Duda? Hot Daddy.

Duda? Hot Daddy.
Part 1


__ADS_3

Mengingat kejadian itu, aku mulai tersenyum, sesuatu yang tak sengaja justru mendekatkanku dengannya, ah, ini bukan tak sengaja, tapi karena Syafina melakukan hal di luar dugaan yang pada akhirnya menjadi awal sesuatu yang baru untukku dan Mira. Kami yang pada awalnya hanya saling bertegur sapa layaknya para tetangga biasa, mulai sering berbicara bahkan hanya berdua saja tanpa melibatkan Syafina.


Senyumku mengembang, membayangkan kelebihan-kelebihan yang ia miliki. Menurutku, ia cantik, mandiri dan juga berkepribadian baik, dan setahu yang ku lihat, Mira masih sendiri. Namun senyumku hilang begitu saja setelah mendapati diri ke dunia nyata kembali. Saat ini Mira hanya menjadi sosok mimpi yang terlalu tinggi untuk ku raih, bagaimana tidak, keadaanku yang sekarang sudah tak pantas mengharapkan sosok wanita sepertinya. Aku tak terlalu berharap bisa menemukan pengganti, walau sebelum pergi ia berucap serta berharap bahwa aku bisa mencari sosok yang bisa menggantikan kekosongan setelah ia tiada, tapi tak semudah apa yang ia inginkan, dan Mira sepertinya bukanlah sebuah jawaban.


Kedekatan Mira dan Syafina memang bisa memberi harapan, tapi sayangnya aku lebih memilih ia bukan sebagai pilihan, dunia kami terlalu berbeda, kehidupannya terlihat sempurna sedangkan aku hanya orang yang baru memulai kembali menata hidup demi sang buah hati.


"Ayah, apa Ayah mau nikah lagi? Apa Syafina nanti punya Bunda baru?"


Pertanyaan sederhana dari gadis kecil yang sulit ku jawab. Beberapa waktu lalu Syafina menanyakan itu ketika kami sedang berada di tempat hiburan yang diadakan setiap satu tahun sekali itu. Mungkin ia penasaran tentang apa yang akan aku lakukan kedepannya, tapi apa gadis berusia tiga tahun lebih itu sudah berpikir seperti itu? Mungkin saja, karena yang ku tahu, Syafina adalah anak yang cerdas dan mandiri. Waktu itu aku hanya bisa menatapnya lalu tersenyum getir, tak tahu dengan jawaban apa yang harus kuberi.


"Pagi, Ayah."


Sapaan lembutnya membuyarkan lamunanku tentang apa yang terjadi malam itu.


"Eh, anak Ayah udah bangun, Pagi juga cantik."


Aku langsung menggendongnya dan mendudukannya dipangkuan. Kuhentikan sejenak kegiatan pagi yang sering aku jalani untuk sejenak bermain dan memeluknya.


"Ko anak Ayah yang cantik ini masih bau asem?"


Syafina tersenyum mengerti dengan ucapanku yang memang hanya sebatas bercanda.


"Syafina belum mandi, Yah."


"Kenapa belum mandi sayang?"


Dia tak menjawab, mungkin saja hari ini Syafina memang sedang tak ingin mandi, atau sedang ingin bermalas-malasan. Sama seperti apa yang sedang aku lakukan saat ini.


"Kalau Syafina enggak mandi, berarti hari ini Ayah gak jadi ngajak Syafina jalan-jalannya."


Dia menatapku dengan ekspreai cemberut namun tetap dengan sikap khas anak kecil yang lucu. Mungkin ia sedikit kesal mendengar ucapannku yang membatalkan janji untuk mengajaknya jalan-jalan hari ini.


"Iya Yah, Syafina mandi dulu."


Aku mengantarnya kekamar mandi namun tak memandikannya, ia sudah bisa dan terbiasa mandi sendiri, lagipula memang tak seharusnya seorang ayah yang memandikan putrinya, sejak dini anak perempuan harus sudah dikenalkan dengan rasa malu agar ia mengerti tentang mana yang boleh dan mana yang tak boleh dilakukan oleh perempuan dan laki-laki.


Setelah selesai mandi, Syafina dengan cekatan memakai pakaiannya sendiri, sementara aku hanya bisa mengarahkan dan sedikit membantu.


"Yah, kita cuma jalan-jalan berdua aja?"


Ketika aku memakaikan sepatunya tiba-tiba saja dia bertanya seperti itu, ku kira itu hanya pertanyaan biasa saja, namun ternyata ada sesuatu yang Syafina tak ceritakan.


"Iya sayang, emangnya kenapa? Kamu mau ngajak temen?"


