cerpen lengkap

cerpen lengkap
Beristirahat Dengan Tenang


__ADS_3

Malam ini adalah salah satu malam di musim hujan. Aroma tanah basah dan udara dingin masih mengudara. Sesekali angin berhembus tenang dan pepohonan bergemuruh bersamanya. Damai. Kueratkan kembali jaketku sambil kuhirup udara sedalam-dalamnya. Oksigen yang familiar terasa memenuhi paru-paruku. Saat kuhembuskan nafas dengan panjang, terbesit kembali. Andai ini nafas terakhirku.


“Kok bisa? Bagaimana ceritanya cucumu sampai ditemukan disana?”


Suara laki-laki itu membuatku menghentikan langkahku di depan rumah. Pak Murjito, teman Kakek. Untuk apa beliau menanyakan diriku? Ah, seperti kebanyakan orang. Beliau pasti penasaran tentang diriku yang menghilang selama 6 tahun, lalu muncul di tempat yang tak pernah diduga. Atau.. itu hanya sebuah bahan yang menyenangkan untuk dibicarakan. Aku tak tahu. Yang kuingat selalu, Kakek dan Nenek akan bercerita dengan penuh emosi, entah marah atau semangat, lalu ibuku, mantan menantu mereka, akan lebih terlihat buruk di mata semua orang. Aku menghela nafas. Entah sejak kapan aku mulai peduli pada omongan orang lain. Aku hanya benci nada simpati dari suara mereka setelah mendengar kisahku. Lalu dengan nada simpati menjijikkan lainnya, mereka akan memberiku nasihat yang, demi Tuhan, sudah ribuan kali kudengar.


Menghela nafas lagi, aku memutar langkahku. Entah kenapa rumah bukanlah tempat yang paling kuinginkan. Disana sepi. Hatiku sepi, hampa. Disana bukan terlihat seperti istana. Bukan pula sebuah tempat yang biasanya disebut sebagai surga oleh anak-anak lainnya. Bahkan aku merasa tak punya rumah. Tempat pulang dengan rasa aman dan penuh kerinduan. Tempat seorang anak mencurahkan rasa bangga dan lelah oleh petualangannya. Tempat penuh kenangan berwarna-warni yang menentramkan hati. Tidak. Tidak ada tempat seperti itu. Bahkan jika aku mati dan Tuhan menaruhku di surga-Nya.

__ADS_1


Aku menghentikan langkahku. Ah, kenapa aku jadi berpikir tentang kematian ya? Haha.. Aku tertawa pelan sambil mendongakkan kepalaku. Menengadah ke langit. Di sana mendung gelap sedang menggantung dan gerimis kecil masih tercurah untuk bumi. Aku menutup mataku perlahan. Alisku bertautan. Mana kedamaian yang sempat kurasakan tadi? Kenapa menghilang dengan mudah? Kenapa… Ah, Ayah, Ibu.. Kalian pasti bangga padaku sekarang. Karena sepertinya aku telah bisa menggunakan otakku dengan benar. Apa kalian tahu? Sekarang aku telah sadar, aku telah sendirian di dunia ini. Aku tak memiliki apapun. Bahkan kasih atau perhatian kalian. Aku dulu memang bodoh. Terlalu mudah ditipu oleh rasa bahagia sesaat ditiap kedatangan kalian yang tak pernah bersamamaan. Ayah, ibu, kalian adalah bayangan semu yang paling nyata dalam hidupku.


“Jika aku jadi kamu, aku pasti tidak kuat.”


Aku tersenyum mengingat komentar itu. Sudah banyak yang mengatakan itu padaku. Sejujurnya aku tidak butuh kalimat hiburan, atau kalimat apapun yang menunjukkan betapa malangnya diriku. Aku tidak ingin terlihat seolah aku yang paling tidak beruntung di dunia ini.


Biasanya aku akan tertawa jika diajukan dengan komentar itu. Lalu aku akan menjawab, “Ya, aku pasti sudah mati sejak lama jika aku tidak kuat.”

__ADS_1


Aku akan menatap orang itu. Tetap dengan tawaku yang tak pernah menyentuh hati. “Tentu saja, apa wajahku kelihatan seperti orang yang sendirian? Hahaha.” Lalu percakapan akan terhenti.


Aku kesepian, itu yang benar. Tapi aku takkan mengungkapkannya di wajah orang-orang. kesepian adalah waktu yang tepat untuk mematikan hati. Seperti malam-malam yang berlalu, aku akan menenggelamkan diriku lagi. Menenggelamkan hingga tak akan ada yang dapat muncul. Seperti seharusnya aku hidup selama ini. Di bawah hujan yang terlihat selalu menyegarkan.


Gerimis semakin deras. Kubiarkan diriku basah, sedikit mendinginkan hatiku. Sedikit menghapus air mata yang terlalu banyak telah kering di pipi ini. Membayangkan apakah orangtuaku pernah menangis untukku. Apakah mereka pernah sedikit saja berpikir bahwa seorang anak selalu menginginkan orangtuanya, atau jika Tuhan terlalu baik, apakah mereka pernah merindukanku?


Kudengar langkah seseorang mendekat. Aku membuka mataku dan tersenyum. “Kamu selalu tahu dimana harus menemukanku.”

__ADS_1


“Terlebih ketika kamu sedang memerlukan kegelapan.” Jawabnya.


Dia balas tersenyum padaku, merentangkan kedua tangannya, memintaku mendekat. Dan dengan senang hati aku mendekat dan memeluknya. Lalu membiarkan kegelapan menyelimutiku dengan kehangatannya. Esok hari akan menjadi hari yang damai untuk beristirahat. Ya, hariku yang damai.


__ADS_2