Code Phoenix

Code Phoenix
Impossible Guess


__ADS_3

Dullahan memang sudah terkenal sepenjuru kota. Untuk siswa SMA sok sibuk macam Sebastian. Info itu hal baru. Ia baru tahu negara tempatnya tinggal diserang teror Dullahan saat supir pribadinya memancingkan topik obrolan.


Benar-benar kudet.


Anehnya walau tak tertarik dengan berita. Dullahan yang meresahkan warga Indonesia tiba-tiba saja menarik perhatiannya. Sepanjang perjalanan ia terus memikirkannya. Ayahnya seorang pejabat sekaligus pengusaha. Ia dibesarkan dengan pengetahuan dunia berada di bawah telapak kakinya. Awalnya menyenangkan sebagai anak kecil. Berpikir seluruh dunia milik kita sendiri. Semakin dewasa itu membosankan. Karena semua mudah terpenuhi. Pandangan bahwa setiap orang yang tak sepadan adalah sampah mengungkung kebebasan berpikirnya.


Ia hidup dalam rasa bosan tak berujung. Kehidupan di rumah persis seperti di neraka. Walau ia belum pernah ke neraka. Paling tidak ia bisa membayangkan. Betapa kosong dan hampanya tempat peristirahatan bagi para pendosa.


×ÙÚØ


Mobilnya memasuki pekarangan SMA Quentin. Sekolah paling elit se-Indonesia. Tempat di mana anak-anak tajir satu negara berkumpul. Sekolah yang telah berdiri empat puluh lima tahun tersebut telah mencetak lulusan yang mengambil peran besar dalam putaran rotasi dunia.


Semua persis seperti visi dan misi awal berdirinya lembaga tersebut. Quentin. Berarti mendamba masa depan. Setiap lulusan sekolah ini memang dicanangkan sebagai warisan hidup bangsa.


Kehidupan di sekolah pada mulanya membosankan. Memang ia berhasil bertemu dengan anak-anak yang sepadan. Tapi, malah membuatnya muak terhadap diri sendiri.


Di tengah jalan menuju gedung sekolah terlihat tengah menunggu seorang cowok culun punya. Pemuda itu lengkap dengan rambut berponi yang dijepit miring dan kacamata semi-besar berwarna biru tua. Ialah satu-satunya orang yang bisa membuat Sebastian menikmati hidupnya. Sahabat terbaik yang rasanya memang dilahirkan untuk dirinya.


"Selamat pagi, Astin. Sudah lama?" tanya Sebastian.


"Belum kok. Baru satu jam," jawab Astin dengan wajah tak peduli.


Sebastian meringis kecil. Sikap Astin selalu bisa menyenangkan hatinya yang suntuk. Ia tak seperti anak biasa yang angkuh dan sok tinggi. Astin begitu sederhana dan ramah terhadap siapa pun. Bahkan terhadap orang yang tak dikenalinya.


Ia baik karena bisa memahami rasa sakit yang dirasakan orang lain. Hal itu membuat Sebastian tanpa sadar "tergila-gila" pada Astin.


Mungkin karena Astin orang miskin. Ia anak biasa yang bercita-cita menjadi ahli forensik. Keteguhan tekad membuatnya bersekolah di sekolah elit untuk kelancaran mimpinya.


"Sekolah mahal dan jauh nggak masalah. Asal bermutu," kenangnya.


Perjuangan itu menarik Sebastian untuk mengenal Astin lebih jauh.


Yang membuatnya tertarik pada Astin bukan hanya itu. Pertama yang membuat Sebastian mendekati Astin karena ia menggunakan eyepatch.


Saat masih hidup kedua orang tua Astin adalah manusia paling bejat diantara manusia bejat. Ayahnya pemabuk dan penjudi. Ibunya seorang wanita murahan yang menjajakan tubuhnya meski telah memiliki anak dan suami. Saat berusia lima tahun ayahnya mencongkel sebelah mata Astin. Walau terlihat masih ada yang Astin sembunyikan. Begitulah yang ia ceritakan

__ADS_1


×ÙÚØ


Begitu tiba jam istirahat Astin dan Sebastian langsung melesat menuju kantin. Jika telat sekejap saja tak ada tuh cerita namanya makan siang. Semua kursi pasti dipenuh-penuhkan kalau ada mereka.


Sebagian besar siswa SMA Quentin tidak menyukai Astin. Ia dianggap eksentrik. Jarang bisa diandalkan. Aneh. Tidak becus. Tidak berguna. Ceroboh dan pelupa. Kurang pandai. Cenderung asosial. Dan sama sekali tidak macho.


Rasanya benar-benar hanya keajaiban yang membuatnya masih bertahan di sekolah ini.


Tak ada yang mau berteman dengannya kecuali Sebastian. Sebastian yang terus tertarik untuk melindungi Astin.


Setelah usai makan nasi bungkus sederhana (menu paling irit kantin SMA Quentin). Keduanya melanjutkan istirahat dengan mengobrol.


"Kamu tau yang namanya Dullahan?" Sebastian memancing topik yang sama dengan yang supirnya lakukan.


Diliriknya Sebastian aneh. "Dia emang lagi ngehits banget sih sekarang. Tumben amat peduli sama begituan." Astin paham betul sobatnya skeptis sejati.


"Meski pembunuh bayaran. Dia nggak segan bunuh siapa pun yang menghalanginya," lanjut Sebastian serius.


"Mencurigakan. Kenapa kamu sampai sepeduli itu? Biasanya ada orang sekarat depan kamu juga diam aja," tuding Astin.


