Dari Pembantu Jadi Mantu

Dari Pembantu Jadi Mantu
Bab 8: Obat Mencurigakan


__ADS_3

"Boleh aku menanyakan sesuatu?" tanya Scarlett sembari membantu mengeringkan rambut sang suami.


Seperti biasa, rutinitas memandikan Ethan merupakan kewajibannya sebagai seorang istri. Meskipun Ethan selalu menolak dibantu oleh Scarlett, pada akhirnya wanita itu tetap berhasil memaksa Ethan mandi dengannya. Scarlett tidak akan melepaskan tugas yang menurutnya patut dilaksanakan sebagai istri. Ia tidak mau menikmati bantuan kakek dengan cuma-cuma, setidaknya ia harus berbakti dan berguna bagi suaminya.


"Kapan kamu minta ijin untuk bertanya? Biasanya juga langsung bicara, kan?" tepis Ethan dengan ekspresi wajah yang masih terlihat kesal.


Wanita itu benar-benar teguh pendirian dan pantang menyerah. Membuatnya gemas karena harus dimandikan wanita itu setiap hari. Apalagi wanita itu suka lirik-lirik nakal terhadapnya.


"Aduh, kenapa usahaku menjadi seorang istri yang baik tidak dipuji, sih? Harusnya kan senang istrinya meminta ijin dengan sopan," ucap Scarlett dengan nada bicara yang dibuat-buat.


Ethan hanya memutar malas kedua matanya. "Katakan saja apa yang kamu mau!"


Scarlett terdiam sejenak. Ia memikirkan rangkaian kata yang pantas diucapkan. "Em, boleh tidak kalau akhir pekan depan aku menjenguk adikku? Sudah lama aku tidak menemuinya," pintanya dengan nada yang sedikit sungkan.


Ethan baru ingat kalau Scarlett masih punya seorang adik. Ia kira karena ayahnya sudah kabur, Scarlett tal perlu berurusan lagi dengan kehidupan lamanya. Ia tahu dari kakek jika adik Scarlett masih SMA dan tinggal di asrama.


"Boleh tidak?" tanya Scarlett sekali lagi.


"Tunggu jadwalku kosong, nanti aku antar kamu bertemu dengan adikmu," jawab Ethan.


Scarlett terlihat mematung, jawaban yang diterimanya melebihi ekspektasinya. "Kamu ... Mau menemaniku?" tanyanya memastikan.


Ethan menatap ke arah kaca hingga bertatapan dengan mata Scarlett yang ada di belakangnya. "Memangnya kenapa? Aku tidak boleh menemuinya juga? Dia kan adik iparku,"


Scarlett tertawa kecil. "Ah, boleh ... Tentu saja boleh ...." ia tidak ingin Ethan merubah keputusannya. Mendengar lelaki itu mengiyakan kemauannya saja sudah sesuatu yang luar biasa.


Pintu kamar diketuk, seorang pelayan masuk membawa sebuah nampan berisi air putih dan obat. Ia berjalan mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


Scarlett selalu penasaran dengan pelayan itu. Setiap hari tiga kali sang pelayan pasti datang untuk memberikan obat untuk Ethan. Padahal ia pernah menawarkan untuk menggantikan tugasnya, namun ibu mertuan menolak. Ia malah dicurigai mau berbuat macam-macam kepada Ethan. Masalah obat tidak boleh dipercayakan kepadanya.


"Tuan, silakan minum obatnya," ucap pelayan tersebut seraya menyodorkan obatnya.


"Terima kasih."


Ethan lantas meminum dua pil yang diberikan itu sekaligus di depan sang pelayan.


Sekilas Scarlett lihat pelayan itu menyunggingkan senyum tipis yang mencurigakan.


"Baiklah, Tuan. Saya permisi dulu," pamit sang pelayan.


"Itu obat apa?" tanya Scarlett sembari menyisir rambut Ethan yang telah selesai dikeringkan.


