Derai Air Mata Seorang Istri

Derai Air Mata Seorang Istri
Suamiku Mandul


__ADS_3

"Terima kasih telah bersedia menjadi istriku dan ibu dari anak-anakku kelak." Kalimat itu kudapatkan bersamaan dengan ciuman hangat di kening. Hanya selang beberapa saat, ia kembali menatap mataku dalam, memancarkan aura mendamba yang begitu kentara. Senyum indah tak luntur dari bibirnya. Kurasakan kedua pipiku yang direngkuh olehnya memanas saat menyadari ke mana arah netra itu memandang.


"M-mas," cicitku gugup. Menurunkan pandangan karena tak mampu lagi menatapnya.


Pria yang beberapa jam lalu resmi menjadi suamiku itu terkekeh. Mengusap suraiku dengan penuh kelembutan. Mengangkat daguku agar kembali menatapnya. Lalu berujar, "Hari ini, malam ini, kita sudah resmi dipersatukan. Kamu, istriku, akan menjadi satu-satunya wanita yang berdampingan denganku hingga akhir hayat nanti."


Hatiku menghangat mendengar penuturannya. Mas Damian dengan segala kelembutannya tak akan pernah berhenti membuat jantungku berdebar.


"Mas, bimbing aku agar menjadi Istri yang pantas untukmu, ya? Aku memiliki banyak kekurangan, tapi aku yakin Mas bisa membantuku menutupinya."


"Bukan aku yang menutupi kekuranganmu. Tapi kamu dengan segala kelebihanmu yang akan menutupinya sendiri. Lagipula, aku tidak akan mempermasalahkan kekuranganmu. Bagiku kamu sempurna, Airin. Aku benar-benar mencintaimu." Mas Damian mengecup lembut bibirku beberapa detik, kemudian kembali tersenyum lebar seperti biasa.


"Aku yakin kamu pasti bisa jadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku kelak."


Aku lagi-lagi tersipu mendengar perkataannya. Saat Mas Damian membingkai wajahku dengan kedua tangannya, aku memberanikan diri untuk bertanya, "Ngomong-ngomong soal anak, memangnya Mas mau punya berapa anak nanti?"


"Umm ... empat?" jawabnya dengan raut wajah menerka-nerka.


"A-apa?" Mataku sedikit terbelalak mendengar jawabannya. "Kok banyak banget?"


Mas Damian mendengus geli. "Kenapa? Menurutku itu gak terlalu banyak kok. Dua cowok dan dua cewek. Kedengarannya bagus."


"Itu banyak, Mas. Aishh ...!" Aku memukul pelan dada bidangnya. Membuat Mas Damian tergelak dan menarik tubuhku untuk dipeluknya.


"Baiklah-baiklah, terserah istriku saja ingin memberi anak berapa."


Aku tersenyum jahil padanya. "Kalau aku gak mau kasih?"


"Hei, maksud kamu apa, Sayang?" Mas Damian melepaskan pelukannya. Tapi tangannya tetap melingkari pinggulku.


"Tidak-tidak, aku cuma bercanda, kok!" balasku sambil tertawa pelan.


Mas Damian mendengkus kemudian menarik tubuhku lagi. "Jangan bercanda seperti itu, tidak baik. Aku sangat suka anak-anak dan selalu berharap memiliki anak sendiri bersamamu."


Aku tersenyum bahagia dalam pelukannya. "Iya, Mas. Aku juga kepengin punya baby nanti. Kita berusaha sama-sama, ya?"


"Tentu," balas Mas Damian sambil memberikan kecupan lembut di pucuk kepalaku. Setelahnya, kami benar-benar berusaha dalam artian sesungguhnya agar keinginan memiliki anak benar-benar tercapai.


Bahkan ... hingga lima tahun pernikahan pun kami masih berjuang keras.


Entah apa sebenarnya yang salah di sini. Apa Tuhan benar-benar mendengarkan candaan ku waktu itu? Atau memang belum waktunya? Entahlah, yang pasti semuanya sudah berubah di sini. Termasuk Mas Damian.


