Echoes Of The Abyss

Echoes Of The Abyss
Bab 23: Pertarungan di Antara Teman


__ADS_3

Lian merasa hatinya terpukul saat dia menemukan bahwa Eris telah bersekongkol dengan musuh-musuh mereka sejak awal. Dia tidak bisa percaya bahwa wanita yang telah membantunya selama ini adalah pengkhianat. Namun, ketika Lian menatap wajah Eris yang sedih, dia tahu bahwa ada lebih dari sekadar pengkhianatan dalam diri Eris.


"Eris, mengapa kamu melakukannya?" tanya Lian, suaranya penuh dengan rasa kecewa.


Eris menggelengkan kepalanya, "Aku tidak punya pilihan, Lian. Mereka memaksa aku untuk melakukannya. Aku tidak ingin melukai siapa pun, termasuk kamu."


Lian merenung sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu. Tapi aku tahu bahwa kita harus menghentikan musuh kita terlebih dahulu. Kita bisa menyelesaikan urusan kita nanti."


Eris mengangguk, "Terima kasih, Lian."


Lian dan Eris bergabung dengan musuh-musuh mereka dan bersiap untuk pertarungan besar yang akan datang. Lian merasa waspada saat dia melihat sekeliling dan mencari-cari tanda-tanda bahaya yang mungkin muncul.


Namun, ketika pertarungan dimulai, Lian terkejut dengan tindakan Eris. Wanita itu menunjukkan keahliannya dalam sihir, dan berjuang sekuat tenaga untuk membantu Lian dan musuh-musuh mereka melawan musuh-musuh yang lebih kuat.


Lian merasa campur aduk saat dia memperhatikan Eris. Di satu sisi, dia merasa marah dan kecewa karena pengkhianatan Eris. Namun, di sisi lain, dia juga merasa terkesan dengan kemampuan Eris dan merasa bersalah karena pernah meragukan kepercayaan diri wanita itu.


Pertarungan berlangsung sengit, dengan setiap pihak berjuang sekuat tenaga. Namun, pada akhirnya, Lian dan teman-temannya berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka.


Setelah pertarungan, Lian dan Eris duduk bersama untuk berbicara. Lian merasa masih kesal dan bingung tentang perasaannya terhadap Eris. Namun, dia tahu bahwa dia harus memaafkan wanita itu jika mereka ingin bekerja sama untuk keluar dari dunia bawah tanah itu.


"Eris, aku masih kesal padamu karena pengkhianatanmu," kata Lian, suaranya rendah.


Eris menatap Lian dengan tulus, "Aku tahu, Lian. Dan aku menyesal. Aku berharap kau bisa memaafkanku suatu hari nanti."


Lian mengangguk, "Aku akan mencoba, Eris. Tapi aku butuh waktu."


Eris mengerti dan keduanya diam sejenak sebelum akhirnya Lian berkata, "Tapi, aku ingin kamu tahu bahwa aku sangat terkesan dengan kemampuan sihirmu. Kita mungkin bisa bekerja sama untuk menghadapi bahaya di dunia bawah tanah ini."


Eris tersenyum tipis. "Aku juga merasa bahwa kita bisa saling membantu, Lian. Kita akan membutuhkan kekuatan dan keterampilan yang kita miliki untuk keluar dari sini."


Lian mengangguk. "Tapi, bagaimana kita bisa keluar dari sini? Kita sudah mencoba beberapa pintu dan semuanya terkunci."


Eris menatap Lian dengan tatapan tajam. "Ada sesuatu yang belum aku ceritakan padamu. Ada sebuah pintu rahasia di labirin ini yang hanya bisa dibuka dengan kekuatan sihir tertentu. Aku pikir aku bisa membukanya."


Lian terkejut. "Pintu rahasia? Bagaimana kamu tahu tentang itu?"


Eris tersenyum misterius. "Aku sudah pernah berada di sini sebelumnya. Aku punya beberapa trik yang bisa membantu kita keluar dari sini."


Lian merasa curiga. "Kamu menyembunyikan banyak hal dari aku, ya?"


Eris tersenyum. "Aku tidak menyembunyikan apa-apa, Lian. Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir atau merasa tidak percaya padaku. Aku ingin membantumu."


Lian merenung sejenak, lalu mengangguk. "Baiklah, mari kita coba. Tapi aku akan tetap waspada."


Eris mengangguk. "Tentu saja, Lian. Kita harus waspada terhadap segala kemungkinan di dunia bawah tanah ini."


Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mereka ke arah pintu rahasia yang disebut oleh Eris. Lian merasa semakin dekat dengan Eris dan dia mulai merasa bahwa mereka bisa saling bergantung satu sama lain untuk bertahan hidup di dunia bawah tanah yang gelap dan menakutkan ini. Namun, dia masih merasa bahwa ada beberapa rahasia yang belum diungkapkan oleh Eris, dan dia bertekad untuk mencari tahu apa itu.


