
"Sayang bangun, udah siang."
Tak biasanya Syafina bangun terlambat, waktu telah menunjukkan pukul 06.49 namun ia masih terlelap dalam tidurnya. Ku dekati dan bermaksud mengusap serta membelai dahi serta rambutnya.
"Astaga."
Aku tersentak ketika mengusap kening Syafina, tubuhnya panas dan mungkin itu alasan Syafina belum terbangun dari tidurnya saat ini.
"Sayang, bangun."
Dengan lembut aku mencoba membangunkannya untuk sarapan dan sesegera mungkin minum obat, Syafina terbangun dengan kondisi tubuh lemah lalu kemudian merengek.
"Ayah."
Ia merajuk. Aku segera menggendong dan menimangnya lalu membawanya ke dapur untuk sarapan dan minum obat agar demamnya bisa segera turun. Aku selalu menyediakan obat-obatan dalam kotak p3k, sekadar untuk berjaga-jaga ketika aku atau Syafina sakit. Sambil tetap menggendongnya, aku menyiapkan roti tawar untuk sarapan karena yang ku tahu perut tak boleh kosong ketika kita harus minum obat, akan berbahaya untuk lambung serta organ tubuh lainnya, apalagi Syafina masih termasuk balita. Setelah mengolesi selembar roti tawar dengan selai cokelat kacang kesukaanya, aku melipat roti tersebut dan menyuapkannya pada Syafina, namun ternyata dia menolak untuk disuapi.
"Gak mau."
Syafina menggeleng lalu kembali merengek. Aku tak langsung memaksanya untuk makan, pelan-pelan aku mencoba memberinya pengertian.
"Sayang, kalau kamu gak makan nanti gak bisa minum obat loh."
Kucoba kembali menyuapkan roti tadi yang masih ada di tangan kanan, namun Syafina masih tetap dengan pendirian untuk tak mau makan.
"Sayang, kalau kamu gak minum obat nanti gak sembuh-sembuh loh, kalau nanti kamu gak sembuh-sembuh nanti kamu ayah bawa ke rumah sakit terus tangannya nanti ditusuk jarum infus, mau gak?"
Syafina terdiam sejenak, mungkin ia membayangkan tentang apa yang ku ucapkan tadi karena pada akhirnya ia mau memakan roti selai yang ku buat sebelumnya, walaupun tak sampai habis tapi ku rasa cukup untuk untuk sekadar mengisi perutnya yang masih kecil.
"Habis ini minum obat ya."
Aku mendudukkan Syafina di kursi meja makan dan ku tinggal untuk mencari obat pereda demam untuk anak-anak yang biasanya selalu tersedia pada kotak p3k di rumah, namun sayang aku tak menemukannya, mungkin aku lupa membeli obat karena Syafina jarang sekali sakit. Dalam kondisi seperti ini aku harus pergi ke toko yang tak jauh dari kompleks untuk membeli obat penurun demam untuk anak-anak. Namun sebelum itu aku membawa Syafina lebih dulu kembali ke kamarnya untuk beristirahat.
"Sayang tunggu sebentar ya, Ayah mau beli obat dulu ke toko yang ada di depan."
Syafina mengangguk pelan, wajahnya mulai pucat dan kurasa suhu tubuhnya bertambah panas. Aku bergegas menuju ke toko dengan hanya berjalan kaki, karena memang toko itu tak jauh dari kompleks rumah. Cukup dengan lima menit aku sudah kembali berada di rumah dengan membawa obat penurun panas untuk anak-anak.
"Sayang, minum obat dulu ya."
Kali ini Syafina tak menolak untuk minum obat, mungkin ia masih ingat apa yang akan terjadi kalau ia tetap tak mau untuk minum obat.
"Anak Ayah pinter, gak pahit kan?"
Syafina tersenyum, rasa obat untuk anak kecil memang dirancang agar rasanya seperti rasa buah-buahan atau rasa manis untuk mengatasi anak kecil yang susah minum obat. Selain meminum obat, aku juga membeli obat penurun panas yang saat ini sedang aku tempelan di dahi Syafina, semoga dengan di obati dari luar dan dalam bisa dengan cepat menurunkan demamnya.
Dua jam telah berlalu, Syafina tertidur kembali dengan kondisi demam yang sudah mulai turun, aku lega karena sepertinya ia akan sembuh cukup dengan minum obat-obatan biasa saja. Melihatnya tertidur, aku memotretnya dan mengunggah fotonya pada media sosial lengkap dengan do'a yang kutulis dan diakhiri dengan emoji berharap serta sedih. Foto itu menarik simpat teman-teman media sosialku, banyak dari mereka yang mendoakan kesembuhan untuk Syafina, termasuk Ana.
"Mas, Syafina sakit apa? Nanti sore aku kesana, ya."
