Code Phoenix

Code Phoenix
Big Mouth Who First Die


__ADS_3

Mitos Dullahan belum pudar. Malah menyebar sampai negara tetangga: Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura. Pasalnya Dullahan Indonesia Version (DIV) itu juga membunuh poliTIKUS Malaysia dan Singapura.


Wabah ketenaran Dullahan menyebar sampai seluruh Asia Tenggara (macam Dangdut Academy aja). Ia masih pembunuh ganteng penuh pesona yang jadi idola banyak wanita. Tak ada yang memungkiri itu. Alasannya karena Dullahan belum menunjukkan kengeriannya di hadapan mereka. Para wanita.


Habis semua korban Dullahan laki-laki. Ia takkan menerima order yang membuatnya harus membunuh wanita. Dullahan bukanlah ancaman untuk perempuan. Sah-sah saja untuk mengidolakan gentleman macam itu, bukan?


"Gentleman macam apa yang ada dalam kepala mereka?" tanya Sebastian tersuntuk-suntuk di mejanya.


Wabah kengetopan Dullahan membuat batinnya miris. Seharusnya orang macam Dullahan dimusuhi satu negara. Kehebatannya bisa sampai menerima job interlokal juga harusnya menambah kewaspadaan.


Harusnya begitu.


Mari kita simak obrolan para siswi tentang Dullahan:


"Oh my God, oh my God, oh my God! Dia keren banget bisa bunuh orang luar negeri."


"Kalo malaikat kematian semua kayak dia. Aku rela mati muda."


"Iya, ya. Tapi, sebelum itu kita ajak selfie dulu. Dimasukin sosmed terus liat berapa yang nge-like. Atau gak ajakin aja ngevlog bareng biar jadi anak heeetttzz."


WTF.


Entah apa yang dipikirkan pengamat melihat situasi ini. Pasti disebut ADLD alias Assassin Dullahan Lover Disorder. Gangguan jiwa yang mayoritas diderita wanita dan banci kaleng. Membuat syaraf otak mereka terganggu hingga mencintai seorang pembunuh.


"Mungkin kalau Dullahan kirim peringatannya ke sekolah ini yang ada mereka bikin upacara penyambutan pakai prasmanan," respon Astin sama gajenya.


Wabah ADLD telah membuat banyak pasangan SMA Quentin putus. Apa alasannya kalau bukan cewek-cewek (demi bisa diterima dalam pergaulan) rela mengacuhkan cowok mereka buat ngerumpiin Dullahan.


Wabah ini juga menyerang Sharon, cewek pemimpin geng cewek-cewek SHL (Super High Level/Super Handsome Lover).


Ketika Astin ingin keluar kelas tanpa sengaja ia menabrak Sharon. Ia disinyalir paling membenci Astin sedunia akhirat. Bagaimana tidak? Selain cantik Sharon terkenal bisa melakukan apa pun. Kebalikan dari Astin yang what a useless.


"Eh, cowok bego! Kamu itu punya mata atau enggak? Jalan sliwar-sliwer kayak laler mabok aja," umpat Sharon.


"Maaf, ya. Nggak ada yang kotor, 'kan?" Astin memeriksa pakaian Sharon.


"Mata kamu tuh nggak pantes liat aku, cowok culun! Aku order aja Dullahan buat bunuh kamu, ya." Sharon menaikkan dagu Astin, seorang pemuda lemah.


Ucapan Sharon mendapat respon setuju dari seisi kelas. Inilah yang selalu Sebastian khawatirkan.


Astin mempercepat langkahnya keluar kelas. Ia sendiri gondok setengah mati sama cewek itu. Sharon sudah menginjak-injak martabat Astin sebagai seorang laki-laki.


Sebastian mengikutinya. Khawatir Astin bunuh diri.

__ADS_1


Di bagian tangga yang menghadap pemandangan samping sekolah. Itulah tempat favorit Astin untuk melarikan diri sejenak.


Sebastian menghibur Astin. Sebagai sahabat yang baik mengingatkan bahwa sabar akan mendatangkan kejaiban juga kebahagiaan. Sebastian tetap mengatakannya walau tau Astin makhluk paling sabar sedunia. Seperti saat spontan Sebastian mendoakan hal buruk untuk Sharon. Astin malah membela gadis itu.


"Kalau Sharon benar-benar ngorder Dullahan gimana coba?" tanya Sebastian khawatir.


"Kamu tau polisi nggelontorin berapa duit buat jadiin ketua gangster itu targetnya Dullahan?" tanya Astin.


"Setauku asassin dibayar paling nggak lima sampai tujuh ratus juta," jawab Sebastian.


"Polisi bayar dia lima belas milyar! Bisa disimpulin harga kemampuan Dullahan paling nggak di atas sepuluh milyar. Siapa yang mau keluar duit segitu cuma buat kebencian sesaat?" tanya Astin. Tersenyum mengangkat kedua tangannya sepundak.


"Sharon emang keliatan cewek yang besar mulut," hina Sebastian.


"Jangan ngomong gitu. Entar suka lho," goda Astin. Menyikut pundak Sebastian.


Bukan berarti Sharon seburuk itu di mata Sebastian. Dia cantik dan baik (setidaknya kepada selain Astin). Tapi, ia belum bisa menyukai Sharon selama Sharon masih membenci sahabatnya.


Cewek secantik Sharon meskipun mulutnya kayak laron masa masih jomblo. Nggak mungkin banget. Pasti ada udang di balik bakwan.


