Derai Air Mata Seorang Istri

Derai Air Mata Seorang Istri
Berkoban


__ADS_3

Fana merah jambu telah menyingsing, lukisan semesta pun tampak indah melengkung di langit setelah hujan reda. Tapi suasana hatiku begitu buruk untuk mengagumi keindahan alam saat ini. Diriku baru saja mengantar keluar ibu dan Mira yang memutuskan pulang. Sebelumnya, ibu berencana ingin menginap dan membicarakan tentang masalah rahimku yang sebenarnya sehat-sehat saja. Tapi, Mas Damian meminta mereka pulang dengan alasan ingin membicarakan sesuatu yang penting berdua bersamaku. Meski Mas Damian mengatakannya secara halus, ibu tetap merasa seperti diusir. Wanita paruh baya itu pulang dengan ekspresi kesal dan perasaan dongkol.


"Mas." Setelah mobil Mira dan ibu benar-benar pergi, aku langsung masuk kembali ke rumah dan menghampiri Mas Damian yang masih duduk di sofa ruang tamu. Pria itu tampak memijit pelipisnya dengan ekspresi lelah.


"Apa maksud Mas Damian tadi? Kenapa berkata seperti itu pada Ibu?" tuntutku meminta penjelasan.


Mas Damian bangun dari tempat duduknya dan berdiri di hadapanku. Ia lantas memegangi kedua bahuku dan kembali memasang wajah memelas. "Maafkan Mas, Airin. Mas terpaksa. Mas tidak mungkin berkata kita akan bercerai karena Mas lah yang mandul. Mas tidak mau Ibu syok dan berujung jatuh sakit."


Sudah kuduga, inilah alasannya.


"Tapi, Mas ... karena itu Ibu jadi marah dan kecewa padaku. Selain itu, aku tidak mau bercerai dengan Mas Damian," balasku dengan kedua mata yang kurasakan memanas. Cairan bening itu sudah memenuhi pelupuk mataku dan siap untuk tumpah.


"Tidak bisakah kita mencari jalan lain, Mas? Aku mohon. Aku sangat mencintai Mas Damian. Aku tidak ingin bercerai."


Mas Damian menghela napas. Matanya tampak ikut memerah. Sementara tangan kanannya terangkat menyentuh pipiku. "Mas sebenarnya juga tidak ingin bercerai, Ai. Mas juga masih sangat mencintai kamu," ujarnya lirih.


"Lantas kenapa Mas Damian memutuskan ingin bercerai?" Aku memegangi tangan Mas Damian yang berada di pipiku. Menggenggamnya erat seolah tidak ingin membiarkannya pergi. "Aku tidak apa-apa, Mas, dengan keadaan ini. Aku tidak masalah jika tidak bisa hamil. Tapi aku akan sangat sedih jika Mas Damian meninggalkan," lanjutku sambil terisak kecil.


"Airin ...."


"Mas, aku sungguh sangat mencintaimu. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Aku tidak ingin pernikahan kita berakhir begitu saja."


"Tapi ...."


"Perihal anak tidak perlu dipermasalahkan, Mas. Kita bisa mengadopsi anak nanti. Menganggapnya seperti anak kandung sendiri. Itu sudah cukup bagiku. Yang terpenting, Mas tetap bersamaku," pintaku dengan air mata yang terus mengalir di pipi. Kulihat Mas Damian tampak meragu. Aku tahu dan aku yakin dia juga masih mencintaiku. Tampak dari sorot matanya yang masih dipenuhi afeksi. Akan tetapi, keadaannya sekarang ini membuatnya ragu. Mungkin ia merasa malu dan tidak pantas untukku.


"Kamu masih mencintaiku, kan, Mas? Kalau begitu tolong jangan lepaskan aku. Aku ingin terus berada di sisi Mas Damian."


