
Emporer Kingdom,
Emily dipersilahkan oleh Kepala Pelayan Hans untuk mengikutinya menuju ruang kerja Hans yang terletak di lantai 2, sekali lagi dia takjub begitu memasuki ruangan demi ruangan itu, semuanya tertata rapih, indah, harum, elegan dan mewah.
Kami tiba di depan pintu ruang kerja Hans. seperti biasa Pelayan itu berseru pada alat di tengah pintu," Tuan Muda, Non Emily sudah datang," ucap Pelayan itu pada mic alat tersebut.
"Masuk saja," terdengar suara Hans keluar dari alat tersebut.
Pelayan itu membukakan pintu, Emily memasuki ruang kerja tersebut yang terkesan minimalis namun elegan. Hans duduk dengan angkuh di kursinya.
“Hahhh untung saja tidak terlambat, waktu menunjukan pukul 13.00 masih waktu makan siang, kamu terbebas dari hukuman ! mana makanan gw ?.”
“Orang ngak tahu diri ! emang rumah sebesar ini ngak ada yang masakin makanan buat lw ! sampai-sampai lw nyuruh gw cuma untuk mengantar makanan ini, emang gw ojek online apa ?,” geram Emily sambil menaikan plastik tentengan ayam crispynya. Dengan santai Hans menghampiri dan mengambil plastik makanan tersebut, dibukanya Plastik makanan tersebut, di intipnya,” Apaan ini ?,” ucap Hans sambil menghirup wangi masakan tersebut. “Ehm lumayan wangi, sepertinya enak.”
“Pak Amir, tolong ambilkan 1 set peralatan makan untuk saya,” ucap Hans sambil menekan speaker teleponnya.
“Siap Tuan Muda, segera datang,”ucap suara di seberang sana.
Emily tak habis pikir hidupnya kini sudah tidak ada kebebasan, Emily terduduk lemas di sofanya Hans. Selang 5 menit Kepala Pelayan Hans membawa 1 set peralatan makanan, kali ini dibantu Pelayan yang lebih muda mendorong kereta makanan. Kepala Pelayan itu dengan cekatan menata Piring dan gelas, serta makanan dari appetizer, main cost serta dessert sudah tertata rapih hanya dengan beberapa menit saja.
__ADS_1
“Saya mau makanan ini,”seru Hans sambil menyodorkan plastik berisi ayam crispy itu. Kepala Pelayan itu terkejut ketika membuka Plastiknya, “Tuan Muda, saya kira ini makanan kurang sehat untuk di santap….
“Sajikan saja !,”
“Baik Tuan Muda,”ucap Kepala Pelayan itu sopan. Mereka menyajikan sambil berpandang-pandangan dengan ekpresi wajah yang aneh.
“Sudah siap Tuan Muda, silakan menikmati makanannya,”ucap Kepala Pelayan itu yang sudah menata meja makan ukuran sedang di samping partisi kayu itu.
“Lw udah makan Emily ?”
“Sudah baru saja,” ucap Emily datar yang masih fokus ke layar laptopnya untuk mengetik.
“Baik Tuan Muda,”seru Emily menirukan gaya Pelayannya Hans. Emily ebranjak dari sofa lalu duduk disebelah Hans dengan membawa Notebook tipisnya meletakannya diatas meja makan yang sebelumnya Emily sudah memindahkan piring ke sebelah sisi meja yang kosong.
“Siapa suruh lw ngetik di sini !,”ucap Hans tidak habis pikir. “cewek kacau ! biasanya cewek kalau di depan gw itu jaimnya luar biasa, cewek ini memang luar biasa cuek !.”batin Hans.
“Lw kan yang suruh gw kerjain notulen rapat itu buru-buru !,”nyolot Emily yang masih kesal karena hari liburnya terganggu. Hans terdiam, jujur entah kenapa dia suka ditemenin sama Emily.
Hans menyendokkan ayam crispy fire nya ke mulutnya, kontan ketika mengunyah ayam Crispy itu dia langsung terbatuk-batuk kepedasan, “Air ! Air !,” teriaknya. Kedua Pelayannya langsung sibuk buru-buru mangambil air putih dingin. “Hahhh ! Hahhh!,” Hans masih menahan pedasnya. Emily mengintip dibalik Notebook nya. “Hahahahah rasain lw !,”batin Emily menahan tawa sambil memperhatikan wajah Hans yang udah kayak kepiting rebus itu.
“Astaga, Emily, Kamu ngerjain gw yaa !, bawain ayam pedes kayak gini !, “ ucap Hans sambil mengelap keringat di wajahnya. Hans kelihatan banget tidak suka pedas.
__ADS_1
“Kena prank, Hahahahaha,” Emily tertawa terbahak-bahak. Hans keki abis dibuatnya, namun sekali lagi melihat wajah cerianya Emily membuatnya ikut tersenyum.
“Puas lw ngerjain gw !, “ seru Hans setelah dapat mengontrol kepedasan dalam mulutnya. Hans lanjut memakan kentang goreng yang dibawa Emily, padahal Pelayannya sudah membawakan menu utama, sirloin steak dengan mashed potato, tetapi Hans lebih memilih makanan yang dibawa Emily. Sekali lagi kedua Pelayannya saling berpandangan dengan ekspresi aneh. Hans menghabiskan kentang gorengnya, “Hahh lumayan kenyang,” ucap Hans setelah menutup makan siangnya dengan segelas air putih dingin. Makanan dari koki rumahnya tidak sedikit pun di sentuh.
“Yeayyy gw juga udah selesai, alhamdulilah cepat kan,di man printernya ?,” tanyanya girang. Jelas sekali dari rawut wajah Emily sangat keberatan untuk datang ke sini.
“Tuh disana di atas meja gw,” ucap Hans dengan ekpresi kecewa.
Sementara Pelayan itu membereskan meja makan, Hans membantu Emily untuk mensingkronkan notebooknya agar bisa untuk ngeprint. “Tumben yaa Tuan Muda membawa cewek ke rumah ini, biasanya paling mereka di minta suruh tunggu di teras luar,” bisik Pelayan yang terlihat masih muda itu. “Sepertinya Tuan Muda sedang jatuh cinta,”bisik Kepala Pelayan.
Akhirnya notebook bisa untuk ngeprint, “Finish ! ini laporannya Pak CEO !,” ucap Emily sambil menyodorkan kertas notulen rapatnya. Hans membaca dengan seksama, seolah ingin mencari kesalahan, tapi Emily berhasil mengerjakan dengan sempurna, point – point dalam rapat itu tidak terlewat satu pun, termasuk angka pembagian devidennya.
“Ok, lumayan laporannya untuk seukuran Sekretaris magang mah,”ucap Hans sedikit mencibir. Emily terdiam, sumpah ini orang benar-benar seorang Tiran ! ingin sekali ia mengeplak kepala Hans. Emily membalas cibiran Hans dengan senyuman pahit. “kalau gitu gw pulang dulu !,”ucap Emily sambil merapihkan tasnya lalu bergegas keluar ruangan itu.
“Jangan lupa besok jemput gw !,”
“Hans di kesepakatan kita yang baru tidak ada kata sopir !,”teriak Emily dari kejauhan.
“Ohh iya gw lupa, ok No problem baby ! take care !,” teriak Hans. Huhhh benar-benar butuh ekstra kesabaran.
***
__ADS_1