
"Sebastian, Astin sangat menyukai dompet Astin. Alasannya karena selain murah dompet itu kelihatan mahal. Mereknya Dunnhill, lho. Ya, meski Astin tau ini palsu. Tapi, tetep aja bikin bangga, 'kan?" buka Astin di sesi pertemuan mingguan mereka.
"Astin membawanya ke mana pun dengan cinta dan kasih. Menyayanginya sepenuh hati. Sampai dompet tersebut rusak dan bolong-bolong. Sampai akhirnya dompet tersebut hilang... Semenjak itu Astin tidak pernah punya dompet lagi," lanjutnya dengan wajah polos.
Sebastian hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Pelajarannya janganlah terlalu mencintai sesuatu. Kalau sampai hilang rasanya sakit.
(#Prolog bab tidak bermutu).
×ÙÚØ
Sharon sangat khawatir sekaligus senang. Hari ini kekasihnya berkata ingin bertemu. Kesibukan keduanya membuat sepasang kekasih ini kesulitan menemukan waktu "memadu kasih".
Itu membuat Sharon jadi jablay. Alias jarang dibelay...
Pintu terbuka penanda ketibaan kekasihnya. Kekasihnya adalah cowok metropolitan yang jadi idola satu negara. Ia tetap duduk di atas kasur dalam diam. Kekasihnya kini berdiri di hadapannya dengan raut marah.
"Mau ngerusak wajahku dengan nabrak anak sekolahan? Nggak bertanggung jawab banget. Mana nggak kena lagi," bukanya kesal. Kedua matanya melirik emosi. Kedua tangannya terlipat di dada.
Cape, deh.
Sharon berusaha membela diri, "Aku kesel! Dia terlalu jahat. Kamu sendiri yang bilang kutu itu pantas mati. Aku nggak tahan begini terus. Seluruh dunia harus tau akulah pacar kamu." Sharon mulai meneteskan air mata.
Lelaki itu lantas memeluk kepala Sharon. "Aku nggak bisa bayangin sampai sesuatu terjadi sama kamu. I'll clear it myself."
Sharon membalas pelukan itu semakin erat. Dengan pipi yang sembab oleh air mata. Dan hati yang berguncang karena bahagia.
"Atau jangan-jangan kamu mulai punya perasaan sama Astin?" tanya lelaki itu.
Sharon menggeleng cepat. "Nggak! Nggak! Maafin aku! Aku nggak akan pernah lupa sama janji kita. Aku sangat membenci Astin. Kutu itu," jawab Sharon.
"Nah, begitu dong. Aku cinta kamu," kata Dullahan dengan intonasi mesra.
"Aku cinta kamu, aku cinta kamu. Aku sangat cinta sama kamu..." balas Sharon seperti terhipnotis.
×ÙÚØ
Kecelakaan yang menimpa Astin benar-benar membuat Sebastian mendidih. Rasanya ceret kepalanya takkan diam sebelum Dullahan is dead.
Ia tahu Astin tak baik-baik saja. Ia masih sangat sakit. Tapi, sok menolak pertolongan Sebastian. Alasannya apa lagi kalau bukan gengsi? Anak itu emang gengsinya sedunia akhirat.
Kemiskinan tak boleh membuat kita memiskinkan harga diri kita. Karena petuah tersebut Astin paling anti menerima bantuan orang lain. Ngomong-ngomong petuah itu warisan ayah Astin.
__ADS_1
Mungkin kalian bingung. Gimana bisa pemabuk, penjudi, orang paling bejat diantara orang bejat bisa mengucapkan kalimat se-bah, mantap betul-itu.
Mari kita kilas balik ke beberapa tahun lalu saat Sebastian dan Astin baru saling mengenal.
Once upon a time...
"Jadi, nama kamu Baskerville Astin Andika Yakusoku." Sebastian cengok menatap remaja di hadapannya. Namanya "wah" betul. Namanya saja Sebastian Atmajaya Sudarga. Normal dam Indonesia banget. Ia melanjutkan, "Nama asli kamu aneh banget. Pantes yang ditulis di pengenal cuma Astin Andika."
"Kamu bukan orang pertama yang ngomong gitu," respon Astin.
Alasannya pun unik betul. Konon Astin lahir di suatu desa (village) ketika desa tersebut tengah mengadakan suatu festival. Banyak terdengar suara debuhan (bass). Saat bingung mikirin nama anak, ayah Astin mendengar bunyi hewan, kerr... kerrr...
Jadilah Baskerville.
Yakusoku sendiri berarti janji. Astin sebagai anak laki-laki pertama seperti menuntaskan janji ibu Astin untuk memberi ayahnya keturunan.
Walau bejat sebejat-bejatnya manusia bejat. Mereka romance juga.
Kembali ke masa kini. Akhirnya Sebastian memutuskan menemui kakak sepupunya, Emir.
Sepulang sekolah Sebastian sengaja memisahkan diri tanpa mengatakan apa pun. Ia tak mau Astin sampai cemas.
Kakak sepupunya merupakan orang antik. Klop banget rasanya kalau ketemu sama Astin. Bicaranya sering tidak jelas. Memiliki kepercayaan diri super tinggi. Dan terkesan sulit ditaklukkan. Tak heran hampir kepala tiga masih juga jomblo. Sebastian khawatir masa depan Astin mengenaskan seperti Emir.
