Duda? Hot Daddy.

Duda? Hot Daddy.
Part 4


__ADS_3

Almiera Shofia Prameswary


Gadis cantik yang berprofesi sebagai tenaga medis pada salah satu rumah sakit daerah, usianya baru 27 tahun dan belum menikah.


Aku lelah, hari ini begitu banyak orang yang mengalami sakit sehingga dengan terpaksa aku pulang hingga melebihi jam kerja yang hanya sampai pukul empat sore. Sebelum pulang aku teringat dengan kejadian kemarin ketika aku berlibur bersama Syafina, anak kecil yang belum lama ini menjadi tetanggaku. Gadis kecil yang baik, cerdas dan cantik, mungkin paras cantik itu ia warisi dari ibunya yang telah tiada karena wajahnya tak terlalu mirip dengan ayahnya, hanya beberapa bagian saja yang kurasa mirip dengan ayahnya, tapi tak dapat ku pungkiri bahwa ayah Syafina pun cukup tampan, namun yang paling penting sepertinya dia Ayah yang baik. Tak terasa aku jadi tersenyum sendiri membayangkan mereka berdua.


Hari sudah sangat sore, aku bergegas pulang tapi sebelum itu ada hal yang harus aku lakukan lebih dulu. Sepulang bekerja aku berencana membelikan Syafina kue, jadi sebelum pulang aku akan mampir ketempat kue yang beberapa kali pernah ku kunjungi. Tak sabar rasanya melihat ekspresi bahagianya ketika menerima kue itu dariku.


Waktu telah menunjukan pukul lima sore, aku khawatir kalau toko kue yang aku tuju akan segera tutup, namun beruntung aku masih sempat sampai di sana tepat beberapa menit sebelum toko kue itu tutup.


"Mba, maaf apa tokonya masih buka?"


Aku bertanya pada pegawai toko yang sedang membereskan barang-barang dan kue yang akan disimpan pada tempat penyimpanan kue khusus.


"Oh iya mba, kebetulan kami baru mau tutup sebentar lagi, mau beli kue apa?"


Aku memilih-milih kue yang kemungkinan akan Syafina sukai, dan tak butuh waktu lama aku menemukannya.


"Mba, tolong bungkus yang itu ya, tiga."


Setelah membeli beberapa macam kue, aku kembali melanjutkan perjalanan pulang, dengan percaya diri aku tersenyum membayangkan kalau Syafina akan senang menerima kue pemberianku.


Sesampainya di rumah dan setelah memarkirkan mobil di garasi, tanpa mandi atau berganti pakaian terlebih dulu, aku lamgsung mengantarkan kue yang ku beli ke rumahnya. Setelah sampai di depan rumahnya, kulihat rumahnya tak seperti biasanya, rumah itu sepi seperti tak berpenghuni, Namun itu tak menyurutkan niatku untuk segera memberikan kue itu pada mereka seraya berharap perkiraanku salah.


Tok tok tok.


Kucoba beberapa kali mengetuk pintu depan rumahnya, namun hasilnya nihil, sepertinya mereka memang sedang tak berada di rumah. Aku kembali pulang ke rumah untuk menyimpan kue itu pada lemari pendingin dan berharap mereka pulang sebentar lagi, dan harapan itu akhirnya terwujud. Samar ku dengar suara motor yang baru saja mematikan mesinnya tepat didepan rumah Angga. Aku segera berjalan dengan senyum yang terhias jelas diwajah, menuju ke ruang tamu rumah dan membuka tirai jendela untuk memastikan kalau yang datang memang orang yang sedang ku tunggu. Senyumku semakin mengembang ketika yang ku lihat memang benar-benar dia. Segera ku ambil kue yang baru saja kusimpan dilemari pendingin itu, masih tak ku hiraukan pakaian kerja yang masih menempel ditubuh, tak mau kehilangan kesempatan lagi untuk menemuinya.


"Mas, Syafina mana?"


"Syafina belum pulang Ra, bentar lagi kayanya."

__ADS_1


"Loh, emang gak pergi sama kamu? Soalnya tadi aku kesini, kamu gak ada."


Angga tak menjawab pertanyaanku, ia tersenyum melihat sebuah mobil yang datang lalu berhenti tepat di depan rumahnya. Pintu mobil pun terbuka, kemudian seorang anak kecil berteriak girang lalu berlari memelukku.


"Tante."


Aku tersenyum senang melihatnya begitu bahagia, tanpa kusadari orang lain yang juga turun dari mobil itu bersama anak kecil lainnya yang kutaksir usianya tak jauh berbeda di atas Syafina.


"Eh sayang udah pulang, ini tante bawain kue."


Syafina senang sekali mendapatkan kue dariku, dia mengajak temannya yang datang bersama perempuan yang baru saja turun dari mobil itu masuk ke dalam rumah untuk menikmati kue pemberian dariku. Aku pernah melihat perempuan itu, kalau tak salah dialah orang yang berkomentar pada statusku kemarin.


"Ini Mira ya?"


Perempuan itu ternyata tahu namaku, mungkin juga dia melihat identitasku dari media sosial sama seperti yang ku lakukan. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaannya.


"Aku Riana, panggil aja Ana."


"Mas, aku pulang dulu ya."


Aku pamit untuk pulang tanpa mempedulikan jawabannya, hatiku begitu bergejolak melihat Angga bersama wanita seperti itu. Memang tak ada yang salah dengan apa yang mereka lakukan, aku pun tak mempunyai hubungan apa-apa dengan Angga, namun tak ku sadari sisi kecil dalam diri benar-benar tak menyukai kedekatan mereka.


