Derai Air Mata Seorang Istri

Derai Air Mata Seorang Istri
Kedatangan Mertua


__ADS_3

Matahari pagi tak bersinar cerah hari ini lantaran ditutupi awan-awan hitam. Pantas saja tadi malam tak ada satu pun bintang, rupanya tangisan semesta akan datang.


Ah, rasanya alam pun ikut bersimpati dengan keadaanku sekarang ini. Aku yang terus menangis sejak tadi malam, baru bisa tidur setelah sholat subuh. Itu pun dengan wajah lengket akibat air mata dan denyutan di kepala. Pagi harinya, aku terbangun dengan keadaan mata sembab dan wajah sedikit membengkak.


"Uh, jelek sekali," keluhku saat bercermin. Setelahnya diriku pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka sekaligus membersihkan diri. Habis ini aku berencana ingin membuat sarapan, lalu berusaha mengajak Mas Damian untuk mengobrol kembali. Siapa tahu pikirannya sudah lebih dingin pagi ini.


Dua puluh menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh dan wajah lebih segar. Setelah mengambil pakaian di lemari dan memakainya, aku pun langsung saja menggerakkan kakiku keluar dari kamar.


Sebelum menuju dapur, aku sempat berhenti di depan kamar tamu. Ku ketuk pelan pintu bercat putih itu, seraya memanggil suamiku di dalam sana dengan lembut, "Mas? Mas Damian udah bangun belum?"


Tidak ada jawaban.


"Mas?" Aku memanggil sekali lagi, namun kamar itu benar-benar hening. Menghela napas, aku pun memutuskan untuk tidak memaksanya menyahutiku. "Aku mau bikin sarapan dulu, ya, Mas. Nanti kita sarapan bersama dan bicara lagi. Aku harap Mas Damian sudah merasa lebih baik sekarang," tuturku sebelum beranjak dari sana dan pergi ke dapur.


Untuk sarapan aku membuat menu yang simpel saja; nasi goreng. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar sepuluh menitan, dua piring nasi goreng sudah tersaji di meja makan. Aku tersenyum tipis, kemudian mendongak menatap pintu kamar tamu yang tak kunjung terbuka. Sepertinya, aku harus naik ke atas lagi untuk memanggil Mas Damian.


Akan tetapi, suara bel rumah yang tiba-tiba berbunyi mengalihkan atensiku. "Loh, siapa yang bertamu sepagi ini? Mana lagi hujan pula di luar," gumamku heran. Belum sempat diriku melangkah ke depan untuk membukakan pintu, tiba-tiba saja kulihat Mas Damian sudah keluar dari kamar dan sedang menuruni tangga.


"Mas," panggilku, tapi tak dipedulikannya. Mas Damian sepertinya ingin membukakan pintu. Karena penasaran, aku pun mengikutinya.


"Bu, kenapa tiba-tiba sekali datang ke sini? Harusnya Ibu bilang dari awal kalau mau ke rumah Damian. Biar Damian jemput."


'Astaga! Ibu mertuaku ternyata!'


Aku segera maju dan berdiri di samping Mas Damian. Menyambut ibu mertuaku itu dengan senyum merekah. Ku salami tangan beliau setelah Mas Damian lebih dulu melakukannya.


"Tidak apa-apa, anggap saja ini kejutan," balas ibu seraya melangkah masuk ke dalam rumah kami.


"Ibu ke sini sama siapa dan naik apa? Padahal di luar hujannya lebat, lho, Bu," tanyaku cemas sambil berjalan mengikutinya.


"Ibu sama Mira. Itu di luar masih parkir mobilnya," jawab ibu membuatku berhenti dan menoleh ke pintu utama kembali. Mira adalah adik iparku. Dia adik bungsu Mas Damian. Masih kuliah, tapi katanya sebentar lagi lulus karena skripsinya sudah selesai.


