
Dengan semangat yang menyala-nyala pasukan Kerajaan Bumi mulai mengerahkan seluruh kekuatan yang telah disiapkan dengan matang. Pasukan itu dipimpin langsung Maharaja Kerajaan Bumi. Semula serangan-serangan itu dapat ditahan oleh tentara Kerajaan Langit. Karena pasukan Kerajaan Bumi yang banyak dan peralatan perang yang lengkap, tentara-tentara Kerajaan Langit dapat ditaklukan. Mereka menyerbu masuk ke istana. Begitu mengetahui Tuan Putri sudah tak ada, marahlah Raja Bumi. Istana dihancurkan. Semua keluarga dihabisi. Begitu juga dengan Maharaja Langit dan Permaisuri.
Kekejaman pasukan Kerajaan Bumi tak sampai di situ saja. Bangunan yang ada dihancurkan. Tidak satu pun yang bersisa. Tak seorang pun yang bisa selamat dari serbuan mereka. Kerajan Langit hancur lebur tanpa sisa.
Tuan putri yang mendengar kerajaannya hancur menangis sedih, apalagi ketika dia tahu ayah, ibu, dan seluruh penduduknya dibunuh. Kesedihannya sungguh luar biasa. Ingin rasanya ia membalaskan dendam atas kematian ayahandanya tercinta, tapi apa daya dia hanyalah seorang perempuan dan tidak punya kekuatan apa-apa.
Sejak itu Tuan Putri berubah menjadi pemurung. Setiap hari ia hanya melamun dan mengurung diri di kamarnya sambil membuka pintu jendela. Ia sedih melihat kehancuran kerajaannya. Setiap hari ia termenung sambil melihat Bumi dari kejauhan. Inang pengasuh mencoba menghibur Tuan Putri dengan berbagai cara. Tapi sia-sia belaka. Tuan Putri selalu terkenang akan keluarganya. Ia ingin pulang ke Langit sekadar melepaskan kerinduan pada keluarga dan kerajaannya yang telah musnah. Penghiburannya sekarang hanyalah menatap Kerajaan Bumi yang telah menghancurkan istana ayahandanya.
Suatu kali ia melihat ada sekuntum bunga yang mekar di kejauhan sana. Bunga itu terlihat sangat indah, berkilau-kulauan diterpa cahaya. Tuan Putri ingin sekali memiliki bunga yang berada di Bumi itu, tapi ia takut kalau-kalau Maharaja Kerajaan Bumi mengetahui keberadaannya dan bersegera menculiknya.
__ADS_1
Keinginannya makin menjadi-jadi untuk memiliki kembang itu. Suatu kali ia meminta izin kepada inang pengasuh untuk turun ke Bumi dan mengambil bunga itu lalu bersegera kembali ke Bulan.
“Jangan turun ke Bumi, Tuan Putri. Apa jadiya nanti jika raja yang jahat itu mengetahui keberadaan Putri? Mereka tidak akan membiarkan Tuan Putri kembali lagi ke sini,” kata inang pengasuh menasehati.
“Tapi aku menginginkan bunga itu, Bi.”
“Bibi tahu keinginan Tuan Putri. Tetapi alangkah baiknya kalau bunga itu dibiarkan saja tumbuh di sana dan kita bisa melihatnya setiap hari dari sini. Apa yang tampak indah itu tak melulu sama ketika kita menyentuhnya.”
“Bagaimana kalau misalnya itu hanya tipuan dari Maharaja Kerajaan Bumi saja untuk mengundang Tuan Putri keluar dari persembunyian? Satu hal lagi, kita tidak akan bisa kembali lagi ke Bulan ini kalau sudah menjejaki kaki di Bumi, tempat di mana banyak banyak darah ditumpahkan itu. Ingat itu, Tuan Putri. Kamu tidak akan bisa lagi ke sini.”
Tapi Tuan Putri tampaknya bersikukuh dengan pendiriannya dan tak peduli dengan nasihat inang pengasuh. Keinginannya untuk memetik bunga yang terlihat indah itu makin menjadi-jadi. Suatu hari, tanpa sepengetahuan inang pengasuh, Tuan Putri turun ke Bumi untuk mengambil bunga itu.
__ADS_1
Tapi alangkah terkejutnya dia begitu mengetahui tak ada bunga di sana. Kelopak-kelopak indah dan mekar yang terlihat dari jauh itu hanyalah ampas tebu yang berserakan. Tiba-tiba sang putri merasa telah masuk ke dalam perangkap Maharaja Bumi. Ia takut sekali dan ingin segera kembali pulang ke istananya di Bulan.
Berkali-kali ia mencoba untuk terbang. Tetapi tubuhnya tak kunjung naik-naik juga. Ia sama sekali tak bisa mengawang. Ia ingat nasehat inang pengasuh bahwa dia tidak akan bisa lagi naik ke Bulan jika sudah menjejakkan kaki di Bumi.
Tuan Putri sedih sekali. Menangislah dia keras-keras. Dia merasa sangat takut, sebab sewaktu-waktu orang-orang akan melihatnya dan menyerahkan kepada Maharaja Kerajaan Bumi.
Tuan Putri kemudian memanjat sebatang pohon, dia berharap dari sana dia akan bisa terbang kembali ke Bulan. Tapi sayang, usahanya tak pernah berhasil. Setiap kali ia mencoba, setiap kali itu pula ia terjatuh. Dengan kesedihan yang bertambah-tambah dan ketakutan yang maha hebat ia terus mencoba dan selalu gagal.
Karena larut dengan kesedihan dan penyesalan yang luar biasa, makin lama tubuhnya semakin kecil. Ia tidak menyadari kalau tubuhnya mulai ditumbuhi sayap. Lama-lama sempurnalah ia menjadi seekor burung.
Maka setiap bulan purnama tiba ia akan selalu berbunyi sambil mencoba terbang dari satu dahan ke dahan lainya. Ia selalu teringat akan istana cantiknya di Bulan sana. Demikian juga dengan inang pengasuh, ia selalu duduk di bawah pohon beringin raksasa sambil menunggu kedatangan Tuan Putri. Setiap purnama tiba akan terlihat bayangannya dari Bumi.
__ADS_1
TAMAT