Cerita Pengantar Tidur

Cerita Pengantar Tidur
Putri Purnama


__ADS_3

Alkisah pada zaman dahulu kala, di tanah Nusantara, hiduplah sepasang suami istri yang telah lama mendambakan kehadiran buah hati. Mereka telah berdoa siang malam, tetapi tak satupun doa tersebut dikabulkan. Hingga suatu hari seorang pertapa raksasa bernama Buto menawarkan bantuan kepada mereka. Buto akan berdoa kepada Dewata agar suami istri tersebut diberi anak, tapi dengan sebuah syarat, setelah anak tersebut berusia sepuluh tahun maka Buto akan datang menjemputnya. Pasangan tersebut setuju dengan syarat dari Buto. Sembilan bulan kemudian, saat bulan bersinar penuh di langit, sang istri melahirkan bayi perempuan. Dinamakanlah bayi tersebut Purnama, sesuai dengan waktu kelahirannya.


Purnama tumbuh menjadi anak perempuan yang manis, cerdas, lincah, dan patuh pada orang tua. Kedua orang tuanya sangat menyayangnya. Seminggu lagi Purnama genap sepuluh tahun. Orang tuanya menjadi ragu bahkan takut untuk menyerahkan Purnama kepada Buto sebagaimana kesepakatan mereka dahulu. Lalu mereka mendatangi seorang mbah guru yang terkenal sakti. Mereka menceritakan segalanya. Oleh mbah guru, mereka diberi sebuah bungkusan kecil.


“Perintahkanlah Purnama lari saat raksasa Buto datang. Berikan pula buntelan ini padanya,” begitu pesan mbah Guru.


Hari perjanjian pun tiba. Menjelang malam terdengar bunyi gemuruh gempa. Makin lama getarannya makin membesar. Itu adalah derap langkah Buto yang mendekati tempat tinggal Purnama.


“Purnama, kamu harus lari, Nak! Buto telah datang. Jangan pedulikan Simbok dan Bapak. Ia hanya mencarimu,” gemetar suara ibu Purnama meminta anaknya pergi. Ditahannya tangis yang sudah di ujung kelopak matanya. Rasa panik mengalahkan segalanya. Purnama masih kebingungan melihat sikap orang tuanya.


“Tapi kenapa Purnama harus pergi meninggalkan bapak dan simbok?”


“Ceritanya panjang, Nak. Intinya raksasa bernama Buto ingin menangkapmu. Cepatlah lari. Pergunakanlah isi dalam buntelan ini jika kau hampir tertangkap,” kata simbok sambil menyeret tangan Purnama mendekati pintu belakang. Diangsurkannya bungkusan kecil dan sabit kecil ke tangan Purnama.


“Larilah, Nak…” tubuh ringkih bapaknya mendorong Purnama keluar.


Hutan di belakang gubuk menjadi titik aman pertama. Segera Purnama berlari ketakutan. Tangan kanannya memanggul bungkusan kecil, sementara tangan kirinya berayun-ayun menebas batang tanaman yang menghalangi langkahnya.


“Huaha.. ha… ha.. ha…. Jangan kabur, Anak manis. Kemana pun kau berlari, tetap saja kau akan tertangkap. Kedua orang tuamu telah binasa… hua.. ha.. ha.. ha….” Suara Buto terdengar menggelegar di antara rerimbun daun jati dan cendana. Gelegar suara tersebut membuat Purnama merasakan seolah-olah Buto telah sangat dekat, telah menangkap bayangannya, padahal dia sudah masuk jauh di tengah belantara.


“Celaka! Bagaimana aku bisa melewati lembah ini?” gumam Purnama. Selubung jaritnya telah basah oleh keringat. Nafasnya tersengal-sengal. Dia teringat pesan simbok, jika menemui jalan buntu, maka ia harus membuka bungkusannya. Dengan rasa gugup yang mengepung, sambil terduduk. Tangan kecil Purnama cekatan membuka anyaman kain pembungkusnya.


“Hah.. apa ini?!” Beriring kekagetannya, isi buntelan itu terhampar di depannya. Batang rebung sangat pendek, berhulu hilir runcing, sepotong terasi, sebuah bakal biji pohon, dan sebuah telur ayam. Segera disusunnya kembali isi buntelan yang tadi terhambur.


Kraaak… bruuam… buummm, terdengar menggelegar. Sekarang sosok Buto terlihat jelas di depan Purnama. Sosok yang nampak beringas dengan dua taring besar tajam keluar dari mulutnya. Pepohonan besar nampak bagai belukar rerumputan yang begitu mudah diobrak-abrik oleh Buto.