"Iya, kita akan mencari tahu tentang rahasia ini bersama-sama," Eris menjawab dengan lembut, "Kita bisa memulainya dengan mengeksplorasi dunia bawah tanah ini lebih dalam lagi. Mungkin ada petunjuk atau informasi penting yang bisa kita temukan."


Lian mengangguk setuju, "Baiklah, mari kita lakukan itu. Kita harus bergerak cepat, karena waktu terus berjalan."


Eris tersenyum, "Aku setuju. Kita akan menemukan jawaban atas semua pertanyaan kita, Lian. Tapi sebelum itu, kita harus fokus pada tugas-tugas kita saat ini."

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui labirin yang rumit, memperhatikan setiap detail sepanjang jalan. Mereka berusaha untuk tidak menarik perhatian makhluk-makhluk ganas yang ada di sekitar mereka, dan bergerak secara hati-hati untuk menghindari jebakan dan bahaya lainnya.


Tiba-tiba, mereka berdua terkejut oleh suara keras di dekat mereka. Mereka berbalik dan melihat sekelompok makhluk besar yang mendekati mereka dengan cepat.


"Tidak ada jalan lain, kita harus bertarung," Eris berkata dengan tegas.


Lian menarik pedangnya dan bersiap untuk melawan. Mereka berdua berdiri berdampingan, siap untuk menghadapi musuh-musuh mereka.


Pertarungan yang sengit terjadi, dengan Lian dan Eris menggunakan kemampuan dan senjata mereka dengan keahlian untuk melawan makhluk-makhluk yang lebih besar dan lebih kuat. Mereka saling membantu dan bekerja sama untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.


Akhirnya, mereka berhasil mengalahkan musuh-musuh mereka dan melanjutkan perjalanan mereka melalui labirin yang berbahaya.


Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah ruangan yang lebih besar dari ruangan-ruangan sebelumnya. Ruangan itu dipenuhi dengan cahaya yang redup, dan di tengah-tengah ruangan itu terdapat sebuah permata besar yang memancarkan cahaya yang terang.


"Apakah itu yang kita cari?" Lian bertanya, terpesona oleh keindahan permata itu.


Eris mengangguk, "Sepertinya begitu. Ayo, mari kita mengambilnya dan mencari tahu apa yang harus kita lakukan selanjutnya."


Mereka mendekati permata itu, tetapi tiba-tiba mereka disergap oleh sekelompok makhluk besar yang tiba-tiba muncul di depan mereka. Mereka berdua terkejut dan siap untuk melawan, tetapi tiba-tiba Eris jatuh pingsan.


Lian bingung dan terkejut, "Eris! Apa yang terjadi?"


Makhluk-makhluk itu mendekat dan Lian harus bertarung sendirian. Dia merasa takut dan cemas tanpa bantuan Eris, tetapi dia terus bertarung dengan keberanian dan ketekunan.


Akhirnya, dia berhasil mengalahkan makhluk-makhluk itu dan berlari ke samping Eris.


Namun, Eris tidak merespons. Matanya menatap kosong ke depan, dan Lian merasa ada yang tidak beres.


"Eris, apa yang terjadi?" tanya Lian.


Tiba-tiba, Eris berbalik dan menatap Lian dengan pandangan yang penuh amarah. "Apa yang kau pikirkan? Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu setelah apa yang terjadi?" bentak Eris.


Lian merasa kebingungan. "Apa yang terjadi? Apa maksudmu?"


"Apa maksudku?" ulang Eris. "Kau hampir mati di tangan makhluk-makhluk itu, Lian! Kau hampir mati karena kecerobohanmu sendiri, dan kau berpikir kita bisa bekerja sama? Kau gila!"


Lian merasa ngeri. Dia belum pernah melihat Eris begitu marah. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu," kata Lian dengan suara lembut.


"Tidak, kau tidak boleh meminta maaf," jawab Eris. "Kau harus belajar dari kesalahanmu dan berhenti bertindak impulsif. Jika tidak, kau akan mati di sini."


Lian merasa kesal. Dia tahu Eris benar, tapi dia merasa dihakimi. "Aku tahu aku salah, tapi aku mencoba untuk melakukan yang terbaik," kata Lian dengan suara tertahan.


Eris menghela napas. "Lian, aku tidak bermaksud untuk menghakimi atau membuatmu merasa buruk. Tapi kita berada di dunia bawah tanah yang berbahaya. Kita harus berhati-hati dan bekerja sama jika kita ingin bertahan hidup."


Lian merasa malu. Dia tahu Eris benar, tapi dia tidak ingin merasa seperti anak kecil yang dihukum. Namun, dia juga tahu bahwa dia tidak bisa melakukannya sendiri. Dia membutuhkan bantuan Eris.