Aku lalu memutuskan kembali keluar untuk menyambut adik iparku itu. Sementara Mas Damian menemani ibu duduk di ruang tamu.


"Mir," panggilku saat melihatnya sudah ada di pelataran rumah.


"Oh, Mbak." Dia menoleh kepadaku sebentar, lalu kembali mengusap pakaiannya yang sedikit basah. "Mbak, boleh pinjam baju gak? Baju Mira basah, nih. Takutnya nanti masuk angin."


"Boleh, dong. Ayo, masuk dulu."


Aku langsung mengajak Mira masuk ke dalam rumah sambil dalam hati bertanya-tanya, ada apa gerangan hingga ibu dan adik iparku ini tiba-tiba datang bahkan sampai menerobos hujan yang lebat?


Pertanyaanku itu langsung terjawab saat memasuki rumah, aku mendengar percakapan ibu dan Mas Damian.


"Ibu khawatir, Mas. Perasaan Ibu gak enak dari tadi malam. Itu sebabnya pagi ini Ibu langsung minta antar Mira ke rumah kamu."


"Kenapa, Bu? Mas baik-baik aja. Ibu tidak perlu khawatir," balas Mas Damian lembut.


"Baik-baik saja bagaimana?" Ibu membingkai wajah anaknya dengan kedua tangan. "Muka kamu pucat begini. Kamu juga terlihat begitu lesu. Kamu sakit apa, Nak?" Ibu terlihat benar-benar khawatir. Aku tahu, perasaan seorang ibu memang tidak bisa dibohongi. Bahkan meski mereka terhalang jarak pun, ikatan batin itu akan membuat seorang ibu tahu jika anaknya sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Aku tidak sakit. Hanya kurang enak badan saja," elak Mas Damian, tak mau membuat ibu lebih khawatir lagi jika tahu keadaan sebenarnya.


"Airin," panggil ibu saat melihat kemunculanku di ruang tengah bersama Mira. Mas Damian juga ikut menoleh padaku, namun ia menatapku hanya sebentar. Paling-paling hanya sedetik, setelah itu ia langsung membuang muka.


"Iya, Bu?" Aku mendekat pada ibu.


"Ini Damian sakit, kan? Wajahnya sampai pucat begini dan tubuhnya pun kelihatan lemas. Jelas sekali dia sedang tidak sehat," papar ibu, jelas tak percaya dengan elakan Mas Damian tadi. "Mian sakit apa sebenarnya?" lanjutnya bertanya.


Aku menatap Mas Damian ragu. Menimbang-nimbang apakah aku harus menceritakan kebenarannya. Sementara yang ditatap kembali melirikku dengan sorot tajam. Seolah memberi kode untuk tetap tutup mulut.


"Umm ... Mas Damian hanya sedang masuk angin, Bu," jawabku pada akhirnya.


"Benarkah? Ya ampun, Mas, kenapa bisa masuk angin? Kamu begadang lagi?"


"Iya, Bu. Tadi malam lembur, banyak kerjaan." Mas Damian pada akhirnya ikut menimpali kebohonganku.


"Kamu tuh, ya. Kan tau sendiri suka sakit dari kecil. Harusnya jangan terlalu dipaksakan. Kalau waktunya tidur, ya tidur. Kerjaan bisa dilanjutkan esok harinya." Ibu mulai mengomel, "kamu juga, Airin. Harusnya suami kamu ini ditegur. Jangan dibiarkan begadang terus. Ini juga udah kamu kerokin belum? Keliatannya masih sakit begini."


"Belum, Bu ...," jawabku jujur.


Ibu berdecak pelan. Pasti kesal dan merasa aku tak bisa mengurusi anaknya dengan benar. "Ya sudah, cepat ambilkan koin dan minyak kayu putih. Biar Ibu aja yang kerokin."


"Iya, Bu." Aku segera mengiyakan sebelum ibu bertambah marah. "Mir, ayo. Sekalian ambil baju ganti buat kamu."


