Cerita Masalalu

Cerita Masalalu
percakapan masalalu


__ADS_3

“Kamu menanyaiku tentang sampah? Jangan bercanda. Itu terlalu kotor untuk sebuah keindahan permainan kata-kata”.


indah merasakan dalam dirinya sesuatu yang lain. Entahlah apa itu namanya. Tapi ia merangsang suatu kemarahan yang bisa meledak jika tak ia kendalikan dengan kembali menurunkan tensi emosinya.


“Jawab saja. Kamu jatuh cinta?”.


“Aku suka”.


“Kamu ingin serius dengannya?”


Lelaki itu memandang sari dan mengulangi pertanyaan perempuan itu: “serius?”


Perempuan itu mengangguk. Nakula akhirnya tertawa sebentar. Ada terdengar kesan mengejek tapi juga kecewa pada pilihan kata itu: serius. Kata yang pernah singgah dalam dirinya dalam satu momen tertentu dan kemudian dihancurkan dalam momen yang lain. Kini kata itu muncul lagi melalui Lati, perempuan yang dianggap memberi cacat pada kata itu.


“Kamu mengajarkan aku permainan bukan keseriusan”.

__ADS_1


Dia masih dapat mengingat saat perempuan itu meminta agar dirinya tak perlu membebani hubungan mereka dengan sebuah keseriusan. Dia juga mengingatkan bahwa mencintai yang terlalu dalam mengundang penderitaan. Dia menceritakan dirinya saat terjatuh lalu harus bangkit. Sesuatu yang sangat sulit. Tetapi indah saat itu tidak percaya. Dia memilih tidak peduli. Setiap orang punya jalan cerita yang berbeda.


Hanya pengalaman terjatuh yang membuat harapannya reda. Dan mulai saat itu, pikirannya jadi gaduh dengan cercaan pada kata ‘komitmen’. Kata-kata itu menjadi sampah. Dia bahkan memandang semua perempuan sebagai sama. Dalam pikiran jahat dan kegilaannya, dia ingin sekali berbahagia dengan perempuan-perempuan mana pun tanpa perlu diikat oleh sesuatu yang kecil dan sepele: cinta. Dia ingin suatu ikatan yang tanpa perlu saling merasa tersakiti jika harus mengakhiri atau tanpa perlu merasa kehilangan jika putus ikatan.


“Aku sekarang membayangkan bagaimana indahnya jika aku menjadi petualang yang sesungguhnya. Aku bisa singgah di satu dahan lalu mencari dahan yang lain. Petualangan yang indah. Aku bisa menemukan banyak perempuan yang rela berbagi bahagia denganku. Lalu pergi. Lalu kita berbagi bahagia lagi. Lalu pergi mencari yang lagi”.


Sebuah jeda memberinya jalan untuk Nakula mengambil nafas, menenangkan gejolak emosi. Dia tidak sadar, pilihan kata yang dia tuturkan mengundang banyak energi. Dia terjebak pada marahnya sendiri. Dia tak sadar kata-kata yang dituturkannya begitu mantap dan kuat. Tak ada yang dia tutupi dari pikirannya yang gila. Sesuatu yang lahir dari luka, dari harapan yang tak datang.


“Jika itu yang kamu maksudkan, aku tak membantah. Aku sedang merencanakan itu. Aku ingin mencari kebahagiaan dengan cara yang lain. Aku ingin mencari seseorang yang tak menuntut ikatan-ikatan”.


“Jahat. Itu jahat sekali. Bagaimana kalau perempuan itu jatuh padamu?”


“Kamu menyakiti orang-orang yang tak bersalah”.


“Aku hanya membantu dia mengerti begitulah resiko mencintai”.

__ADS_1


“Kamu tidak perlu melakukan itu kepada orang lain, dia tidak perlu menanggung kesalahan kita”.


“Anggaplah ini hukum alam. Jika dia berani mengambil resiko demi menerima kebahagiaan, dia juga tak kan luput dari penderitaan”.


“Mengapa kamu jadi begini jahat? Mengapa kamu tidak mengendalikan keliaran pikiranmu?”


Lati menangis. Kata-kata yang jujur dan begitu kuat dari Nakula melukai hatinya. Satu sisi dia merasa bersalah telah meragukan sebuah kesetiaan. Dia tidak menyangka itu bisa menyakitkan sekali. Dia rasa dia akan mudah memaafkan sesuatu yang pernah terjadi. Lelaki itu memang tidak menuntut apa-apa untuk kembali, tetapi dia telah merencanakan kejahatan dalam pikirannya. Hasrat dari kegilaannya menggebu-gebu. Dia benar-benar menunjukkan sisi jahat dari seseorang yang terluka.


“Jika yang aku lakukan adalah kejahatan, itu artinya aku lelaki baik yang sedang belajar menjadi jahat. Aku telah memikirkan dengan segala kesakitan yang kuderita bahwa cara terbaik untuk bahagia adalah melakukan hal yang sama pada orang lain”.


“Jika kamu menganggap masa lalu itu jahat, kamu seharusnya tak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan …”.


“Sebaiknya kamu diam. Aku tak perlu mendengar orang jahat yang tiba-tiba bicara kebaikan”.


Perempuan itu akhirnya diam. Di hadapannya, bukan seorang manusia. Ia hanya sebongkah batu yang menjelma seorang lelaki. Dia kini kian menjadi keras. Perjumpaan yang dirahasiakannya sebagai momen untuk membenahi hubungan mereka seperti susah. Kebuntuan yang diperbesar oleh pagar ego masing-masing semakin menjauhkan harapan dari kenyataan.

__ADS_1


Tapi perempuan itu tak dapat menyembunyikan kejujurannya: dia menyukai lelaki itu biar pun kini ia lebih tampak sebagai batu. Begitu keras.


Lati meyakini segalanya nanti akan menjadi baik. Dia hanya tak ingin buru-buru. Sebagaimana perpisahan menyisakan kesedihan dan kerumitan, maka perjumpaan juga menemui kerumitannya sendiri. Dia menyadari percobaan-percobaan untuk kembali bukanlah barang jadi. Ia sebuah proses yang butuh kesabaran satu hati untuk meyakinkan hati yang lain.


__ADS_2