“Hua.. ha… ha… mau kemana lagi kau, Cah Ayu? Sudah waktunya, Nduk. Sudah waktunya kau menjadi santapanku. Kedua orang tuamu telah ingkar janji. Maka bersiaplah, Nduk… hua.. ha….” Tanah bergetar bersamaan dengan gelegar suara Buto.


Purnama dicekam kengerian. Air matanya makin deras keluar. Ia kebingungan, tak tahu harus melakukan apa. Getaran langkah Buto yang serupa gempa makin menghebat. Badan Purnama terguncang hebat bersama buntelannya. Pikirannya pun guncang. Tiba-tiba ia teringat pesan ibunya untuk menggunakan isi dalam buntelannya jika ia dalam kesulitan. Diraihnya benda yang mudah terjangkau tangannya. Batang rebung. Tak mau kalah dengan derap langkah Buto, Purnama melemparkan batang rebung itu. Namun terlambat, sosok Buto telah nampak di hadapannya.

__ADS_1


“Hua..ha..ha..ha… Kau melempar apa, Cah Ayu? Kayu…?” diraihnya batang rebung yang dilempar Purnama. Belum lama Buto menggenggam batang rebung itu tiba-tiba…


“Aduuhh..biyunngg…tobaat…,” teriak Buto kesakitan.


Ajaib. Batang rebung berubah menjadi sulur-sulur besar yang lama kelamaan membelit tangan Buto. Selain belitan yang kencang, Buto kesakitan karena dari sulur tersebut muncul ranting-ranting berduri tajam. Crasssh…darah muncrat seiring kuatnya hunjaman duri-duri setajam pisau.


Dbbuummm…kembali tanah bergetar. Kali ini guncangannya begitu keras. Belitan sulur berduri telah mengurung Buto, memaksa tubuhnya tumbang.


Melihat Buto yang terkurung, pelan-pelan keberanian menyelinap di hati Purnama. Kepanikannya sirna seketika. Cepat-cepat ia bangkit. Tubuhnya masih limbung.


“Aku harus cepat lari lagi,” batinnya.


Buto memang sedang bergulat dengan kerangkeng yang terus menjalar membelit, tapi Purnama tahu raksasa itu pasti segera terbebas. Amuk Buto lebih beringas daripada belitan sulur tajam yang menghadang.


“Heeeiii…. jangan lari kau, Nduk. Arrrgghh…,” kemarahan Buto makin menjadi-jadi bersamaan langkah Purnama menuruni tangga alam berupa bebatuan berundak. Buto tak menyangka anak itu menemukan jalan untuk kabur. Kabur dengan bantuan alam dan benda-benda ajaib.


“Weladalaah…. beruntung sekali kau, Cah Ayu. Awas kau… Grrrhhh,” geram Buto sambil terus bergumul dengan belitan-belitan yang menyesakkan.


“Aku harus lolos dari kejaran Buto,” batinnya.


“Kau tidak akan kuat, menyerah saja,” sisi lain hatinya mengatakan hal yang berbeda.


Seakan mendengar suara hati Purnama, Buto berhasil membebaskan diri dari belitan sulur berduri. Raksasa itu kini telah mendekati jurang. Ia tampak lebih menyeramkan. Darah hasil pergulatan dengan sulur-sulur tajam mewarnai seluruh bagian tubuhnya.


“Awas, Purnama! Kau telah melukaiku. Awas kau!! Buuum…. Buuum…,” langkah Buto mantap semantap gelegar ancamannya.


Gema langkah Buto beserta suaranya sesaat mengunci derap langkah Purnama, padahal dia sedikit lagi menyentuh tangga alam di dinding jurang.


“Gusti, lindungi hamba. Hamba takut, ” jerit batin Purnama.

__ADS_1


Seolah-olah mendengar doa Purnama, tanpa sepengetahuannya, terasi terlontar keluar dari buntalan. Lagi-lagi keajaiban datang. Terasi tersebut pelan-pelan berubah menjadi lumpur panas.


“Aw, sakit…. Hah, apa ini?” Hawa panas lumpur menyentuh kulit Purnama. Sontak, kesadaran untuk lolos dari Buto pulih kembali. Tanpa berpikir panjang, dia menaiki tangga alam.


“Cah Ayu, percuma kau lari. Tunggu aku…”


Purnama pun menaiki tangga alam dengan sekuat tenaga. Nafasnya terengah engah.


“Aaarrgghhh…..apa ini…?” Seru Buto melihat lumpur panas yang melebar di depannya.


Bluup… bluupp… bluup… Lautan lumpur panas kini menenggelamkan tubuh Buto. Erangannya susul-menyusul dengan bunyi letupan lumpur panas. Buto megap-megap. Gerakannya yang panik justru menimbul-tenggelamkan kepala raksasa itu.