Komentarnya pada laman komentar status yang kuunggah. Aku tak membalasnya, hanya sekedar memberikan simbol hati untuk komentar Ana itu.
Ponselku berdering nyaring dengan tulisan pada layarnya dengan nama "Ana."
"Halo."
Setelah keluar dari kamar Syafina, baru kuangkat telefon darinya, aku tak mau mengganggu istirahat Syafina dengan obrolanku bersama Ana.
"Mas, Syafina kenapa? Dia sakit apa? Sudah minum obat belum?"
Tanyanya tanpa jeda. Aku menjawab telefonya dengan santai karena mengangapnya lucu dengan nada bicaranya yang seperti itu.
"Dia cuma demam ko, tadi udah minum obat."
__ADS_1
Setelah sedikit berbincang dengan Ana lewat telefon tadi, ia menjanjikan bahwa sore ini ia akan menjenguk Syafina di rumah, sempat ku larang namun ia memaksa dan tetap akan datang. Selesai menerima telefon aku kembali ke kamar Syafina untuk memeriksa suhu tubuhnya, selama kurang lebih dua jam ini ku hitung sudah lebih dari 10 kali aku mengecek suhu tubuhnya dan aku bersyukur demamnya sudah semakin turun.
Kembali ponselku bergetar, kali ini tanpa suara, sengaja ku aktifkan silent mode agar tak mengganggu istirahat putri kecilku. Tanpa ku lihat tulisan nama pada layarnya, aku menjawab panggilan tersebut.
"Halo."
"Mas, Syafina sakit?"
Tak seperti sebelumnya, kali ini suara di ujung ponsel sana bernada datar, aku mengenal suara itu tanpa harus melihat nama pada layar yang tertera.
"Iya, tapi udah mendingan ko."
"Kenapa tadi pagi gak ngabarin?"
"Aku baru tahu dia sakit pas kamu udah berangkat."
Entah kenapa obrolan kami saat ini begitu kaku, Mira pun sepertinya sedang tak ingin ramah seperti biasanya, ia begitu dingin, mungkin saat ini sedang banyak yang sedang dipikirkan olehnya. Bahkan sampai ia menutup telefon pun terasa sekali kalau ia memang sedang tak seperti biasanya.
"Ayah."
Suara lemah Syafina membuyarkan pikiranku tentang Mira.
"Ya sayang, cantik udah bangun, gimana? Badannya udah enakkan belum?"
Syafina tak menjawab pertanyaanku, ia malah berbalik memelukku setelah aku berbaring disampingnya dan mengusap lembut rambu kepalanya. Kurasa panasnya sudah benar-benar turun. Keringat membasahi sekujur tubuhnya, mungkin itu yang membuatnya terbangun.
"Kamu laper gak?"
Syafina menggeleng dalam dekapan. Sakit mengurangi nafsu makannya, padahal sejak pagi hingga siang ini dia hanya mengkonsumsi roti saja, itupun tak sampai habis.
"Gak boleh gitu sayang, kamu harus makan, kamu mau nanti panas lagi terus tangannya di suntik infusan?"
Lagi, ia menggeleng namun tak mengatakan apapun. Aku berpikir harus membujuknya dengan cara apa agar ia mau makan.
Kata-kataku sukses membuatnya merengek namun tak membuatnya takut, justru membuatnya semakin susah untuk dibujuk. Dalam kondisi seperti ini, anak kecil hanya ingin minta dimanja dan dimengerti oleh orang tuanya.
"Ya udah, kamu maunya apa? Mau makan apa?"
Kali ini ia tak menjawab ataupun menggeleng, mungkin ia sedang berpikir tentang apa yang diinginkannya.
"Syafina pengen es krim, Yah."
Kali ini aku terpaksa memenuhi apa yang diinginkannya, namun aku pun memberikan syarat agar ia harus banyak makan agar cepat sembuh.
Setelah semua keinginan Syafina terpenuhi, ia menepati janji yang kurasa bukan sekadar karena itu saja, mungkin Syafina juga tak menginginkan jarum suntik dan infusan menancap pada salah satu tangannya.
Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah, aku yang sedang berada di dalam kamar Syafina segera keluar menuju ke ruang tamu lalu membuka sedikit tirai jendela untuk melihat siapa yang datang, ternyata dia. Aku tersenyum melihatnya keluar dari mobil dengan pakaian seksinya, sedikit memperlihatkan tato di bagian lengan atas, gambar dengan warna kulit putihnya yang kontras. Aku lebih dulu membukakan pintu untuknya sebelum Ana sempat mengetuk.
"Hai."
Ana terkejut melihatku tengah berdiri di ambang pintu yang terbuka tersenyum dan menyadari kedatangannya.
"Ko tahu aku datang?"
"Iya, tadi kedengeran suara mobilnya, kirain kamu mau ke sini nanti sore?"
"Tadinya sih gitu, cuma gak sabar aja."