Aku tidak tahu sikap seseorang bisa berubah secepat itu. Tak ada lagi senyum hangat yang selalu terpatri setiap ia menatapku. Tak ada lagi kecupan lembut di tiap pagi dan malamnya. Tak ada lagi kata-kata mendamba yang dulu selalu ia lontarkan. Apa ... Mas Damian telah bosan kepadaku? Padahal pernikahan kami baru menginjak 5 tahun. Itu pun aku mati-matian mempertahankannya.


Di kamar ini, tepat di mana aku berdiri sekarang, lima tahun yang lalu Mas Damian mengatakan kecintaannya padaku dibumbui kecupan kecil. Saat itu malam pertama kami, Mas Damian berkata tidak akan mempermasalahkan kekuranganku. Tapi sekarang ... ia bahkan menutup mata akan kelebihanku.


Kini yang kulihat di mata Mas Damian hanya ada pancaran muak dan risih. Ia seolah tak mau bertatap muka denganku lagi. Apalagi setelah vonis mengerikan dari Dokter minggu lalu, baik aku maupun Mas Damian benar-benar merasa terpukul.

__ADS_1


Pantas saja perjuangan kami selama ini terasa sia-sia. Tuhan memang telah menakdirkan kami untuk tidak memiliki anak selamanya. Rahimku takkan bisa mengandung karna suamiku tak bisa membuahinya. Mas Damian yang dulu bermimpi ingin memiliki banyak anak pun harus mengubur dalam-dalam mimpinya. Beberapa hari ini, pria itu benar-benar terpuruk. Ia merasa gagal menjadi seorang pria sekaligus suami. Mas Damian bahkan menolak untuk berbicara pada siapa pun.


Hari ini sebenarnya adalah hari ulang tahun pernikahan kami. Jangankan merayakan dengan dinner romantis, aku bahkan belum bertemu Mas Damian sejak semalam. Ia mengunci diri di kamar tamu, seperti frustrasi dengan keadaannya sendiri.


Sedangkan diriku hanya bisa menangis di kamar kami. Berdiri di balkon kamar, menatap langit malam yang lenggang. Tidak ada satu pun bintang di sana. Hanya ada bulan seorang.


"Dulu ... Mas Mian suka meluk aku dari belakang di sini. Terus kita menatap bulan dan bintang sama-sama."


Aku menyentuh pagar pembatas yang terbuat dari besi, rasanya dingin. Begitupun dengan udara malam ini yang serasa menusuk hingga ke tulang. Ah, jika Mas Damian mendekapku sekarang, pasti rasanya akan lebih hangat.


Seandainya aku boleh meminta sesuatu pada Tuhan sebagai hadiah ulang tahun pernikahanku hari ini, aku hanya ingin meminta satu hal, tidak lebih. Hanya hal sederhana, Mas Damian datang kemari dan memelukku seperti yang sering ia lakukan dulu. Tapi itu terasa mustahil, Mas Damian bahkan tak mau bertemu denganku.


Aku tidak mengerti, Mas Damian nampak selalu marah. Entah pada dirinya sendiri atau padaku. Aku berusaha berpikir positif, mungkin Mas Damian masih tidak bisa menerima kenyataan.


Sekitar 10 menit aku bertahan dengan posisi itu, tidak peduli udara malam bisa saja membuatku masuk angin, aku tengah menikmati kesunyian ini. Sampai akhirnya kurasakan sepasang lengan kekar membelit pinggangku, bersamaan dengan itu aroma parfum yang benar-benar familiar menyeruak. Aku kontan membelalak, tubuhku bahkan terasa membeku.


"M-mas—"


"Airin."


Ah, suara baritone itu, aku benar-benar merindukannya.


"Kita cerai saja, ya?"


Duarr!


"Maksud kamu apa, Mas?!"


Mas Damian tersenyum kecut. Penampilannya agak berantakkan. "Kita ... lebih baik bercerai."


"Mas!"


"Airin, aku sudah tidak bisa lagi." Mas Damian nampak putus asa. "Kita tidak akan pernah bahagia."


"Lalu Mas pikir dengan bercerai masing-masing dari kita akan bahagia?!"


"Setidaknya kita bisa bebas."