Syafina terdiam tak menjawab pertanyaan dariku, aku mengernyitkan dahi seraya menatapnya, sepertinya ada yang akan ia lakukan, namun bersamaan dengan datangnya seorang tamu yang mengetuk pintu, senyumnya mulai mengembang, aku tak mengerti apa yang membuatnya tersenyum senang seperti itu. Aku beranjak menuju pintu depan untuk melihat siapa yang berkunjung sepagi ini dan ada keperluan apa.


Aku membuka pintu dan tersenyumlah orang dibaliknya dengan pakaian yang sudah rapi dan sepertinya sedang ada acara untuk pergi dihari libur yang cerah ini.


"Kok belum siap?"


Ditanya seperti itu olehnya, aku tak mengerti dengan maksud dari pertanyaannya itu.

__ADS_1


"Belum siap? Apanya?"


Aku menjawabnya dengan sebuah pertanyaan, agar semuanya jelas karena aku benar-benar tak mengerti apa tujuannya bertamu dipagi hari dengan pakaian rapi seperti itu.


"Tante."


Namun tiba-tiba Syafina muncul dan berlari memeluk tamu tersebut.


"Pagi sayang."


Wanita itupun langsung menggendong Syafina dan memberikan ciuman untuknya. Akhirnya aku mulai mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Tunggu, jangan bilang kalau kamu kesini karena diajak Syafina buat jalan-jalan?"


Mereka berdua tersenyum dan mengangguk, rupanya mereka berdua telah merencanakannya. Aku bertolak pinggang memasang ekspresi gemas pada putri kecilku yang mengajak tetangga di depan rumah untuk ikut acara hari ini tanpa sepengetahuan dan seizinku lebih dulu.


"Oh, anak Ayah mulai bandel rupanya, ngajakin tante Mira gak izin dulu sama Ayah, kayaknya harus Ayah kasih hukuman."


Melihat wajahku dengan ekspresi marah, Syafina merasa takut dan beringsut lalu bersembunyi dibelakang Mira. Ia mengerti betul kalau sekarang ini ia dalam bahaya.


"Mas, jangan gitu, ini salah aku juga kok."


Mira berusaha membela Syafina dan bahkan melindunginya, tapi aku tak peduli dengannya, Syafina adalah anakku dan dia harus aku beri pelajaran agar tak berbohong lagi, serta tak menjadi kebiasaan.


"Syafina, sini!"


Suasana yang semula ceria kini berubah menegangkan. Syafina perlahan mulai keluar dari belakang kaki Mira, karena tinggi Syafina baru sebatas paha Mira saja, dia tak berani membantah perintahku, karena aku mendidiknya agar menjadi anak yang baik. Mira berusaha mencegahnya namun Syafina sendiri yang menepis tangan Mira lalu perlahan menghampiri, wajahnya tertunduk penuh rasa takut.


Aku memarahi Syafina di depan Mira langsung, secara halus akupun menyindir untuknya agar tak ikut campur urusanku dengan Syafina, saat ini statusnya hanyalah orang lain.


"Syafina tahu, Yah, maafin Syafina."


Mira menghampiri dan berdiri dibelakang Syafina untuk melindunginya. Mungkin ia khawatir aku akan melakukan sesuatu yang kasar padanya. Aku melangkah lalu kemudian berjongkok tepat didepan Syafina yang masih menundukan wajahnya dengan penuh rasa takut.


"Kamu tahu Ayah mau ngasih kamu hukuman apa?"


Syafina tak berani menjawab, dia hanya menggelengkan kepala seraya tetap menundukkan wajahnya semakin dalam dan tak berani menatapku sedikitpun, aku salut dengan mental Syafina, dia tak menangis dengan kondisi yang dihadapinya saat ini, dan pada akhirnya aku sedikit tersenyum senang.


"Ayah kasih hukuman ini."


Aku langsung menggelitiki Syafina di perut dan bagian pinggangnya, suasana yang sebelumnya tegang pun kini kembali ceria oleh sikapku dan Syafina.


"Mas ini, kirain beneran."


Mira sedikit mencubitku karena refleks gemas dengan caraku mengerjai Syafina. Aku hanya tersenyum membalasnya. Aku menghentikan gelitikanku pada perut Syafina, karena kasihan sepertinya ia tertawa terlalu berlebihan.


"Lain kali, Syafina kalau mau ngajak tante bilang dulu sama Ayah, ya."


Syafina mengangguk mengiyakan apa nasihatku. Walaupun aku tak memarahinya bukan berarti apa yang ia lakukan itu benar, Syafina harus belajar untuk jujur.


"Aku tinggal mandi dulu ya."

__ADS_1


Aku beranjak dari ruang tamu untuk pergi kekamar mandi lalu segera siap-siap untuk berangkat memenuhi janji hari ini.