Lagi, aku memohon. Terus memintanya untuk tidak menceraikanku. Aku sungguh tidak apa-apa dengan kondisi Mas Damian. Tidak masalah jika ia tidak bisa membuatku hamil. Perihal anak bukan masalah yang begitu penting bagiku. Ada banyak anak-anak yang tidak memiliki orang tua di luar sana. Kami bisa mengadopsinya dan menganggapnya seperti anak kandung sendiri. Bagiku itu sudah sangat cukup. Yang terpenting, Mas Damian tetap bersamaku selamanya.

__ADS_1


Meskipun Mas Damian belakangan ini berubah, tak lagi semanis dulu, aku yakin Mas Damian tak setega itu untuk meninggalkanku. Aku yakin ia juga masih ingin bersamaku. Tapi keadaannya itu membuat kepercayaan dirinya rusak. Pasti harga dirinya sebagai suami dan egonya sebagai pria terluka. Itu sebabnya Mas Damian memilih untuk melepaskanku agar tidak malu lagi.


"Mas ... kamu masih Damian yang begitu kucintai meski kamu perlahan mulai berubah. Bahkan tadi malam aku sempat tidak mengenali Mas. Mas seperti bukan suamiku yang hangat dan lembut. Tapi, aku mengerti dengan keadaan yang membuat Mas Damian begini. Itu sebabnya, kukatakan aku tidak mau berpisah denganmu, Mas. Aku ingin tetap berada di sisimu untuk saling menguatkan," paparku panjang lebar. Mas Damian tampak terharu, namun ia tetap menggelengkan kepala dan menolak.


"Jangan, Ai. Jangan bertahan dengan pria seperti Mas. Kamu pantas mendapatkan pria sesungguhnya, yang bisa membuat keturunan bersama denganmu. Tidak seperti Mas yang penyakitan ini."


"Mas, jangan berbicara seperti itu."


"Mas tidak mau kamu yang sehat terpaksa mengadopsi anak karena Mas. Padahal rahim kamu sangat sehat untuk mengandung. Kamu lebih baik mencari pria lain untuk calon anak-anakmu kelak."


"Mas, sudah kubilang jangan berbicara seperti itu!" Aku segera menampik ucapan Mas Damian. Kini diriku lah yang membingkai wajahnya. Menatapnya dengan nanar, begitupun Mas Damian. Aku tahu kami sama-sama emosional di sini.


"Lagipula Mas tidak tahan menanggung rasa malu, Ai. Lihat saja tadi Mas bahkan menyakitimu hanya demi melindungi harga diri Mas sendiri. Mas tidak sanggup mengakuinya dan malah melimpahkannya padamu." Pria itu kini benar-benar terisak. Kedua pundaknya bergetar hebat. Aku segera menarik tubuhnya untuk dipeluk erat. Kuusap punggung tegap Mas Damian yang kini begitu lemas. Sungguh, diriku sangat tidak tega dengan keadaannya saat ini.


"Mas ... jika memang itu yang membuatmu menyerah dan memilih melepaskanku, maka aku siap menggantikan posisi Mas Damian. Aku yang akan mengakui vonis mandul dari dokter itu. Jadi, Mas Damian tidak perlu memikirkannya lagi," imbuhku tanpa keraguan sedikit pun. Mas Damian yang mendengar terkejut. Ia bahkan melepaskan pelukan kami dan menatapku lamat.


"Apa maksud kamu, Ai? Jelas-jelas kamu sehat—"


"Airin, jangan begini ...."


"Tidak apa-apa, Mas. Aku ikhlas. Aku tidak masalah dengan itu. Yang terpenting Mas tetap bersamaku dan terus mencintaiku." Aku sungguh tidak main-main dengan perkataanku ini. Cintaku pada Mas Damian sangatlah besar. Aku siap berkorban untuknya. Aku siap menanggung rasa malu untuk menggantikannya. Yang terpenting, suamiku itu tetap bersamaku selamanya. Aku tidak ingin lagi melihatnya hancur seperti sebelumnya.


