
"Ah! maaf~ aku masih ngantuk ternyata! Hiks!''
Sung-ah langsung cepat-cepat memeluk Ayoung.
''Hihihi dasar Park Sung-ah... kepala gak ada isinya kok dibawa-bawa?''
Mendengar perkataan Pyo Jiho membuat dua wanita itu memberikan reaksi berbeda. Ayoung menahan ketawanya yang imut itu dan sedangkan Sung-ah menahan amarahnya dengan mengertakan giginya yang tentu saja tidak terima dengan candaan Jiho.
''Awas kau, Pyo Jiho!''
Begitulah keseharian Park Sung-ah sebagai seorang siswi SMA biasa, namun saat malam tiba...
''Mati''
Seorang dukun wanita berpakain serba putih dari ujung kepala sampai ujung kakinya, sedang meramal seorang anak laki-laki yang datang dengan ibu dan neneknya
''haaah!!!''
nenek sangat kaget dan bingung mendengar perkataan yang keluar dari mulut dukun tersebut.
''Apa?!?''
Tak kalah menantu perempuannya juga sama kagetnya mendengar hal itu, karena anak laki-laki tersebut adalah anaknya sendiri dan satu-satunya.
''Anakmu... akan mati''
Dengan malasnya dukun itu menjelaskan apa maksud dari perkataannya sambil menompang dagunya serta mata yang sayu melihat tamu yang ada dihadapannya.
Yahh Dukun itu adalah Park Sung-ah yang sedang memenuhi keinginan tamu-tamunya pada malam hari, maka itu lah ia slalu tidur dikelas saat pelajaran dimulai. Keseharian Park Sung-ah sebagai ''Dewi Langit dan Bumi'' sang dukun di wilayah tempat tinggalnya pun dimulai.
Masih ditempat prakteknya Dewi Langit dan Bumi sedang berusaha menjelaskan ramalannya agar nenek dan menantu perempuan itu paham tentang kondisi dari anak laki-laki yang sedang tidur di pangkuan ibunya.
''Banyak saudari akan bertemu dengannya~ Dia tidak akan kesepian dijalan kepergiannya...''
__ADS_1
Tangan sang Dewi menyentuh meja dengan lembut menggunakan jari lentiknya sambil terus meramal dan menjelaskan pada tamunya itu.
''Ti...tidak...''
Nenek itu masih kaget dan tidak menerima apa yang dijelaskan oleh sang Dewi, tetapi sang dewi tetap sabar dan lanjut menjelaskan lagi tentang ramalannya tentang anak laki-laki yang adalah cucu dari perempuan tua itu.
''Tapi nasib yang dibawanya dari lahir tidak bisa diubah''
''A... aduuuh! Tidak!!! Tidak boleh begitu, Dewi!!! Dia adalah satu-satunya anak laki-laki dalam tiga generasi keluarga saya! Saya mohon...''
Nenek itu langsung mendekati sang Dewi dengan menangkupkan kedua tangannya dengan wajah memelas agar cucunya tersebut dapat dibebaskan dari takdir yang sudah dibawanya itu sejak lahir.
Dibalik cadarnya sang Dewi tersenyum mendengar permohonan nenek itu.
''Aku juga heran... Apa yang salah dengan anak sekecil ini...?''
Sang ibu yang sedang memangku anaknya yang sedang tidur menahan genangan air matanya sambil mengusap-usap kepala anaknya.
Sang Dewi yang baru saja meneruskan ramalannya baru mengetahui apa penyebabnya dan itu membuat kedua wanita nenek dan ibu dari anak laki-laki tersebut bertambah kaget.
''Coba kulihat... Ada empat, ohh bukan, ternyata lima''
Sang dewi melihat kearah anak laki-laki itu untuk melihat berapakah saudari-saudari dari anak itu yang sedang mencekek dan mengikutinya.
''I... Itu...''
Dengan tangan gemetar sang nenek berusaha untuk menenangkan dirinya setelah ia memahami dan mendengarkan perkataaan dari sang Dewi.
''Hanya ada satu cara... Pertama-tama kalian harus menggelar upacara ritual untuk meredakan dendam para saudara perempuan anak ini''
''Iya, iya!!! berapa pun...''
Saking tidak ada jalan lain, sang nenek pun menerima cara yang diberikan sang Dewi seberapapun uang yang harus ia keluarkan ia rela demi cucunya itu dapat terselamatkan oleh kematiannya dan terlepas dari dosa orang tuanya.
__ADS_1
''Tapi... Karena dosa yang kalian buat sudah terlalu banyak... Karma itu harus diterima oleh seseorang''
''Baik... Memang seharusnya begitu''
Sambil berbicara begitu, sang nenek langsung melirik kearah menantunya yang membuat menantunya kaget dengan maksud ibu mertuanya itu.
''Se... Sejak awal!!! Ibu mengandung anak perempuan bukannya tidak ada gunanya! Cih... Setelah bertahun-tahun kesal... Sebagai seorang ibu, tentu akan sangat marah... Bukan begitu, Aemi?!''
Dengan tidak merasa bersalah sang ibu mertua malah menumbalkan dan menyalahkan menantu perempuannya sendiri dengan apa yang terjadi.
''Ta...Tapi ibu...''
''Berisik!!! Ibu sedang berusaha untuk menyelamatkan anakmu, jangan banyak omong!!''
Ibu mertua tidak terima bantahan dari menantu perempuan itu yang membuat sang Dewi Langit dan Bumi kesal dengan apa yang dilakukan perempuan tua itu.
''Anak laki-laki pertama kami dalam tiga generasi...''
''Salah!! Yang benar itu kau lah yang menekannya hingga lima saudara perempuan anak ini dilenyapkan! Kau lah yang harus menerima karmanya!''
Belum selesai perempuan tua itu berbicara, sang Dewi yang sudah semakin kesal menyela perkataanya dan langsung membuat wajah perempuan tua itu pucat pasi dan kaget.
''Tidak apa-apa, kan? 'demi anak laki-laki dalam tiga generasi'"
Setelah mengatakan itu Sang dewi memperlihatkan seringainya membuat orang yang melihatnya akan langsung merinding karenanya.
Karena sudah tidak bisa mengelak lagi perempuan tua itu pun langsung pergi dengan menantunya yang sedang menggendong anak laki-lakinya. Dengan kesalnya perempuan tua itu berjalan pergi dari tempat peraktek dukun tersebut.
Dengan malasnya sang Dewi Langit dan Bumi melihat kepergian mereka dengan santainya menompang dagunya dan duduk di depan teras tempat prakteknya itu.
''Cih...''
Ternyata diperlihatan sang Dewi, kepergian tamunya dengan rasa kesalnya masih diikuti oleh hantu gentayangan kelima saudari-saudari anaknya itu yang masih dendam terhadapnya.
__ADS_1