"Mas! Kamu udah gila?! Semudah itu kamu nyerah?!"


Mas Damian mendelik. "Terus memangnya aku bisa apa?! Aku dinyatakan mandul, Airin! Aku tidak akan bisa membuat kamu hamil!"


"Setidaknya kita berusaha dulu, Mas! Tidak ada yang tidak mungkin selama Allah menghendakinya."


"Apalagi yang diusahakan kalau aku saja dinyatakan positif mandul?!"


"Mas, kamu jangan berbicara seperti itu. Yang penting kita berdoa saja. Medis bahkan tidak bisa berkutik kalau Allah sudah memberi kejutannya. Banyak di luar sana yang katanya mandul tapi akhirnya bisa punya anak," paparku dengan harapan Mas Damian mengubah keputusannya.

__ADS_1


"Kamu tidak akan mengerti, Airin! Kamu tidak mengerti perasaanku! Aku frustrasi dengan semua ini!" Mas Damian malah terdengar semakin marah.


"Itu sebabnya aku mau di samping kamu terus, Mas. Aku mau kita menghadapi ini sama-sama!"


"Airin—"


"Mas," selaku cepat. "Kita pasti bisa, oke? Aku yakin kita pasti bisa punya anak suatu saat nanti."


Mas Damian mendengkus, lalu membuang pandangannya ke arah lain. "Ini gara-gara kamu."


"A-apa?" sentakku tak percaya. Kenapa tiba-tiba ia menyalahkanku?


"Kamu lupa? Di sini, di malam pertama kita, kamu bercanda pakai bawa-bawa anak. Lihat sekarang? Itu benar-benar jadi kenyataan!" hardik Mas Damian dengan tatapan tajamnya.


"Mas—"


"Kamu secara gak langsung berdoa gak mau punya anak!"


"Mas, maksud aku bukan gitu ...," lirihku dengan tatapan memelas. Berharap ia tak menganggap serius guyonanku di masa lalu.


"Makanya, Airin. Kamu tuh kalau bercanda dikira-kira, jangan asal ceplos aja!" sembur Mas Damian, terus memojokkan aku.


"Mas, kamu menyalahkan aku?"


"Terus aku harus menyalahkan siapa lagi?! Aku lelah menyalahkan diriku sendiri!"


Aku menghela napas berat. Berusaha mengerti akan posisi Mas Damian dan perasaannya yang benar-benar kalut saat ini. "Kita tidak perlu saling menyalahkan, Mas. Kita hadapi ini sama-sama!"


"Tapi aku tidak mau!" Intonasi suara Mas Damian meninggi. "Setiap melihat kamu, aku selalu teringat bercanda mu waktu itu dan kata-kata Dokter kemarin! Aku merasa kamu memang tidak mau punya anak dari aku, makanya Allah sampai membuat aku mandul kayak gini!" bentaknya dengan emosi menggebu-gebu.


"Mas! Maksud kamu apa?!"


Mas Damian menepis tanganku, ekspresinya nampak begitu muak. "Udahlah, Airin. Aku capek sama kamu."


"Mas?!"


"Aku sudah bilang ingin berpisah. Tapi kalau kamu tidak mau, terserah. Aku sudah tidak berharap apa pun dari kamu lagi," tandas Mas Damian kemudian beranjak keluar dari kamar.


"Tunggu, Mas! Mau ke mana? Kita perlu bicara lebih!"


Aku ingin berlari mencegat kepergian Mas Damian, tapi rasanya itu akan sia-sia saja. Yang ada Mas Damian akan semakin marah padaku. Akhirnya yang bisa kulakukan hanya sesenggukan dengan tubuh lemas hingga lunglai ke lantai.


Aku tidak tahu jadinya akan seperti ini. Mas Damian ingin bercerai? Itu pun bukan karena merasa tidak pantas sebagai suami, tapi karena mengira aku pembawa sial untuknya.


Ya Tuhan ... apa rumah tanggaku benar-benar akan hancur sekarang?


Bersambung...

__ADS_1


Tolong subscribe, like, komen, dan ulasannya ya! Supaya Author lebih bersemangat membuat cerita ini. Terima kasih❤️


__ADS_2