
"Hukumanmu melakukan bakti sosial di panti asuhan setiap akhir pekan selama satu bulan. Jangan berniat untuk menghindari hukumanmu!" kata Pak Arnold dengan tegas.
Aiden hanya bisa menunduk. Hari ini rasanya ia sangat sial. Berniat menjahili kakak iparnya malah membuat dia kena batunya.
"Aiden ...," panggil Arnold.
"Iya, Pak. Saya mengerti," jawabnya pasrah.
Aiden lebih memilih melakukan bakti sosial dibandingkan dengan harus membawa orang tuanya di kampus. Ayah dan ibunya pasti akan sangat kesal jika ia membuat masalah.
"Ya sudah, kalau begitu kamu bisa keluar," kata Pak Arnold.
Aiden mengangguk. Ia lantas pergi meninggalkan ruang dekan sembari menunduk. Berada di sana sudah membuatnya sangat malu karena ada banyak dosen yang melihat.
Ketika melewati pintu keluar, ia bertemu dengan Scarlett yang tengah bersandar santai pada dinding sembari menyedot minuman kemasan. Sudut bibirnya menggambarkan jelas bahwa wanita itu tengah tersenyum seperti mengejek kepadanya.
Tak berselang lama, Pak Arnold ikut keluar dan menghampiri Scarlett.
"Oh, untunglah kamu masih di sini. Kenapa jadi susah sekali untuk bertemu denganmu?" gumam Arnold.
Sebelum kejadian penyiraman itu, Arnold memang berniat menemui Scarlett. Ia ingin berbicara serius setelah beberapa bulan resmi mengakhiri hubungan. Keduanya sempat menjalin hubungan selama dua tahun, namun ditentang oleh ibu Arnold dengan alasan status sosial yang berbeda.
"Ikut aku!" pinta Arnold.
Ia memandu Scarlett agar masuk ke ruangannya. Ia mengunci pintu agar tidak ada orang yang sembarangan masuk dan mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kamu kemana saja?" tanya Arnold. Meskipun sudah putus, ia masih sangat peduli dengan wanita itu.
"Aku tidak kemana-mana, Pak. Setiap hari tetap kuliah, kan?" kilah Scarlett.
Arnold tampak menghela napas. "Bukan itu maksudku. Setelah kuliah, kamu pergi kemana? Apa sengaja menghindariku?"
"Aku sibuk cari uang, Pak, biar bisa bertahan hidup."
Jawaban Scarlett bukankah kebohongan. Ia sama sekali tidak ada niatan untuk menghindari mantan pacarnya. Meskipun sudah putus, hubungan mereka selama ini baik. Ia juga sudah bisa menerima jika cinta mereka tidak akan berakhir dengan baik.
"Kalau yang kamu butuhkan uang, aku sudah menawarkan untuk membantu membiayaimu, kan? Lalu kenapa kamu menolak?" kesal Arnold.
Scarlett mengulaskan senyum. "Untuk apa Bapak repot membiayai wanita yang bukan siapa-siapa? Lebih baik uangnya disimpan untuk modal nikah atau diberikan kepada ibumu."
__ADS_1
Arnold kembali menghela napas panjang. "Scarlett, ayo kita balikan! Ayo kita menikah!" ajaknya dengan nada bicara yang penuh keyakinan.
"Maaf, Pak. Itu tidak mungkin. Ibumu akan khawatir uang anaknya habis jika menikahiku," sindir Scarlett.
Arnold sampai tertegun mendapat ucapan Scarlett. Ia tahu jika wanita itu pasti masih merasa sakit hati dengan ucapan ibunya waktu itu.
"Scarlett, bisakah kamu melupakan ucapan ibuku waktu itu? Aku meminta maaf atas namanya. Kita bisa membujuknya perlahan agar mau merestui hubungan kita," bujuk Arnold.
"Aku sudah menikah, Kak!"
Ucapan Scarlett kembali membuat Arnold terkejut. Sejurus kemudian, ia tertawa. "Apa ini usahamu untuk menolakku? Ayolah, Scarlett, berhenti bercanda!"
Ia tahu persis selama putus dengannya, Scarlett tak pernah dekat dengan siapapun. Ia juga meminta putus untuk memberi waktu dan menenangkan diri. Menurutnya, sekarang waktu yang tepat untuk memperbaiki hubungan.
"Aku serius, aku sudah menikah." Scarlett mengatakannya dengan ekspresi yang tenang, membuat Arnold tak sanggup menerima kenyataan itu.
"Bapak seharusnya realistis kalau hubungan kita memang tidak akan bertahan sampai pernikahan. Ibumu jelas-jelas tidak menyukai aku.
