Dari Pembantu Jadi Mantu

Dari Pembantu Jadi Mantu
Bab 6: Adik Ipar Menyebalkan Kena Batunya


__ADS_3

Pagi ini Scarlett membantu Ethan mandi. Awalnya sang suami menolak dan lebih memilih Zigra untuk melakukannya seperti biasa. Namun, karena Zigra sakit, ia terpaksa membiarkan Scarlett kembali memandikannya.


"Dari mana kamu belajar memasak?" tanya Ethan.


Scarlett masih sibuk memijat-mijat kepala Ethan yang tengah ia beri sampo.


"Oh, memasak, ya! Aku hanya meniru apa yang pernah ibuku lakukan di rumah. Dia menyiapkan makanan setiap hari untuk kami," jawab Scarlett.


"Tapi berkat itu kamu bisa membuat wajah istri ayahku jadi merah padam," ujar Ethan. Ia tersenyum bangga dengan apa yang telah Scarlett perbuat. Wanita itu ternyata tidak selemah yang ia kira.


Tatapan Ethan mendapati ekspresi wajah Scarlett yang tengah tertegun memandanginya. Sepertinya wanita itu kembali kumat saat memperhatikan tubuhnya.


"Ah, Ya ... Sepertinya mulai sekarang aku harus terbiasa dilecehkan oleh mata wanita cabvl ini," sindir Ethan.


Seketika Scarlett tersadar dan menutupi wajahnya. Ia malu ketahuan tengah mengagumi tubuh suaminya. Lalu, ia tersenyum lebar seakan tidak merasa bersalah.


"Maaf, ya, ini kan asupan vitamin supaya aku bersemangat," candanya.


Ethan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dengan kelakuan konyol istrinya yang di luar nalar.


Selepas mandi, Scarlett masih membantu Ethan mengenakan pakaian untuk ke kantor. Ia memang haruz bersabar dengan ketengilan wanita itu yang selalu berusaha curi-curi pandang ke arah tubuhnya.


"Sudah selesai! Ayo, suamiku! Aku antar kamu sampai ke depan. Zigra sudah menunggumu!" kata Scarlett penuh semangat.


Wanita itu meraih tas kuliahnya. Ia memberikan tas kerja milik Ethan dan membantu mendorong kursi roda keluar dari kamar.


Di luar kamar sudah ada Aiden yang tengah menunggu sembari memakan apel. "Oh, Kak! Kamu mau berangkat kerja, ya? Biar Scarlett bareng aku saja, kebetulan kita kan satu kampus," ucapnya menawarkan tumpangan.


"Boleh, boleh ... Aku berangkat dengan Aiden, ya!" sahut Scarlett semangat. Ia senang karena bisa menghemat uang taksi.


"Tidak usah!" Ethan menyela.


Aiden mengerutkan dahi sementara Scarlett mengerucutkan mulutnya. Ethan kembali memperlihatkan ekspresi wajah yang dingin.


"Aku sudah menyuruh sopir untuk mengantar Scarlett," ucap Ethan.


"Apa?" Scarlett menunjukkan ekspresi keheranan. Setahu dia, Ethan menyuruhnya pergi ke kampus naik taksi. Ia bahkan diberi uang saku. Tidak pernah Ethan membahas tentang sopir yang akan mengantarnya ke kampus.


Ethan menoleh ke arah Scarlett. "Cepat sana keluar! Pak Remi sudah menunggumu sejak tadi," pintanya dengan nada seperti memerintah.

__ADS_1


"Ah, iya, iya, oke!"


Meskipun merasa heran, Scarlett tetap menuruti kemauan suaminya. Ia bergegas meninggalkan sang suami di sana lalu melangkah menuju ke depan halaman rumah.


Ethan menatap adiknya dengan serius seakan tengah membaca isi hati Aiden. Tatapannya membuat Aiden terlihat tidak nyaman.


"Em, ya sudah kalau begitu! Aku juga mau berangkat ke kampus dulu, Kak!" pamitnya dengan nada canggung. Ia lebih baik pergi dari pada dimakan oleh kakaknya.


"Tunggu sebentar, Aiden!" cegah Ethan.


Aiden urung beranjak dari sana.


"Aku hanya ingin mengatakan padamu, jangan mencoba mengganggu wanita itu. Sekarang dia istriku!" ucap Ethan dengan tegas.


"Iya, Kak! Aku pergi dulu!" pamit Aiden. Ia tampak kecewa dengan ucapan kakaknya.


***


Selama di kampus, Aiden terus terusik dengan kejadian tadi pagi. Awalnya ia memang pura-pura baik hati menawarkan tumpangan agar Scarlett bisa dikerjainya. Ia berniat meninggalkan wanita itu di pinggir jalan agar tidak bisa pulang. Namun, niatnya belum terlaksana tapi kakaknya seperti sudah mengetahui rencananya.