Kepanikan juga melanda hati Purnama. Dia tak mau mati oleh lumpur yang lama-kelamaan menyusul langkahnya. Tersaruk-saruk langkahnya menaiki tangga alam. Batas jarit di pergelangan kaki kini berpindah di lutut, tapi tetap saja derapnya terhuyung-huyung. Lantai atas jurang sedikit lagi digapai. Tiba-tiba kaki kanannya dicengkeram oleh tangan yang kasar dan besar. Dingin. Wajah bocah bertambah pucat. Belum selesai menghabiskan nafas terengahnya, dia terjatuh.


“Hua..ha..ha..ha…ha….,“ tawa Buto terdengar begitu mengerikan. Namun keajaiban lagi-lagi datang. Bakal biji terjatuh terlebih dahulu ke bumi. Lalu, berubah menjadi pohon raksasa yang tumbuh sangat cepat. Purnama beruntung, ia langsung jatuh di atas dahan pohon paling atas dan langsung terbawa menuju langit. Buto terkejut melihat hal itu. Pohon itu tumbuh begitu cepat.


Purnama telah tak nampak dari pandangan matanya. Pohon itu telah membawa Purnama jauh ke atas, menembus awan. Amarah Buto telah mengubun-ubun setelah ia gagal dua kali menangkap Purnama.


“Kali ini aku harus berhasil menangkapmu, Cah Ayu!” teriaknya sambil mulai memanjat batang pohon itu.


Untuk sementara Purnama menarik napas lega. Sang raksasa jauh tertinggal di bawah. Pohon yang membawanya bergerak cepat ke atas hingga dia kini telah tiba di bulan. Anehnya, pohon itu berhenti tumbuh saat telah menyentuh bulan. Kali ini bulan tampak sempurna. Purnama takjub melihat bentuk bulan yang demikian besar dengan sinar yang kemilau. Hatinya damai. Untuk sementara ia melupakan kepanikannya usai dikejar Buto. Namun, itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba ia merasakan getaran pada pohon tempatnya duduk. Rasa was-was kembali menyergap. Tangannya refleks meraih benda terakhir dalam buntalannya, sebutir telur ayam.


Getaran makin kuat. Purnama mulai panik. Dilemparkannya telur ayam itu ke bawah. Telur itu melaju cepat hingga sampai ke bumi. Ajaib, telur itu lalu menetas menjadi ayam jago dewasa kemudian berkokok dengan sangat lantang, padahal hari masihlah gelap. Mendengar suara kokok ayam tersebut, bulan yang ditumpangi Purnama mengira hari sudah pagi, maka bulan tersebut segera menuju peraduannya untuk memberi kesempatan pada matahari menjalankan tugasnya.


Pergerakan bulan tersebut, membuat pohon tumpangan Purnama patah, sementara Buto sudah setengah perjalanan mendakinya. Patahnya pohon tersebut tidak disadari Buto hingga akhirnya pohon itu tiba-tiba oleng dan tidak sekukuh saat awal dia memanjatnya. Buto tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat pohon tersebut tumbang.


Bbuuum… terdengar bunyi menggelegar. Pohon dan tubuh Buto jatuh berdebam ke bumi. Batang pohon yang besar menindih tubuh Buto hingga tak bergerak. Buto tewas seketika. Sementara itu, Purnama juga terjebak di bulan. Meskipun selamat dari kejaran Buto, tetapi ia tak bisa kembali lagi ke bumi. Hal itu membuat Purnama bersedih hati. Ia berdo’a dalam hati agar ia bisa kembali ke bumi, namun sebuah suara berkata padanya.


“Purnama, terimalah takdirmu untuk tinggal di bulan. Ini sebagai pelajaran atas sikap orang tuamu yang ingkar janji. Kau selamat dari kejaran Buto, namun kau tidak bisa lagi kembali ke bumi tempatmu semula.” Tiba-tiba sang Rembulan berbicara.

__ADS_1


Purnama bersedih mendengar suara bulan itu. Ia hanya bisa menangis dan bersandar pada batang pohon yang membawanya ke langit. Ia merindukan warna-warni bunga, kepak sayap kupu-kupu yang bercumbu dengan mahkota-mahkota bunga, sejuknya embun pagi, juga hangatnya matahari. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa. Melompat dari pohon itu hanya akan membuatnya bernasib sama dengan Buto, maka Purnama pasrah menerima nasibnya. Berdiam di bulan. Maka sejak itulah pada permukaan bulan akan nampak lukisan pohon dan seorang perempuan yang duduk di atas pohon.


__ADS_2