Sementara itu Mas Damian tampak semakin terharu. Ia langsung saja menarik tubuhku dan memelukku begitu eratnya. Rasa hangat langsung saja menjalar di hatiku saat ia berterima kasih sambil menangis dan mengucapkan cinta, "Terima kasih, Sayang. Terima kasih. Mas sangat mencintaimu. Mas tidak akan meninggalkanmu."


"Iya, Mas. Aku juga mencintaimu. Jadi tetaplah bersamaku selamanya."


.........


Terbangun dari tidur dalam keadaan dipeluk oleh Mas Damian adalah saat-saat yang sangat kurindukan. Diriku seketika tersenyum menyadari lengan kekar pria itu masih melingkar di perutku dan wajahku pun tepat berhadapan dengan wajahnya.

__ADS_1


"Mas ...," panggilku lirih, seraya mengusap wajahnya. Mas Damian hanya membalas dengan erangan sementara kedua matanya tetap tertutup rapat.


"Mas Mian ... bangun, Mas. Sebentar lagi azan subuh." Aku kembali berusaha membangunkannya, dan lagi-lagi Mas Damian hanya membalas dengan erangan.


Kesal sekaligus gemas melihat wajah suamiku itu yang begitu polos saat tidur, aku pun mencubit hidung mancungnya pelan. Tadinya hanya sekedar ingin mencubit, tadi jariku malah bertahan di sana mengapit hidung Mas Damian hingga ia tentunya tidak bisa bernapas.


"Aiiii," tegur Mas Damian, lantas melepaskan tanganku dari hidungnya. Setelah itu bukannya membuka mata, ia malah semakin mengeratkan pelukannya pada tubuhku.


"Mas, ih. Bangun. Bentar lagi adzan subuh tuh."


"Masih ada waktu beberapa menit. Mas masih ngantuk, Ai."


Aku kembali mencubit hidungnya. "Harus bangun lebih awal dong. Jangan lupa kita harus mandi zunub dulu sebelum sholat."


Ya, kami memang baru melepas rindu setelah sekian lama berseteru. Tapi tidak bisa dibilang berseteru juga, sih. Karena Mas Damian lah yang bersikap dingin. Tapi untungnya, kini ia kembali bersikap hangat dan mulai manja kembali padaku.


"Maaas!" rengekku karena Mas Damian tak kunjung bangun.


"Baiklah-baiklah." Akhirnya ia mau membuka mata. "Tapi mandi bersama, ya?" godanya dengan seringai di wajah.


Astaga, bangun-bangun masa hormonnya naik lagi, sih?


"Mau ronde yang ke berapa lagi, Mas? Gak puas sama yang tadi malam?" tanyaku gemas. Pasalnya aku digempurnya habis-habisan tadi malam. Mungkin ia memang serindu itu karena sudah lama tak menyalurkan hasratnya.


"Mas mana pernah puas, Ai. Kamu terlalu candu. Bikin ketagihan," bisiknya sambil terkekeh pelan. Aku sontak memukul pelan dadanya dengan rona merah menjalari wajah. Setelah itu, Mas Damian bangkit dari ranjang tanpa mempedulikan tubuh polosnya. Semakin merah lah wajah ini. Sebelum aku sempat protes, Mas Damian sudah menyikap selimutku dan mengangkat tubuhku dengan mudahnya ke dalam gendongannya.


"Mas!"


"Kalau mandi bergantian terlalu mengulur waktu, Ai. Lebih baik mandi bersama saja. Bisa sekalian—"

__ADS_1


"Apa?" Aku segera menyela sambil mendelik padanya. Pria itu malah tertawa dan menundukkanku di atas closet. Sebelum aku sempat berucap lagi, ia langsung membungkam bibirku dan mulai melakukan aktivitas favoritnya. Huh, dasar pria. Tidak ada puasnya.


Bersambung...


__ADS_2