Arnold mengepalkan tangannya menahan kekesalan. "Maka dari itu seharusnya kita berjuang untuk mendapatkan restu. Bukankah sebuah hubungan seharusnya seperti itu?"
"Aku minta maaf. Aku sudah memutuskan untuk menikah dengan orang lain," ucap Scarlett sembari menunduk.
Scarlett menggeleng. "Kalau sudah waktunya, nanti akan aku perkenalkan kepada suamiku, Pak. Aku serius, aku sudah menikah. Jadi, Bapak bisa berhenti mengkhawatirkan aku." ia menunjukkan kesungguhannya berbicara.
Arnold hanya diam. Keininannya untuk balikan sudah ditolak secara mentah-mentah oleh Scarlett. Bahkan wanita itu mengatakan sudah menikah.
"Kalau begitu aku permisi dulu, Pak. Sebentar lagi ada kelas," pamit Scarlett.
***
"Nyonya, mari ikut saya."
Saat baru keluar dari kelas terakhirnya, Scarlett dihadang oleh seorang lelaki berpakaian rapi. Ternyata itu Zigra, asisten suaminya. Ia heran kenapa lelaki itu ada di sana.
"Ada apa, ya?" tanyanya.
"Tuan menunggu Anda di mobil."
Seketika perasaan Scarlett langsung berbunga-bunga. Ia tidak bisa menahan diri untuk menunjukkan senyuman saking bahagianya. Ia tidak menyangka jika Ethan akan menjemputnya ke kampus.
__ADS_1
Lelaki itu selalu terlihat dingin dan kaku. Namun, ia terharu meskipun pernikahan mereka merupakan permintaan kakek, tapi Ethan bisa melakukan hal sederhana yang manis.
Ia mengikuti Zigra berjalan ke arah parkiran. Beberapa orang yang mengenal Scarlett keheranan wanita itu bersama seorang lelaki berpenampilan rapi.
"Sama siapa tuh Scarlett?"
"Mungkin debtcollector. Keluarganya kan punya banyak hutang."
"Kasihan banget ya, kayaknya dia anak baik, tapi hidupnya penuh masalah."
Begitulah suara sumbang yang samar-samar Scarlett dengarkan. Namun, ia tak peduli dengan ucapan orang.
"Silakan, Nyonya."
Zigra membukakan pintu mobil, mempersilakan Scarlett masuk. Ia merasa tersanjung karena diperlakukan dengan baik. Di dalam mobil sudah ada Ethan yang tengah sibuk dengan tabletnya. Bahkan lelaki itu tidak melirik sedikitpun ke arah Scarlett yang sudah duduk di sampingnya.
"Terima kasih, ya!" ucap Scarlett.
"Hem," jawab Ethan singkat.
Scarlett tidak menyangka lelaki itu tidak merespon ucapan terima kasihnya dengan benar. Ia jadi sedikit kesal. Saking kesalnya, ia nekad mencium lelaki yang duduk di sampingnya itu.
"Hey! Apa-apaan, sih!" kesal Ethan. Ia sama sekali tidak menduga wanita itu akan menciumnya. Ia memandang kesal ke arah Scarlett sembari mengusap bekas ciuman wanita itu.
"Itu namanya tanda terima kasih," kata Scarlett sembari mengulum senyum. Akhirnya lelaki itu bisa menoleh ke arahnya.
"Terima kasih, terima kasih ... Tapi tidak perlu ciun-cium segala!" gerutu Ethan yang masih tidak terima karena dicium.
Scarlett jadi semakin ingin mengganggunya. "Oh, apa itu kurang. Apa aku harus menciummu di bibir?" tantangnya sembari mendekatkan wajah.
Ethan memundurkan tubuhnya. Wanita itu memang ternyata agresif dan menyeramkan, membuat ia takut-takut merinding.
"Zigra, tolong aku! Di sini ada orang gila!" teriak Ethan memanggil asistennya yang tengah mengemudi di kursi depan.
Scarlett tertawa terbahak-bahak sudah berhasil membuat Ethan takut kepadanya.
"Makanya kalau ada orang bicara itu direspon, sok sibuk!" omel Scarlett.
"Siapa yang sok sibuk? Aku memang benar-benar sibuk! Beruntung aku bisa meluangkan waktu untuk menjemputmu!" timpal Ethan.
__ADS_1
Sebenarnya lelaki itu sangat khawatir dengan Scarlett. Ia takut adiknya akan melakukan sesuatu terhadap istrinya. Jadi, ia meminta kepada Zigra untuk mampir ke kampus menjemput Scarlett dari pada istrinya nanti pulang bersama Aiden.