"Eh, Mas, aku tetep boleh ikut, kan?"


Mira memastikan kalau dia tetap diajak untuk ikut berlibur. Aku hanya menjawabnya dengan tersenyum untuk mengiyakan apa yang ia tanyakan barusan.


"Tapi kita jalan-jalan cuma naik motor loh, emang gak apa-apa?"


Sebelum beranjak mandi, aku memastikan dulu kalau aku dan Syafina akan pergi berlibur hanya menggunakan motor saja, karena aku hanya memiliki itu. Aku khawatir dia tak terbiasa, karena dia sepertinya jarang naik kendaraan roda dua, bahkan pulang pergi kerja pun Mira selalu menggunakan mobil pribadi yang dia beli sendiri dari hasil kerja kerasnya sebagai seorang tenaga medis.


"Iya, gak apa-apa."


Mira tersenyum mantap. Ada rasa tak enak ketika aku baru mengetahui kalau Syafina mengajaknya, karena dia masih muda walaupun usiaku dengannya hanya terpaut dua tahun saja, namun Mira belum berkeluarga, dirumahnya pun dia hanya tinggal seorang diri, sedangkan aku berstatus duda yang telah memiliki seorang putri.


"Aku tinggal dulu ya."


Selesai mandi dan bersiap-siap, aku segera menuju garasi rumah untuk mengeluarkan motor sport kesayanganku yang jarang digunakan untuk sehari-hari, karena untuk sehari-hari aku lebih nyaman menggunakan motor kecil agar lebih praktis. Suara dari knalpot variasi yang nyaring membuat suara seisi garasi menggema. Rupanya Mira dan Syafina sudah menunggu didepan dengan antusias. Tak biasanya Syafina seperti ini, begitu senang hanya dengan acara berlibur yang begitu biasa menurutku.


"Yuk."


Aku memberikan helm untuk digunakan Mira, sementara Syafina aku rasa tak perlu menggunakannya, karena dia akan duduk diantara aku dan Mira. Tujuanku kali ini ingin mengajak Syafina pergi mengenal flora dan fauna yang ada di Indonesia, tak perlu ketempat yang jauh, cukup hanya dengan menempuh perjalanan satu jam saja untuk sampai disana.


Aku mulai memacu sepeda motor dengan kecepatan sedang. Akan berbahaya bagi mereka kalau aku memacunya dengan kecepatan terlalu tinggi, tempat duduk pada jok bagian belakang begitu sempit yang sebenarnya hanya ditujukan untuk satu orang penumpang.


Tak terasa satu jam begitu cepat berlalu, dan tempat yang akan kami kunjungi sudah didepan mata. Aku menurunkan mereka berdua lebih dulu didekat tempat pembelian tiket agar mereka tak harus berjalan jauh dari tempat parkir menuju ke pintu masuk utama yang tak jauh dari tempat pembelian tiket tersebut. Setelah memarkirkan motor pada tempat parkir, aku langsung menghampiri mereka yang menunggu disana.


"Sebentar ya, aku beli tiket dulu."


"Udah beli ko, nih, yuk masuk."


Rupanya Mira telah membelikan tiket masuk ketika aku memarkirkan motor tadi dan kami bertiga pun langsung masuk.


"Tante, ada kelinci lucu."


Syafina dengan antusias menarik tangan Mira untuk menemaninya melihat kelinci yang berada tempat khusus yang hanya ada binatang kelinci dengan berbagai jenis saja.


"Iya sayang."


Mira dengan sabar mengikuti apa yang Syafina inginkan, sepertinya mereka berdua melupakan keberadaanku, tapi tak apa selama itu bisa membuat Syafina bahagia. Mereka terus saja tanpa henti menjelajahi apa yang ingin Syafina lihat namun akhirnya aku tak lagi dilupakan.


"Mas, sini."


Mira melambaikan tangan padaku, dengan segera aku menghampiri mereka berdua seraya memasang senyum senang karena merasa saatnya bersenang-senang telah tiba.


"Mas, tolong fotoin ya."


Namun ternyata mereka memanggilku hanya untuk sekadar mengabadikan momen bahagia mereka berdua. Setelah beberapa kali mengambil gambar menggunakan ponsel milik Mira akupun menyerahkan kembali ponsel itu padanya lalu pergi untuk mencari tempat duduk dan dari jauh hanya memperhatikan mereka bersenang-senang saja.


"Mas, mau kemana? Foto bareng dulu dong, masa aku sama Syafina aja."


Tanpa menolak aku langsung mengambil pose dengan menggendong Syafina untuk beberapa kali foto. Dan terakhir kami foto bersama layaknya keluarga bahagia.

__ADS_1


__ADS_2