"Aku tahu kau benar," kata Lian. "Aku akan berusaha lebih baik. Dan aku berjanji, aku tidak akan membuatmu khawatir lagi."


Eris menatap Lian dengan pandangan yang lebih lembut. "Baiklah. Mari kita lanjutkan. Kita masih memiliki banyak jalan yang harus ditempuh."


Lian mengangguk. Dia merasa lega bahwa dia dan Eris kembali berteman. Mereka berjalan bersama ke lorong berikutnya, siap menghadapi apa pun yang ada di depan mereka.


Lian merasa lega bahwa Eris akhirnya setuju untuk bekerja sama dengannya. Meskipun hatinya masih terluka, ia percaya bahwa Eris akan memilih yang terbaik untuk mereka berdua.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan mereka melalui labirin, menghindari bahaya dan menghadapi rintangan yang ada di depan mereka. Lian belajar banyak tentang sihir dari Eris dan mulai mempraktikkannya di saat-saat yang tepat. Eris menjadi semakin dekat dengan Lian dan ia merasa ia bisa mempercayainya.


Suatu hari, mereka melihat cahaya di ujung lorong yang jauh. Mereka berlari menuju arah itu, dan menemukan pintu keluar dari labirin itu. Mereka saling berpelukan dan merasakan udara segar yang memasuki paru-paru mereka.


"Kita berhasil," kata Lian dengan gembira. "Kita keluar dari sini."


"Tapi kamu harus tetap waspada," kata Eris dengan serius. "Kita belum tahu apa yang menunggu kita di luar sana."


Lian mengangguk dan mereka berjalan keluar dari pintu itu. Mereka tiba di sebuah bukit di bawah sinar matahari yang terik. Setelah beberapa saat beristirahat, mereka mulai berjalan menuju ke arah kota terdekat.


Ketika mereka tiba di kota itu, mereka menyadari bahwa mereka sudah berada di dunia yang sangat berbeda. Mereka melihat pakaian dan teknologi yang tidak mereka kenal sebelumnya. Tapi mereka berdua bersama-sama, dan itu yang paling penting.


Mereka tinggal di kota itu selama beberapa waktu, mencari tahu tentang dunia mereka yang baru dan mencoba untuk hidup normal. Eris terus melatih Lian dalam sihir, dan Lian belajar untuk menjadi lebih sabar dan berhati-hati.


Namun, suatu hari, ketenangan mereka terganggu oleh kedatangan sekelompok penyihir hitam yang mencari Eris. Mereka menyerang kota itu dan menculik Eris di hadapan Lian.


Lian marah dan berusaha menyelamatkan Eris, tetapi dia tidak siap untuk melawan para penyihir itu sendirian. Dia merasa putus asa, tapi dia tahu dia harus bertindak cepat. Dia merencanakan serangan ke balik lawan-lawannya, tetapi ia membutuhkan bantuan dari orang-orang yang bisa dipercayainya.


Lian berlari menuju ke tempat di mana dia tahu akan bertemu dengan beberapa temannya yang sudah dia kenal sejak lama. Dia menjelaskan situasinya dan mereka berencana untuk menyerang penyihir hitam dan menyelamatkan Eris.


Mereka melanjutkan perjalanan mereka dan menghadapi para penyihir itu. Pertarungan yang sengit terjadi, dan Lian dan teman-temannya hampir menyerah. Namun, dengan bantuan sihir Eris, mereka berhasil mengalahkan penyihir hitam dan menyelamatkan Eris.


Setelah pertarungan itu, Lian dan Eris menjadi semakin dekat. Mereka saling memberi dukungan satu sama lain saat menghadapi rintangan selanjutnya di dalam labirin yang rumit. Eris mulai membuka diri lebih banyak kepada Lian dan menceritakan tentang masa lalunya, tentang bagaimana dia menjadi ahli sihir yang handal dan mengapa dia berada di dunia bawah tanah itu.


Lian juga mulai merasa semakin nyaman dengan Eris dan merasa bahwa dia bisa mempercayainya sepenuhnya. Mereka membentuk sebuah tim yang kuat dan saling melengkapi dalam menghadapi rintangan dan musuh yang lebih kuat.


Namun, di tengah-tengah perjalanan mereka, Eris mulai terlihat semakin khawatir dan terganggu. Dia sering menghilang tanpa memberi tahu Lian kemana dia pergi dan seringkali terlihat menatap ke dalam kegelapan dengan tatapan yang kosong.


Lian mencoba untuk bertanya padanya tentang kekhawatirannya, tetapi Eris hanya menjawab dengan singkat dan enggan. Lian mulai merasa bahwa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Eris dan dia merasa semakin gelisah tentang apa yang mungkin terjadi.