"Davina mana? Kamu sendirian aja?"
Belum sempat Ana menjawab pertanyaanku, Syafina yang dari tadi sepertinya mendengar pembicaraan aku dengan Ana keluar dari kamarnya.
__ADS_1
"Tante."
Syafina sudah berdiri dibelakangku tanpa ku sadari, lalu menyapa Ana yang masih berdiri di depan rumah.
"Halo sayang, katanya sakit? Ko udah senyum lagi, udah mendingan?"
Tanpa dipersilahkan masuk, Ana dengan sendirinya masuk dan menggendong Syafina.
"Udah sembuh Tante, kak Davinanya mana, Tante?"
"Kakaknya gak ikut sayang, lagi di rumah."
"Mas, bisa tolong ambilin barang-barang di mobil gak? Semuanya ya."
Tanpa menjawabnya aku yang baru mau menutup pintu depan langsung menuju mobil Ana. Setelah ku buka pintu belakang mobilnya, terlihat beberapa barang dengan dibungkus kantung plastik besar hampir mengisi penuh jok belakang mobil, aku kebingungan dengan apa yang ana katakan sebelumnya sehingga aku tak mengambil satu barangpun dari sana. Aku kembali ke dalam rumah untuk memastikan apa yang harus aku bawa.
"Loh, mana barangnya, Mas? Belum di ambil?
Ana heran melihatku kembali tanpa membawa apapun.
"Mmmhhh, Itu yang harus di ambil yang mana ya? Banyak soalnya."
Ana tersenyum dan aku tak mengerti arti dibaliknya.
"Semuanya mas, itu buat kamu sama Syafina."
"Hah? Sebanyak itu?"
"Iya, emang kenapa? Udah tolong cepet ambilin mas, Syafina pasti suka."
Tanpa menunggu Ana mengulangi ucapannya, aku kembali ke mobilnya untuk mengambil semua barang yang berada di jok belakang. Dengan susah payah aku mengambil satu persatu kantung plastik berisi barang belanjaan itu lalu membawa semuanya ke dalam rumah.
"Nah, ini buat kamu sayang."
Ana begitu memanjakan Syafina lewat semua barang yang ia berikan, padahal kurasa Syafina tak membutuhkan itu, ia lebih membutuhkan yang lebih berharga dari pada itu, yaitu kasih sayang.
"Makasih Tante."
Syafina senang menerima semua pemberian dari Ana, namun yang kurasa ia sama sekali tak begitu menginginkannya, itu dapat terlihat dari ekspresinya yang tak terlalu menikmati apa yang Ana berikan. Tak banyak yang kami lakukan selama Ana menengok Syafina, Syafina lebih asik dengan mainannya sendiri, sementara aku lebih banyak mendengar apa yang ingin Ana ceritakan, sampai pada akhirnya pembahasan kami menjadi serius.
"Oh iya, hubungan kamu sama Mira gimana?"
Entah kenapa aku begitu kurang nyaman ketika Ana mulai menanyakan perihal kedekatanku dengan Mira.
"Mmmhhh, biasa aja, emang kenapa?"
Ana tersenyum tak menjawab pertanyaanku, aku melihatnya merasa senang dengan jawabanku tapi aku tak mengerti apa yang membuatnya seperti merasa lega.
Tak terasa beberapa jam telah berlalu, hingga sore pun tiba.
"Aku pulang ya?"
"Loh, mau kemana? Masih sore loh."
Aku sedikit berbasa-basi mencegahnya pulang, padahal dalam hati tak enak juga kalau Ana bertamu dengan pakaian seperti itu hingga malam haru, bisa-bisa nanti akan menjadi gosip para tetangga.
"Gak enak ah, keseringan main lama, nanti lama-lama aku pengen nginep loh."
Ucapnya sambil menggoda, lalu beranjak menuju ke mobilnya. Aku mengantarnya hingga ke pintu mobil, dan sebelum pulang tak lupa mengucapkan terimakasih karena sudah menjenguk Syafina dan juga repot-repot harus membawa barang-barang untuknya. Ku bukakan pintu mobil untuknya, namun tanpa kuduga ia melakukan sesuatu yang membuatku menjadi salah tingkah.
Cup.
__ADS_1
"Makasih ya."
Ana masuk ke dalam mobil bersamaan dengan sebuah mobil lain yang datang dan berhenti tepat seberang jalan rumah lalu masuk ke dalam garasi rumahnya. Sebelum masuk, pengemudi mobil itu sempat membuka kaca mobil dan menatap ke arahku dengan tatapan yang tak ku mengerti. Entah kenapa melihatnya seperti itu adrenalin ku seperti terpacu, detak jantung yang sebelumnya santai berubah menjadi cepat, namun aku berusaha berpikir positif bahwa semua akan baik-baik saja, karena aku menyadari aku tak memiliki ikatan dengannya.