"Itu obat dari dokter. Bukanya kamu sudah sering melihatku minum obat?" guman Ethan heran tiba-tiba sang istri bertanya seperti itu.


"Hahaha ... Mungkin mereka takut kamu akan menambah dosis seenaknya dan membuatku mati," canda Ethan.


Scarlett berdecih, sang suami lagi-lagi membuatnya kesal. "Kalau aku sejahat itu, tidak mungkin kakek menyukaiku dan menikahkan denganmu," gerutunya. Padahal ia hanya mengkhawatirkan lelaki yang ada di hadapannya.


Ethan tersenyum merasa terhibur dengan ekspresi wajah kesal yang Scarlett tunjukkan. Wanita itu lucu ketika kesal. Bibirnya sedikit dimanyun-manyunkan seperti anak monyet.


"Aku cuma bercanda, kamu memang orang yang baik, kok!" kata Ethan, membujuk wanita itu agar berhenti kesal.


Scarlett malah memalingkan muka dengan perasaan masih kesal. Membuat Ethan kembali tersenyum lebar.


"Scarlett, coba lihat pipiku. Ini apa, ya?" tanya Ethan sembari menunjuk ke arah pipinya.

__ADS_1


Scarlett terpaksa kembali menoleh dan mengamatinya. "Mana? Memangnya apa?" ia merasa heran sepertinya tidak ada yang aneh dengan pipi itu.


"Ck! Lihat dulu baik-baik ... Ini pasti kamu kurang bersih mencuci wajahku," ujar Ethan.


Scarlett kembali mengamati sampai menyipitkan mata, menebak apa yang salah dengan pipi itu. Saat ia lengah, tiba-tiba saja lelaki itu menoleh dan mencium pipinya. Sontak Scarlett mematung dan melebarkan matanya.


"Bercanda ...." ledek Ethan sembari tertawa terkekeh karena telah berhasil menjahili Scarlett.


Wanita yang merasa kesal sekaligus salah tingkah itu akhirnya memilih pergi menghindar. Meskipun ciumannya bercanda, tapi berhasil membuat wajahnya memerah. Ia tak ingin Ethan semakin menggodanya. Lebih baik ia keluar kamar sementara waktu.


"Dia lelaki gila juga ternyata. Kalau aku terpancing, baru tahu rasa dia!" gumamnya pada diri sendiri. Ia masih berusaha menetralkan perasaannya yang berbunga-bunga.


Sekelebat, Scarlett melihat bayangan pelayan yang selalu membawakan obat untuk Ethan itu melintas. Rasa penasaran kembali muncul. Diam-diam ia mengikuti pelayan itu dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan.


Anehnya, pelayan itu seperti berjalan ke arah belakang. Scarlett kira pelayan itu akan kembali ke tempat para pelayan, namun ternyata berbelok ke arah pintu keluar sebelah belakang.


Pelayan itu juga sepertinya melihat-lihat situasi sekitar sebelum melangkah. Sang pelayan keluar melalui pintu belakang.


"Kenapa pelayan itu? Kenapa tidak lewat depan?" Scarlett terus bertanya-tanya dalam hatinya.


Ia terus membuntuti pelayan mencurigakan itu, sampai akhirnya ia kehilangan jejak karena sang pelayan ternyata sudah dijemput temannya di tepi jalan.


"Pasti ada yang tidak beres!" tebak Scarlett.


Ia sedikit kecewa tidak bisa menangkap pelayan itu. Namun, ketika ia hendak kembali, matanya menemukan sesuatu di tempat pembakaran sampah. Lewat sorot lampu remang-remang yang ada di dekat sana, tampak benda itu masih baru dibuang.


Scarlett memungutnya, ternyata bekas bungkusan obat.

__ADS_1


"Apa ini obat yang selalu Ethan minum?" gumamnya.


__ADS_2