"Aku cuma mengkhawatirkan sesuatu. Supirku bilang kasus terakhir Dullahan dekat sini," jawabnya memberi alasan.


"Mikir nggak? Killer se-high level Dullahan nggak akan peduli sama orang kecil. Lagian dia assassin. Siapa juga orang yang mau bayar buat ngehabisin kutu kayak kita?" Menyadari ucapannya sendiri Astin berkata lagi, "Maaf, seharusnya aku nggak bicara begitu. Cuma aku yang kutu di sini."


Sebastian menghela nafasnya. Kelemotan sobatnya ini harus diperbaiki sekali-kali. Logikanya saja dia punya ratusan musuh yang berasal dari kalangan high-level. Niat iseng sederhana bisa membuat sahabat terbaiknya kehilangan nyawa. Karena tak ada yang memikirkan keberadaan Astin kecuali dirinya. Hanya ia yang Astin miliki untuk melindunginya dari segala macam bahaya.


Ketergantungan Astin terhadap dirinya begitu mencandukan.


Setiap yang hidup pasti akan mati. Pertanyaannya apakah orang yang mengakhiri kehidupan orang lain termasuk rencana Tuhan?


Astin takkan hidup tanpa Sebastian. Sebastian takkan hidup tanpa Astin. Bersama mereka satu. Hanya dengan bersatulah mereka bisa tetap bersama. Apakah ada yang bisa memisahkan ikatan yang demikian erat tersebut? Jika pun ada jawabannya adalah kematian.


×ÙÚØ


Dua minggu kemudian. Topik Dullahan masih hangat diperbincangkan. Begitu juga untuk Sebastian. Dullahan wannabe itu memang sangat menarik. Kasus terakhir Dullahan melibatkan seorang ketua sebuah gengster narkoba. Sebenarnya pemberi job itu polisi yang sudah kewalahan menangani gengster bernama Batavia. Satu teplok dua laler. Begitulah yang polisi pikirkan saat melakukannya. Mereka pikir mempekerjakan Dullahan dengan identitas palsu akan ampuh menjeratnya juga.

__ADS_1


Rupanya salah. Ketua gengster tersebut memang mati. Tapi, keberadaan Dullahan tetap menjadi misteri.


×ÙÚØ


Satu hari setelah mencuatnya berita kematian ketua gengster Batavia. SMA Quentin digegerkan dengan pengakuan seorang muridnya. Seorang anak yang merupakan anak kandung ketua gengster tersebut.


Tentu saja. SMA Quentin tak hanya berisi anak-anak dari keturunan baik. Justru karena memberi privasi lebih terhadap muridnya. SMA Quentin menjadi pilihan bagus bagi anak-anak para mafia.


Ketua gengster bernama Renora itu telah malang melintang dalam industri kejahatan Indonesia selama bertahun-tahun. Polisi telah menetapkannya sebagai pelaku dari banyak tindak pidana. Namun, ia tetap tak bisa diadili.


Karena kekurangan bukti dalihnya.


Antek Renora sangat banyak. Bertugas menyembunyikan seluruh bukti kejahatannya. Tikus-tikus ber-spion Renora bertebaran dalam kepolisian dan pemerintahan.


Awalnya Renora hanya menjadi objek ujicoba untuk upaya penangkapan Dullahan. Ia mati sungguhan sendiri sebenarnya tidak masuk perkiraan.


Hal itu membuat putra semata wayangnya mendendam pada polisi. Lebih tepatnya kepada Dullahan. Bisa-bisanya ayah yang selalu dikawal karateka sabuk hitam mati terbunuh.


Ranora, nama anak itu, teman sekelas Sebastian dan Astin. Meski tak ikut peduli seperti anak lainnya. Mereka berdua mengamati setiap ucapan Ranora. Ia mengatakan akan menemukan Dullahan. Membunuhnya. Membalaskan dendam kesumatnya dan family-nya.


Walau berlagak simpatik. Semua orang ingin menertawakan niatan itu.


"Dia seharusnya bangga," komentar Astin terhadap anak yang sering menggencetnya itu. Sambil meliriknya sedikit.


"Bangga dari gunung kidul! Dia terancam jadi gembel. Kalau niatnya serius Dullahan pasti bunuh dia," respon Sebastian.


"Dullahan cuma akan bunuh target dan orang yang menghalangi kerjaannya. Membunuh anak kecil ababil kayak dia menurut Astin buang-buang waktu aja," respon Astin tak peduli.


"Terus kenapa dia harus bangga?" tanya Sebastian.


"Soalnya Dullahan orang terkenal. Beritanya mendominasi media melebihi artis. Kalo aku dibunuh sama orang top gitu aku pasti bakal seneng!!!" ucap Astin semangat. Ia sampai terpejam dan tersenyum-senyum sendiri membayangkan bagaimana hal itu terjadi.


Sebastian langsung menahan tawanya di perut. Inilah yang membuat Astin unik. Pikirannya selalu out of the box. Tak heran orang menjulukinya eksentrik gila. Eksentrik kelainan bahkan.


"Tapi, kamu nggak boleh ketemu sama Dullahan, lho," putus Sebastian.

__ADS_1


Astin tersenyum kecil sambil memangku dagunya. "Seperti yang Astin bilang. Kayaknya nggak mungkin juga, sih." Ia melanjutkan lebih pelan, "Astin kan misqueen. Nggak usah acara pakai pembunuh bayaran segala. Kalau mau bunuh Astin mah gampang," kata Astin. Tersenyum bahagia mensyukuri kemisqueenannya.


__ADS_2