Sesampainya di rumah aku tak ingin melakukan apapun selain hanya merebahkan diri di kamar untuk meredam hatiku yang cemburu. "Cemburu? Apa iya aku cemburu pada mereka?" Aku tak peduli dengan apa yang ku rasakan, tapi yang jelas aku tak menyukai kedekatan mereka.


Beberapa kali aku melihat dari jendela ruang tamu rumah, dan mobil dari perempuan itu masih terparkir di sana yang berarti bahwa perempuan itu masih asik bertamu di rumah Angga.


"Mereka ngapain sih? Ko lama banget, cewek itu belum pulang juga."


Aku melirik jam yang dikenakan di tangan kiri, telah menunjukan pukul delapan malam, berarti sudah dua jam berlalu sejak perempuan itu datang bertamu. Pikiranku kini mulai kacau dipenuhi bayangan-bayangan negatif tentang apa saja yang mereka lakukan selama berdua.


"Gak mungkin, aku yakin dia orang yang baik, gak akan ngelakuin hal serendah itu, tapi gimana kalau cewek itu yang maksa?"

__ADS_1


Aku mengacak-acak rambutku sendiri hingga berantakan, stres memikirkan hal negatif yang mereka lakukan padahal bisa jadi mereka hanya sedang asik mengobrol saja, sambil menemani Syafina dan anak dari perempuan itu. Untuk mendinginkan otak dan hati yang mungkin saja memang benar ini yang dinamakan cemburu, aku beranjak menuju kamar mandi yang berada disamping dapur bagian belakang rumah. Segarnya guyuran air yang membasahi sekujur tubuh ternyata memang mampu memberi sedikit rasa rileks pada otak dan hati yang sedang bergejolak. Setelah selesai mandi aku sudah merasa lebih baik dan sedikit lebih tenang. Aku segera mengenakan pakaian tidur dan bersiap untuk tidur, ku coba untuk tak peduli dengan apa yang terjadi dengan mereka. Namun ketika aku baru saja mulai memejamkan mata, terdengan pintu depan rumah seperti ada yang mengetuk, aku tak langsung beranjak, mencoba memastikan bahwa pendengaranku tak salah, dan ternyata memang benar-benar ada yang mengetuk pintu rumah. Aku berjalan gontai untuk mengecek siapa yang bertamu selarut ini, sebelum membuka pintu, aku mencoba sedikit mengintip seseorang yang tengah berdiri tepat di depan pintu rumah dan tebak siapa yang ku lihat? Ya, aku melihat mereka berdua berdiri disana. Dengan setengah hati aku membukakan pintu untuk mereka.


"Maaf ganggu, aku boleh minta tolong?"


Tanpa basa-basi Angga langsung mengutarakan niatnya. Aku menatap mereka bergantian, belum bisa menebak apa yang mereka inginkan dariku.


"Iya, minta tolong apa?"


Angga sepertinya tak enak menceritakan apa yang menjadi masalahnya sehingga meminta tolong padaku, dia hanya diam saja sambil menggaruk kepalanya yang kurasa tak gatal sama sekali. Melihat Angga seperti itu, Ana mengambil inisiatif untuk berbicara tentang apa yang mereka inginkan, dan setelah tahu alasan mereka kemari, rasanya aku benar-benar ingin mencubit sekeras-kerasnya bagian dari tubuh Angga, entah itu perut, tangan, pipi atau apa saja yang bisa ku jadikan pelampiasan rasa gemasku padanya. Aku tak segera mengiyakan apa yang menjadi keinginan mereka karena hatiku dengan tegas dan keras menolak namun mulutku belum mampu mengatakannya, tapi tiba-tiba saja mulutku mengizinkan dengan diiringi senyum yang sangat lebar penuh kemenangan.


"Oh iya, boleh ko, boleh banget malah, Ana nginep dirumahku aja, biar aku ada temen ngobrol."


Mereka berdua sepertinya heran tampang jutekku pada mereka sebelumnya tiba-tiba hilang dan berganti menjadi senyum sumringah penuh kemenngan. "Yes, dengan kaya gini, aku bisa mastiin kalau Angga dan Ana gak macem-macem, terus aku bisa tidur nyenyak deh." Sambil membawa Ana menuju ke kamar tamu, senyum kemenangan dari wajahku tak pernah hilang.


Ku perhatikan, Ana sudah berganti pakaian dengan menggunakan kaus dan celana training dan sepertinya pakaian itu milik Angga karena dapat di lihat dari ukurannya yang terlalu besar untuk ia kenakan. Ana tak lebih tinggi dariku, namun tubuhnya lebih ramping dan seksi, berbeda denganku yang memang sedikit berisi dan chubby.


"Aku tinggal ya, jangan sungkan anggap rumah sendiri."


Aku beranjak bermaksud meninggalkannya sendiri, mungkin juga Ana sudah ingin beristirahat.


"Mira."


Ana mencegahku, sepertinya ada yang ingin ia sampaikan.


"Ya?"


"Bisa ngobrol sebentar?"


Ana tersenyum. Sebenarnya sejak awal tadi bertemu dan berkenalan dengannya, Ana sama sekali tak menunjukkan sikap permusuhan padaku, mungkin karena aku terbawa perasaan sehingga sikapku sebelumnya sedikit kurang pantas padanya, dan sekarang sepertinya saat yang tepat untuk memperbaikinya.


"Bisa, ya udah, kalau kamu belum ngantuk, kita ngobrol diruang tamu sambil ngeteh."

__ADS_1


Ana setuju dengan usulku, ia beranjak menuju ke ruang tamu, sementara aku menuju ke dapur untuk membuat lemon tea hangat dan membawa beberapa cemilan sebagai teman begadang.


__ADS_2