Iya, Sebastian. Sharon sudah punya pacar. Tapi, tak seorangpun boleh mengetahuinya. Karena kekasihnya adalah Dullahan.


×ÙÚØ


Angin berhembus lewat jendela membelai wajah Sebastian dan Astin. Keduanya masih asyik bercakap menunggu bel pulang. Guru tak masuk membuat jam terakhir diisi dengan belajar sendiri. Membuat kelas lengang. Siswanya banyak yang memilih belajar di kantin.


"Aku dengar kakak sepupu Sebastian kerja di IQCI. Apa aku boleh bergabung dengan kalian?" tanya Ranora.


"Jangan berharap banyak. Kedatangan IQCI sepertinya sudah direncanakan Dullahan," respon Sebastian mengingat ucapan Astin.


"Asal aku bisa mendapatkan informasi soal Dullahan. Sedikit juga tidak apa-apa. Aku mohon, Sebastian!" pohon Ranora lagi.


"Astin beri saran mendingan jangan. Kamu cuma habisin waktu kalau dendam sama Dullahan. Mending kamu jadi temen kita <3<3<3!" ajaknya ramah.


Ranora langsung berjalan ke tempat duduk Astin. Seketika mengangkat dan membanting tubuhnya ke lantai. BRUAAAKH! Kelas senyap seketika.


"Jangan sembarangan ngomong, anak culun! Akan aku tunjukkan ke kalian semua. Dullahan akan mati di tanganku sendiri," teriak Ranora. Tekadnya.


Besar mulut...


Besar mulut...


Besar mulut!!!

__ADS_1


×ÙÚØ


"Aku nggak marah sama Nanaro," kata Astin di perjalanan pulang. Ia dengan Sebastian sering kompakan jalan kalau pulang sekolah.


Sebastian langsung berpikir, nyebut namanya aja salah. Nggak heran kamu nggak bisa marah sama dia.


Walau berpredikat sekolah anak-anak tajir se-Indonesia. SMA Quentin sangat mementingkan pendidikan karakter dan cinta lingkungan. Berangkat sekolah boleh saja diantar kendaraan pribadi. Namun, saat pulang semua siswa wajib berjalan kaki atau menggunakan kendaraan umum.


Tak lain halnya dengan Sebastian, Astin, maupun Ranora. Anak-anak dari kelas yang sama biasanya berjalan berdekatan menuju stasiun kereta maupun halte bis.


Seperti anak TK. Setuju.


Dari arah berlawanan dengan tujuan mereka, sebuah motor berwarna hitam pekat melaju cepat tanpa tanda akan berhenti. Menyadari itu Astin langsung berlari menuju siswa yang menjadi sasaran motor tersebut.


Ranora.


BRAAK!!!


Tak pakai selayang pandang. Sepeda motor hitam pekat itu langsung pergi. Secepat kilat sebelum seorang pun menyadari apa yang terjadi. Dari belakangnya terdengar suara sirine polisi. Beberapa mobil polisi berhenti di tempat kejadian perkara. Di samping tubuh Astin yang bersimbah darah karena menyelamatkan Ranora.


Pengemudi sepeda motor hitam tersebut adalah Dullahan. Dullahan yang tak menyertakan surat peringatan menggemparkan. Bahkan Dullahan yang "tidak" membunuh siapa pun.


"Kupastikan kau yang mati sampai terjadi sesuatu pada Astin," ancam Sebastian pada Ranora sebelum naik ke ambulans.


×ÙÚØ


Astin sempat tak sadarkan diri di rumah sakit. Untung hanya "beberapa" tulangnya saja yang retak. Baru juga dua malam dirawat di rumah sakit ia sudah minta pulang.


Dengan keras Sebastian menolaknya. Semua biaya akan dia tanggung. Astin hanya harus sikat gigi. Tidur sleeping beauty. Bangun esok hari. Semua sudah rapi. Mulai makan pagi. Hidup ketawa-ketiwi. Tidur lagi.


Seenak itulah hidup yang Sebastian tawarkan sebagai the one dalam hidupnya. Yang akhirnya tetap Astin tolak.


"Astin tidak butuh uang. Tidak butuh kekayaan. Astin bisa hidup berabad-abad hanya dengan menjadi manusia sederhana," alasannya.


"Kamu bicara begitu karena miskin! Gimana bisa kamu katakan itu sama aku?" Sebastian tetap berkeras. Menurut dokter Astin baru boleh keluar rumah sakit kira-kira setelah satu minggu.


"Sebastian, Astin masih memiliki banyak uang untuk tak merepotkan siapa pun," cobanya lagi memberi pengertian. Ia tau sahabatnya orang yang susah diubah keputusannya.


Sebastian hanya terpaku mendengar ucapan sahabatnya. Merepotkan? Merepotkan ndasmu! Sebastian punya uang buanyaak bangeet. Sampai bingung bagaimana menghabiskannya.


Nerima kebaikan orang aja kok susah banget. Sebastian selalu pusing kalau dihadapkan pada sifat nggak enakan dan pemalu sahabatnya ini.


"Kalau memang itu alasan Sebastian. Kayaknya Astin tau Sebastian harus ke mana," ucap Astin serius.

__ADS_1


"Ke mana? Rumah bordir?" tanya Sebastian.


"Hehee, masih banyak yang lebih butuh dibantu ketimbang Astin," senyum anak itu ramah.


__ADS_2