"Iya, Mbak." Mira lantas mengikutiku menuju kamarku dan Mas Damian.


"Hah? Enggak, Mir. Kenapa tiba-tiba nanya gitu?"


"Mas Damian terlihat kesal." Ah, Mira bahkan juga menyadari itu. "Tapi juga terlihat sedang sedih," lanjutnya membuatku menghela napas.


"Kenapa, Mbak? Ada masalah apa?" tanyanya lebih lanjut.


"Biasalah, Mir." Aku memberikan kemeja berwarna navy pada Mira. Sekalian celana legging berwarna hitam.


"Kalian bertengkar lagi karena masalah momongan?"


"Lebih tepatnya, Mas Damian sedang kecewa karena kali ini hasilnya negatif lagi."


Kali ini malah Mira yang menghela napas. "Apa Mbak dan Mas Mian gak mau periksa ke dokter? Maaf, Mbak. Bukannya bermaksud apa-apa. Tapi alangkah baiknya kalian periksa kesuburan dulu, kan? Buat jaga-jaga sebelum terlambat."


'Sudah, Mir. Sudah. Baru dua hari yang lalu. Dan karena hasilnya itu kakakmu mengurung diri terus seharian di kamar karena dia lah yang dinyatakan tidak subur bahkan ... mandul,' batinku gundah.


"Mbak?"


"Iya, nanti dicoba," balasku sambil tersenyum paksa.


"Ya sudah."


Setelah itu aku dan Mira pun keluar dari kamar dan kembali ke ruang tamu. Tak lupa aku membawa minyak kayu putih dan koin yang diminta ibu, lalu memberikannya pada beliau. Sebelum mengerok Mas Damian, ibu tampak mengusap punggung lebar anaknya itu dengan minyak kayu putih. Mas Damian hanya diam saja menurut tanpa berbicara kecuali ditanya.

__ADS_1


"Oh, iya, Ai, itu Ibu bawain jamu buat kamu. Diminum, ya."


Aku lantas menatap tumbler di atas meja. Benar dugaanku, isinya jamu. Ibu memang sering berkunjung ke rumah dengan membawakan minuman herbal itu. Katanya, jamu yang dibuat oleh mbah di samping rumah ibu terkenal ampuh menyuburkan rahim.


"Kamu selama ini sebenarnya minum jamu bawaan Ibu gak, sih, Ai? Kalau kamu minum, kenapa sampai sekarang khasiatnya tidak bekerja, ya?"


'Bagaimana mau bekerja, Bu. Seharusnya yang minum jamu itu Mas Damian, bukan aku. Sejak awal tidak ada masalah dengan rahimku.' Aku berucap dalam hati seraya menatap Mas Damian yang kini menundukkan kepala. 'Kasihan Mas Damian. Aku sungguh tidak tega melihatnya sedih begini.'


"Ai? Kamu denger Ibu tidak?" Ibu tampak sedikit kesal karena aku tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"I-iya, Bu. Airin selalu meminum jamu pemberian Ibu."


"Lantas kenapa kamu sampai sekarang belum hamil juga?" tanya ibu heran, "apa karena kalian kurang waktu bersama?"


"Iya, Bu. Aku rasa karena itu. Mas Damian, kan, sibuk. Jadi kami jarang ada waktu bersama," paparku yang tidak sepenuhnya bohong. Mas Damian memang sibuk. Dia adalah seorang dosen di salah satu universitas swasta. Jadwalnya padat sekali. Tapi dua hari ini dia mengambil cuti dengan alasan sakit.


"Mas, Ibu udah sering bilang, kan? Sering-sering habiskan waktu dengan istrimu. Jangan sibuk mengajar dan mengurusi anak-anak kuliahan terus. Kamu juga harus segera punya anak sendiri." Ibu mulai mengomel lagi, "umur kalian sudah menginjak kepala tiga. Kalian juga sudah menikah selama lima tahun. Udah saatnya punya anak, jangan ditunda-tunda lagi."