Pada suatu malam, ketika mereka sedang istirahat, Lian melihat Eris melangkah keluar dari tenda mereka. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang salah dan memutuskan untuk mengikutinya diam-diam.


Lian mengikuti Eris hingga ke sebuah ruangan besar di dalam labirin yang dihiasi dengan batu-batu kristal yang bersinar. Dia melihat Eris berdiri di tengah ruangan itu dengan mata tertutup dan tangan terentang ke atas. Lian merasa kagum dan takjub dengan kemampuan sihir Eris yang luar biasa.


Namun, tiba-tiba, ruangan itu berguncang dan Lian merasakan getaran yang kuat di bawah kakinya. Dia melihat bahwa Eris telah kehilangan kendali atas kekuatannya dan dia merasa takut bahwa labirin itu akan runtuh di atas mereka.


Dengan cepat, Lian mengambil tindakan dan berlari ke arah Eris. Dia berhasil memeluk Eris dan meredakan kekuatan sihir yang tak terkendali tersebut. Namun, dalam proses itu, Lian mengalami luka-luka yang parah dan dia terjatuh pingsan.


Ketika Lian membuka mata, dia berada di sebuah ruangan yang tidak dikenal dan melihat Eris duduk di samping tempat tidurnya. Eris memberitahu Lian bahwa mereka telah ditemukan oleh sekelompok penyihir dan dibawa ke tempat aman. Dia juga mengakui bahwa dia adalah bagian dari kelompok penyihir tersebut dan sedang mencari bantuan untuk mengalahkan musuh yang lebih besar.


Lian merasa tersentuh oleh pengorbanan Eris dan berjanji untuk membantunya dalam perjuangan melawan musuh mereka. Mereka berdua kembali ke labirin dan bersama-sama memimpin kelompok penyihir untuk mengalahkan musuh mereka yang bersembunyi di dalam kegelapan.


Setelah pertempuran yang sulit, kelompok penyihir berhasil mengalahkan musuh mereka dan membuka jalan ke pintu terakhir. Mereka berjalan melalui lorong yang lebih gelap dan lebih suram daripada yang pernah mereka lalui sebelumnya. Akhirnya, mereka tiba di sebuah ruangan yang terlihat sangat aneh dan berbeda dari yang lain. Di tengah ruangan, terdapat sebuah platform dengan sebuah jembatan yang terhubung ke sebuah pintu besar.


Lian, Eris, dan kelompok penyihir lainnya berjalan menuju platform itu dan memasuki jembatan. Namun, di tengah jembatan, mereka tiba-tiba dihadapkan pada musuh terakhir mereka: seorang penyihir jahat yang sangat kuat, yang telah menunggu mereka.


Pertarungan yang hebat terjadi. Lian dan Eris bergabung dengan kelompok penyihir lainnya untuk melawan musuh terakhir mereka. Setiap penyihir menggunakan kemampuan sihir mereka untuk melawan musuh. Lian menggunakan pedangnya untuk melawan sementara Eris menggunakan sihirnya untuk menahan musuh. Namun, musuh terakhir itu ternyata sangat kuat, dan mereka mulai terdesak.


Lian merasa bahwa mereka tidak akan bisa mengalahkan musuh ini tanpa melakukan sesuatu yang berani. Dia melihat sekelilingnya dan melihat bahwa jembatan tempat mereka berdiri sangat tipis dan rapuh. Dia merasa bahwa mungkin satu-satunya cara untuk mengalahkan musuh ini adalah dengan memutuskan jembatan dan mengorbankan dirinya sendiri.


Lian memandang ke arah Eris dan memberikan isyarat dengan matanya. Eris merasa ada yang aneh dan mengerti apa yang ingin dilakukan Lian. Tanpa ragu-ragu, Eris mengirimkan sihirnya untuk memproyeksikan Lian ke pintu besar, sementara Lian dengan cepat memotong jembatan dengan pedangnya. Jembatan roboh, dan Lian jatuh ke dalam jurang yang dalam.


Kelompok penyihir lainnya mengepung musuh terakhir mereka, dan akhirnya berhasil mengalahkannya. Namun, kemenangan itu datang dengan harga yang sangat mahal. Lian dikorbankan demi keselamatan kelompok. Semua orang merasa sedih, termasuk Eris, yang merasa kehilangan orang yang sangat berarti baginya.

__ADS_1


Dengan berat hati, kelompok penyihir itu membuka pintu besar dan menemukan jalan keluar dari dunia bawah tanah itu. Mereka kembali ke permukaan, dan Eris memutuskan untuk meninggalkan kelompok dan kembali ke dunianya. Namun, dia tidak akan pernah melupakan Lian dan pengorbanannya yang besar untuk menyelamatkan mereka semua.


__ADS_2