan untuk berjalan dari satu tempat ke tempat lain di kota itu. Mereka mengunjungi tempat-tempat yang menurut mereka menyenangkan. Mereka ingin menyenangkan hatinya sebelum perpisahan.


“Apa yang kamu rasakan dari sebuah perpisahan?”


Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari jonathan Kedua matanya menumbuk indah Dia menunggu sebuah jawaban dari lelaki itu.


“Keindahan”.


“Kamu menutup diri. Kamu tidak jujur. Kamu terlalu takut untuk diketahui kesedihanmu”.


“Aku membayangkan kebahagiaan. Aku merekayasa kenyataan dengan lukisan khayalanku yang menyenangkan. Aku membayangkan perpisahan sebagai sebuah seni pembunuhan yang tak mematikan”.


indah merasakan sakitnya perpisahan. Dulu dia tidak mengerti bagaimana kerja sebuah perpisahan. Dia membayangkan sesederhana mungkin: perpisahan adalah sebuah hal biasa yang tak perlu mengundang derita. Atau dia membayangkan: waktu memiliki caranya sendiri untuk mengobati. Tapi lain sekali apa yang digagahkan pikiran dan dirasakan perasaan mana kala dia sendiri merasakannya. Dia benar-benar tengah berjuang untuk melupakan.


“Kamu membayangkan aku sebagai pembunuh?”.

__ADS_1


“iya. Tapi aku tak mati”.


“Bukannya itu menyenangkan: dibunuh tapi tak mati?”


“Seseorang kadang berpikir kematian adalah jalan pembebasan saat kehidupan menanggung beban berat penderitaan”.


“Bagaimana kalau aku membayangkan aku juga sedang bunuh diri?”


“Itu kebodohan yang tak perlu dimaafkan”.


“Tapi aku tak kan berhenti. Kamu pernah bilang: untuk membunuh kenangan, rajutlah masa depan. Maka, aku mengikuti saran-saranmu. Aku mula-mula membayangkan tentang kehadiran perempuan-perempuan lain. Lalu sebuah keberanian atau kegilaan imajinasi membawaku pada tindakan-tindakan nyata”.


Apa?”


“Kamu mencari seseorang yang lain? Kamu ingin meninggalkanku?”


Lati jadi gelisah. Ada marah yang tak dapat tertahan dan jadi nampak pada wajahnya. Tapi lelaki itu tidak peduli. Dia ingin berbicara jujur di malam itu.

__ADS_1


“Dengarkan aku. Aku bermain-main kata dengan siapa pun? Beberapa di antaranya membalasku. Ada yang mengimbangi kegilaanku. Ada yang tertahan dengan perasaan malu. Tetapi aku tak peduli. Aku hanya ingin berbahagia. Kadang aku butuh kebahagiaan yang tak perlu punya alasan”.


“Kamu gila”.


“Iya aku gila. Dan jangan hentikan aku berbicara jujur”.


Lelaki itu menatap perempuan itu dengan sebuah isyarat. Perempuan itu mengiyakan.


“Seperti aku merayumu”, lelaki itu melanjutkan,“kata-kata selalu menjadi cara yang menarik. Mungkin karena aku tak punya cara lain. Jadi itu terlihat sebagai cara paling asik. Dan salah seorang dari mereka, seseorang yang semula begitu cuek, akhirnya mulai akrab denganku. Aku merasakan kita mulai asik. Aku ajak dia untuk belajar menulis karena aku tau dia menyukai sastra tapi tak bisa menulis. Aku ajak dia memulai dengan catatan harian. Aku bilang aku siap untuk mengajarinya tiap hari dan dia setuju dengan masih malu. Aku bilang: sia-sia malu kepada orang gila. Dan dia hanya tertawa”.


“Kamu mencintainya?”


“Cinta?”


indah membayangkan tentang sebuah harapan di masa lalu. Sesuatu yang dia rajut secara perlahan dari perkenalan. Dia pupuk dengan memberinya kebahagiaan-kebahagiaan kecil. Dia penuhi permintaan-permintaannya. Dia bersedia jadi tempat untuk bermanja ria atau menampung keluh kesahnya. Dia pikir itu adalah sebuah perjuangan untuk sebuah harapan yang dia namai cinta.


Tapi toh akhirnya dia juga sadar atau lebih tepatnya disadarkan oleh kenyataan. Perjuangan-perjuangan itu tak benar-benar mempunyai kekuatan. Apa yang dia tanam dalam perjuangan itu tak dapat dia petik dalam kebahagiaannya.

__ADS_1


__ADS_2