"Bu, sudahlah. Mas Mian dan Mbak Airin pasti mengerti. Kita do'akan saja," celetuk Mira yang sepertinya sadar akan hawa tidak mengenakkan dari Mas Damian. Jelas kakaknya itu tidak menyukai pembahasan ini.


"Ibu tahu. Tapi mereka kalau tidak dinasehati bisa menunda-nunda terus. Ibu juga mau secepatnya menimang cucu dari Damian," keluh ibu lantas menghentikan kerokannya. Sekarang tampak punggung Mas Damian penuh dengan garis-garis berwarna merah. Ternyata Mas Damian memang sedang masuk angin.


"Airin, kalau jamu yang Ibu berikan selama ini tidak ampuh, apa kamu tidak mau konsultasi ke dokter kandungan saja? Ibu khawatir, ada yang bermasalah dengan rahim kamu."


Aku sontak terkejut mendengar perkataan ibu. Bagaimana ini? Padahal kami memang sudah melakukan itu. Dan sekali lagi, rahimku sehat dan subur. Yang bermasalah adalah Mas Damian ... tapi aku sungguh tidak tega untuk mengatakan kebenaran itu. Kasihan Mas Damian. Dia pasti merasa semakin terpuruk dan malu. Ibu pun pasti akan syok jika tahu anaknya mandul. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang.


"Bu, sebenarnya kami sudah melakukan itu." Mas Damian tiba-tiba berucap, membuatku kembali terkejut. Apa ia akan mengatakan yang sebenarnya?


"Mas—"


"Dokter bilang Airin tidak akan bisa hamil. Dia ... mandul."


Sontak saja, kedua mataku terbelalak. Tercengang mendengar penuturannya. Aku tidak salah dengar, kan? Dia menyebut diriku mandul alih-alih dirinya sendiri?


Tampaknya tidak hanya aku yang syok, ibu dan Mira pun begitu. Terlebih ibu, dia langsung saja menatapku dengan ekspresi kaget bercampur marah. Tunggu ... kenapa ibu marah?


"Sudah Ibu duga!" seru ibu tiba-tiba, "dari awal Ibu udah curiga kalau Airin mandul! Ternyata itu benar? Pantas saja kamu tidak bisa memberikan anak pada Damian selama ini, Airin!"


Aku tergugu di tempat. Bingung dengan keadaan ini. Kenapa Mas Damian tiba-tiba membalikkan fakta? Kenapa ia malah memberikan vonis itu kepadaku? Apa yang dia lakukan sekarang?


"Harusnya kalian periksa dari awal, Mian! Kenapa baru sekarang? Lihat hasilnya, kamu tidak hanya terlambat memiliki anak, tapi kamu memang tidak akan pernah bisa punya momongan kalau begini!" berang ibu sambil menepuk punggung anaknya yang baru dikeroki itu. Ibu tampak marah sekaligus kecewa. Sementara Mira berusaha menenangkannya, "Bu, sabar dulu, Bu."


"Bu, aku tidak—" Diriku yang ingin mengelak, seketika terdiam saat mendapati Mas Damian tiba-tiba menoleh padaku dengan ekspresi memelasnya. Tatapannya pun begitu sendu, seolah memohon padaku untuk tidak mengatakan kebenarannya.


Apa ia melakukan ini karena tidak ingin membuat ibu sedih karena mendengar anak laki-laki satu-satunya mandul? Lantas ia malah melimpahkan semua ini padaku? Aku tidak terima, tapi di sisi lain aku juga tidak tega pada Mas Damian yang terlihat benar-benar memohon.


Baiklah, aku akan mengalah untuk sementara ini sebelum mendengarkan penjelasan Mas Damian nanti. Kuharap pria itu bisa memberikan alasan kuat yang tidak akan mengecewakanku. Aku harap ia tidak bermaksud egois di sini.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2