"Selamat sore adik sepupuku tersayang! Kudenger kamu udah lama pengen ketemu aku. Jadi salting nih akunyaaa. Kamu jangan kasar-kasar, yaaa. Baik-baik ya sama kakakmu yang lemah lembut gemulai iniii," salam Emir diiringi kalimat menjijikkan. Tanpa ragu ia langsung memeluk Sebastian.
Najis.
Tanpa basa-basi Sebastian langsung mengutarakan tujuan kedatangannya. Selain ingin meminta bantuan Emir akan data Dullahan. Ia juga ingin menjadi bagian dari penyelidikan itu. Sebastian ingin menjadi anggota IQCI. Itu mutlak sebagai wujud perjuangannya.
Niatannya langsung Emir tertawakan sekuat tenaga. Dia pikir kerja di IQCI itu gampang? Tinggal minta sama kenalan dalam terus bisa diterima. Tak semudah itu, men. Kalau disamakan CERN (Organisasi Eropa untuk Riset Nuklir). Kira-kira kamu harus lulusan S2 jurusan fisika teori.
"Mending kamu pulang aja. Balik lagi kalo udah jadi magister kriminologi, psikologi, kedokteran, komputer, apa kek gitu yang berguna. IQCI gak ada waktu buat anak kecil yang hidup buat egonya doang," balas Emir.
Sebastian belum menyerah. "Bukan masalah ego, Kak. Aku sudah merasakan sendiri betapa ngerinya keberadaan Dullahan. Aku lebih tau betapa Dullahan harus dimusnahkan. Percayalah pada hasrat ini!"
Hmm. "Siapa yang ada di ruangan ini sebelum kamu?" tanya Emir sambil melirikkan matanya nakal.
"Aku nggak tau siapa dia. Yang jelas seorang pria. Kedudukannya lebih tinggi ketimbang Kakak. Merokok dengan cerutu dan lumayan eksentrik."
Cerita hidupku dipenuhi manusia eksentrik... (ratapan Sebby.)
__ADS_1
"Ada jejak sepatu Doolley di luar sana. Kakak punya juga. Tapi, bukan Kakak yang pakai. Karena ukurannya besar. Di ujung meja kakak ada remahan cerutu Arturo Fuente Opus X BBMF. Dia pasti orang tajir."
"Kalau begitu doang semua orang juga tau. Lebih detail!" pinta Emir.
"Apa yang buat ada jejak sepatu depan pintu? Padahal dekat sini nggak ada kamar mandi. Aha! Dia pasti habis numpahin air. Baju Kakak lembab. Dia masuk ruangan ini buat nganter Kakak. Berarti dia..."
Emir mulai jengah. Semua yang Sebastian katakan tepat. Terlalu memojokkan jika membiarkannya berpikir lebih.
Anak yang menarik.
"Bakal kukasih keistimewaan deh karena kamu adek sepupuku. Kebetulan bakal ada pelatihan untuk calon anggota baru, nih. Siap gak?" tanya Emir.
"Siap!" sahut Sebastian yakin.
Emir membatin, yah, baru juga bentar balik ke Indo udah jadi pelaku nepotisme.
×ÙÚØ
Satu minggu kemudian.
"Sebby, Sebby, Sebby! Kantung mata kamu kenapa hitam? Muka kamu kenapa keliatan kurang darah gitu? Kenapa? Kenapa? Kenapa?" tanya Astin memburu.
Baru sampai kelas Sebastian sudah diburu pertanyaan kepo (Inggris – knowing-every-personality-object. Jawa – kemerooh pool) Astin. Memang sudah tiga hari terakhir ia mengikuti pelatihan menjadi anggota IQCI.
Pelatihan itu sangat berat! Apalagi untuk anak yang dibesarkan dengan kepercayaan dunia berada di bawah telapak kakinya. Baru sebentar ia sudah loyo. Padahal dia kira pekerjaan penyidik itu gampang. Kerja dalam ruangan ber-AC. Ngomong menerka-nerka sekenanya. Tampang sok serius. Menyelidiki bukti. Jalan-jalan ke lokasi TKP. Dan semacamnya, 'kan? Seperti di film-film.
Di pelatihan IQCI Sebastian bukan hanya diajari analisa matang dan hipotesa darurat. Tapi, juga teknik pertarungan. Penggunaan senjata api, senjata tajam, senjata tumpul, sampai "senjata apa juga boleh".
Selama ini ia selalu berantem pakai otak (maksudnya nggak pakai mikir). Tak ia sangka mempelajari suatu beladiri ditambah menghafal nama jurus sangatlah berat.
"Aku ikut kursus SmartFighter akhir-akhir ini. Pengen melindungi diri aja," jawab Sebastian.
"Nama semacam beladiri?" tanya Astin.
"Bukan. SmartFighter itu android tempur yang dipasang di tubuh. Gerakannya pakai aktivasi suara," terang Sebastian.
"Tubuh kita bisa gerak sendiri gitu?" tanya Astin memperjelas. Digerakkan tubuhnya membayangkan kinerja mesin yang Sebastian ucapkan.
"Buat pro kekuatan tubuhnya bisa meningkat sampai dua ratus persen," lanjut Sebastian.
"Tumben kamu peduli sama begituan," tanya Astin datar.
__ADS_1
Emm, tampaknya belajar beladiri malah yang paling penting untuk berhadapan dengan seseorang yang bisa membunuh ratusan orang sendirian.
"Melindungi diri itu penting, 'kan?" jawab Sebastian.