Ia penasaran kenapa Ethan menerima saja wanita rendahan menjadi istrinya. Bahkan kakek juga bisa-bisanya merekomendasikan wanita seperti itu menjadi cucu menantu. Padahal melihat wajahnya saja Aiden sudah merasa kesal.


Liam yang sedari tadi menemani Aiden makan di kantin kampus merasa tidak dianggap sampai ia menepuk pundak temannya itu agar berhenti melamun.


"Siapa yang melamun?" kilah Aiden.


"Halah, dari tadi aku bicara pasti kamu tidak mendengarkan!" gerutu Liam. Ia membuang muka karena kesal.


Aiden hanya tersenyum. Ia menyeruput kopi panas yang dibelinya sambil memandang ke arah depan. Dilihatnya Scarlett ada di sana tengah tertawa-tawa dengan beberapa teman di dekat pintu masuk area kantin. Ia menyeringai, mendapatkan ide untuk mengganggu wanita itu. Di rumah ia tidak mungkin mengganggunya selama ada sang kakak.


"Liam, aku mau balik ke kelas duluan!" kata Aiden seraya bangkit dari tempatnya dan menyambar kopi miliknya. Ia kembali menyeruput kopi sembari berjalan mendekati target.


"Aku pastikan dia tidak akan betah berkuliah di kampus ini," gumamnya lirih.


Bagi Aiden, Scarlett hanyalah wanita licik yang tengah memanfaatkan kakek dan kakanya. Ia tidak akan membiarkan wanita licik itu menguasai harta keluarganya.


Aiden kembali menyeringai. Ia buka penutup kopi miliknya dan secara cepat mengguyurkan minuman itu ke arah Scarlett.


"Ah!"

__ADS_1


Terdengar teriakan saat kopi milik Aiden tumpah. Air kopi itu tepat mengenai tubuh seseorang, namun bukan Scarlett.


Wajah Aiden langsung panik menyadari orang yang baru diguyurnya ternyata adalah dosennya sendiri, Pak Arnold. Sementara Scarlett hanya terkena sedikit cipratan karena menunduk sembari memperbaiki tali sepatu saat Aiden mengguyurkan minuman itu.


"Oh, astaga! Ya ampun, Pak Arnold!" Scarlett terkejut melihat tubuh sang dosen yang penuh dengan cairan kopi. Ia juga kaget Aiden ada di sana. Ia berada di antara dua orang lelaki yang tampaknya tengah berseteru.


Ia berinisiatif menyingkir, mendekat ke arah ketiga temannya mengobrol tadi.


"Aduh, maafkan saya, Pak. Tadi tidak sengaja," ucap Aiden membela diri.


Pak Arnold tampak menahan kekesalannya. "Aiden, ikut saya ke ruang dekan!" perintahnya.


Dosen tersebut lantas melangkah pergi disusul oleh Aiden yang mengikutinya dari belakang.


"Aku rasa dia tadi sengaja deh," ujar Resti.


"Iya, aku juga berpikir begitu. Tadi yang namanya Aiden, kan?" tanya Lena memastikan.


"Benar, itu Aiden. Tapi sepertinya tadi dia tidak sengaja mau menumpahkan minumannya ke arah Pak Arnold," sahut Yana.


"Tidak sengaja bagaimana maksudmu? Jelas-jelas dia sengaja, tutup botol kopinya saja terbuka!" tepis Resti.


"Maksudku bukan begitu, aku berpikirnya tadi Aiden mau menyiram Scarlett," ujar Yana.


"Lah, kok mau menyiramku?" Scarlett kaget namanya disebut. Ia bahkan tidak terlalu paham dengan apa yang barusan terjadi.


"Iya, Scarlett. Tadi kamu tiba-tiba menunduk dan kebetulan Pak Arnold lewat, jadi Pak Arnold yang kena siram Aiden," imbuh Yana.


"Kalau dia mau menyiram Scarlett secara sengaja, memangnya dia punya masalah apa dengan Scarlett, ya?" tanya Resti penasaran.


"Scarlett, memangnya kamu kenal Aiden?" cecar Lena.


"Hah, Aiden? Aku nggak kenal dan nggak punya masalah apa-apa sama dia," tepis Scarlett.


"Tuh, kan ... Scarlett saja nggak kenal siapa dia. Aneh banget dia," guman Lena.


Scarlett jadi memikirkan ucapan temannya. Bisa jadi Aiden memang berniat mengganggunya. Ia mengulaskan senyum, merasa beruntung telab terhindar dari kejahatan salah satu keluarga Ethan. Bahkan Aiden langsung kena batunya karena sudah menyiram dosennya sendiri.


'Dasar anggota keluarga dakjal! Memangnya aku akan semudah itu menyerah menghadapi kalian? Awas saja kalau masih menggangguku, akan aku balas perbuatan kalian!' batin Scarlett.

__ADS_1


__ADS_2